“SINTING!!!” teriak Jesslyn.
Wanita itu melompat dari duduknya dengan tidak percaya, setelah mendengar ide gila dari Elina. Bukannya memberikan solusi yang tepat, yang ada Jesslyn seperti masuk ke kandang singa dengan suka rela.
“Kenapa lagi, lo yang minta buat Tian jauhin lo. Dan gue rasa ide gue bagus, Jes.” ujar Elina kembali.
“Sumpah yaaa ide lo gak banget Mbak El. Itu kayak habis keluar dari kandang paus gue masuk kandang dinosaurus.”
Ya gimana gak banget sih kalau ide Elina diluar Nurul. Dimana Elina meminta Jesslyn menggoda Christian dengan baju seksi, sikap yang manja dan menggoda. Dimana Elina berpikir jika setelah itu Christian akan ilfeel dan menjauh dari Jesslyn. Bisa jadi setelah melihat Jesslyn menjadi liar, pria itu akan kembali menghilang, tau kan keinginan terbesar Christian itu untuk unboxing Jesslyn. Yang tadi aja bikin trauma apalagi ini diminta menggoda di depan Christian?
“Dinosaurus banget nih Jes.” Tawa Elina menggelegar di telinga Jesslyn.
“Iya … biar beda dari yang biasanya. Kalau cuma kandang singa sama macan kan udah biasa saja. Ini masuk kandang dinosaurus siapa tau dapat jodoh pribumi sekalian.”
Elina tak berhenti tertawa. Tapi itu yang terlintas dipikiran Elina. Tidak ada salahnya juga sih kalau Jesslyn melakukan hal itu, siapa tau saja jika Jesslyn begitu Christian akan ilfeel dan menjauh.
Tapi dalam bayangan Jesslyn, dia membayangkan kalau dia mengenakan rok super duper pendek, kemeja dengan dua kancing yang terbuka, menunjukkan belahan dadanya. Baju yang terlalu press body sehingga membuat Jesslyn sesak napas. Ditambah dia harus duduk di pangkuan Christian, yang ada pria itu akan kesenangan dan menganggap kalau Jesslyn sedang menggoda dirinya. Tangan pria itu bisa berkeliaran kesana kemari mencari kenikmatan yang Jesslyn tidak suka. Sumpah ya, demi apapun permainan Christian, Jesslyn akui paling nikmat. Bahkan dia bisa bebas melakukan apapun pada pria itu tapa berhenti. Seolah Christian juga memberi hak penuh tubuhnya pada Jesslyn, itu yang Jesslyn sukaaa. Itu sebabnya Jesslyn menolak mentah-mentah ide Elina yang gila itu.
Ini masih membayangkan saja sudah membuat tubuh Jesslyn merinding. Apalagi jika terjadi sungguhan. Bisa gila beneran Jesslyn dibuatnya.
“Gak ada!! Gue nggak mau Mba El. Yang lain Napa idenya, gak sanggup gue kalau suruh godain laki orang.”
“Jes … ,” Elina merubah posisi duduknya untuk menatap Jesslyn nanar. “Dulu, lo kayaknya nggak ada masalah deh lo Deket sama Christian, kenapa sekarang lo jadi kayak jaga jarak banget sama dia.” ujarnya.
Jesslyn mendengus. “Kalau dulu hubungannya masih ngambang. Christian cinta mati sama gue. Dan gue juga punya perasaan pengen bareng Christian. Tapi yang jadi penghalang Hanna yang tiba-tiba banget punya perasaan ke Christian. Itu dulu masih ada waktu lah buat gue ngerebut dia. Tapi sekarang? Dia udah punya calon tunangan, Mbak Elina.”
Elina tahu hal itu, tapi sebelumnya semua orang tahu jika cinta Christian pada Jesslyn itu besar, dia bisa melakukan apapun untuk Jesslyn. Harusnya Jesslyn cukup sadar diri dari situ jika dia begitu berharga untuk Christian. Dulu, sebelum acara tunangan pria itu dengan Hanna, semuanya nampak biasa saja. Jesslyn menikmati setiap momen bersama dengan Christian, meskipun hanya ada pertengkaran diantara mereka. Jesslyn yang marah pada Christian yang waktu itu tidak memberi kepastian sama sekali dengan Jesslyn. Dia juga marah pada Christian karena menggantungnya terlalu lama. Bahkan setiap momen pria itu selalu mengingatkan Jesslyn waktu mereka masih sekolah dulu. Janji pria itu, apa yang dia itu lakukan untuk Jesslyn dulu. Terus kenapa hal ini harus berbeda?
Tunangan itu masih bisa batal, apalagi saat ini Christian sedang menunjukkan keseriusannya pada Jesslyn. Kalau dilihat-lihat wanita itu hanya duduk diam saja semuanya akan diusahakan oleh Christian.
“Tetep nggak Mbak.” tolak Jesslyn.
“Sekarang gue tanya, lo masih ada perasaan nggak sama Tian? Jawab jujur dari dalam hati lo, Jes. Bilang kalau lo emang udah gak punya perasaan sama Tian. Gue akan dukung apapun keputusan lo. Tapi jawab jujur!!”
Dan pertanyaan itu mampu membungkam mulut Jesslyn seketika. Apa yang harus dijawab?
***
Christian mengetuk pintu rumah Elina dengan cepat meminta wanita itu untuk segera membuka pintunya. Dengan penampilan yang gak banget wanita itu keluar dengan mata yang sayu.
“Kenapa sih?” kataya.
“Ai mana? Gue ada perlu sama dia.”
Elina mendengus. “Mau ngapain sih? Dia kayaknya udah tidur, capek katanya.”
“Habis ngapain?” alis Christian mengerut, menatap Elina heran.
“Bergulat sama lo katanya capek.”
Christian hanya menaikkan satu alisnya, menerobos masuk dan langsung menuju kamar Elina. Disana Christian bisa melihat Jesslyn yang tengah sibuk merias diri di depan cermin dengan santainya. Dan Elina bilang kalau Jesslyn tidur?
“Ai … temenin gue yuk.” ajak Christian
Jesslyn terjingkat kaget menatap Christian yang entah sejak kapan di ambang pintu kamar. “Lo … ngapain kesini sih?”
“Ayo ikut gue.”
“Kemana?”
“Gym.”
“Malem banget, Tian. Apa nggak besok aja?”
Christian menggeleng, dia lebih suka olahraga malam ketimbang siang atau sore hari. Menarik tangan Jesslyn yang masih memoles wajahnya, wanita berteriak kaget, mencoba menolak tapi Christian seolah enggan untuk melepaskan Jesslyn begitu saja. Bahkan tanpa membawa apapun Christian seolah tidak peduli dengan apa yang Jesslyn ucapkan.
Ya namanya juga wanita ya tas kecil yang berisikan lipstik, parfum, kaca itu penting bagi Jesslyn. Tapi Christian tidak mau mengerti hal itu. Dia malah mendorong tubuh Jesslyn untuk masuk ke dalam mobilnya dengan terpaksa.
“Sialan, gue nggak bawa tas Tian, gue nggak bisa hidup tanpa lipstik, parfum, bedak Tian.”
“Nanti gue beliin yang baru nggak usah rewel. Yang penting malam ini lo temenin gue nge-gym.”
Jesslyn menatap curiga. “Ini serius cuma nge-gym doang kan?”
Dengan kerlingan nakal Christian pun tersenyum. Menatap penampilan Jesslyn yang terbuka di depannya membuat pria itu menelan salivanya dengan kasar. “Kalau lo mau nerusin yang tadi siang gue sih iyes.”
Reflek tangan Jesslyn memukul bibir dan juga menarik telinga pria itu hingga meringis kesakitan.
“Sakit sayang … .” keluh Christian mengusap telinganya yang memerah.
Jesslyn mendengus. “Sayang sayang … pala lu peyang iya!!”
Bukannya marah Christian hanya tertawa sambil melakukan mobilnya meninggalkan rumah Elina. Di tengah jalan sejujurnya Christian tidak bisa menahan diri. Dia sesekali melirik Jesslyn yang sibuk dengan rambutnya yang panjang. Dan Christian baru sadar kalau bekas bercak merah yang dia ciptakan tidak terlihat sama sekali di kulit Jesslyn. Apa mungkin wanita itu menghilangkan bekas merah itu?
Menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi. Christian menarik tubuh Jesslyn hingga duduk di atas pangkuannya. Pria itu menatap lekuk tubuh Jesslyn yang benar-benar menggodanya kali ini.
“Kali ini gue beneran gak bisa nahan, sesuatu ingin meledak dalam diri gue.” ujarnya membuat Jesslyn bingung
“Apanya! Lepasin gue nggak!! Gue mau duduk normal, gue nggak mau duduk di pangkuan lo.” Dan entah kenapa rasanya Jesslyn masih terbayang-bayang baju seksi, duduk di pangkuan Christian seperti ide Elina.
Wanita itu meronta, tapi yang terjadi Christian lebih dulu menarik tengkuk leher wanita itu dan menciumnya. Hingga mobil yang mereka kendarai pun bergerak kesana kemari mengundang banyak mata harus menatapnya. Tapi tak ada satu orang pun yang berani mencegah, ataupun menghentikan aksi mereka. Tanpa Jesslyn sadari jika malam ini bisa saja menjadi malam–malam yang panjang untuk mereka berdua. Malam yang begitu cerah dengan sinar rembulan sebagai penerangan.
****