Bab-39

1094 Words
Malam itu, bar yang biasanya ramai hanya dipenuhi beberapa pengunjung tetap. Lampu redup, musik pelan mengalun, dan di sudut paling sepi duduklah seorang pria yang sudah menenggak lebih banyak gelas daripada biasanya. Dasi kerja terlepas, kemeja kusut, dan matanya merah bukan hanya karena alkohol, tapi juga karena frustasi. Di hadapannya, botol whiskey hampir habis. Tangannya gemetar ketika menuang gelas berikutnya. “Kamu tega banget, Jess… ninggalin aku gitu aja. Nggak pamit, nggak bilang apa-apa…” racau Christian. Dia sudah tak sadarkan diri tapi masih terus minum. Ia meneguk minumannya dalam sekali tarikan, merasakan perih membakar tenggorokannya. Tapi rasa sakit itu jauh lebih mudah ditahan dibandingkan rasa hampa di dadanya. Rumah kosong, kantor yang tidak ada Jesslyn, bahkan Sabian pun tak bisa memberikan jawaban yang ia mau. Semua orang bungkam, seolah dunia sengaja berkonspirasi membuatnya gila. Pintu bar terbuka, seorang pria masuk, langkahnya tenang. Noah. Ia sudah mencari Tian sejak sore, mendapat kabar samar-samar dari bartender langganan bahwa sahabatnya itu menghabiskan malam di sana. Begitu melihat sosok Christian di sudut, Noah menarik napas panjang. Dia benar-benar kacau hari ini, entah apa yang terjadi tapi pria itu sedang tidak baik-baik saja. Noah mendekat, menepuk meja pelan membuat pria itu menoleh cepat. “Gue nggak kaget sih nemuin lo di sini. Tapi serius, Bang? Mau ngabisin diri sendiri kayak gini?” Christian mendongak, menatap dengan mata setengah merah, separuh kesal separuh lega. Apa dia tidak tahu apa yang terjadi? Hampir setiap hari dia ngapel Elina masa tidak tahu berita terkini? “Dia pergi, Noah. Jesslyn pergi… rumahnya kosong, kantornya kosong. Semua orang diem. Sabian diem. Lo tau rasanya nggak? Kayak ditampar habis-habisan.” ucap Christian drama. Noah duduk di kursi seberang, memanggil pelayan dan menarik botol whiskey menjauh dari Christian. Jangan sampai dia tidak sadarkan diri hanya karena hal ini. “Udah, cukup. Lo nggak akan nemuin jawaban di dasar botol ini.” kata Noah sambil menarik segelas whiskey yang hampir masuk ke dalam mulutnya. Christian mencoba merebut gelas itu tapi tidak bisa. “Apa lagi yang bisa gue lakuin?! Dia ninggalin gue, Noah! Setelah semua yang gue perjuangin, semua janji gue buat perbaikin segalanya, dia… kabur!” Noah menatapnya lekat, tidak terpengaruh oleh amarah mabuk itu. Ia tahu, di balik teriakannya, Christian sedang hancur. Tapi … kemana perginya Jesslyn? Jika wanita itu pergi kenapa Elina diam saja? Ada yang tidak beres sekarang. “Jess nggak kabur. Dia cuma butuh waktu. Lo terlalu nyiksa dia, sadar nggak? Terlalu keras, terlalu maksa, terlalu nunjukin rasa cinta Lo dengan cara yang… malah bikin dia takut.” Noha mencoba menjelaskan dengan seksama, dengan harapan Christian sadar dengan ucapannya. Christian terdiam, meski wajahnya menegang. Matanya menatap kosong ke meja, tangannya mengepal. Selama ini caranya benar, dia hanya menunjukkan kenapa dianggap menakutkan? Ini hanya urusan mommy dan juga Hanna tidak lebih. “Gue cuma… nggak mau kehilangan dia lagi, Noah. Gue udah kehilangan sekali waktu SMA. Gue nggak bisa… nggak bisa ngerasain itu lagi.” Noah menepuk bahu Christian. “Dan justru karena itu Lo harus kasih dia ruang, Bang. Kalau lo beneran cinta sama Jess, berhenti bikin dia terpojok. Biar dia yang mutusin kapan siapnya.” Hening sejenak, hanya suara musik pelan yang terdengar. Christian menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya sedikit gemetar. “Dia pikir gue bisa hidup tanpa dia… padahal nafas gue aja udah nyesek kalau nggak ada dia.” katanya lirih. Noah menghela napas, hatinya ikut sesak melihat sahabatnya yang biasanya begitu kuat kini runtuh. Ia meraih gelas kosong di depan Christian, menyingkirkannya, lalu berdiri. “Ayo, pulang. Kalau lo terus di sini, lo cuma makin nyakitin diri sendiri. Jess butuh Lo waras, bukan setengah mati di meja bar.” Christian menatap Noah, matanya berat, tapi ada secercah kesadaran yang kembali. Dengan bantuan Noah, ia akhirnya berdiri, meski langkahnya goyah. Mungkin benar, Jesslyn membutuhkan dirinya waras bulan gila seperti sekarang. “Noah… kalau gue kehilangan dia… gue beneran mati.” racau Christian kembali. Noah menatapnya tegas. “Kalau Lo nggak mau kehilangan dia, buktikan. Tapi bukan dengan marah, bukan dengan maksa. Dengan cara yang bikin Jess percaya… kalau dia aman di samping lo.” Kalimat itu menancap dalam. Di tengah kepalanya yang berat dan pengaruh alkohol yang masih menguasai, kata-kata Noah tetap bergema. Malam itu, dengan langkah tertatih, Christian akhirnya meninggalkan bar bersama Noah. Mungkin masih jauh dari kata tenang, tapi setidaknya ia tahu: ada seseorang yang tidak akan membiarkannya jatuh sendirian. *** Sinar matahari pagi menembus tirai tipis apartemen Christian. Cahaya itu terlalu terang, menusuk kelopak matanya yang masih berat. Kepala terasa berdenyut, mulut kering, dan seluruh tubuh seperti dipaksa bangun dari malam panjang penuh kekacauan. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, memegang kepala dengan satu tangan. Samar-samar ia masih ingat—botol whiskey, meja bar, suara musik, dan… suara Noah. Christian mengerang pelan. “Argh… kenapa rasanya kayak dipukul palu berkali-kali.” Ia beranjak ke dapur kecil, menuang segelas air, meneguknya habis dalam sekali teguk. Di meja, ada secarik kertas. Tulisan tangan Noah. Kepala Lo pasti pecah pagi ini. Jangan lupa makan, minum obat pusing. Dan ingat: Jess nggak butuh lo mabuk-mabukan, dia butuh Lo waras. –Noah. Christian menatap tulisan itu lama. Matanya melembut, tapi juga terasa panas. Dia bilang anak kecil lagi, bisa langsung kirim text kenapa harus catatan kecil? Dasar bocah!!! Christian bergumam kecil. “Jess…” Bayangan Jesslyn memenuhi kepalanya. Wajah dingin yang ia rindukan, senyum tipis yang jarang sekali muncul tapi selalu berhasil membuat jantungnya berdebar, bahkan tatapan sinisnya yang entah kenapa justru selalu membuat Christian ingin mendekat lagi dan lagi. Ia teringat kata-kata Noah semalam, Kalau Lo beneran cinta sama Jess, berhenti bikin dia terpojok. Biar dia yang mutusin kapan siapnya. Christian menghembuskan napas panjang. Rasa frustasi masih menyesakkan d**a, tapi kali ini tidak sama. Bukan lagi kemarahan, melainkan ketakutan yang lebih jujur: takut kehilangan Jesslyn untuk selamanya. Ia berjalan ke ruang kerja kecil di apartemen, membuka laptop, mencoba menatap kalender kerja. Tapi matanya kosong, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: bagaimana caranya meyakinkan Jesslyn, tanpa lagi membuatnya merasa terjebak. “Gue nggak akan paksa lo lagi, Jess. Tapi gue juga nggak akan biarin lo jauh. Lo harus tahu… gue tetap di sini. Gue selalu di sini.” gumam Christian pelan. Tangannya mengepal di atas meja. Ada tekad baru di balik mata lelahnya. Meski tubuhnya remuk karena alkohol semalam, hatinya perlahan menemukan arah. Hari itu, Christian berjanji pada dirinya sendiri—bukan dengan kata-kata manis atau ciuman brutal seperti dulu, melainkan dengan tindakan kecil, konsisten, dan nyata. Jesslyn harus tahu, ia aman bersamanya. Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Christian benar-benar merasa: ini bukan tentang memiliki, tapi tentang menjaga. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD