Bab-42

1122 Words
Suara pintu diketuk dua kali, tapi tak ada jawaban. Noah menghela napas, mendorong pintu ruangan Christian yang sedikit terbuka. Begitu masuk, aroma kopi basi dan alkohol bercampur jadi satu. Ruangan itu kacau—kursi terbalik, tumpukan dokumen berhamburan, dan laptop terbuka tanpa disentuh. Sudah pasti Christian habis ngamuk dengan anak buahnya yang diminta tapi tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Noah meletakkan segelas kopi panas di meja, lalu menatap Christian yang duduk di sofa, dengan kepala bersandar, mata merah karena kurang tidur atau mungkin karena marah. Dan juga bisa …. “Kalau ada lomba kantor paling berantakan, gue rasa lo juara satu, Bang,” Noah membuka percakapan, mencoba ringan. Meskipun hatinya berdegup kencang karena takut. Christian Abinaya Miller menoleh perlahan, wajahnya dipenuhi letih. “Lo datang buat ceramahin gue juga?” suaranya serak. Noah duduk di kursi sebelah sofa, menyilangkan kaki. “Gue datang karena semua orang di kantor ini takut sama lo. Jadi ya, biar gue aja yang dengerin lo ngamuk-ngamuk.” Hening sejenak. Hanya bunyi detik jam dinding terdengar. Akhirnya, Christian menunduk, jemarinya meremas pelipisnya. “Dia pergi, Noah. Tanpa bilang apa-apa. Lo tau rasanya? Kayak gue ditampar keras-keras.” Noah memandang serius. “Jesslyn bukan tipikal cewek yang pergi tanpa alasan. Mungkin dia butuh waktu. Atau mungkin… capek lihat lo terus ditarik ulur sama Hanna dan keluarga lo.” Christian terdiam, rahangnya menegang. “Gue bisa lawan semua orang, No. Gue bisa bantai semua halangan. Tapi kalo dia yang mutusin pergi… gue nggak tau harus ngelawan gimana.” Noah menepuk bahunya, hangat tapi tegas. “Lo jangan lawan. Lo kejar.” Di kota lain, pada saat yang sama, Abigail Jesslyn Greta melangkah masuk ke kantor barunya. Bangunannya tidak sebesar kantor Sabian, tapi auranya lebih bersahabat. Beberapa orang menyapanya dengan senyum ramah, membuat hatinya sedikit tenang. Ia menaruh tas di meja kerjanya yang baru—sederhana, tapi rapi. Menarik napas panjang, ia berbisik pada diri sendiri. “Ayo, Jess… ini langkah baru. Nggak ada Christian, nggak ada Hanna. Cuma kerjaan. Fokus.” Seorang rekan kerja, pria berperawakan kurus dengan kemeja kebesaran, mendekat sambil membawa setumpuk berkas. “Kamu Jesslyn, kan? Ini beberapa dokumen yang harus dicek HR. Bisa mulai hari ini?” Jesslyn tersenyum ramah, meski matanya sembab. “Iya, tentu. Terima kasih.” Setelah pria itu pergi, Jesslyn duduk dan mulai membuka berkas. Tapi jemarinya sedikit bergetar. Matanya menelusuri huruf-huruf di kertas, namun pikirannya melayang jauh. Terbayang wajah Christian—mata tajamnya yang kadang menyebalkan, suaranya yang bisa membuatnya marah sekaligus tenang, genggaman tangannya yang selalu hangat. Dan kini, semua itu hanya tinggal bayangan. Ia menutup mata sebentar, mengusap wajahnya. “Maaf, Tian… kali ini gue harus jaga diri gue dulu. Gue nggak bisa terus jadi bayangan di belakang Hanna. Gue nggak bisa terus jadi alasan pertengkaran lo dengan keluarga lo.” Di sudut ruangan, seorang rekan kerja memperhatikan Jesslyn yang tampak kosong beberapa detik sebelum kembali fokus. Tapi Jesslyn segera menyembunyikan kelemahannya dengan senyum profesional, pura-pura sibuk dengan berkas. *** Sementara itu, di ruangan yang masih kacau, Christian mengambil kopi yang dibawa Noah. Uapnya mengepul, tapi tidak mampu menghangatkan hatinya yang dingin. Dirinya benar-benar kacau sekarang, apa mungkin waktu Christian pergi Jesslyn juga seperti ini dulu? Hancur atau mungkin ada hal lain? “Dia beneran pergi, No. Gue cari ke rumahnya, kosong. Ke kantor juga, nggak ada. Semua orang bilang nggak tahu.” Suaranya pecah, campuran marah dan putus asa. Noah menatapnya dalam-dalam. “Tian, lo pikir dengan lo diem di sini, Jesslyn bakal balik sendiri? Dia nunggu lo buat nunjukin kalau lo bener-bener milih dia. Tapi lo sibuk ngamuk sama keadaan.” Christian menggeram, menendang meja di depannya sampai bergeser. “Gue udah muak sama semua ini! Sama Hanna, sama nyokap gue, sama semua aturan! Gue cuma mau dia, No. Gue cuma mau Jess!” Noah tetap tenang, meski jelas hatinya ikut terguncang melihat sahabatnya hancur. “Kalau lo cuma mau dia, berhenti buang waktu. Cari dia. Jangan biarin dia mikir lo nggak cukup berjuang.” Christian tertawa kecil, pikirannya benar-benar kacau dia menatap Noah dengan jengah. “Gue berjuang loh, tapi kayaknya dia enggak deh. Dulu gue minta dia buat tinggal dan nunggu gue disini. Tapi gue sekarang tau rasanya ditinggal tanpa kabar.” Noah ingin tertawa tapi ditahan, tidak elit rasanya jika dia menertawakan Christian sekarang. “Karma gak sih? Sekarang tunggu aja dia kembali, kayaknya pergi dia gak akan lama deh.” Christian tertawa renyah, hingga membuat Noah ikut tertawa juga. “Bang, lo tau nggak kenapa Jess pergi?” “Karena gue gagal. Karena gue nggak cukup buat dia.” cetus Christian. Noah geleng kepala. “Bukan.” Noah menarik nafasnya panjang, merubah posisi duduknya untuk mencari tempat yang nyaman untuk bercerita. “Dia pergi karena dia butuh ruang. Lo inget kan, setiap kali lo ribut sama Hanna, siapa yang kena imbasnya? Jess. Lo makin deket sama dia, makin gede juga tekanan dari nyokap lo. Cewek itu capek, Bang.” Christian terdiam. Kata-kata Noah seperti belati yang menancap tepat di dadanya. Dan jika diingat semua itu benar. Christian yang bertengkar dengan Hanna ketika wanita itu datang ke kantornya. Belum lagi Christian yang bertengkar dengan ibunya, ditambah lagi Hanna yang entah kenapa sok peduli dengan hidupnya. “Terus gue harus diem aja? Biarin dia pergi?” suaranya parau, seolah menunjukkan betapa berantakan dia tanpa Jesslyn. Noah duduk kembali, mencondongkan tubuh ke depan. “Gue nggak bilang diem. Gue bilang… kasih dia waktu. Tapi kalau lo beneran mau kejar dia, ada satu hal.” Christian menatap Noah tajam. Matanya merah, tapi ada nyala harapan kecil. Setidaknya dia tahu jika wanita itu baik-baik saja ketika pergi ke tempat barunya. “Apa? Lo tau dia di mana, No?” tanya Christian penuh harap.. Noah menarik napas, hati-hati. “Gue nggak tau pasti. Tapi… kemarin gue liat dia bawa koper. Nggak mungkin cuma pergi jalan-jalan. Dari gaya bawaannya, itu jelas pindah sementara. Dan gue denger dari anak-anak HR—dia sempet ngurus berkas keluar kota.” Jantung Christian berdegup kencang. Ada secercah cahaya di tengah kekalutan. “Lo tau kota mana?” Noah ragu, lalu menghela napas. “Gue nggak bisa pastiin. Tapi… gue liat ada tiket di tangannya. Stasiun. Dia naik kereta. Tujuannya barat. Itu aja yang gue bisa kasih.” Christian langsung berdiri, seolah siap menerjang keluar sekarang juga. Tapi Noah menahannya dengan satu kalimat. “Tapi ingat, Bang. Kalau lo kejar dia, pastiin bukan cuma buat ngambil balik. Lo harus bener-bener siap ngelawan semua halangan yang bikin dia pergi.” Christian mematung. Matanya menatap kosong ke arah jendela, napasnya memburu. Kata-kata Noah menggema di kepalanya—siap ngelawan semua halangan. Itu berarti ibunya, Hanna, bahkan dirinya sendiri. Perlahan, ia mengepalkan tangan. Tunggu gue, Jess. Sekali ini gue nggak akan biarin lo pergi lebih jauh lagi. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD