10. Diculik

1498 Words
Tubuhnya diseret, dibawa oleh seorang pria, masuk ke dalam mobil bewarna hitam. Pria itu mengambil pistolnya, dia keluar dari mobilnya, menatap garang pada sebuah benda yang terdapat lensa. Pria itu mengarahkan pistolnya ke benda itu, dalam satu kali tembakan, dia yakin benda untuk merekam tersebut sudah rusak. Mulutnya mengeluarkan seringai. Dia menepuk pelan pistolnya, bersiul pelan menikmati keberhasilannya malam ini. Dia masuk ke dalam mobil, mengambil tali dan lakban. Mengikat tubuh Agatha dengan kuatnya menggunakan tali, juga menutup mulut wanita itu menggunakan lakban. Dia menaruh tangannya di dagu, sepertinya ada yang kurang, dia melihat lebih jelas Agatha, mulutnya melebar kala melupakan sesuatu. Dia mengambil gunting, memotong baju Agatha membentuk persegi panjang, lalu kain tersenut digunakannya untuk menutupi mata Agatha. "Seperti ini jauh lebih baik." Dia terkekeh pelan, diusapnya rambut Agatha dengan gemas. Menghidupkan mobil dan melaju kencang. Tak ada yabg mencurigainya saat keluar dari gang kecil, keadaan yang sepi bukan atas rencanannya. Entahlah, dia merasa keberuntungan berpihak padanya karena kondisi yang menguntungkannya. Smartphone-nya berdering, dia melihat nama sang pemanggilnya. "Halo, sayang." "Bagaimana? Apakah kau sudah selesai mengerjakan tugasmu?" tanya seseorang yang berada diseberang telepon. Suara tipis, seperti wanita. Sangat lembut dan juga penuh penekanan. "Tentu sudah sayang. Kau tak perlu cemas, misi ini sangat mudah untuk diriku." Dia melihat ke arah samping, melihat Agatha yang sampai saat ini belum sadar juga. "Baguslah, bawa dia ke gedung kosong. Di sana, aku sudah menyewa beberapa preman, mereka yang akan menjadi kambing hitam kita kali ini." Dia mematikan teleponnya. Melihat notifikasi pesan yang masuk, kekasihnya mengirimkan pesan berupa alamat yang harus ditujunya. Mobilnya berbelok, memasuki sebuah jalan yang begitu sepi, bahkan satupun kendaraan tak ada. Jalanan ini seperti hutan, tak ada bangunan sedikitpun. Tak ada juga penerangan lampu yang biasanya menerangi tiap jalan. Membawa kesan misterius dan menakutkan, mungkin karena hal tersebut tak ada yang ingin melewati jalan ini. Matanya menyipit. Melihat sebuah bangunan yang berdiri tinggi, bangunan itu memang tak mencolok di malam hari karena ditutupi oleh pohon yang besar, tapi dia dapat melihatnya dengan jelas. Mobilnya di arahkan ke gedung tersebut, memasuki bangunan, melihat empat pria dengan penampilan layaknya berandalan berdiri menyambut mereka,memakai baju hitam, rambut yang panjang dan tak terurus, perutnya buncit, badannya hitam, dan otot-otot yang menyelip di lemak tubuhnya pada daerah tangan. "Apakah wanita ini yang dimaksud bos?" tanya salah satu dari berandalan, dia memakai baju hitam dengan tengkorak putih dan dihiasi oleh kalung tengkorak juga. "Tentu. Apakah kalian sudah mendapatkan apa yang dia suruh?" Seorang berandalan lain maju, tangannya masuk ke dalam kantung, mengambil sebuah plastik klip bewarna putih bening. Di dalamnya terdapat bubuk putih seperti tepung. "Buat dia menghirup bubuk tersebut. Setelah itu, biarkanlah, tinggalkan dia di gedung ini sendiri. Ingat, kalian tak diperbolehkan untuk menyakitinya." Dia beranjak, menuju mobil bagian penumpang laku menggendong Agatha, memberikannya pada salah seorang preman. Setelah selesai, dia memasuki mobil dan pergi dari gedung tersebut. Meninggalkan empat berandalan yang sudah diberi tugas. Salah satu berandalan langsung menaruh bubuk putih tersebut ke tangannya, salah satu dari mereka mengambil air dan menyiram tubuh Agatha, membuat wanita itu sadar. "Dimana aku?" tanya Agatha dengan lirihnya. Tanpa menyadari bahwa bahaya kini sedang berada di depannya. Salah satu dari mereka yang memegang satu bubuk putih tersebut mendekatkan ke hidung Agatha. Memaksa wanita itu dengan kejamnya untuk mengurus bubuk tersebut, karena Agatha terus memberontak dan berteriak membuat para berandalan menjadi geram, dia menarik rambut Agatha, salah satu dari mereka memegang rahang Agatha dengan kuatnya dan menekan pipi Agatha membuat mulut wanita itu terbuka. Memasuki seluruh bubuk itu ke dalam organ pencernaan, lalu membekap mulut Agatha, memaksa untuk menelan bubuk itu. Mulut mereka mengeluarkan seringai kejam. Tugas sudah selesai di lakukan, lalu mereka pergi, meninggalkan Agatha yang kini sedang merasakan nikmat pada tubuhnya. Terasa melayang dan bahagia muncul, sisi lain dalam tubuh Agatha terus memberontak. Dia jelas tahu apa yang dijejali oleh para berandalan tersebut untuknya. Agatha harus melawan obat-obatan tersebut dan tak membiarkan zat nya menguasai tubuh Agatha. Dia memejamkan tubuhnya. Biarkanlah untuk malam ini, dia tidur di sini terlebih dahulu. Tempat yang tak diketahuinya, hidupnya sudah sangat hancur. Dia berhasil melawan kegilaan obat-obatan terlarang yang berusaha menyerang tubuhnya. Kain yang menutupi matanya basah, jelas dia akan tahu skenario takdirnya untuk besok hari. •••• Sebelum matahari muncul malu-malu dibalik awan, Agatha sudah bangun. Dia harus mencari barang tajam yang dapat melepaskan ikatan pada tangannya. Kakinya menendang, berusaha mencari. Dia meringis pelan, merasakan sakit pada kakinya. Dia yakin pasti yang menusuk kakinya adalah pecahan kaca, Agatha berusaha mengambil benda itu dengan kakinya, mendekati tubuhnya. Karena ikatan tangannya berada di depan tubuh Agatha, membuatnya sangat mudah mengambil dan menggesek pecahan kaca tersebut pada tali, terus berusaha, hingga akhirnya Agatha merasakan tali yang mengikatnya sudah kendur. Agatha melepaskan tali tersebut pada tubuhnya lalu membuka penutup kepala. Dia bernapas lega, bisa lepas dari ikatan tali-tali tersebut. Matanya menatap pada ruangan yang dia tempati ini. Ruangan dengan tembok uang sudah retak di beberapa bagian dan juga sangat kotor. Dia beranjak, berlari keluar dari bangunan ini. Mencari jalan raya, Agatha yakin bahwa kini dia berada di sebuah jalan yang terkenal saat ini. Jalan Ghost, entahlah banyak orang yang menyembur jalanan ini seperti itu. Katanya banyak hantu yang berkeliaran dan akan menganggu siapa saja yang melewati jalan ini. Tapi apa peduli, Agatha? Tak waktu untuknya memikirkan hantu yang tak terbukti keberadaannya. Jalan raya telah dia temukan, melihat taksi lewat, Agatha langsung melambaikan tangannya. Membuat taksi tersebut berhenti di dekatnya, sang supir menurunkan kaca jendela. Dilihat kosong pada kursi penumpang, Agatha langsung masuk ke dalam taksi. "Bisa antar kan saya ke Apartemen Purple," ucap Agatha. Supir itu mengiyakan dan langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang stabil, yaitu 80 km/jam. Beruntungnya, para penculik Agatha tak mengambil uang dalam kantung celananya, sehingga Agatha dapat membayarnya. Memakan waktu 15 menit, mobil berhenti di sebuah bangunan besar, Agatha langsung memberikan uangnya kepada supir, laku langsung keluar dari mobil. Dia menghela napas kasar, berjalan dan memberikan senyum kecil kepada siapapun yang menyapanya. Memasuki unit apartemennya, melihat ketiga temannya yang duduk di sofa, beserta Mark yang menatapnya tajam. Rasanya Agatha ingin menangis saat ini. Agatha yakin, pasti mereka marah padanya. "Darimana saja kau, Agatha?" tanya Grace. "Aku diculik malam tadi." Agatha melihat reaksi mereka. Dari Ara dan Hana menatap percaya, berbanding terbalik dengan Grace dan Mark yang menatap tak percaya. "Percayalah padaku. Tak mungkin aku berbohong dalam situasi seperti ini." Agatha berucap seraya menghadap Grace dan Mark, untuk meyakinkan kedua orang tersebut. Mark menepuk sofa di sebelahnya. "Duduklah, lalu ceritakan semuanya." Agatha menuruti ucapan Mark, dia duduk di samping Mark, menghembuskan napasnya kasarnya. "Tadi malam, aku membeli krim atas pesanan Ara. Aku melewati gang kecil di samping gedung ini, tiba-tiba saja ada yang membekap mulutku dengan menggunakan kain yang aku yakini di beri bius. Aku pingsan dan dibawa ke gedung yang sudah tak dipakai." "Lalu?" Agatha tak yakin untuk menceritakan kelanjutannya. Dia sangat takut kalau teman-temannya tak percaya padanya. "Aku diberi sebuah bubuk yang aku yakini itu adalah obat-obatan terlarang. Aku dipaksa untuk menghirupnya, tapi aku memberontak. Akhirnya mereka memaksa aku menelan obat tersebut." "Agatha, jangan bercanda." Wajah Grace terlihat marah saat ini, Agatha yakin mereka semua pasti sangat kecewa padanya. "Tidak Grace." Agatha hanya bisa menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air matanya yang mengalir dengan derasnya. Menangis tanpa mengeluarkan suara adalah sesuatu yang menyakitkan. Grace yang menyadari keadaan Agatha langsung beranjak dan memeluknya. Melihat lebam di pipi Agatha membuatnya langsung percaya dengan ucapan Agatha. "Aku percaya padamu." "Tenangkan lah dirimu di dalam kamar, Agatha." Mark memberikan kode pada Grace untuk membawa Agatha ke kamar. Pasti Agatha sangat lelah hari ini, menghadapi begitu banyaknya masalah yang menyerangnya secara langsung seperti saat ini. Setelah melihat Agatha yang pergi dengan Grace, Mark langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Sangat kesal saat ini, dia tak menyukai masalah yang dihadapi Agatha saat ini. "Kita tak memiliki jalan keluar lagi. Jika kita menceritakan semuanya pada publik, mereka tak mungkin percaya." "Mark, aku yakin ada jalan keluar." "Tapi apa?" "Cctv." Ara berucap. Dia sangat ingat bahwa gang kecil tersebut memiliki kamera cctv. Karena banyak berandalan yang akan nongkrong di sana, membuat banyak masalah yang terjadi, sehingga pemimpin apartemen ini menaruh satu kamera cctv di gang kecil tersebut. "Baiklah. Aku akan ke ruang keamanan." Mark beranjak, pergi menuju ruangan keamanan yang berada di lantai satu. Menggunakan lift untuk turun lantai, melihat penanda ruangan yang tergantung di sebuah pintu. "THE SECURITY." Mark memasuki ruangan tersebut. Melihat ada dua pria yang tengah fokus, memperhatikan layar yang berisi rekaman cctv. "Selamat pagi." Mark menyapa mereka. Kedua pria itu berbalik, melihat Mark dengan pandangan bingung, namun tak urung mereka juga ikut tersenyum untuk membalas sapaan. "Ada yang bisa kami bantu," tanya salah satu dari mereka, bertubuh tegap dengan kulit putihnya. "Aku ingin melihat rekaman untuk daerah gang kecil, malam tadi." Wajah mereka terlihat pucat, disaat Mark menanyakan hal tersebut. Mark bertanya-tanya, seperti ada sesuatu yang buruk. "Ada apa?" "Maaf tuan, cctv yang kami pasang di daerah gang kecil tengah rusak. Ada yang menembak cctv tersebut, juga ada yang meretas sehingga rekaman di hari sebelumnya hilang semua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD