bc

Cinta Akan Menjadi Kekuatan untuk Bisa Bersama

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
time-travel
friends to lovers
boss
drama
tragedy
sweet
kicking
brilliant
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Cinta Akan Menjadi Kekuatan untuk Bisa Bersama

Nayla Arunika tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu cepat.

Demi membantu keluarganya yang sedang kesulitan ekonomi, ia meninggalkan Yogyakarta dan pindah ke Bandung untuk bekerja di sebuah perusahaan digital marketing bernama Prisma Creative. Di usia yang masih muda, Nayla harus memikul tanggung jawab besar sebagai anak pertama.

Ayahnya sakit. Ibunya bekerja keras setiap hari. Dan adiknya masih membutuhkan biaya sekolah.

Karena itu Nayla memilih menekan semua rasa lelahnya sendirian.

Baginya, hidup bukan tentang kebahagiaan. Hidup adalah tentang bertahan.

Di tempat kerja barunya, Nayla bertemu dengan Arka Mahendra, seorang manajer muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati.

Semua orang menghormati Arka. Namun tidak banyak yang tahu bahwa di balik sikap tenangnya, laki-laki itu menyimpan luka masa lalu yang membuatnya berhenti percaya pada cinta.

Arka terbiasa hidup sendiri. Ia fokus bekerja dan menjaga jarak dari siapa pun.

Sampai akhirnya Nayla hadir dalam hidupnya.

Perempuan sederhana dengan senyum hangat itu perlahan mengubah banyak hal.

Dimulai dari perhatian kecil. Kotak makan siang. Pesan singkat untuk mengingatkan makan. Dan kebiasaan sederhana menemani lembur di kantor.

Tanpa sadar, Nayla menjadi seseorang yang selalu dipikirkan Arka.

Sementara itu, Nayla juga mulai merasa nyaman berada di dekat Arka.

Di tengah tekanan pekerjaan dan masalah keluarga yang tidak pernah selesai, Arka menjadi satu-satunya tempat yang membuat Nayla merasa tenang.

Namun ketika hubungan mereka mulai berkembang, masa lalu tiba-tiba kembali hadir.

Damar Prasetya.

Sahabat masa kecil sekaligus cinta pertama Nayla.

Setelah bertahun-tahun menghilang, Damar muncul kembali di Bandung. Kini ia tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang hangat, perhatian, dan masih menyimpan perasaan yang sama untuk Nayla.

Pertemuan itu membuka kembali kenangan lama yang belum benar-benar selesai.

Tentang masa kecil. Tentang janji sederhana. Dan tentang cinta pertama yang ternyata masih tertinggal di hati.

Kini Nayla berada di antara dua pilihan.

Arka, laki-laki yang perlahan mengubah hidupnya. Atau Damar, sosok dari masa lalu yang selalu membuatnya merasa aman.

Di tengah cinta segitiga yang rumit, Nayla juga harus menghadapi kenyataan hidup yang semakin berat.

Ayahnya kembali sakit. Biaya rumah sakit semakin besar. Dan dirinya mulai kelelahan menghadapi semuanya seorang diri.

Saat Nayla hampir menyerah, Arka hadir tanpa banyak kata.

Bukan dengan janji manis. Tetapi dengan ketulusan yang perlahan menyembuhkan luka di hati Nayla.

Namun hubungan mereka tidak berjalan mudah.

Perbedaan status, gosip kantor, dan ketakutan masa lalu membuat Nayla dan Arka terus diuji.

Arka takut kehilangan. Nayla takut terluka.

Sementara Damar tetap bertahan di sisi Nayla dengan cinta yang tulus.

Novel “Cinta Akan Menjadi Kekuatan untuk Bisa Bersama” adalah kisah romantis penuh emosi tentang keluarga, kehilangan, perjuangan, dan cinta yang tumbuh perlahan.

Tentang dua orang yang sama-sama terluka lalu saling menyembuhkan. Tentang cinta pertama yang sulit dilupakan. Dan tentang keberanian untuk kembali percaya pada perasaan.

Kisah ini menghadirkan suasana hangat sekaligus menyakitkan.

Tentang malam-malam lembur di kantor. Tentang hujan Bandung yang penuh kenangan. Tentang pelukan setelah hari yang melelahkan. Tentang air mata yang jatuh diam-diam. Dan tentang cinta yang perlahan menjadi kekuatan terbesar untuk bertahan.

Arka yang dulu tidak percaya cinta mulai belajar membuka hati.

Sementara Nayla yang selalu memendam semuanya mulai belajar bahwa dirinya juga pantas bahagia.

Dan Damar harus memahami bahwa tidak semua cinta harus dimiliki.

Novel ini cocok untuk pembaca usia 12 tahun ke atas yang menyukai cerita romance dengan tema:

office romance

cinta segitiga

first love

family drama

slow burn romance

healing relationship

happy ending

“Cinta Akan Menjadi Kekuatan untuk Bisa Bersama” bukan hanya kisah tentang romansa.

Tetapi juga tentang bagaimana cinta dapat mengubah kehidupan seseorang.

Karena kadang, seseorang hadir bukan untuk menyelamatkan hidup kita.

Melainkan untuk membuat kita percaya bahwa hidup masih layak diperjuangkan.

Dan pada akhirnya, cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk bersama.

chap-preview
Free preview
Bab 1 — Kota Baru, Luka Baru
Kereta dari Yogyakarta berhenti di Stasiun Bandung tepat ketika langit masih berwarna kelabu. Hujan belum turun, tetapi udara pagi terasa basah, seolah kota itu sedang menahan sesuatu di dadanya. Nayla Arunika berdiri di antara penumpang lain yang bergerak cepat, sementara dirinya justru terdiam beberapa detik dengan koper biru tua di tangan kanan dan tas selempang lusuh di bahu kiri. Ia menarik napas panjang. “Bandung,” gumamnya pelan. Kata itu terdengar asing di lidahnya. Bukan karena ia belum pernah mendengar nama kota itu, melainkan karena mulai hari ini Bandung bukan lagi sekadar tempat wisata, bukan lagi kota dingin yang sering ia lihat di televisi, dan bukan lagi destinasi singkat saat liburan sekolah dulu. Mulai hari ini, Bandung adalah tempat Nayla harus hidup, bekerja, bertahan, dan membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan rumah bukan kesalahan. Di layar ponselnya ada tiga pesan masuk dari ibunya. Ibu: Sudah sampai, Nak? Ibu: Jangan lupa makan ya. Jangan terlalu hemat sampai lupa diri. Ibu: Ayah tadi nanya kamu. Katanya hati-hati di kota orang. Nayla menatap pesan itu lama. Ada rasa hangat yang muncul, tetapi rasa hangat itu langsung bercampur dengan perih. Ia membayangkan ibunya sedang berdiri di depan warung kecil mereka di Yogyakarta, menyeka meja kayu yang sudah mulai kusam, sambil sesekali menoleh ke kamar tempat ayahnya berbaring. Ayah Nayla, Bram Arunika, dulunya pria yang kuat. Ia bekerja di bengkel kendaraan, pulang dengan baju penuh noda oli, tetapi selalu membawa senyum dan sebungkus gorengan untuk keluarga. Namun sejak sakitnya semakin parah, tubuh ayahnya tidak lagi sanggup bekerja. Biaya rumah sakit datang seperti ombak yang tidak berhenti menghantam. Tabungan keluarga habis perlahan, satu per satu barang berharga dijual, dan Nayla sebagai anak pertama akhirnya mengambil keputusan yang sejak lama ia takuti. Ia harus pergi. Bukan karena tidak mencintai rumah. Justru karena terlalu mencintai rumah, ia harus meninggalkannya sementara. Nayla membalas pesan ibunya dengan jari yang sedikit gemetar. Nayla: Sudah sampai, Bu. Nayla baik-baik saja. Nanti kalau sudah di kos, Nayla video call. Ia menekan tombol kirim, lalu memasukkan ponsel ke tas. Setelah itu ia berjalan menuju pintu keluar stasiun. Bandung menyambutnya dengan suara klakson, aroma kopi dari kedai kecil, dan keramaian orang-orang yang seolah sudah tahu tujuan masing-masing. Nayla merasa seperti titik kecil di antara garis-garis kehidupan yang bergerak cepat. Apartemen kecil yang ia sewa berada tidak terlalu jauh dari kantornya. Sebenarnya menyebutnya apartemen terasa terlalu mewah. Ruangan itu hanya terdiri dari satu kamar kecil, satu kamar mandi, sebuah meja lipat, lemari dua pintu, dan jendela yang menghadap ke jalan raya. Namun harga sewanya masih masuk akal, dan yang paling penting, ia bisa berangkat ke kantor tanpa menghabiskan terlalu banyak ongkos. Begitu masuk, Nayla meletakkan koper di sudut ruangan. Ia duduk di tepi kasur, memandangi dinding putih yang polos. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada hiasan. Tidak ada benda yang membuat tempat itu terasa seperti rumah. “Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri. “Pelan-pelan.” Ia mandi dengan cepat, lalu mengenakan kemeja krem dan celana bahan hitam yang sudah ia setrika sejak malam sebelum berangkat. Rambutnya ia ikat setengah agar terlihat rapi. Di depan cermin kecil, Nayla menatap wajahnya sendiri. Matanya sedikit sembap karena semalam ia menangis diam-diam setelah semua orang di rumah tidur. Ia tersenyum tipis pada pantulan dirinya. “Hari pertama. Jangan kacau.” Kantor Prisma Creative berada di lantai sebelas sebuah gedung modern di pusat kota. Begitu masuk ke lobi, Nayla merasa napasnya tertahan. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian rapi, membawa laptop, berbicara cepat lewat telepon, dan terlihat begitu percaya diri. Sementara Nayla merasa tangannya dingin. Ia menuju lift sambil memeriksa kembali surel penerimaan kerja yang dikirim HRD seminggu lalu. Posisi yang ia dapatkan adalah Junior Digital Marketing Staff. Gajinya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan biaya hidup kota, tetapi cukup untuk mengirim uang ke rumah dan membayar sebagian pengobatan ayahnya. Pintu lift hampir tertutup ketika sebuah tangan menahannya dari luar. “Maaf,” kata sebuah suara rendah. Nayla menoleh. Seorang laki-laki masuk ke dalam lift. Tingginya jauh melebihi Nayla. Ia mengenakan kemeja putih, jas abu gelap, dan jam tangan hitam sederhana. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tegas, dan tatapannya lurus ke depan. Ia membawa beberapa berkas di satu tangan dan ponsel di tangan lain. Nayla bergeser sedikit untuk memberi ruang. Lift bergerak naik dalam keheningan. Biasanya Nayla tidak terlalu peduli pada orang asing, tetapi laki-laki itu memiliki aura yang sulit diabaikan. Bukan aura yang ramah, melainkan tenang dan berjarak. Seolah ada dinding kaca tak terlihat di sekelilingnya. Ketika lift berhenti di lantai sebelas, laki-laki itu keluar lebih dulu. Nayla menyusul beberapa langkah di belakang. Begitu mereka memasuki area kantor Prisma Creative, beberapa karyawan langsung menyapa laki-laki itu. “Pagi, Pak Arka.” “Pagi, Pak.” “Materi meeting sudah saya kirim, Pak Arka.” Nayla membeku. Pak Arka? Jadi laki-laki dingin di lift tadi adalah Arka Mahendra, manajer kreatif yang namanya beberapa kali disebut HRD saat wawancara? Nayla pernah mendengar bahwa Arka adalah salah satu orang paling penting di Prisma Creative. Usianya belum terlalu tua, tetapi reputasinya kuat. Ia dikenal cerdas, perfeksionis, dan sulit dipuaskan. Nayla menelan ludah. Hari pertamanya bahkan belum dimulai, tetapi ia sudah satu lift dengan atasannya tanpa menyapanya dengan benar. Seorang perempuan berambut pendek menghampiri Nayla sambil tersenyum. “Kamu Nayla, ya? Aku Rani dari HRD. Yuk, ikut aku.” Nayla mengangguk cepat. “Iya, Kak. Terima kasih.” Rani membawanya berkeliling kantor. Area kerja Prisma Creative terbuka dan modern. Ada meja panjang dengan komputer, papan ide penuh sticky notes, ruang rapat berdinding kaca, dan sudut kecil berisi mesin kopi. Banyak orang tampak sibuk, tetapi suasananya tidak kaku. Beberapa karyawan tertawa pelan sambil berdiskusi tentang desain poster, sementara yang lain serius melihat grafik performa media sosial. Nayla diperkenalkan pada tim digital marketing. Ada Bima yang humoris, Siska yang tegas, dan Lala yang ramah. Mereka menyambut Nayla dengan hangat, meski Nayla tetap merasa gugup. Pekerjaan pertamanya adalah membaca profil klien dan menyusun ide konten untuk sebuah brand makanan sehat. Tugas itu terdengar mudah, tetapi begitu ia membuka dokumen strategi, kepalanya langsung penuh. Ada banyak istilah yang belum ia pahami. Target engagement, conversion rate, brand positioning, audience mapping. Semua terasa seperti bahasa yang harus ia pelajari ulang dari awal. Menjelang siang, sebagian besar karyawan pergi makan bersama. Bima mengajak Nayla ikut, tetapi Nayla menolak halus. “Aku bawa roti,” katanya sambil tersenyum. Padahal sebenarnya ia tidak membawa banyak uang tunai. Ia harus menghemat sampai gaji pertama turun. Setelah semua orang pergi, Nayla duduk sendirian di meja kerja, membuka bungkus roti tawar isi cokelat yang ia beli di minimarket stasiun. Ia baru menggigit satu kali ketika sebuah kotak makan diletakkan di depannya. Nayla mendongak. Arka berdiri di sana. Jantung Nayla terasa berhenti sejenak. “Pak?” “Kalau makan cuma itu, kamu tidak akan kuat sampai sore,” kata Arka datar. Nayla menatap kotak makan itu, lalu menatap Arka lagi. “Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah cukup.” “Ambil saja. Itu lebih.” “Tapi—” “Ini bukan tawaran panjang.” Setelah mengatakan itu, Arka pergi begitu saja menuju ruangannya. Nayla terdiam dengan wajah bingung. Ia membuka kotak makan itu perlahan. Di dalamnya ada nasi, ayam teriyaki, tumis sayur, dan telur gulung. Masih hangat. Entah kenapa matanya terasa panas. Bukan karena makanan itu mahal. Bukan juga karena ia lapar. Tetapi karena sejak pagi ia berusaha keras terlihat baik-baik saja, dan tiba-tiba seseorang yang bahkan belum mengenalnya menyadari bahwa ia sedang mencoba bertahan. Nayla makan perlahan. Setiap suapan terasa seperti pengingat bahwa mungkin kota asing ini tidak sepenuhnya dingin. Sore harinya, hujan akhirnya turun. Kantor mulai sepi, tetapi Nayla masih duduk di depan komputer, berusaha menyelesaikan ringkasan ide konten. Ia tahu pekerjaannya belum sempurna, tetapi ia ingin membuktikan bahwa ia layak berada di sana. Ketika ia akhirnya selesai, jam menunjukkan pukul delapan malam. Nayla mematikan komputer dan berjalan menuju lift. Di lobi gedung, hujan turun deras. Ia membuka aplikasi ojek online, tetapi tarifnya melonjak tinggi. Nayla menatap angka itu lama, lalu menghela napas. Ia bisa menunggu. Mungkin hujan akan reda. “Nayla.” Ia menoleh. Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang payung hitam. “Kamu belum pulang?” tanyanya. “Belum, Pak. Saya tunggu hujan reda.” “Naik ojek?” Nayla mengangguk. Arka melihat layar ponselnya sekilas, seolah sudah mengerti. “Alamatmu di mana?” Nayla ragu. “Dekat sini, Pak. Saya bisa pulang sendiri.” “Aku tidak tanya apakah kamu bisa. Aku tanya alamatmu.” Nada Arka tetap datar, tetapi tidak kasar. Nayla akhirnya menyebutkan nama apartemennya. “Itu searah,” kata Arka. “Aku antar.” Nayla langsung menggeleng. “Tidak perlu, Pak. Sungguh.” “Ini sudah malam. Hujan deras. Kamu karyawan baru di kota baru. Jangan keras kepala.” Kalimat itu membuat Nayla terdiam. Pada akhirnya ia mengikuti Arka menuju mobil. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Hanya suara hujan yang menghantam kaca mobil dan musik instrumental pelan dari radio. Namun anehnya, Nayla tidak merasa canggung sepenuhnya. Ada ketenangan dalam diam Arka. Ketika mobil berhenti di depan apartemennya, Nayla membuka sabuk pengaman. “Terima kasih, Pak.” Arka hanya mengangguk. “Besok jangan lupa sarapan.” Nayla tersenyum kecil. “Baik, Pak.” Ia turun dari mobil dan berlari kecil menuju pintu masuk. Sebelum masuk, ia menoleh. Mobil Arka masih berhenti di tempatnya, seolah memastikan ia benar-benar masuk dengan aman. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Nayla tidak menangis sebelum tidur. Ia masih takut. Masih rindu ibu. Masih khawatir pada ayah. Namun di sudut hatinya, ada perasaan kecil yang mulai tumbuh. Bukan cinta. Belum. Mungkin hanya rasa hangat. Mungkin hanya rasa aman. Atau mungkin, tanpa ia sadari, hidupnya baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
695.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
935.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
334.4K
bc

Not just, the Beta

read
334.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook