8. Narkoba

1507 Words
Di dalam restoran, Agatha hanya diam saja. Mendengar Ara, Hana dan Grace yang sibuk berbicara. Dia juga hanya membuat makanan yang tersaji untuknya berantakan pada piring. Memegang sendok dan mengaduknya sehingga membuat dia tak bernafsu makan lagi. Beberapa kali, Agatha melirik ke arah Ara. Wanita itu tampak biasa saja. Agatha ingin tahu tentang semua yang diucapkan Ara tadi. Siapa yang ingin dihancurkan nya? Setahu Agatha, Ara tak memiliki musuh atau orang yang tak disukainya. Ara termasuk wanita yang baik, selalu menjaga bicaranya dan pintar, sehingga banyak orang yang menyukainya. Sempat terlintas dalam pikirannya kalau Ara hanya memakai topeng saja di depan kamera dan member Smart, tapi cepat-cepat Agatha singkirkan ide pikirannya. "Agatha, mengapa kau diam saja sedari tadi?" Agatha tersentak kaget. Dia menatap Hara, senyum kecil terbit di wajahnya. "Tidak. Aku hanya memikirkan beberapa masalah yang menimpaku akhir-akhir ini." Agatha kembali mengambil sendok nya lalu mengaduknya lagi. Dipisahkannya antara sayuran dengan daging laku disatukannya kembali, seperti itulah kegiatan Agatha hari ini. "Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin, masalah itu akan berlalu dan para penggemar juga perlahan akan melupakan masalah tersebut." Agatha membenarkan. Biasanya memang jika ada skandal seperti ini, pastinya suatu hari nanti akan mereda untuk para penggemar. Berbeda dengan para pembenci mereka yang akan terus mengungkit masalah ini terus, entah sampai kapan. Mereka menghina Agatha dengan sebutan pembully dan beberapa komentar menyuruhnya untuk mati saja. Agatha baca itu, dimana dirinya di beri dia untuk cepat mati. Lalu, sebutan apa yang tepat untuk mereka? Tanpa sadar mereka juga ikut membully dirinya. "Bagaimana dengan Krystal? Apakah dia mendapatkan penyelesaian dari masalah ini." "Belum. Sampai saat ini, Krystal belum mengkonfirmasi aku." Sudah dua minggu masalah ini masih belum terselesaikan. Hal tersebut membuat Agatha resah. Biasanya Krystal akan menyelesaikan masalah dalam waktu beberapa hari saja. agathay juga tadinya sudah yakin untuk menyelesaikan masalah ini, tapi perlahan dia sudah mulai tak yakin. "Kita tunggu aja. Mungkin Krystal masih sibuk dengan pekerjaannya yang lain." Agatha mengambil minumannya. Kebetulan mereka duduk di meja dekat jendela, sehingga Agatha dapat melihat aktivitas di luar ruangan. Ada banyak orang yang berjalan kaki sendiri atau berkelompok ada juga yang membuat pertunjukkan dengan bermain alat musik, seperti gitar atau biola. Agatha menyipitkan matanya, lagi-lagi dirinya melihat seorang pria yang memakai jaket, topi dan masker. Dia mengalihkan pandangannya. Jika peneror tersebut mengetahui bahwa Agatha melihat dirinya, pasti dia kabur lagi, seperti sebelumnya. Sesekali, Agatha akan melirik ke arah dia, memegang kamera dan memotret dirinya. Kelakuannya hampir sama dengan paparazi, yang selalu mengikuti artis kemana saja. Jika Agatha lebih dalam melihatnya. Perawakan pria itu hampir sama dengan perawakan Jackson, tetangga barunya. Dari tinggi dan tubuh yang kekar. Rasa curiganya pada Jackson semakin bertambah. Agatha harus mencari tahu lagi tentang pria itu. Perlahan, tangan Agatha merayap, menyentuh tangan Grace yang duduk di sampingnya. Wanita itu menengok, menatap Agatha dengan alis yang terangkat satu. Dia mengetahui apa yang Agatha lakukan saat ini. Pasti ada yang ingin diberitahukan Agatha pada dirinya namun bersifat rahasia. Agatha melirik sejenak ke arah sebuah gang kecil yang di apit dua bangunan tinggi. Gang kecil itu sangat sepi, sehingga tak ada yang mengetahui keberadaan dia. Grace mengikuti arah pandang Agatha. Dia menatap sejenak, lalu mengangguk mengerti. Dalam otaknya sudah mencatat bagaimana perawakan pria itu. "Ayo kita pulang!" Agatha mengambil tas nya. Lalu berdiri, melihat Ara dan Hana yang sedang bersiap-siap untuk pergi. "Agatha, aku pulang bersama mu ya." Agatha diam sejenak. Dia sebenarnya keberatan untuk bersama dengan Ara. Agatha harus menjauhi Ara sejenak, dia harus meyakinkan dirinya untuk tidak berprasangka buruk lagi pada Ara. Namun, tatapan wanita itu yang memohon membuat Agatha terpaksa mengangguk. Dia tersenyum lebar, hanya senyum palsu saja. "Baiklah. Ayo kita berangkat." •••••• Diperjalanan, Agatha tak sedikitpun yang membuka suara. Agatha tampak fokus dalam mengendarai mobilnya. Melirik Ara yang senyum-senyum sendiri saat ini seraya menatap gadgetnya. Pikiran Agatha bertanya-tanya ingin tahu sebab Ara tersenyum, tapi ego nya mengalahkan rasa ingin tahunya saat ini. Disaat Ara akan mengambil sesuatu dalam tas nya, dia menaruh gadgetnya di atas pahanya. Agatha lebih memfokuskan tatapannya, ingin melihat lebih jelas tentang gadget Ara. Jack ? Dia langsung mengalihkan pandangannya setelah melihat nama kontak seseorang yang ada dalam room chat Ara saat ini. Siapa Jack? Setahu Agatha, Ara saat ini sedang menjalin kedekatan dengan Dominic, bukan Jack. Apalagi, Agatha sedikit melihat beberapa kata-kata cinta yang mereka berdua saling layangkan. "Agatha. Apa yang kau lakukan jika ada seseorang yang menyakitimu?" tanya Ara. Dia mematikan gadgetnya lalu menyimpan dalam tas. "Tak banyak. Aku hanya ingin menjauhi orang itu saja," ucap Agatha jujur. Dia memang paling malas menghadapi orang-orang yang membencinya. Agatha juga tak ingin terkena penyakit karena terlalu memikirkan orang-orang yang membencinya saat ini. "Pilihan yang bagus." "Maksudmu?" Mobil yang dikendarai oleh Agatha di turunkan kecepatannya. Berjalan dengan santai, karena dia tak akan fokus untuk mengendarai mobil saat ini. Ara gelagapan. Dia meremas bahunya pelan untuk menahan rasa gugupnya. Lalu, dia tersenyum kecil. "Pilihanmu memang sudah tepat dan tak perlu penjelasan lebih dalam lagi." Ara yang terlihat gugup, jelas Agatha tahu. Dia hanya mengangguk saja lalu kembali menaikkan kecepatan mobilnya. ••••• Hari ini, Agatha harus menjalani pemotretan nya. Cuti nya sudah selesai, dia kembali melakukan aktivitas seperti sedia kala. Berada di depan kamera lalu menunjukkan kelebihannya. Sudah tiga minggu berlalu cepat sejak skandal dirinya muncul, saat ini rumor buruknya sudah mulai hilang. Agensinya juga sudah memberikan klarifikasi, Agatha sudah memberikan ucapan permintaan maaf dan pembelaan. Agatha tentu membela dirinya sendiri. Dia tak akan terus diam disaat orang lain berusaha menjatuhkannya. Saat ini, Agatha harus siap untuk menghadapi hari-harinya sebagai artis dan penyanyi lagi. Ketiga teman-temannha juga sudah mulai padat jadwalnya, tidak seperti sebelumnya. Hari ini, Mark mendampinginya. Karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja, pasti dia membutuhkan Mark juga nantinya. Pria itu telah siap. Dengan pakaian formal nya. Agatha langsung berlari cepat dan merangkul Mark. Mereka memang sangat dekat, tapi bukan dalam artian menjalin asmara. Mereka hanya seperti kakak dan adik saja, tak lebih. "Kau sudah siap bekerja hari ini?" "Tentu saja." Mereka berbincang di sepanjang jalan. Tak memperdulikan jika ada paparazi atau orang lain yang melihat kedekatan mereka. Netizen juga sudah sangat mengetahui bagaimana member Smart sangat dekat dengan manajer nya. "Ara hari ini ada kegiatan apa?" tanya Agatha. Hubungan antara Ara dengan Agatha juga sudah mulai membaik. Agatha juga tak tega terlihat jahat dengan mendiami Ara terus seperti kemarin-kemarin. "Dia hanya menghadiri acara radio untuk wawancara biasa. Lalu, tak ada jadwal lainnya." Mereka memasuki mobil. Agatha menurunkan kaca jendela, melihat beberapa sekelompok gadis yang memakai pakaian seragam sekolah tengah berbincang asik. Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada sekelompok gadis itu. Mereka langsung bersorak gembira dan meneriaki namanya. "Lihatlah, penggemarmu masih banyak. Anggap saja skandal kemarin hanya ujian kesetiaan para penggemar untukmu. Jika ada yang tak menyukaimu lagi, berarti kau beruntung karena sudah tak memiliki penggemar yang ingin kau menjadi sempurna saja." "Kau sangat benar." Agatha sedikit membangunkan tubuhnya. Dia langsung menarik leher Mark dan memeluknya dengan pelan, membuat pria itu harus teriak untuk dilepaskan. Agatha tertawa. Lihatlah wajah kesal Mark saat ini. Bukan hanya Mark yang kesal, tapi pengendara lain karena tadi Mark hampir saja mengerem mobil dan jika Mark sampai mengerem secara mendadak, pasti kecelakaan akan terjadi. "Maaf." Agatha tersenyum, ucapannya sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya. Tak ada siratan bersalah sedikitpun dari wajahnya, hal itulah yang membuat Mark harus menahan kesal. Agatha menghidupkan radio dalam mobil. Mendengar suara khas Ara yang tengah berbincang bersama dengan pembawa acara di radio. Perjalanannya hanya diisi dengan wawancara Ara saja, sesekali dia bersiul pelan disaat Ara bernyanyi tanpa musik. Sangat indah suara Ara, suara khas wanita Asia. "Ayo, kita sudah sampai." Mereka keluar dari mobil. Melihat gedung yang sangat tinggi berdiri, berusaha mencakar langit yang mendung. Mereka memasuki gedung. Menggunakan Lift ke lantai 5 dimana tempat pemotretan. Agatha harus dirias terlebih dahulu, pemotretan hari ini bertema garden dimana dirinya memakai gaun panjang bewarna hijau yang terbelah, sehingga menunjukkan kaki jenjangnya. Wajah Agatha dihias dengan natural, lalu rambutnya digerai, namun sebelum itu, para penata rambut terlah membuat rambut Agatha menjadi keriting dibagikan bawah saja. Agatha diberi satu buket bunga. Lalu, dia langsung menuju ke studio pemotretan. Sang fotografer telah siap dengan kameranya. Agatha duduk di sepotong kau. Di sekitar tubuhnya sudah terdapat banyak tumbuhan, Agatha mengelusnya pelan. Ditunjukkannya gaya anggun. Dia mengambil satu tangkai bunga mawar, memegangnya dengan hati-hati. Lalu diciumnya bunga itu seraya menutup mata. Sesekali, Agatha akan di arahkan oleh fotografer untuk berpose. Dia mengambil keranjang buah-buahan, lalu kembali berpose. Hanya 10 foto yang di ambil. Agatha telah selesai dengan pekerjaannya. Dia melihat hasilnya. "Wajah dan tubuhmu sangat tepat dengan tema pemotretan kali ini Agatha. Kau sangat cantik." Tanggapan Agatha hanya senyum saja. Dia sudah cukup terbiasa dengan pujian yang dilemparkan untuknya. Setelah semua selesai, mereka keluar dari gedung pemotretan. "Minum." Mark memberikan satu botol mineral pada Agatha. Agatha langsung meminum hingga habis. Matanya melirik sejenak pada televisi tipis yang tertempel pada tembok. Dia membelalakkan matanya saat melihat judul pada acara berita siang hari ini. Agatha Smart di duga memakai narkoba. "Seseorang tanpa identitas telah menyebarkan foto Agatha yang diduga memakai narkoba ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD