15. Bertemu Irene

952 Words
Agatha mengambil sebuah paper bag yang berada di bangku belakang, melihat isinya sejenak dan langsung memberi paper bag itu kepada Irene. Tatapan bingung di dapatkannya. "Pakai saja, aku yakin penculik mu ada di mana-mana." Irene mengangguk. Dia mengambil paper bagi Agatha, mengambil sebuah jaket dan masker. Dia menyembunyikan wajahnya dengan menggunakan jaket dan masker tersebut. Agatha sendiri merasa bahwa kejadian buruk yang dialaminya disebabkan oleh satu dalang saja. Dia telah mempercayai Irene, menurutnya, Tuhan telah membantunya karena bertemu dengan Irene. Irene mengetahui apa yang terjadi dengannya, kemungkinan Irene telah digunakan sebagai dalangnya, padahal dia juga adalah korban. Kini, mereka sudah ada di basement yang sepi. Agatha melihat keadaan tempat parkir ini, sampai saat ini, dia belum juga melihat peneror. Tumben, biasanya kalau Agatha keluar satu langkah saja dari apartemen, dia langsung melihat peneror yang mengintainya. Apa yang direncakan oleh peneror? Apa dia mengetahui bahwa Agatha telah membawa Irene? Tidak! Agatha harus mengamankan Irene saat ini. Mungkin setelah dirinya mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Agatha akan melepaskan Irena. "Ayo kita keluar." Agatha menggenggam tangan Irene, mereka lari dan memasuki lift, begitu juga ketika lift terbuka, mereka berlari sampai ke apartemen Agatha. "Masuk!" Agatha akhirnya bisa bernapas lega. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menghirup oksigen sebanyaknya agar dirinya bisa lebih tenang. Dilihatnya Irene. Penampilan wanita itu masih berantakan. "Kau bisa membersihkan diri di kamar mandi. Aku akan menyiapkan baju untukmu." Agatha menunjuk ke arah pintu bewarna cokelat, letaknya di dekat dapur. Irene yang mengerti, mengangguk. •••• Baju untuk Irene telah dia siapkan. Sembari menunggu Irene mandi, Agatha menyiapkan makanan terlebih dahulu. Makanan ringan semacam Spaghetti menjadi santapan malam ini. Dilihatnya Irene yang telah selesai mandi, keluar dengan penampilan yang berbeda. Kulitnya sudah bersih, tak ada lagi kotoran yang menghiasi. Wajahnya juga tampak segar. "Kalau kau sudah mandi, cepat makan." Agatha menyajikan makanan di atas meja. Mereka makan tanpa mengeluarkan suara. Baik Agatha dan Irene merasa canggung, semasa sekolah mereka tak begitu dekat, justru sebaliknya, mereka terkesan bermusuhan dan saling menjatuhkan. "Aku saja yang membersihkan piringnya." Agatha mengangguk. Dia juga sudah sangat lelah hari ini karena perjalanannya yang begitu jauh. Agatha melihat ke arah jam, pukul 00.15, matanya sudah sangat berat. Namun, Agatha tak ingin tidur sebelum dirinya mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dia perlu menunggu Irene menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu duduk di depan Agatha. "Jelaskan semuanya, Irene." Irene mengangguk. "Aku sangat tahu apa yang terjadi denganmu. Karirmu hancur disebabkan oleh satu dalang. Dia sangat ingin melihatmu hancur, sampai dia menculik ku, agar kau tak memiliki saksi dari skandal mu." "Siap dalang itu?" "Aku akan memberitahukannya nanti. Aku akan menceritakan semuanya." Irene memiliki alasan tertentu tak menjawab pertanyaan Agatha. "Aku dan sembilan temanku, dipaksa tutup mulut untuk masalah ini. Aku menolaknya, karena aku tahu, jika aku tutup mulut, maka namaku ikut terseret dalam skandal mu. Ternyata, mereka justru menculik ku agar aku tak membuka mulut." "Mereka?" Pikiran Agatha jadi blank, dia tak menyangka sekalipun jika musuhnya lebih dari satu. "Iya. Musuh mu adalah Joy dan tunangannya, Boby." Agatha terdiam. Joy? Tidak mungkin, meski hubungan mereka merenggang, Joy bukanlah tipe pendendam. Setetes air mata jatuh, Agatha ingin mengelak bahwa Joy bukanlah pelakunya, tapi siapa? Dia saja bermasalah dengan Joy di masa SHS nya. Agatha beranjak, dia langsung melayangkan tangannya untuk menampar Irene. "Jangan pernah menuduh Joy. Dia tidak jahat sepertimu dulu, Irene." Agatha harus menenangkan dirinya dulu. Dia ke kamar dan menangis terisak. Mengingat kembali masa lalunya. Di mana dia begitu dekat dengan Joy. Mereka bersahabat, seperti sepasang adik kakak. Hanya saja, penampilan Joy yang terkesan culun, menjadikannya bahan Bullyan di sekolah. Sudah berulangkali Agatha berusaha melindungi Joy dari preman sekolah dan disaat Joy sedih, maka Agatha akan ada di sampingnya. Mereka sering menghabiskan waktunya hanya bercerita. Agatha bahkan tahu keadaan kejiwaan Joy yang mulai terganggu karena penindasan yang di alaminya dan Agatha beserta keluarga Joy membantu Joy keluar dari keterpurukannya. Lalu apa yang membuat hubungan mereka merenggang? Semua itu dimulai saat teman lama Joy menjadi siswa baru di sekolah mereka. Wajahnya tampan, tubuhnya kekar, otaknya pintar dan dia sangat multitalenta yang membuatnya disayangi oleh pihak sekolah. Dia adalah Mark, pria dengan kesempurnaan yang dimilikinya. Mark sering menghabiskan waktunya bersama dengan Joy dan Agatha. Dia adalah sosok pria yang tak mudah bergaul, sehingga teman pria hanya beberapa saja yang dimilikinya. Tanpa Agatha ketahui, bahwa Joy sangat mencintai Mark. Pertemanan mereka berjalan dengan baik. Hanya cinta segitiga lah yang membuat bom besar menghancurkan pertemanan mereka. Di mana, Agatha menjalin hubungan dengan Mark selama beberapa bulan, hubungan mereka backstreet, bahkan Joy saja tak mengetahui hubungan mereka. Awalnya semua berjalan dengan lancar, Joy juga tak mengetahui hubungan mereka. Namun, sebuah petaka muncul. Di mana, Agatha dan Mark akan berekreasi di tanggal merah. Hanya saja, kecelakaan di alami, di mana mobil yang dikendarai Mark ditumbuk oleh sebuah truk. Kejadian itu membuat nyawa Mark melayang dan Agatha koma. Mendengar keadaan teman-temannya, membuat Joy kembali hancur. Apalagi melihat jenazah Mark yang dikubur dan melihat tubuh Agatha yang tergeletak di ranjang dengan bantuan medis untuk mempertahankan hidupnya. Mungkin sulit untuk Joy, karena dia harus melupakan Mark. Hidupnya berjalan lancar, Agatha juga sudah sadar dan kembali seperti semula, meski beberapa kali dia sedikit heran karena melihat Agatha yang begitu sedih atas kematian Mark. Namun, Joy hanya menganggap bahwa Agatha menganggap Mark sebagai teman saja, tak lebih. Hingga akhirnya, kebenaran terbukti. Joy mendapatkan informasi bahwa Agatha dan Mark pernah menjalin hubungan pacaran. Mulanya dia tak percaya, Joy mencari tahu semuanya dan informasi itu dapat dipastikan benar. Joy naik pitam, dia merah dan berusaha menghabisi Agatha. Keluarganya berusaha mencegah Joy untuk membunuh Agatha, keadaan kejiwaan Joy sudah sangat terganggu dan dengan terpaksa dia harus di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Hari kemarin adalah hari di mana dirinya bertemu untuk pertama kali dengan Joy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD