Kantor pusat Miller Corp sore itu berubah jadi ladang bisik-bisik. Setiap langkah yang Jesslyn ambil di koridor seolah diikuti tatapan mata yang tak mau lepas darinya. Jesalyn berjalan cepat, tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer, memantulkan suara yang terdengar jauh lebih nyaring dari biasanya. Dia seolah tidak peduli lagi dengan apa yang orang lain katakan. Tentu, semua orang jelas membicarakan mereka. Siapa sih yang tidak? Dan hampir semua orang bersinggungan dengan Jesslyn. “Katanya… itu beneran? Cincinnya sama kayak yang dipakai Pak Christian.” “Bukan katanya lagi, gue liat sendiri di lobi tadi! Hanna hampir lempar nampar, sumpah.” “Gila, HRD kita ternyata calon nyonya Miller.” Bisikan-bisikan itu jadi semacam paduan suara yang menempel di telinga Jesslyn. Nafasnya sedikit

