Pagi itu, langit masih pucat dengan sinar matahari yang malu-malu menembus awan. Jesslyn berdiri di depan gedung bertingkat yang akan menjadi kantornya mulai hari ini. Gedung yang asing, dengan suasana yang benar-benar berbeda dari kantor lamanya. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.
Bukan pertama kali ia pindah kerja, tapi kali ini terasa jauh lebih sulit. Pindah ini bukan sekadar soal karier—ini adalah pelarian.
Jesslyn gumam, lirih pada dirinya sendiri. “Ayo, Jess… cuma kerja. Nggak ada Christian, nggak ada Hanna, nggak ada drama. Fokus.”
Langkah kakinya mantap masuk ke lobby. Aroma kopi dari kafe kecil di sudut, suara lift yang berdenting, dan beberapa karyawan yang sibuk dengan ponsel mereka. Semua terasa asing, tapi justru itu yang ia cari.
Di meja resepsionis, seorang wanita muda menyambut ramah.
“Selamat pagi, selamat datang di tim baru, Mbak Jesslyn Greta ya? Kami sudah diinformasikan. Ruangan HR ada di lantai tujuh. Nanti saya minta rekan saya antar ke sana.”
Jesslyn tersenyum tipis, sopan, meski hatinya terasa sedikit berat mendengar namanya disebut begitu jelas. Nama itu selalu mengingatkannya pada masa lalu yang berantakan—nama yang terlalu sering dipanggil Christian dengan nada penuh emosi.
“Terima kasih. Saya ikut saja, ya.” jawab Jesslyn menunduk kecil.
Lift membawa Jesslyn ke lantai tujuh. Pintu terbuka menampilkan ruang kantor dengan desain modern, meja-meja kerja berjajar rapi, beberapa tanaman hijau di sudut, dan suasana yang terasa lebih… tenang. Tidak ada tatapan ingin tahu seperti yang biasa ia terima di kantor lama saat ada gosip beredar.
Seorang pria berusia awal tiga puluhan menghampiri, mengenakan kemeja biru muda, senyum ramah di wajahnya.
“Selamat datang, Mbak Jesslyn. Saya Arman, kepala divisi HR di sini. Mulai hari ini, kita akan banyak kerja bareng. Semoga betah ya.” ucap orang yang bernama Arman itu.
Jesslyn membalas senyum, profesional. “Terima kasih, Pak Arman. Saya akan berusaha cepat menyesuaikan diri.”
Arman mengangguk puas, lalu memperkenalkannya pada beberapa staf lain. Mereka menyapa ramah, mengulurkan tangan, tidak ada tanda-tanda penilaian atau rasa ingin tahu berlebihan.
Di meja kerjanya yang baru, Jesslyn duduk, membuka laptop, lalu menatap layar kosong sejenak. Tangannya bergerak, tapi pikirannya melayang.
Ia membayangkan Christian di kantornya yang lama, mungkin sedang mondar-mandir mencari tahu keberadaannya. Atau mungkin… tidak. Bayangan itu membuat dadanya sedikit sesak.
Jesslyn gumam lirih, sambil menunduk. “Semoga Lo baik-baik saja, Tian. Jangan cari gue dulu… gue butuh waktu.”
Sebuah notifikasi muncul di emailnya—surat sambutan resmi dari kantor baru, lengkap dengan jadwal orientasi dan pekerjaan yang harus segera ditangani. Ia menarik nafas, lalu mengetik balasan singkat.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Jesslyn merasa punya ruang untuk bernapas. Tapi di balik ketenangan itu, ada bayangan wajah Christian yang tak bisa ia singkirkan.
Dan ia tahu, cepat atau lambat, pria itu akan menemukan jalannya ke sini.
***
Suasana kantor Sabian berjalan seperti biasa. Beberapa karyawan sibuk dengan dokumen, suara keyboard terdengar berulang, dan mesin fotokopi bekerja tanpa henti. Namun, satu sosok yang masuk dengan wajah dingin dan sorot mata tajam langsung membuat suasana berubah tegang: Christian Abinaya Miller.
Langkah kakinya mantap, sepatu kulitnya bergema di lantai marmer. Begitu ia melewati lobby, para karyawan otomatis menunduk, pura-pura sibuk. Tidak ada yang berani menyapa lebih dulu. Auranya sangat menakutkan, dan mereka lebih memilih mencari aman sendiri ketimbang mencari masalah dengan adik pemilik perusahaan ini.
Christian langsung menuju ruang HR, tempat dimana biasanya ia bisa dengan mudah menemukan Jesslyn. Tapi meja itu kosong. Seolah tidak berpenghuni, meja yang kosong tanpa berkas dan juga beberapa berkas yang sudah masuk ke dalam kardus sedang. Dimana wanita itu sebenarnya?
Christian berdiri di depan meja Jesslyn, nadanya datar tapi tegang. “Mana Jesslyn?”
Rhea, yang kebetulan baru keluar dari pantry sambil membawa kopi, hampir menjatuhkan gelasnya saat melihat Christian berdiri di sana. Dia sudah seperti hantu, bisa datang dan pergi sesuka hatinya di kantor ini. Sudah jelas pasti mencari keberadaan Jesslyn.
Rhea gugup, tapi sebisa mungkin dia berusaha tenang di hadapan Christian. Minimal pria itu tidak curiga dengan dirinya. “Eh, Christian….Jesslyn… sepertinya tidak masuk hari ini.”
Christian menatap tajam, matanya menyipit. “Tidak masuk? Atau pergi?”
Rhea terdiam, bingung. Ia melirik Elina yang baru saja muncul dari ruang arsip. Elina menahan napas, lalu mencoba tersenyum kaku. Menyembunyikan make up barunya dari Christian meskipun tidak ada hubungannya. Karena secara gratis besar gosip semalam yang Christian mencari Jesslyn sudah terdengar di telinga mereka.
“Mungkin… ada urusan keluarga, Tian. Gue juga nggak tahu jelas. Tadi pagi gue sama sekali nggak lihat Jess.” ucap Elina.
Christian mengepalkan tangannya, wajahnya menegang. Ia menoleh ke arah Noah yang kebetulan lewat, seolah mencari jawaban yang lebih jujur. Jika pria itu bisa berbicara seperti itu, tertanda kalau Noah tahu sesuatu. Tidak mungkin bocah kemarin sore bisa bilang tapi tidak tahu apapun.
“Noah. Lo tau sesuatu?” tanya Christian menatap Noah tajam.
Noah berhenti, menatap Christian lama, sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Kalau pun gue tahu, bukan tempat gue buat cerita dulu. Biar Jesslyn sendiri yang ngomong ke elu.”
Christian menghela napas panjang, nadanya rendah tapi bergetar menahan emosi. Jelas mereka tahu dimana Jesslyn tapi tidak memberitahu Christian sedikitpun. Dan jelas juga kalau mereka sengaja melakukan hal itu agar Christian tidak bisa menemukan wanitanya. Mau alasan memberi waktu? Mau sampai kapan? Berapa lama? Sudah tahu jika Christian tidak bisa hidup tanpa Jesslyn kenapa mereka tega?
“Jadi semua orang di sini tiba-tiba… nggak tau apa-apa? Begitu?” ucapannya sedikit menyindir, bahkan disini Christian masih bisa tersenyum tipis melihat kelakuan mereka.
Hening menggantung di ruangan. Rhea menunduk, Elina pura-pura sibuk dengan dokumen di tangannya, Noah tetap berdiri tegak. Mereka tidak tahu harus apa ketimbang kena marah Christian, lebih baik mencari kesibukan yang tidak benar-benar sibuk.
Christian akhirnya berbalik, berjalan keluar dengan langkah keras. Tapi sebelum pintu tertutup, suaranya terdengar jelas
“Kalau ada yang tahu di mana Jesslyn… dan kalian semua milih diam, kalian sama aja nyiksa gue. Ingat itu.” kata Christian dingin dan tegas.
Pintu tertutup keras. Beberapa karyawan menahan napas lega, sementara Rhea dan Elina saling pandang, cemas.
Di luar, Christian berdiri di depan lift dengan wajah menegang, jemarinya menggenggam ponsel erat. Ia menahan diri untuk tidak menghubungi Sabian—meski dalam hatinya, ia yakin pria itu tahu sesuatu.
Christian gumam lirih, hampir seperti janji pada dirinya sendiri. “Lo bisa sembunyi, Jess… tapi gue akan selalu nemuin Lo. Dimanapun.”
Lift terbuka, Christian masuk dengan langkah dingin. Dan untuk pertama kalinya, seluruh kantor benar-benar merasakan bahwa kehilangan satu orang bernama Abigail Jesslyn Greta mampu mengubah ekspresi seorang Christian Abinaya Miller.
****