Ruangan itu gelap. Satu lilin merah menerangi ruangan itu. Alunan biola dari seorang pria membuat sang wanita merasa nyaman. Biola yang mengalun dengan melodi sedih, tak membuatnya terganggu. Justru dia merasakan sebuah kebahagiaan disaat mendengar gesekan biola.
Satu gelas kristal di atas meja diambilnya. Gelas yang berisi cairan biru muda, seperti berlian. Diminumnya, meresapi rasa pahit yang menyentuh tenggorokan hingga lambungnya. Rasa hausnya telah hilang, rasa tenang datang.
Akhir-akhir ini, dia merasa sangat baik. Satu prinsip terbesarnya telah dicapai, meski belum sepenuhnya. Senyum nya terbit kala mendengar suara kunci terbuka, kunci pintu dalam ruangannya.
Ruangan ini yang semulanya sangat gelap, mulai terang saat pintu terbuka. Satu bayangan terlihat, dari bayangan itu dapat disimpulkan bahwa yang datang adalah seorang pria, terbukti dengan model rambutnya yang pendek. Tangannya dimasukkan ke dalam celana, berjalan santai secara bersiul, dia menyapa pada sang pemain biola.
Dia menghampiri seseorang yang sedang duduk di sofa. Wanita itu langsung berdiri dan memeluk sang pria. Ukuran tubuh sang pria yang tinggi, mengharuskannya untuk berjinjit untuk bisa mencapai leher sang pria. "Aku sudah lama menunggumu." Wanita itu berbisik pada sang pria.
"Ya. Aku tahu bahwa kau selalu merindukan aku." Sang pria terkekeh pelan. Dia menjentikkan tangannya, menyuruh pemain biola untuk pergi dari ruangan ini.
"Aku menyesal memberikanmu tugas itu. Jadinya sekarang kau sibuk menyelesaikan tugasmu." Wanita itu memajukan bibirnya, dia terlihat sangat kesal. Menunggu sang kekasih lebih dari tiga jam lamanya dari tadi sore.
"Aku melakukan semua ini untukmu." Pria itu melepaskan rangkulan wanitanya. Dia beranjak, menuju tembok dan meraba pelan, mencari letak sakelar lampu berada. Setelah ketemu, dia menekan sakelar, sehingga lampu hidup. Menciptakan cahaya yang menyinari ruangan. "Kau sangat cantik malam ini, sayang."
Wanita itu tersenyum malu pada pria. Dipuji pada seseorang yang sangat dicintai, siapa yang tak suka? Apalagi dia sangat mencintai pria itu. Pria yang menemaninya disaat dia merasakan kesedihan dalam hidupnya. "Hey. Apakah kau sudah mendapatkan banyak informasi."
Pria itu mengangguk. Di lehernya terdapat kalung yang di lehernya terdapat strap kamera yang membawa kamera. Dia memberikan kamera pada wanita nya. "Aku sudah mengawasi kehidupannya."
Disaat wanitanya tengah asik dengan foto-foto yang di dapat dari kekasihnya. Pria itu menelusuri ruangan. Pada pojok kanan, terdapat satu tembok yang penuh akan foto-foto seorang wanita. Mulutnya mengeluarkan seringai kejam, satu tangannya yang lain mengepal kuat. Dia harus menahan hasrat terbesar dari hidupnya.
Hasrat membunuh.
Namun, hasrat itu harus ditahannya karena belum saatnya bagi dirinya untuk membunuh wanita yang berada dalam foto itu. Mendengar perintah kekasihnya akan jauh lebih baik. Dia tak bisa membuat strategi, tetapi dia pandai dalam menjalankan strategi. "Dia sudah keterlaluan." Geramnya dengan nada yang kecil.
"Aku sangat tak menyukai dia. Mengapa dia harus tersenyum lebar disaat aku menderita?" Pria itu berbalik, melihat kekasihnya yang sudah membanting kamer hingga Hancur. Dia menggeleng pelan, berjalan mengambil memo dalam kamera. Sudah dapat dipastikan bahwa kamera itu sudah sangat rusak dan tak bisa digunakan.
Dia menghampiri kekasihnya. Memeluk secara erat, seolah menyalurkan rasa tenang untuk sang wanita. "Tenang saja. Dia akan merasakan sakit yang sama dengan kau rasakan saat ini." Wanita itu mengangguk, mendengar ucapan dari kekasih sendiri memang terbaik.
"Kau berjanji akan selalu ada di sampingku? Menuruti setiap keinginan ku dan tak meninggalkanku?" Pria itu terkekeh pelan, suara kekasihnya begitu menggemaskan saat sedang menangis.
Dia melepaskan pelukannya. Mencubit hidung mancung wanita itu sehingga membuatnya meringis. "Janji itu tak penting. Yang terpenting adalah bukti."
"Kau benar. Setelah semua ini selesai. Aku janji akan menerima persetujuan menikah padamu."
Senyum terbit di wajah pria. Merasa bangga dan senang melihat wanita yang sudah menyandang status pacarnya selama empat tahun ini mulai menerima dirinya. "Aku jadi tak sabar untuk menyelesaikan masalah ini."
•••••
Untuk menghindari komentar jahat yang akan Agatha baca, dia mulai membuat akun baru, tapi dengan username yang berbeda. Dia harus memastikan keadaan dunia ini selama dirinya cuti. Ya, dia diberi cuti selama satu bulan penuh. Seluruh kontrak nya akan dimundurkan dan juga dia akan menonaktifkan seluruh media sosialnya, itulah hukuman yang diberikan Mr. Parker untuknya.
Agatha menjalani hidupnya dalam apartemen saja, dia biasanya menghabiskan waktu secara sendiri. Teman-temannya memiliki jadwal yang sangat padat, seperti pemotretan atau menghadiri reality show.
Rilis lagu mereka di mundurkan. Banyak penggemar yang kecewa akan hal itu, tapi mereka tetap mendukung Smart untuk melawan skandal yang menimpa Agatha saat ini.
Agatha menggeleng pelan. Niat dia membuat akun media sosial barunya untuk melihat berita di akun gosip, tapi yang Agatha dapat adalah war antara penggemarnya dengan pembencinya. Agatha merasakan sakit hati disaat dia melihat banyak sekali komentar negatif dalam bentuk pelecehan. Dia ingin sekali melaporkan orang itu ke kantor polisi, namun harus ditahannya.
Dari semua ujaran kebencian yang Agatha dapat, dia hanya mempermasalahkan komentar pelecehan. Dia merasa tak dihargai sebagai wanita. Apalagi, yang memberikan komentar pelecehan adalah sesama wanita juga. Apa mereka tak punya hati?
Memang benar kata orang bahwa musuh kaum wanita adalah wanita itu sendiri.
Agatha keluar dari akun gosip. Dia beralih ke pencarian, mengetik satu nama yang ingin dikunjunginya. Jika kemarin Agatha mencari tahu tentang Irene, maka sekarang Agatha mencari tahu tentang Merry Koppen, wanita yang menjadi saksi dalam skandal nya.
Tak ada hal penting di akun wanita itu. Dia hanya sering memosting fotonya saat berlibur di pantai saja. Merry memang sangat menyukai petualangan, bahwa saat ini kulit wanita itu sudah menghitam karena terlalu lama terkena pancaran sinar matahari.
Setelah Agatha scroll sampai bawah, dia tak melihat satupun postingan foto yang bersama dengan Irene. Merry justru sering berfoto dengan teman yang lainnya. Bukankah mereka sahabatan? Apalagi saat ini Merry juga tinggal di Belanda, negara yang sama dengan Irene.
"Mengapa mendapatkan informasi mereka begitu sulit?" Agatha menidurkan tubuhnya. Sudah seharian dia gak beranjak sedikitpun dari ranjangnya ini. Tubuhnya menjadi pegal karena dia tak bergerak banyak. Agatha beranjak, dia membuka tirai jendela.
"Keluar dari apartemen sepertinya tak buruk."
Agatha mengangguk. Dia mulai merasakan bosan saat ini. Sepertinya bermain dengan teman-temannya yang lain bisa membuat kebosanannya menghilang.
Telepon Agatha berdering. Dia mengambilnya. Melihat Grace yang menghubunginya. "Ada apa?"
"Ayo kita ke restoran yang Apple Voice. Aku tahu kau pasti sudah bosan di dalam apartemen." Agatha mengangguk dengan semangat.
"Baiklah, tunggu aku. Aku akan berganti baju."
Memakai kaos putih dengan lambang C besar di pusat baju itu, Agatha juga memakai rok yang menutupi hingga sampai lutut. Tak lupa mengambil satu jaket dan masker juga topi.
Dia sudah siap. Dengan menutupi identitasnya seperti ini, maka tak akan ada yang menganggu Agatha, apalagi paparazi.
Bel berbunyi. Agatha meneguk saliva nya kasar, dia takut kalau yang memencet bel adalah peneror. Dia berjalan lambat, berusaha untuk tak menimbulkan suara. Dia ingin menangkap peneror itu secara langsung. Agatha membuka kunci dengan hati-hati dan tanpa menyebabkan bunyi. Setelah kunci terbuka, Agatha langsung memutar kenop pintu. Melihat pemuda dengan pakaian hitam, kulit putih, mata hitam kecoklatan berada dalam depan unit apartemennya.
Pemuda itu tersenyum canggung pada Agatha.
Sebaliknya, Agatha menyipitkan matanya pada dia. Pemuda itu membawa sebuah paperbag, hal itulah yang membuat Agatha semakin curiga. Pasti yang ada dalam paperbag itu adalah mayat tikus lagi, atau darah tulisan dengan darah manusia, pikirnya. "Ada apa kau kesini?" Agatha bertanya dengan nada sinis nya.
"Aku hanya ingin mengantarkan mu makanan." Pemuda itu memberikan paperbag, Agatha tak langsung menerima. Dia memajukan tubuhnya dan menunduk sedikit, melihat isi dalam paperbag itu.
Sebuah benda bewarna putih. Bentuknya kotak persegi panjang atau balok. Dia melihat logo restoran dalam kotak itu. Tentu Agatha mengenali logo itu, pasti ada makanan yang berupa Red Velvet di dalamnya.
Agatha langsung mengambilnya dan memberikan senyum garis pada pemuda itu. "Kau siapa?"
Pemuda itu menunjuk pada pintu unit apartemen yang berada di sebelah apartemen Agatha. "Aku adalah tetangga barumu. Perkenalkan namaku adalah Jackson."
Jackson mengulurkan tangannya dan langsung diterima oleh Agatha. "Agatha."
"Sangat senang memiliki tetangga seorang penyanyi seperti anda."
Agatha hanya mengangguk.
"Hmm, baiklah. Aku akan kembali."
Jackson memutar tubuhnya 90° ke arah kanan. Dia memakai kartu untuk membuka kunci, juga scan jari tangan, setelah itu pintu terbuka.
Entah kebetulan atau tidak, tadi Agatha melihat Jackson yang menyeringai dan menatapnya secara dalam. Kecurigaan muncul dalam benak Agatha.
"Apakah itu peneror nya? Dia pasti sengaja membeli unit apartemen di samping apartemenku untuk lebih leluasa mengawasi ku." Agatha bergumam.
Dia harus menyelidiki tentang Jackson lebih dalam dan membicarakan ini bersama dengan teman-temannya. Agatha berlari, masuk ke dalam apartemennya dan menaruh makanan yang diberikan Jackson. Tak ada niat sedikitpun untuk memakannya, pasti Jackson menaruh racun dalam makanan itu.
Menaiki mobil dan meluncur menuju restoran. Terjadi kemacetan yang membuat Agatha harus telat setengah jam. Dia memakirkan mobilnya, lalu keluar dari mobil.
Dagunya mengerut kala melihat Ara yang berada diluar restoran sedang menelpon seseorang. Agatha berjalan secara perlahan, dia berniat untuk mengagetkan Ara. Namun langkahnya terhenti kala mendengar ucapan Ara.
"Jangan gagalkan rencana ini. Aku sudah merancanakan nya. Aku ingin cepat hancurkannya. Rencana ini harus berhasil." Agatha langsung bersembunyi. Cukup terkejut mendengar ucapan Ara.
Setelah melihat Ara yang sudah masuk dalam restoran, Agatha ikut menyusul. Dia tersenyum canggung pada teman-temannya. Menatap dalam Ara. Wanita seperti segan saat melihat Agatha. Kecurigaan muncul dalam dirinya lagi.
"Apa memang Ara juga yang ikut meneror ku? Tapi ... Astaga, aku tak boleh berpikir buruk seperti ini."