Bantuan Jhony

1000 Words
"Sepertinya kalian saling mengenal." Agatha mengalihkan pandangannya. Dia tak pernah mengira bahwa Jhony sudah berubah cukup signifikan, tak ada pipi yang besar dan tubuh yang gemuk. Agatha saja harus menahan tawanya saat mengingat bagaimana penampilan Jhony dulu. Jhony seperti boneka panda, apalagi saat memakai seragam sekolah dengan baju yang dimasukkan, kancing baju hingga menutupi lehernya, khas pria culun. Berbeda dengan saat ini. Agatha mengenalinya hanya dengan mata biru nya, menurut Agatha matanya itulah yang membuat Jhony memiliki ciri khas di masa sekolahnya. "Kalian bisa duduk." Agatha duduk berhadapan dengan Jhony. Kedua manusia berbeda jenis itu menampilkan seringai masing-masing. Jhony beralih menatap Irene dengan datarnya, seringai miliknya tadi sudah hilang. "Ada perlu apa kau menghubungiku tadi, Irene?" "Aku sudah mengatakan, kalau aku perlu bantuan mu." Irene melirik sebentar ke arah Agatha. "Jadi, temanku ini sedang diteror oleh seseorang. Kau pasti bisa mengatasinya, 'kan?" "Tentu." Jhony menjawab dengan ringannya. "Kau bisa keluar terlebih dahulu, Irene. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya." Meski bingung, Irene tetap mengikuti ucapan Jhony. Dia sudah sangat mempercayai sepupunya itu, lagian juga Jhony bukanlah pria jahat, menurutnya. "Agatha. Sudah lama tak bertemu." Gaya bicara Johny terkesan santai, wajah datarnya juga hilang diganti dengan senyum lebar uang ditunjukkannya. "Ya. Aku juga sudah sangat lama tak bertemu denganmu." Seolah melupakan masalahnya, Agatha menghilangkan sikap formalnya. "Ternyata kau sudah berubah?" "Mengapa? Aku bertambah tampan?" Agatha mengangguk. Kejujuran Agatha membuat Jhony terkekeh geli. Wanita itu memang tak bisa berbohong kepadanya. "Lalu, apa yang bisa aku bantu?" "Aku diteror, bisakah kau menolongku untuk masalah ini?" Agatha sedikit tak yakin dengan ucapannya. Memangnya, Jhony siapa? Sepertinya Irene begitu mengandalkan pria ini. Setahunya, Jhony adalah putra dari pengusaha biasa. "Tentu bisa." "Jhony." Agatha memanggil, dia sangat ragu menanyakan hal ini. Menurutnya pertanyaan dalam benaknya lebih privasi. "Tanyakanlah!" "Kau memang siapa? Aku melihat, Irene begitu mengandalkan mu." "Aku hanya pengusaha biasa." Agatha mengangguk, masih ada rasa tak percaya dalam dirinya, tapi berusaha ditahannya. "Kau akan tinggal di sini. Aku pastikan, hanya dalam waktu beberapa bulan saja, masalahmu akan selesai." Jhony berucap dengan persuasif, sehingga Agatha langsung mempercayai ucapannya. "Kau sudah makan siang?" Agatha menggeleng. Dia meringis pelan merasakan lapar di perutnya. Ini sudah hampir sore, tubuh Agatha juga sudah lelah karena perjalanannya yang sangat jauh. "Ayo, kita makan siang." Jhony mengulurkan tangannya, Agatha mengangguk, dia langsung menerima uluran tangan Jhony. Mereka bergandengan menuju ruang makan dan saling bercanda. Tak menghiraukan para pelayan dan bodyguard yang menatap aneh dengan kemesraan mereka. •••• Ruangan itu seperti gudang. Seluruh barang-barang hancur, barang yang terbuat dari kaca pecah menjadi beling. Tak peduli dengan pecahan kaca itu, seorang wanita tetap saja berkeliling di ruangan tersebut, menghancurkan apa saja barang yang ada di dalam ruangan tersebut. Kaki wanita itu berdarah. Rambutnya basah akibat keringat. Wajah merah yang bermakna bahwa dia sedang marah saat ini. "Sialan. Mengapa dia bebas dengan sangat mudah." Tubuh wanita itu luruh, menumpahkan ribuan tetes air mata. Kakinya ditekuk, menyembunyikan wajahnya di tekuk kan kakinya. "Joy!" Seorang pria yang baru saja memasuki ruangan itu langsung menghampiri Joy. Dia memeluk tubuh Joy dengan eratnya dan membenamkan wajah Joy di dadanya. Membiarkan wanita itu menangis, hingga tenang. Setelah Joy sudah terasa tenang, Boby membantu Joy berdiri dan berjalan menuju ranjang berada. Dia mendudukkan Joy di atas ranjang, dilihatnya kaki Joy yang terluka dan mengeluarkan banyak darah. Dia membalikkan tubuhnya, mencari keberadaan obat luka berada. "Jangan sakiti dirimu. Serahkan saja semuanya padaku." Boby berucap seraya membersihkan darah Joy. Dia meneteskan obat merah dan melapisi lukanya dengan perban. "Aku berjanji, akan menemukannya." Joy menggeleng tak percaya. "Bahkan sampai saat ini saja, kita tak mengetahui keberadaannya." "Tidak. Percayalah padaku. Kali ini saja, aku akan membalas semuanya." Boby mengelus pelan bahu Joy, berusaha menenangkan wanita itu. Dia mengambil Sato botol kecil yang berisi obat-obatan. "Minum lah." Joy meminum obat tersebut, dengan bantuan air putih agar rasa pahitnya tak berasa di lidahnya. Tak berapa lama setelah meneguk obat tersebut, Joy merasa tenang dan kantuk berat datang. Dia menjatuhkan tubuhnya di ranjang, Boby membiarkan Joy tertidur dengan nyenyak. Boby keluar dari kamar Joy, melihat seorang pelayan yang hendak ke arahnya. "Bersihkan kamar Joy." Pelayan itu mengangguk. Lalu, Boby memasuki ruangan yang ada di samping kamar Joy. Dia mengusap rambutnya kasar, merasa frustasi karena targetnya pergi, entah kemana. Dia mengambil panah kecil lalu melepaskan panah itu ke arah foto yang menempel di tembok. "Kau akan mendapatkan akibatnya." Tangannya mengepal kuat, merasa tak terima dengan semua kekalahan yang diterimanya. "Tidak. Aku tidak kalah dan tidak akan menerima kekalahan." Boby jadi teringat dengan masa lalu. Di mana dirinya bertemu dengan Joy, di rumah sakit jiwa. Joy adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa, dia hanya diam saja sesekali menangis dan berteriak untuk meluapkan emosinya. Joy cantik hanya saja kekurangannya, dia tak bisa melupakan masa lalu nya. Setiap kali dia teringat dengan masa lalu, maka Joy akan frustasi dan obat penenang adalah satu-satunya jalan agar Joy kembali tenang. Boby terus berada di samping Joy kapanpun itu. Berusaha menyembuhkan Joy, akhirnya perlahan Joy bisa hidup seperti manusia normal. Dia tak banyak melamun lagi atau berteriak. Kejadian beberapa menit lalu, adalah kali pertamanya Joy mengamuk setelah keluar dari rumah sakit jiwa. Keadaan jiwanya terganggu lagi saat target kabur, padahal baru kemarin, Boby melihat dia tertawa dengan senangnya. "Aku akan membantumu keluar dari ruang gelap yang mengurung mu." Boby rela jika dia harus menjadi jahat untuk membuat Joy bahagia. Dia akan mengorbankan apapun itu untuk Joy. Kebahagiaan Joy hanya satu, yaitu terbalasnya dendam Joy di masa lalu. "Semua ini tak akan gagal. Dia akan cepat tertangkap dan kita akan langsung menghancurkan hidup dia lagi. Ya, pasti semuanya akan berakhir baik." Boby tersenyum penuh seringai, dia benar-benar terlihat telah merangkai seluruh kejahatan di dalam otaknya hanya untuk menghancurkan satu orang yang sama sekali tidak memiliki kesalahan padanya. Namun karena kebutaan nya, dia sama sekali tak peduli dengan masalah tersebut, karena Joy tetap akan menjadi prioritas utamanya saat ini. Ya, itulah yang selalu berada di dalam pikirannya. Ambisi itu terlalu kuat, sehingga dia tak bisa mundur begitu saja setelah melakukan semua masalah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD