Suasana lobby kantor Sabian pagi itu sibuk seperti biasa—pegawai lalu lalang, suara sepatu beradu di lantai marble, dan dentingan lift yang sesekali terdengar. Tapi semuanya berhenti seketika ketika suara lantang menggema dari arah depan. Hanna berdiri di tengah ruangan, wajahnya memucat tapi matanya menyala. Ia menatap tangan Jesslyn yang refleks menutup cincin di jari manisnya. Beberapa pegawai yang lewat langsung berhenti, berpura-pura sibuk tapi jelas-jelas menajamkan pendengaran. Hanna melangkah lebih dekat, mengikis jarak diantara mereka. “Jangan bilang ini hanya kebetulan, Jess?” Jesslyn tak menjawab. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya. Mulutnya seolah terkunci rapat, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir wanita itu. Lalu, dari arah lift, suara langkah pria terdengar p

