Malam itu, di bar hotel tempat ia biasa menenangkan diri, Christian duduk sendirian dengan botol whiskey yang hampir habis. Matanya merah, rambutnya sedikit berantakan, dasi di leher dibiarkan longgar. Bukan karena urusan kerja—melainkan karena hatinya sendiri. Jesslyn pergi. Tanpa kabar, tanpa pesan. Dan itu cukup untuk membuat dunia Christian terasa kosong. Dia kehilangan arah untuk pulang, seperti dulu waktu dia pergi keluar negeri untuk belajar. Menahan diri untuk tidak menghubungi wanita itu sampai dia kembali. Dan hal ini terulang kembali, sangat menyiksa.
Tiba-tiba, suara langkah berhak tinggi terdengar mendekat. Aroma parfum mahal yang terlalu familiar menusuk hidungnya. Hanna.
Hanna menarik kursi di sebelahnya, dengan senyum manis dipaksakan. “Kamu bahkan nggak pulang, Tian. Apa harus aku yang nemuin kamu di sini?”
Christian mendengus pelan, lalu meneguk minumannya tanpa menoleh. Mau pulang atau tidak itu bukan urusan Hanna. Jika pun dia pulang, dia tidak akan pulang ke rumah dimana ada Hanna di dalamnya. Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak lagi. Dia tidak ingin terlibat apapun dengan wanita itu.
“Pergi.” usir Christian.
Hanna berusaha tersenyum. “Kamu selalu bilang begitu. Tapi aku calon istrimu. Aku punya hak—”
BRAK! Gelas Christian dibanting ke meja hingga separuh isinya tumpah. Hanna terdiam, matanya membesar kaget. Christian akhirnya menoleh, tatapannya tajam seperti pisau. Dan hal itu mampu membuat Hanna ketakutan. Tapi sebisa mungkin wanita itu menunjukkan wajah biasanya di depan Christian.
“Lo salah paham dari awal, Hanna. Gue nggak pernah kasih lo hak apapun. Pertunangan itu bukan keinginan gue. Jadi berhenti sok bertindak seolah Lo punya posisi di hidup gue.”
Hanna tercekat, wajahnya memucat, tapi masih mencoba bertahan. Apa yang dia ingin tinggal satu langkah, tidak mungkin dengan gampangnya Hanna berhenti. Dia hanya perlu tahu siapa wanita yang berhasil mengacak-acak hidup Christian sampai segininya.
“Tapi… keluargamu… bahkan ibumu sendiri minta aku menjaga kamu. Aku cuma—”
“Menjaga?” Christian memotong ucapan Hanna, dia menatap tajam ke arah wanita itu. Seolah dia tidak suka dengan apa yang dia katakan. “Lo pikir gue ini apa, boneka yang harus lo awasi? Jangan bawa-bawa mommy gue untuk membenarkan obsesi lo, Hanna.”
Hanna menelan ludah, tangannya menggenggam tas erat. Dia berusaha menahan tangis, tapi Christian tidak memberi ruang sedikitpun. Pria itu meluapkan alisnya malam ini, tanpa mempedulikan perasaan Hanna yang ayah hancur karena ucapannya.
“Kamu tahu apa yang gue butuhkan sekarang? Bukan lo. Bukan mommy gue. Yang gue butuhkan cuma satu orang… dan dia bahkan memilih pergi dari gue.” ujar Christian dengan suara bergetar. Ulan karena frustasi tapi karena Hanna yang selalu nyempil hubungannya dengan Jesslyn dan menyenangkan wanitanya pergi karena ulah Hanna.
Hanna terdiam. Dia masih bingung dengan semua ini siapa? Wanita mana yang berhasil membuat Christian hancur? Dia sudah meminta Jesslyn dan Elina untuk mencari tahu, tapi tidak ada hasilnya. Rasa sakit menyelimuti wajahnya, tapi Christian sudah bangkit dari kursinya.
Christian berjalan menjauh, suaranya dingin. “Kalau Lo masih punya harga diri, berhenti ngintilin gue Hanna. Karena tiap kali gue lihat lp, yang aku rasain cuma jijik.”
Christian melangkah keluar dari bar dengan langkah goyah tapi penuh amarah. Hanna akhirnya menjatuhkan air matanya, duduk sendirian di sana. Dan dibalik tatapan tajam Christian tadi, ada luka yang jauh lebih besar: rasa kehilangan Jesslyn yang membuatnya frustasi sampai tak bisa berpikir jernih.
***
Keesokan harinya, kantor Sabian masih sepi. Tapi suasana di ruangan Christian jauh dari kata tenang. Tumpukan berkas di meja tidak disentuh sama sekali. Dasi dan jasnya dibiarkan terbuka, kemeja lusuh sisa semalam. Mata Christian merah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi juga karena pikirannya tidak berhenti memikirkan Jesslyn. Dimana wanita itu? Sedang apa wanita itu? Dan bersama siapa wanita itu? Sedangkan Christian juga ingat ketika ibunya menitipkan Jesslyn pada dirinya karena ibu Jesslyn harus pulang ke luar kota. Bahkan mau kembali pun Christian melarang, karena Jesslyn lebih aman bersama dirinya. Dan Christian yang sedang memperbaiki hubungan mereka, sehingga ibu Jesslyn mengurungkan niatnya untuk kembali ke ibukota.
Ia sudah coba menghubungi nomor Jesslyn—tidak aktif. Mencari di kantor—tidak ada. Dan yang paling membuatnya gila, Sabian satu-satunya orang yang jelas-jelas tahu sesuatu, tapi bungkam. Jika saja bukan kakak mungkin Christian akan menghajar pria itu hingga mau membuka mulut.
Christian membanting ponsel ke meja, suaranya berat dan dingin. “Kenapa nggak ada satupun orang bisa kasih tahu gue dia di mana?!”
Dua anak buahnya yang berdiri di depan ruangan hanya bisa saling pandang. Mereka terbiasa menghadapi amarah Christian, tapi kali ini aura dinginnya berbeda—lebih tajam, lebih menakutkan.
“Kami sudah coba telusuri, Tuan. Kantor pusat juga tidak mencatat ada perjalanan bisnis atas nama Jesslyn. Sepertinya dia berangkat sendiri, diam-diam.” ucap salah satunya dengan nada takut. Kepalanya menunduk, tangannya meremas satu sama lain untuk menutupi rasa gugup dan takutnya jika terjadi sesuatu dengan mereka.
Christian mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa getir. Dia mencibir, “Sendiri? Dia berani pergi sendirian… tanpa bilang apa pun ke gue?”
Ia berdiri, menendang kursi di belakangnya hingga terjungkal ke lantai. Anak buahnya mundur selangkah. Keringat dingin keluar di pelipis mereka. AC ruang ini menyala tapi tak mampu mengurangi rasa gugup dan takut mereka. Jika saja di hadapannya ada pisau atau apapun itu, mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka bernafas.
“Terus kenapa kalian di sini masih kosong tangan? Cari dia! Gue nggak peduli kalian harus obrak-abrik kota ini, aku mau tahu dimana Jesslyn sekarang juga!” seru Jesslyn, suaranya meninggi tapi bisa terkontrol.
Anak buah itu langsung mengangguk panik, lalu keluar dari ruangan. Mereka lebih memilih menyelamatkan diri lebih dulu ketimbang harus berhadapan dengan arah Christian. Bukannya apa ya, tapi kali ini bos mereka cukup ngeri. Tinggal Christian seorang diri, menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan nafas terengah.
Dalam kepalanya, bayangan Jesslyn saat tersenyum, saat menatapnya, saat diam sekalipun terus muncul. Rasa frustasi makin menekan d**a. Ia benci perasaan ini—benci karena wanita itu punya kuasa penuh membuatnya hancur begini.
Christian berdesis. “Kenapa harus pergi, Jess? Kenapa gak kasih gue kesempatan untuk menjaga lo kali ini…”
Tangannya meremas rambut, dan untuk sesaat Christian tampak kalah. Bukan oleh bisnis, bukan oleh keluarga, tapi oleh satu nama yang terus mengisi hatinya. Jesslyn.
Dia hampir menangis. Tapi sebisa mungkin dia bertahan, dia tahu jika setelah ini Christian bisa menemukan Jesslyn. Cepat atau lambat wanita itu akan ketemu. Tinggal nunggu Christian keliling kota saja sampai dia benar-benar lelah untuk mencari.
****