16. Bertemu

1136 Words
Agatha tak tahu harus mempercayai ucapan Irene atau tidak. Dia masih dalam mode tak percaya jika Joy menjadi pelakunya. Ketukan pintu menganggu Agatha. Dia beranjak, melihat ke arah pintu. Pasti Irene yang mengetuknya. Agatha beranjak, dia membenarkan penampilannya dan membuka pintu. Melihat Irene yang menundukkan kepalanya, tangannya membawa satu nampan makanan. Irene memberikan makanan tersebut pada Agatha. "Aku yakin kau lapar. Makanlah dulu." Agatha mengangguk. Dia menerima makanannya dan memasuki kamar, tak lupa menutup pintu kamarnya. Lagian juga Agatha merasa sangat lapar pagi ini. Dia menyantap makanan dengan waktu yang sebentar, pikirannya terus berjalan. Saat ini, Agatha tak ingin berpihak pada siapapun, baik di pihak Hot atau Irene. Kebenaran belum terungkap sepenuhnya, Agatha baru mendengar penjelasan dari Irene, berarti dia juga harus mendengar penjelasan di pihak Joy. Setelah selesai makan, Agatha membereskan makannya. Dia keluar, melihat Irena yang terduduk di sofa. Astaga, di mana selama dia tidur? Apakah di sofa? Agatha lupa mengatakan bahwa ada kamar kosong di apartemen ini. Karena semalam dia sangat kecewa, jadi tak kepikiran sama sekali. Dia jadi merasa bersalah. "Kau sudah makan, Irene?" Irene mengangguk. "Maaf, aku menggunakan dapur mu tanpa seizin mu." "Tak masalah." "Agatha!" Agatha berbalik, melihat Irene yang memanggilnya. Sepertinya ada yang dibicarakan oleh Irene. "Ada apa?" "Aku merasa apartemen mu tak aman. Semalam, kau mendengar ada seseorang yang mendesak untuk mendobrak pintu." Agatha mengalihkan pandangannya, melihat kayu penahan pintu yang akan rusak. Peneror itu ternyata sudah berani menunjukkan mukanya dengan kekerasan, berarti sebentar lagi, peneror itu akan muncul dan mengganggu ketenangan Agatha lebih dalam. "Lalu?" "Boby adalah pria yang berambisi. Dia sangat mengincar mu. Apakah kau tak ingin mencari perlindungan yang lebih kuat lagi?" Perlindungan? Agatha tak memiliki perlindungan, dia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. "Biarkanlah dia datang. Mungkin, dia akan membunuhku, maka dendamnya akan usai. Aku tak masalah jika harus dibunuh." Benarkan ucapan Agatha? Dari awal dia memang sudah pasrah, tak ada lagi rumah untuknya berpulang, lalu untuk siapa dia hidup. Irene berdiri dan menghampiri Agatha. Melihat kepasrahan Agatha membuat Irene merasa iba. Dia sangat tahu kepribadian Agatha, wanita itu kuat, pintar dan pastinya akan melawan siapapun yang mengganggu hidupnya. Berbeda dengan saat ini, di mana Agatha hanya pasrah pada kehidupannya. "Jangan putus asa, Agatha. Kebenaran harus terbukti. Ayo, aku akan membantumu tenang saja." Agatha menjatuhkan ratusan tetesan air mata, menangis lagi. Dia merasa senang saat ada seorang yang berada di dekatnya, saat Agatha terpuruk seperti saat ini. "Terimakasih Irene." Irene mengangguk. Dia melepaskan pelukannya. "Aku memiliki sepupu yang bisa membantumu. Apakah kau ingin bertemu dengan sepupuku?" Mengingat keluarga Irene yang kaya, pasti ada beberapa anggota keluarga besarnya juga yang berpengaruh. Ini kesempatan untuknya, kesempatan agar dia bisa membalaskan semua rasa sakitnya. Apakah Agatha akan bangkit atau justru pasrah? "Kau harus bangkit. Jangan pasrah dan jangan jadi manusia bodoh. Membiarkan orang lain menjatuhkanmu." Entah bisikan dari siapa, yang pasti Agatha merasa termotivasi dengan bisikan tersebut. Dia mengangguk dengan semangatnya. "Ya. Aku mau." Irene yang mendengar itu tersenyum bahagia. Setidaknya dia telah membalas kebaikan Agatha. "Baiklah. Aku akan menghubungi dia. Bisakah kau pinjamkan aku gadget?" Agatha mengambil gadget nya di kamar. Dia langsung memberikan benda pipih itu kepada Irene. Wanita itu seolah hapal nomor telepon sepupunya. Dia mengeraskan suaranya agar Agatha juga dapat mendengar pembicaraan Irene bersama dengan sepupunya. "Halo, Jhon." "Irene?" Tunggu dulu! Sepertinya Agatha mengenali suara ini. Tapi siapa? *** Di dalam mobil, Agatha terus kepikiran tentang suara orang yang Irene telepon tadi. Suaranya berat, sangat tak asing di telinga Agatha. Hanya ada satu nama yang terlintas dalam pikirannya. Jhony. Pria kecil dengan penampilan berandalan nya adalah ciri khas Jhony. Agatha menggeleng, sangat tak mungkin suara itu milik teman lamanya. Dia mendorong punggungnya ke jok mobil. Irene yang mengendarai mobil ini, mereka sudah 4 jam dalam perjalanan dan belum ada tanda-tanda mereka sampai. Justru saat ini, mobilnya berjalan di jalan raya yang bagian kanan juga kirinya dipenuhi oleh pepohonan. Sangat sepi dan juga Agatha tak merasakan ada yang mengikutinya lagi. Baju sudah Agatha bawa. Lagi-lagi dia harus pindah tempat tinggal untuk mencegah Joy dan Boby menerornya. Entah sejak kapan, Agatha mulai mempercayai ucapan Irene kalau Joy dan Boby adalah dalang dari semua ini. Apalagi saat pertemuan pertamanya dengan Joy, dari gelagat nya membuat Agatha curiga padanya. "Kita sudah akan sampai." Agatha yang tadinya akan terlelap, langsung sadar. Dia mengerjap'kan matanya, menahan kantuknya yang mendalam. Agatha mengangguk, dia mengambil gadgetnya, biasanya jika dia sedang mengantuk, maka gadget adalah obat untuknya. Mobil berhenti. Agatha menjauhkan gadgetnya, melihat bangunan tinggi kini berada di depan mobilnya. "Ayo, kita keluar." Koper milik Agatha dibawa oleh salah satu pria berpakaian hitam, tubuhnya kekar, penampilannya layaknya berandalan dan wajahnya mengerikan dengan satu goresan luka yang memanjang dari ujung pipi kanan hingga bagian bawa mata kiri. Cat rumah bewarna hitam, letaknya berada di tengah lebatnya hutan, pohon-pohon besar tua menghiasi rumah ini. Terkesan sangat menyeramkan, seperti berada di film-film horor. Pikiran Agatha menjadi parno, dia takut kalau dirinya dijadikan tumbal oleh Irene untuk persembahan. "Jangan berpikir buruk Agatha." Tanggapan Agatha hanya senyum kecil saja. Entah dari mana, Irene bisa membaca pikirannya. Apa dari gelagatnya? Mungkin saja. Mereka memasuki rumah itu. Rumah besar seperti sebuah Istana ini lebih tepatnya disebut sebagai mansion. Dengan lukisan abstrak yang menghiasi tiap tembok, guci dengan ukiran rumit dan lorong panjang yang harus mereka lewati. Ada sekitar empat pria yang mengikuti mereka dari belakang. "Dimana dia?" Irene memberhentikan langkahnya, dia menatap keempat bodyguard sepupunya itu. "Tuan sedang berada di dalam ruang kerjanya, Nona. Anda bisa langsung ke ruang kerja milik Tuan." Irene mengangguk. "Tinggalkan kami sendiri," ucap Irene. Dia sangat tahu bahwa Agatha sangat tak nyaman berada di dekat keempat pria itu. Wajar saja, penampilan mereka sangat mengerikan, seperti seorang mafia. Ruang kerja berada di lantai dua. Untuk itu, mereka harus menaiki lift agar cepat sampai. Hanya dalam waktu 7 menit saja, kini Agatha dan Irene sudah berada di depan sebuah pintu. Irene mengetuk terlebih dahulu. Sekitar tiga ketukan, sudah ada sebuah suara bel yang artinya mereka diperbolehkan masuk. Irene masuk terlebih dahulu, tak lupa dia menggenggam tangan Irene untuk ikut masuk. Ruangan bergaya vintage itu memiliki luas sekitar 4 m × 6 m, sangat luas sekali. Ada satu meja dan kursi kebesaran di tengah ruangan tersebut, kursi mengarah ke arah jendela yang berukuran besar. Jendela itu menunjukkan hamparan hutan yang lebat. "Kakak!" Irene memanggilnya. Pria itu berbalik. Agatha langsung menajamkan matanya, berusaha memfokuskan objeknya. Pria itu memiliki alis tebal, rahang yang sangat kokoh, bibirnya tebal bewarna merah, rahang yang kokoh dan kulitnya putih. Tinggi badannya sekitar 195 cm, sangat tinggi sekali. Dari seluruh ciri-cirinya dapat disimpulkan bahwa dia termasuk pria tampan. Agatha terhipnotis, bukan ketampanannya, tapi dugaannya benar. Dia Jhony, teman lama Agatha dulu. "Agatha?" Terlihat sekali kalau Jhony juga ikut terkejut, sama seperti dirinya yang terkejut juga. Bukan hanya itu, Irene juga mulai aneh dengan interaksi kedua manusia itu. Mereka saling mengenal satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD