Mark langsung memberikan kain untuk Agatha. Tak ada reaksi dari wanita itu, dia masih saja fokus pada televisi tipis yang ada di tembok. Beruntung, keadaan lorong saat ini sangat sepi, jadinya tak ada yang mengenali mereka. Tak mendapatkan reaksi, Mark menarik tangan Agatha dan menghadapkan Agatha ke arahnya. Dia menepuk pelan pipi Agatha untuk menyadarkan wanita itu.
Setelah sadar, mata Agatha tampak berkaca-kaca. Tangannya yang gemetar, menunjuk pada televisi. "Apa-apaan itu. Mengapa ada berita buruk lagi?" Tubuh Agatha meluruh, dia tak bisa menahan tangisnya. Mark langsung menangkap tubuh Agatha dan memeluknya.
"Jangan cemas. Itu hanya skandal biasa. Seperti skandal sebelumnya." Agatha menggeleng. Mungkin jika masalah bully, penggemarnya masih menerima kesalahan Agatha, tapi kalau masalah ini, Agatha tak yakin.
"Ayo kita pulang. Aku akan membicarakan ini pada Krystal." Mark mengambil sepotong kain yang tadinya terjatuh di lantai. Menutupi wajah Agatha agar tak terlihat oleh publik.
Mark menuntun Agatha memasuki mobil. Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, menuju sebuah gedung agensi mereka yang berdiri. Sudah banyak para wartawan yang berusaha mencari informasi lebih banyak, tapi harus dihalangi oleh para penjaga keamanan. Mark memilih jalan belakang, dimana ada gerbang yang tersedia di belakang gedung JB Entertainment.
Keadaan Agatha masih dalam ketakutan yang besar. Tangan yang gemetar, wajah pucat dan tatapan mata yang kosong. Mark yang melihat itu merasa iba, dia mengelus bahu Agatha dan membantu wanita itu untuk keluar dan menuntunnya lagi.
Tak ada lagi air mata yang keluar, justru hal tersebut membuat Mark takut. Ini adalah kali pertamanya Agatha yang pasrah, bahkan kasus kemarin saja, Agatha masih bersemangat untuk menyelesaikan masalahnya. Banyak para staffnya yang menatap Agatha dengan tak suka, mungkin mereka mulai tak percaya lagi dengan Agatha.
Jika skandal ini dibenarkan, maka Agatha harus siap untuk pergi dari agensi ini. JB Entertainment membuat peraturan yang sangat ketat untuk para artisnya. Oleh karena itu, agensi ini sangat aman dari sebuah skandal. Kemungkinan besar, skandal Agatha akan membuat nama agensi ini menjadi buruk.
Mereka menuju ruangan Krystal. Wanita itu sedang meratapi kehidupan jalan raya lewat kaca jendelanya. Tangannya memegang sebuah cangkir yang berisi kopi. Ruangannya tampak berantakan, beberapa dokumen yang tadinya berada di atas meja dan tersusun rapih, kini harus tergeletak di lantai.
"Krystal."
Krystal berbalik mendengar panggilan dari Mark. Mulutnya mengeluarkan seringai, wajahnya sangat pucat, tampaknya dia sangat lelah atas masalah yang kini di hadapinya. Dia berjalan, duduk di kursi kebesarannya dan memijat dahinya pelan. "Lagi-lagi, masalah menimpamu Agatha."
"Bagaimana ini, Krystal? Apakah kita harus membuat klarifikasi lagi?" Krystal menggeleng kuat.
"Ini bukan masalah kecil lagi, Mark. Jika kemarin kita bisa membuat kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk mengelabuhi publik berhasil, maka untuk kali ini tidak bisa." Krystal beranjak. Dia mencari beberapa dokumen yang terjatuh di lantai, Mark yang melihat Krystal ikut membantu.
Dia langsung menumpukkan kertas-kertas tersebut menjadi satu, menaruhnya di atas meja. Lalu, pandangannya beralih pada Agatha yang sedang menengokan wajah ke arah kanan. Mark ikut melihat arah pandang Agatha. Di sana, ada televisi yang menyiarkan berita panas untuk para artis.
Mark mengambil benda pipih yang panjang dengan banyak tombol di atasnya. Menekan tombol bewarna merah, seketika televisi langsung mati. Mark mendekatkan dirinya pada tubuh Agatha. "Jangan dipikirkan, kau harus bisa mengatasi masalah ini."
Bangku kosong di depan Mark terisi lagi, dengan Krystal yang duduk di depannya. Membawa sebuah map hijau yang berisi puluhan lebat kertas. Dia membuka map tersebut, menemukan sebuah laporan yang menjadi sumber informasi Krystal saat ini.
Setelah kertas yang berisi informasinya ditemukannya, Krystal langsung memberikannya pada Agatha. Krystal sangat cepat mendapat informasi yang bahkan belum disiarkan di televisi, matanya ada dimana-mana, oleh karena itu, agensi sangat menyayangi Krystal sebagai direksi non eksekutif.
Dalam kertas tersebut, terdapat beberapa informasi tentang Agatha saat ini. Mark membacanya dengan serius, memahami setiap kata dan kalimat dan mengambil kesimpulan. "Bagaimana mungkin, mereka mendapatkan saksi dan bukti ini." Mark tak habis pikir dengan pelaku yang bisa membuat skandal dengan mudahnya.
Saksi yang diberikan oleh pelaku adalah seorang pengedar narkoba yang mengakui bahwa Agatha telah dan sering membeli obat-obatan terlarang padanya. Dari kesaksiannya, dia memberikan beberapa bukti, diantaranya adalah sebuah dialog dalam room chat yang berisi Agatha memesan narkoba berupa kokain.
Di duga, Agatha membeli narkoba tersebut karena merasa depresi setelah skandal pembullyan nya kemarin terkuak di media. Bukti ini memang masih belum diungkapkan oleh media dan mereka masih bisa mencari kebenarannya terlebih dahulu. "Hanya ada satu cara agar masalah ini selesai. Kau Agatha, harus melakukan tes Narkoba."
Agatha tersadar dari lamunannya, dia mengangguk yakin. Tangannya mengepal kuat, hanya ada satu pintu jalan keluar dari masalah ini dan pastinya, tes tersebut hasilnya akan negatif, karena Agatha tak pernah merasa memakai obat-obatan terlarang tersebut. "Aku yakin, masalah ini akan cepat selesai. Aku tak menggunakan narkoba sedikitpun."
"Baiklah. Aku akan menghubungi rumah sakit saja."
"Kapan aku akan melakukan tes?" Agatha sangat ingin waktu berjalan cepat, agar dirinya bisa melakukan tes secepatnya. Dia ingin masalah ini cepat selesai, dan Agatha akan melaporkan peneror yang selama ini mengikutinya. Karena Agatha sangat yakin bahwa pelaku utama adalah peneror yang masih belum diketahuinya siapa.
"Aku akan menghubungimu jika sudah ada konfirmasi dari rumah sakit."
"Baiklah, kalau begitu, kita kembali ke apartemen. Sangat kebetulan, hari ini kau tak memiliki jadwal lagi. Untuk besok dan seminggu ke depan, aku akan merubah jadwal mu lagi atau membatalkan beberapa kontrak kerja." Agatha merasa bersalah dengan Mark dan Krystal. Mereka harus merasa kesusahan untuk menyelesaikan masalah ini. Bahkan pekerjaannya saja harus terhambat, konser yang sudah dijadwalkan untuk wilayah Asia harus di undur jadwalnya. Semua ini karenanya, nama Smart sangat buruk saat ini karenanya.
"Jangan merasa bersalah. Ayo, kita pulang." Agatha memakai maskernya lagi, dia mengambil kacamata hitam di dalam tas nya, lalu memakainya untuk menyembunyikan mata merahnya saat ini. Dia langsung merangkul Mark dan mereka berdua pergi dari ruangan Krystal.
Kali ini, Agatha berjalan dengan memajukan dadanya dan mengangkat dagu setinggi mungkin. Tak membiarkan para staff membicarakan buruk lagi tentang nya.
"Ingat, jangan stress seperti tadi lagi. Aku sampai takut melihatmu seperti tadi." Hati Mark merasa senang melihat Agatha yang tak seperti tadi. Tadi, adalah kali pertamanya Mark melihat Agatha yang menatap kosong.
Agatha bisa dibilang sangat mencintai karirnya ini. Dia ingin menjadi seorang penyanyi hingga tua nanti. Bahkan menikah saja tak masuk dalam list hidupnya, karena bagi Agatha menikah dapat membuat karir Agatha terganggu.
"Aku tak tahu, apa yang akan terjadi nanti. Tapi, jika karir ku hancur, maka aku tak tahu harus apa. Kau tentu tahu, bahwa aku sangat tak menyukai skandal seperti ini."
Mark mengangguk. "Aku akan berusaha membantumu dan berusaha mempertahankan pekerjaan ini."
•••••
Agatha menatap aneh Ara. Wanita itu kini tengah sibuk dengan dapur. Tepung bertebaran diwajahnya, tangannya juga dipenuhi dengan noda tepung, rambutnya di cepol ke atas agar tak mengangguk kegiatannya.
Ara membuat kue, tapi untuk apa? Setahu Agatha, Ara tak bisa membuat kue, tapi ahli dalam memasak bubble squeak. "Ara, kau sedang apa?"
Ara memutarkan hitam matanya. Dia menepuk adonan tepungnya saat ini. "Kau tak lihat, aku sedang membuat kue."
Reaksi Ara saat ini, membuat Agatha terkekeh pelan. Dia memang salah menanyakan sesuatu yang terlihat jelas saat ini. "Tidak. Maksudku, apa alasanmu untuk membuat ini?"
"Aku ingin memberikan makanan untuk Jackson." Pikiran Agatha teringat dengan seorang pria yang memiliki tubuh tinggi dan besar, tak bukan tak lain adalah tetangga mereka.
"Tak biasanya kau memberikan makanan untuk tetangga."
Pipi Ara bersemu merah, hal itu membuat Agatha bertanya-tanya. Dia tak menanyakan sesuatu yang bersifat privasi. "Kenapa kau?
"Jangan bilang siapa-siapa ya." Ara membersihkan tangannya dengan air yang mengalir pada keran, laku dia menghampiri Agatha. "Saat ini, aku dan Jackson sedang dalam masa pendekatan."
"Hah!"
"Mengapa reaksimu seperti itu?"
Agatha langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bukankah kau kemarin dirumorkan sedang menjalin hubungan dengan Axel?"
"Tidak, itu hanya rumor biasa." Ara kembali berbalik, dia kembali sibuk dengan bahan-bahan makanya saat ini. Agatha hanya melihat saja, dia meminum kopi hangat.
Sesekali mereka akan berbincang dan membahas tentang skandal Agatha. Ara turut ikut memberikan nasihat untuk Agatha.
"Astaga, krim nya habis. Bisakah kau membelikan aku krim bewarna merah, Agatha." Waktu belum menunjukkan tengahnya malam, pasti masih banyak aktivitas di perkotaan.
"Baiklah. Aku akan membelinya." Agatha mengambil jaket, masker dan topi. Menutupi identitasnya sebisa mungkin, matanya menangkap sebuah pisau kecil. Mulutnya mengeluarkan seringai, pastinya peneror akan mengikutinya lagi, untuk jaga-jaga, Agatha mengambil pisau kecil tersebut.
Dia keluar dari gedung apartemennya. Minimarket ada di depan gedung apartemennya. Tinggal menyebrangi jalan raya, dia sudah sampai di tempat yang dituju. Minimarketnya sangat sepi, hanya ada dirinya saja sebagai pembeli dan pramuniaga yang tengah menyusun produk makanan dan minuman di rak.
Agatha langsung mengambil krim. Lalu, menyerahkannya pada kasir. Hanya satu barang saja yang Agatha beli namun dalam jumlah banyak.
Setelah membayar barang belanjaannya, Agatha langsung keluar. Entah karena perasaannya atau tidak, jalanan ini begitu sepi, tak seperti tadi. Bulu kuduk Agatha berdiri, dia sangat tak menyukai situasi seperti ini.
Dia berlari dengan cepatnya, menyebrangi jalan raya. Ada sebuah gang kecil di dekat gedung apartemen yang harus Agatha lewati. Kakinya gemetar, firasatnya mengatakan bahwa situasi ini sangat berbahaya. Agatha berlari kencang melewati gang kecil, namun sayangnya, firasatnya benar. Agatha merasakan mulutnya di bekap, bius yang tertempel pada kain di mulutnya membuat kepala Agatha pusing.
"Apalagi ini, Tuhan?"