berkenalan
"Udah di penghujung kelas dua belas nih, lo nggak mau nginep di rumah gue? Kenalan sama Daddy," ujar Laura, karena dia merasa sudah lama sekali berteman dengan Bella, menurutnya penting memperkenalkan Bella dengan keluarganya, sementara yang dia punya hanya ayah sekarang ini.
"Kita nggak tau kapan lagi bisa ketemu, entar lo sibuk sama diri lo, gue juga sibuk sama diri gue sendiri," jelas Laura, masih berusaha membujuk Bella, karena memang dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan sahabatnya itu.
Dia sudah sering menginap di rumah Bella, tapi Bella masih belum pernah menginap di rumahnya, kata Bella, Laura itu terlalu kaya jadi dia sungkan, padahal Laura sama sekali tidak pernah memandang itu, dia sama
sekali tidak pernah menganggap kesenjangan sosial yang ada di antara mereka.
"Tapi..."
"Kenapa? Daddy baik tau," ujar Laura masih berusaha membujuk, entah kenapa Bella tidak pernah mau bertemu dengan daddynya.
"Ya udah deh," jawab Bella akhirnya memutuskan, sepertinya tidak masalah juga. Toh benar apa yang Laura katakan, bahwa mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini, biasanya setelah lulus SMA masing-masing mulai menentukan jalan.
Laura langsung tersenyum lebar. "Oke, kita dijemput Daddy nanti!" Laura kemudian kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, guru
sudah keluar dari kelas mereka sejak beberapa waktu lalu dan mereka juga sudah boleh pulang.
Bella sendiri langsung mengirim pesan ke adiknya bahwa dia mungkin tidak pulang ke rumah karena mau menginap di rumah teman, nanti biar adiknya yang mengirimkan pesan ke kedua orang tua mereka karena memang keduanya tidak bermain ponsel jadi Bella memang hanya bisa menghubungi adiknya saja.
Setelahnya Bella tersenyum ke arah Laura, Laura tampak sangat antusias. Laura adalah anak broken home yang kekurangan kasih sayang, jadi hanya Bella yang bisa memahami perasaan Laura sejauh ini. Laura suka menempel-nempel, suka sekali menye-menye dan hanya Bella yang menganggap bahwa itu sama sekali tidak menyebalkan, padahal banyak yang merasa sebal dengan itu.
Keduanya sama-sama bangkit dari duduk dan berjalan bersama menuju keluar dari kelas, Laura sudah menggandeng lengan Bella seolah dia tidak bisa jalan sendirian, selalu begitu, itu kenapa banyak orang yang menganggap Laura annoying, hanya Bella yang bisa memahaminya.
"Nah itu mobilnya," ujar Laura.
Bella hanya mengikuti langkah Laura menuju ke sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di sebelah gerbang sekolah.
Laura langsung membuka pintu penumpang depan dan dia sendiri mempersilakan Bella untuk duduk di belakang, Bella yang diajak hanyanurut saja, karena ya apalagi yang bisa dia lakukan? Laura memintanya.
Begitu masuk mobil, Bella terkejut sekali saat seorang pria duduk di belakang kemudi, masih sangat muda, apa supirnya? Tapi, kenapa sangat rapi?
"Hai, Dad!" sapa Laura.
Membuat Bella melongo, dia tidak salah dengar.
"Laura sama teman Laura, namanya Bella. Bel kenalin, my lovely daddy," ucap Laura sangat antusias.
Bella tertegun sejenak, umur berapa ayah Bella menikah? Bagaimana perawakannya bisa kelihatan semuda ini?
"Bel!" Laura kembali menegur karena Bella hanya diam.
"Ah iya, salam kenal om, saya Bella." Bella lantas mengulurkan tangannya untuk menyalami daddy Laura, karena memang dia harus mengikuti apa yang Laura lakukan menyalami tangan daddynya.
"Salam kenal Bella, saya daddynya Laura."
Bella kemudian hanya menganggukkan kepalanya, semua kebingungan yang ada di kepalanya berusaha untuk dia telan sendirian, karena apa lagi yang bisa dia lakukan?
***
Mereka tidak langsung pulang ke rumah Laura, tapi ke mall dulu, makan udon. Bella kebanyakan diam, sebenarnya beberapa kali dia salah fokus karena setelah keluar mobil benar-benar kelihatan kalau daddy
Laura benar-benar sangat tampan. Perawakannya masih kelihatan seperti umur awal tiga puluhan, potongan rambutnya juga trendy dengan kemeja dan celana bahan yang kelihatan sangat pas di tubuhnya. Bella hampir gila rasanya saat melihat lengan kemejanya digulung sampai ke saku, apa daddy yang Laura maksud adalah daddy dalam tanda kutip?
Tapi, tidak sepertinya karena memang mereka kelihatannya seperti ayah dan anak, wallpaper ponsel daddy-nya juga foto kecil Laura.
"Habis ini kita belanja, lo nggak bawa baju, 'kan?" tanya Laura.
"Eh nggak usah, gue pinjem baju lo aja," tolak Bella sungkan, memang Laura ini selalu agak lain, apa-apa langsung beli, berbanding terbalik dengan Bella yang terlahir di keluarga sederhana, yang kalau mau apa-apa, mau beli apa-apa mikirnya panjang sekali.
"Nggak, gue juga pengen belanja." Laura menolak apa yang Bella katakan.
Daddynya hanya melihat interaksi Laura dan temannya, dia selalu senang dengan perkembangan baik anak perempuannya.
"Hari ini kalian boleh belanja sepuasnyya, Daddy yang bayar," ujarnya.
Semakin sungkan saja Bella.
"Eh, nggak usah om."
"Jangan sungkan Bel, hadiah karena sebentar lagi kalian lulus."
Bella menelan ludahnya dengan susah payah, dia adalah sosok yang sangat-sangat tidak enakan, bisa-bisanya dia malah terjebak di situasi ini, bisa-bisanya dia terjebak di keadaan yang menuntutnya untuk menjadi manusia yang tidak tahu diri. Bella benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
***
Kemudian benar saja Bella harus ikut ke sana kemari bersama Laura mengelilingi mall, masuk ke toko yang satu dan yang lainnya. Bukan toko biasa saja, mereka keluar masuk ke toko-toko barang barnded, membuat jiwa miskin Bella meronta-ronta, bahkan untuk menyentuh barang yang ada di dalam tokonya saja tangan Bella rasanya sungkan.
Tapi, Laura benar-benar luwes
memilihkan pakaian-pakaian untuk Bella, seolah tanpa beban membelikan Bella semua yang Bella butuhkan. Bahkan bukan hanya baju saja, tapi juga beberapa tas dan baju, dengan santainya daddynya membayar tanpa pertimbangan padahal yang paling banyak adalah barang-barang Bella.
"Duh om maaf ya, jadi ngerepotin," ujar Bella karena dia benar-benar merasa tidak enak hati, mana bisa dia menerima semua ini dengan cuma-cuma, dia berteman dengan Laura bukan karena untuk mendapatkan semua ini, dia memang hanya merasa nyaman, itu saja.
"Nggak masalah Bella, jangan sungkan." Daddy dari Laura itu malah terkekeh membuat jantung Bella seketika tidak aman, manusia di depannya ini sebenarnya sadar tidak kalau dia sangat tampan? Apa Bella,kalau dia sangat tampan? Apa Bella harus menyadarkannya?
"Daddy tuh duitnya banyak, tanggungannya cuma gue, jadi santai aja. Nanggung belanjaan lo nggak bakal bikin dia miskin," jelas Laura dengan kurang ajarnya.
Bella kemudian hanya menghela napasnya, namanya juga Laura, selama ini juga orang-orang selalu mengingatkan Bella kalau laura itu aneh, sayangnya Bella lebih mementingkan kenyamanannya saat dia berteman dengan Laura, ketimbang pendapat orang lain soal Laura.
Sekarang Bella baru sadar kalau memang ternyata Laura seaneh itu, kenapa ya dia baru sadar?
***
Laura benar-benar bahagia dengan membawa Bella ke rumahnya untuk menginap di rumahnya malam ini. Bella sendiri hanya ikut saja, ya dia bersyukur sih karena bertemu dengan Laura yang sangat baik. Hal yang membuat Bella semakin tidak menyangka adalah ternyata rumah Laura sebesar itu, Laura benar-benar anak orang kaya walaupun orang tuanya adalah orang tua tunggal.
Meski tiga tahun berteman semasa SMA tetapi baru kali ini Bella masuk ke dalam rumah Laura karena memang selama ini terlalu sungkan.
"Kita punya beberapa baju kembaran, kapan-kapan wajib ngemall pake baju kembaran sih!" ujar Laura masih dengan sangat antusias.
Bella hanya menghela napasnya, ya semoga saja pertemanan mereka
semoga saja pertemanan mereka awet. Bella kemudian mendudukkan dirinya di depan meja rias di kamar Laura, kamar ini benar-benar seperti kamar tuan putri di negeri dongeng, besar dan sangat nyaman, ah Laura beruntung sekali.
"Mau ngeringin rambut, sebentar ya," ujar Laura yang kemudian mengeluarkan hairdryer untuk Bella mengeringkan rambutnya.
"Makasih," ucap Bella saat hairdryer sudah di tangannya.
Laura hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Non, makan malam, sudah ditunggu daddy di bawah." Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Laura menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Laura.
"Oke Mbak!" jawab Laura.
Bella masih santai mengeringkan rambutnya.
"Udah nanti aja, kita makan dulu." Laura kemudian mengambil kembali pengering rambut yang sebelumnya dia berikan setelahnya menarik tangan Bella keluar dari kamar.
***
Dan di sinilah sekarang mereka berada, di meja makan rumah keluarga Laura, daddy Laura kelihatan semakin tampan saat memakai baju santai rumahan. Rasanya Bella ingin membenturkan kepalanya ke dinding, kenapa pula dia selalu salah fokus dengan ketampanan papa Laura?
Dia sudah gila apa?
Selama ini menjaga dirinya untuk tidak
jatuh cinta pada siapa pun, berusaha untuk mempertahankan agar tidak pacaran, tapi dia malah salah fokus dengan om-om? Ini gila sih!
"Setelah ini Bella mau kuliah di kampus mana?" tanya daddy Laura, entah kenapa Bella malah gugup.
"A..e.. Bella nggak kuliah Om, adik lagi sakit jadi kayaknya mau langsung kerja bantuin ekonomi keluarga," jawab Bella.
"Iya tuh Dad, adik Bella kena kanker tulang, nanti Bella kerja di kantor Daddy aja," ujar Laura.
"Ah nggak usah Lau, gue cari di deket rumah aja," ujar Bella masih sungkan.
"Ah begitu ya, nanti om cari deh posisi yang kira-kira bisa kamu masuk di kantor," putus daddy dari temannya itu.
Entah kenapa jantung Bella sangat tidak aman, ini dia masih waras kan?
***