bc

Jika Aku tak Pernah Hadir

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
family
kickass heroine
drama
like
intro-logo
Blurb

Pak... Bu... andai aku tahu bahwa kehadiranku hanya membawa luka di hati kalian, aku pun tak pernah ingin lahir ke dunia ini."

Sejak kecil, Cahaya dikenal sebagai gadis yang ceria, ramah, dan selalu menjadi pusat tawa di antara teman-temannya. Ia suka bercanda, bercerita, dan berpura-pura bahwa hidupnya baik-baik saja. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum lebarnya, ia menyimpan kesedihan yang telah tumbuh bersamanya selama bertahun-tahun.

Di rumah, Cahaya adalah anak yang berbeda.

Ia menjadi sosok yang patuh, diam, dan selalu berusaha mengerti keadaan. Ia tumbuh di tengah pertengkaran orang tua, bentakan, serta luka-luka yang tak pernah sempat dibicarakan. Ayah yang dulu pernah menggendongnya di atas pundak sambil berkata, "Ini anak kebanggaan saya," perlahan berubah menjadi sosok yang keras dan mudah melampiaskan amarah.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah pukulan atau bentakan itu.

Melainkan kenyataan bahwa setelah semua luka yang diberikan, ayahnya diam-diam datang setiap malam untuk memijat kaki Cahaya yang tertidur. Sebuah permintaan maaf yang tak pernah terucap.

Terjebak di antara rindu dan kecewa, Cahaya tumbuh menjadi seseorang yang membenci dirinya sendiri. Ia melampiaskan kesedihan pada makanan, menelan luka bersama setiap suapan, hingga tubuhnya menjadi sasaran hinaan orang yang paling ia cintai.

Semakin dewasa, semakin sering Cahaya bertanya pada dirinya sendiri:

"Jika aku mati, apakah semuanya akan menjadi lebih baik?"

Di tengah keinginannya untuk menghilang, Cahaya dipertemukan dengan orang-orang yang perlahan mengubah hidupnya. Alya, sahabat yang melihat kesedihan di balik tawanya. Raka, lelaki yang mengajarkannya bahwa dicintai tidak harus selalu menyakitkan. Dan sebuah rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan, yang akhirnya mengungkap alasan mengapa rumah yang ia rindukan tidak pernah benar-benar menjadi rumah.

Jika Aku Tak Pernah Hadir adalah kisah tentang seorang anak yang tumbuh dengan luka, tentang keluarga yang saling mencintai tetapi gagal saling memahami, tentang trauma yang diwariskan tanpa sengaja, dan tentang perjalanan panjang seorang perempuan untuk belajar menerima dirinya sendiri.

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah memaafkan orang lain.

Melainkan meyakinkan diri bahwa kita layak untuk tetap hidup.

Dan bahwa meskipun pernah merasa tidak diinginkan...

kita tetap berhak menjadi cahaya bagi diri kita sendiri.

chap-preview
Free preview
PROLOG
Ruangan itu dipenuhi warna-warna cerah. Dindingnya dihiasi gambar hewan, pelangi, dan pohon-pohon kecil yang dibuat oleh tangan anak-anak. Di sudut ruangan berdiri rak berisi buku cerita, boneka tangan, serta mainan edukasi yang tersusun rapi. Bagi kebanyakan orang, tempat itu terlihat hangat dan menyenangkan. Namun bagi Cahaya, ruangan itu lebih dari sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia menyaksikan begitu banyak luka yang tidak terlihat oleh mata. Luka yang tidak berdarah. Luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit. Tetapi mampu menetap di hati seseorang selama bertahun-tahun. Bahkan seumur hidup. Cahaya menutup map terakhir yang baru saja ia baca. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari itu jadwal konsultasinya cukup padat. Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pelan di pintu. "Silakan masuk." Pintu terbuka perlahan. Seorang perempuan muda masuk sambil menggandeng anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Wajah perempuan itu tampak lelah. Matanya sembab seperti seseorang yang sudah terlalu sering menangis. Sementara anak di sampingnya menunduk sejak pertama kali melangkah masuk. Tidak ada senyum. Tidak ada rasa ingin tahu seperti anak-anak pada umumnya. Hanya tatapan kosong. Tatapan yang terlalu tua untuk usianya. "Selamat pagi, Bu." "Selamat pagi." Cahaya tersenyum ramah. "Ayo duduk." Perempuan itu duduk di kursi yang tersedia. Anaknya memilih duduk di lantai dekat rak mainan. Namun ia tidak menyentuh satu pun mainan di sana. Ia hanya memeluk lututnya sendiri. Diam. Cahaya memperhatikan anak itu beberapa detik. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Tatapan itu. Ia mengenal tatapan itu. Terlalu mengenalnya. Karena tiga puluh tahun yang lalu, ia pernah memiliki tatapan yang sama. "Siapa namanya?" tanya Cahaya lembut. "Raka." "Halo, Raka." Anak itu tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai. Ibunya terlihat malu. "Maaf, Bu. Akhir-akhir ini dia memang jadi pendiam." "Tidak apa-apa." Cahaya mengangguk pelan. "Kita santai saja." Perempuan itu menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita. Awalnya suaranya terdengar tenang. Namun semakin lama semakin bergetar. "Saya dan suami sedang dalam proses cerai." Cahaya terdiam. Kalimat itu tidak pernah terasa ringan, meskipun sudah ratusan kali ia mendengarnya. "Kami sering bertengkar di rumah." Perempuan itu menunduk. "Awalnya saya pikir Raka tidak mengerti." Air matanya mulai jatuh. "Tapi sekarang dia sering menangis sendiri. Nilainya turun. Dia takut ditinggal. Dia tidak mau tidur sendirian." Suara perempuan itu pecah. "Saya tidak tahu harus bagaimana." Ruangan mendadak terasa sunyi. Cahaya menatap Raka. Anak kecil itu masih memeluk lututnya. Diam. Seolah sedang berusaha mengecilkan dirinya sendiri. Seolah berharap dunia tidak melihat keberadaannya. Dan tiba-tiba... Ingatan lama yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi kembali mengetuk pintu pikirannya. Ia melihat seorang anak perempuan kecil. Berusia tujuh tahun. Duduk di sudut kamar. Memeluk lututnya. Menangis tanpa suara. Berusaha menutupi telinganya agar tidak mendengar pertengkaran yang terjadi di luar. Anak itu bernama Cahaya. Dirinya sendiri. Ada banyak hal yang tidak diingat Cahaya tentang masa kecilnya. Ia lupa warna baju favoritnya. Ia lupa mainan kesayangannya. Ia lupa rasa ulang tahun pertamanya. Ia lupa hadiah-hadiah yang pernah ia terima. Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa ia lupakan. Suara pertengkaran. Suara piring dibanting. Suara pintu dibanting. Suara tangisan ibunya. Suara kemarahan ayahnya. Dan suara hatinya sendiri yang perlahan-lahan retak. Saat kecil, Cahaya sering berpikir bahwa semua keluarga memang seperti itu. Ia mengira semua anak tidur sambil mendengarkan orang tua saling berteriak. Ia mengira semua anak merasa takut ketika mendengar suara langkah kaki di malam hari. Ia mengira semua anak pernah berharap agar pagi datang lebih cepat hanya supaya pertengkaran berhenti. Sampai suatu hari ia menyadari bahwa tidak semua anak hidup seperti dirinya. Tidak semua anak takut pulang ke rumah. Tidak semua anak merasa menjadi beban. Tidak semua anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dicintai. Tetapi saat itu semuanya sudah terlambat. Luka itu sudah tumbuh bersamanya. Menjadi bagian dari dirinya. Menjadi bayangan yang mengikuti ke mana pun ia pergi. "Bu Cahaya?" Suara perempuan di depannya membuatnya kembali ke masa kini. Cahaya tersenyum kecil. "Maaf. Saya mendengarkan." Perempuan itu mengusap air mata. "Saya takut anak saya membenci saya." Cahaya memandang Raka sekali lagi. Lalu menatap ibunya. Dan untuk sesaat, ia seperti melihat ibunya sendiri bertahun-tahun yang lalu. Seorang perempuan yang juga lelah. Juga terluka. Juga kebingungan. Manusia yang tidak sempurna. Manusia yang berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri. "Tidak ada orang tua yang ingin melukai anaknya," kata Cahaya perlahan. "Tetapi terkadang luka tetap terjadi." Perempuan itu menangis semakin keras. "Saya gagal menjadi ibu yang baik." Cahaya menggeleng. "Bukan." "Lalu apa?" "Kita semua sedang belajar." Perempuan itu menatapnya. "Maksudnya?" Cahaya tersenyum tipis. Senyum yang lahir dari perjalanan panjang. Dari ribuan malam penuh tangisan. Dari luka yang pernah membuatnya ingin menyerah. Dari masa lalu yang nyaris menghancurkannya. "Kita belajar menjadi orang tua." "Kita belajar menjadi anak." "Kita belajar mencintai." "Kita belajar memaafkan." Air mata perempuan itu kembali jatuh. Namun kali ini tidak sepenuhnya dipenuhi keputusasaan. Ada sedikit harapan di sana. Dan harapan sekecil apa pun selalu layak diperjuangkan. Setelah sesi konsultasi selesai, Raka berdiri di depan pintu. Untuk pertama kalinya sejak datang, anak itu mengangkat kepalanya. "Bu." Cahaya tersenyum. "Iya?" Anak itu ragu beberapa detik. Lalu berkata pelan. "Kalau aku sedih, aku harus bagaimana?" Pertanyaan sederhana. Namun membuat d**a Cahaya terasa sesak. Karena dahulu ia juga pernah menanyakan hal yang sama. Dan tidak ada yang menjawabnya. Tidak ada yang mengajarinya. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang mengatakan bahwa perasaannya penting. Cahaya berjongkok hingga sejajar dengan tinggi badan Raka. Lalu tersenyum hangat. "Kalau sedih, menangislah." Anak itu menatapnya. "Kalau masih sedih?" "Ceritakan pada orang yang kamu percaya." "Kalau tidak ada?" Cahaya terdiam sesaat. Kemudian berkata dengan suara lembut. "Peluk dirimu sendiri." Mata Raka membesar. "Memangnya boleh?" "Boleh." "Kenapa?" Karena dulu hanya itu yang bisa dilakukan oleh seorang anak kecil bernama Cahaya. Namun kalimat itu hanya ia simpan dalam hati. Ia mengusap kepala Raka perlahan. "Karena kamu berharga." Anak itu tersenyum kecil. Senyum pertama yang muncul hari itu. Dan entah mengapa, senyum itu membuat mata Cahaya terasa hangat. Setelah mereka pergi, ruangan kembali sepi. Cahaya berdiri di depan jendela. Menatap langit siang yang cerah. Tiga puluh tahun lalu, ia adalah seorang anak yang berharap dilahirkan dalam keluarga yang berbeda. Seorang anak yang marah pada takdir. Seorang anak yang merasa tidak diinginkan. Seorang anak yang tumbuh di tengah perang yang tidak pernah ia mulai. Namun hari ini... Ia berdiri sebagai perempuan yang berhasil bertahan. Perempuan yang memilih untuk tidak mewariskan lukanya kepada orang lain. Perempuan yang mengubah rasa sakit menjadi harapan. Tetapi perjalanan itu tidak mudah. Karena sebelum ia belajar memahami anak-anak lain... Ia harus terlebih dahulu menyelamatkan anak kecil di dalam dirinya sendiri. Dan semua itu bermula dari sebuah rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Namun justru menjadi tempat pertama kali ia belajar tentang kehilangan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
725.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
961.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
348.4K
bc

Not just, the Beta

read
343.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook