Tubuh Reynald masih gemetar didalam pelukan Grace. Sungguh, Grace bisa merasakannya saat ini. Isak tangis itu bahkan masih terdengar. Meskipun sudah tidak sehisteris beberapa saat yang lalu. Pelukan Reynald masih terasa kuat di tubuh Grace. Kepala laki-laki itu masih dibenamkan di pundak Grace. Dan yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah mengelus pelan punggung Reynald, memberikan kekuatan bagi laki-laki itu. Hari ini, beberapa saat yang lalu, Grace melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Reynald sebenarnya adalah sosok yang begitu kesepian.
Seolah baru tersadar bahwa saat ini orang lain tahu tentang keadaan dirinya yang sebenarnya, tentang sebuah sisi yang selama ini selalu disembunyikannya rapat-rapat, Reynald langsung tersentak dan melepaskan diri dari pelukan Grace. Laki-laki itu menghapus airmatanya dengan kasar menggunakan telapak tangannya. Kemudian, dengan satu gerakan cepat, Reynald turun dari atas ranjang dan mengambil ranselnya yang berada di atas meja. Grace mengikuti semua gerakan Reynald itu dengan tatapan heran dan kening berkerut.
“Rey? Lo mau kemana?” tanya Grace. Ketika Reynald tidak menjawab pertanyaannya dan justru bergegas menuju pintu untuk keluar dari ruang kesehatan, Grace langsung mengejarnya dan mencekal lengan laki-laki itu.
“Rey... lo masih sakit.”
Reynald menyentakkan tangan Grace dari lengannya. Hal itu entah mengapa membuat Grace merasakan sedikit sesak di hatinya. Seolah-olah Grace tidak terima kalau Reynald melakukan hal seperti tadi padanya. Seakan-akan, Reynald menolak kehadiran Grace.
“Jangan ikut campur,” ucap Reynald dengan suara dingin tanpa membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Grace.
“Rey... gue nggak maksud untuk ikut campur... gue hanya....”
“Gue bilang jangan ikut campur!” potong Reynald dengan suara keras, membuat Grace terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang. Tadi sikap Reynald begitu berbeda. Dia begitu rapuh dan kesepian. Sekarang, Grace mendapati sikap dingin dan sinis Reynald kembali mendominasi. Menyembunyikan kerapuhan dan kesepian yang sempat muncul ke permukaan beberapa saat yang lalu.
“Rey...,” panggil Grace dengan suara pelan dan hati-hati. “Gue cuma....”
Tiba-tiba, Reynald membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu menatap Grace dengan tatapan dingin dan menusuk. Grace sampai tertegun ketika melihat tatapan yang dilayangkan Reynald padanya itu. Kemudian, dengan gerakan yang tak terduga, Reynald mencekal pergelangan tangan Grace dan menarik tubuh gadis itu ke arah dinding. Reynald mengunci tubuh Grace dengan rentangan kedua tangannya. Dia bisa melihat ketakutan terpancar dari kedua mata cokelat gadis di depannya itu.
“Gue bilang jangan ikut campur!” desis Reynald tajam. “Jangan pernah ikut campur urusan gue lagi! Dan gue nggak akan pernah ikut campur urusan lo! Gue nggak akan pernah ikut campur dalam urusan lo dan Kian. Nggak akan pernah lagi, Grace! Lo tau kenapa? Karena lo selalu membuat gue sial! Berurusan dengan lo membuat gue selalu ditimpa kesialan!”
Grace merasa jantungnya berhenti berdegup ketika kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut Reynald. Gadis itu merasa matanya mulai memanas. Reynald sendiri bisa melihat kedua mata Grace yang sudah berkaca-kaca. Kemudian, laki-laki itu memutar tubuhnya dan meninggalkan ruang kesehatan serta menutup pintu di belakangnya dengan satu bantingan keras!
Grace masih berdiri di tempatnya. Kedua tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isak tangis. Lalu, airmata itu mengalir tanpa bisa ditahan. Tubuh Grace gemetar hebat. Dia kemudian meluruh begitu saja dan akhirnya terduduk di atas lantai sambil memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Hatinya sakit. Perih. Kata-kata Reynald tadi terus berputar di benaknya. Tidak mau berhenti. Membuat airmatanya juga tidak bisa berhenti.
Grace tahu Reynald sebenarnya orang yang baik. Dia hanya berusaha menutupi sisi tersembunyinya dengan bersikap dingin pada semua orang. Seperti yang laki-laki itu lakukan kepadanya. Hanya saja, Grace tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Saat hatinya jelas-jelas berteriak dengan lantang bahwa sepertinya... sepertinya dia mulai menyukai Reynald.
Dari balik pintu ruang kesehatan, Reynald menyandarkan punggungnya dan memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Hatinya seperti teriris. Dia tidak bermaksud untuk mengatakan hal menyakitkan itu pada Grace. Tapi, dia harus mengatakannya agar Grace menjauh darinya. Agar Grace tidak mengasihaninya, karena Reynald tidak ingin ada orang lain yang mengasihaninya setelah melihat sisi tersembunyi miliknya keluar. Reynald harus menahan diri untuk tidak menerobos masuk kedalam ruang kesehatan dan memeluk Grace dengan erat ketika dia mendengar gadis itu menangis didalam sana. Dengan perasaan campur aduk, Reynald pergi dari depan pintu ruang kesehatan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Maafin gue, Grace...
Kau harus tahu... bahwa hatiku bergetar...
Waktu ku tahu... kau terluka saat aku...
Buatmu menangis... buatmu bersedih...
Ingin ku memelukmu... dan ucapkan maaf...
Maafkan aku... maafkan aku...
(Jikustik-Maaf)
~~~
Grace melangkah dengan malas ke kantin kampus. Hatinya terasa aneh beberapa hari terakhir ini. Mungkin itu disebabkan oleh ucapan Reynald saat di ruang kesehatan tempo hari. Seharusnya dia tidak usah memikirkan ucapan Reynald kala itu. Tapi, semakin Grace mencoba untuk tidak mengingatnya, justru semakin kuat ingatan itu bercokol dalam benaknya.
Grace sengaja memilih meja yang jauh dari keramaian. Dia butuh tempat untuk menyendiri. Sayangnya, niatnya untuk menyendiri itu harus gagal dilaksanakan ketika gadis itu merasakan ada bayangan seseorang tepat di depannya.
Grace mendongak dan tersentak ketika melihat Kian sudah berada di depannya. Lagi-lagi, Kian memilih waktu dan tempat yang salah untuk bertengkar dengan Grace. Grace berdecak kesal dan menatap tajam Kian yang tersenyum tipis ke arahnya. Saat ini suasana kantin sedang ramai-ramainya oleh para mahasiswa yang akan mengisi perut mereka karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
“Grace...,” panggil Kian pelan.
“Kak Kian mau apa lagi, sih?” tanya Grace dengan nada sinis. Azizah sedang tidak masuk kuliah hari ini karena sakit, otomatis, Grace harus menghadapi Kian seorang diri. “Gue udah capek, Kak! Gue tetap pada keputusan gue... gue nggak mau balikan lagi sama lo!”
“Grace!” desis Kian menahan emosi yang mulai naik ke permukaan. “Aku datang kesini baik-baik. Mau ngajakin kamu balikan lagi. Karena aku masih sayang sama kamu. Kenapa, sih, kamu nggak bisa ngasih aku sedikit kesempatan?”
Grace baru saja membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Kian, ketika tiba-tiba melalui sudut matanya, gadis itu melihat Reynald dan Kenzo masuk kedalam kantin. Sejak peristiwa Reynald histeris dalam mimpi buruknya di ruang kesehatan tiga hari yang lalu dan memeluk dirinya secara mendadak, Grace belum melihat laki-laki itu lagi. Menurut kabar yang dia dengar, Reynald dituduh mencuri ponsel milik Kian dan laki-laki itu di skors oleh Darian selama tiga hari.
Reynald yang merasa diperhatikan kontan menoleh dan bertemu mata dengan Grace. Laki-laki itu menatap Grace dengan tatapan dingin lalu detik berikutnya, Reynald membuang muka dan berjalan menuju kursi yang berada di sudut kantin. Sementara Kenzo, laki-laki itu sempat tersenyum kecil ke arah Grace, sebelum akhirnya dia mengikuti jejak sahabatnya.
Grace tertegun di tempatnya. Reynald rupanya merealisasikan kata-katanya tempo hari di ruang kesehatan. Laki-laki itu berkata bahwa dia tidak akan pernah ikut campur lagi dalam urusan Grace dan Kian. Bahwa gadis itu ternyata memberinya banyak kesialan. Kata-kata yang diucapkan Reynald waktu itu begitu menusuknya, membuat hatinya sakit dan perih. Dan kini, Grace merasa matanya mulai memanas ketika dia mengingat kalimat Reynald itu dan laki-laki itu ternyata tidak main-main dengan ucapannya.
“Grace... aku mohon, kasih aku kesempatan sekali lagi,” pinta Kian tiba-tiba, mengembalikan Grace ke alam sadarnya. Grace mengerjapkan kedua matanya, berusaha mengusir airmata yang mengancam jatuh. Gadis itu kemudian bangkit berdiri dan menatap Kian tepat di manik mata.
“Maaf, Kak... gue tetap pada keputusan gue.”
Selesai berkata demikian, Grace pergi meninggalkan Kian. Baru beberapa langkah Grace berjalan, tiba-tiba, dia merasa lengannya ditarik paksa hingga tubuhnya berputar. Di depannya, Kian menatapnya dengan kening berkerut dan mata yang disipitkan. Grace berusaha melepaskan diri dari cekalan Kian, namun usahannya sia-sia.
“Kamu kenapa nggak pernah mau kasih aku kesempatan, Grace? Kenapa?!” seru Kian keras. Tidak peduli bahwa semua orang yang berada di kantin mulai memperhatikan mereka. Grace sendiri sudah tidak ambil pusing dengan tatapan-tatapan penuh ingin tahu dari orang-orang yang berada di kantin. Dia tidak peduli lagi.
“Lepasin Kak...,” kata Grace dengan nada lelah. Dia benar-benar lelah dengan semua ini. Tentang Kian... juga tentang... Reynald. Bagaimana bisa Reynald bersikap seperti itu padanya? Mengacuhkannya... menganggapnya tak kasat mata. Grace hanya berharap bahwa kata-kata Reynald waktu itu hanyalah sebuah lelucon. Dia memang kesal pada Reynald, sejak mereka pertama kali bertemu... tapi, dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa dia mulai menyukai Reynald.
“Kamu nggak bisa kembali lagi sama aku karena si Reynald itu, iya?!” desis Kian.
Mendengar nama Reynald dibawa-bawa, Grace mendadak emosi. Gadis itu langsung menyentakkan tangan Kian dari lengannya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya dan akhirnya gadis itu berhasil. Dia menunjuk wajah Kian lurus-lurus.
“Jangan pernah bawa-bawa nama orang lain dalam masalah kita, kalau lo memang dewasa, Kak!” geram Grace. Ketika gadis itu berniat untuk pergi, lagi-lagi, Kian mencekal pergelangan tangan Grace. Grace sampai berteriak menyuruh Kian agar melepaskan cekalannya, tapi sia-sia saja. Sampai tiba-tiba...
PRAAANG!
Rontaan Grace terhenti. Suasana kantin juga mendadak sunyi. Sepi. Tenang. Grace, Kian dan mahasiswa-mahasiswa yang berada di kantin menoleh ke sumber suara. Di lantai, berserakan pecahan gelas yang baru saja dibanting oleh... Reynald!
“Bisa nggak sih, lo berdua mainin dramanya di luar kampus aja?” tanya Reynald sinis. “Muak gue liatnya!”
Baru saja Kian akan membuka mulut untuk membalas ucapan Reynald, Grace langsung menggunakan kelengahan Kian untuk melepaskan cekalan laki-laki itu dari pergelangan tangannya. Ketika cekalan itu terlepas, Grace langsung meninggalkan kantin dengan setengah berlari dan mati-matian menahan airmatanya agar tidak tumpah keluar. Melihat itu, Kian berusaha mengejar Grace, namun niatnya harus terhenti karena salah satu dosen yang kebetulan baru datang ke kantin memanggilnya.
Grace terus berlari. Hatinya benar-benar sesak. Sebenci itukah Reynald padanya? Semuak itukah Reynald padanya? Semua pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti memenuhi benaknya.
Grace berlari ke arah gerbang kampus dan berniat untuk menyebrang jalan raya, tanpa memperdulikan tatapan-tatapan penasaran yang dilayangkan oleh orang-orang yang berada disekitarnya.
Ketika Grace berada ditengah jalan, gadis itu mendengar suara melengking yang begitu memekakkan telinganya. Grace menoleh dan membeku di tempat. Dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil sedan bewarna hitam yang melaju kencang ke arahnya!
Otak Grace memerintahkan dirinya untuk segera menghindar, namun tubuhnya tidak bisa diajak kerjasama. Gadis itu hanya bisa memejamkan kedua matanya kuat-kuat, bersiap menerima yang terburuk sekalipun.
Kemudian, seseorang menarik tubuh Grace dan memutarnya hingga tubuh gadis itu berada pada posisi yang aman. Orang yang menarik tubuh Grace itu telah memosisikan tubuhnya sendiri ke arah mobil sedan yang akan menghantam tubuh mereka berdua. Dia memeluk tubuh Grace erat, melindungi gadis itu dan memastikan bahwa hantaman dari mobil sedan yang sebentar lagi akan terjadi, tidak akan membahayakan nyawa gadis itu.
Bunyi klakson mobil yang keras membuat orang itu semakin mempererat pelukannya pada tubuh Grace. Ketika menit demi menit terlewat dan dia tidak merasakan sesuatu menghantam tubuhnya, orang tersebut membuka kedua matanya dan bisa melihat bahwa mobil sedan itu telah berhenti tepat satu sentimeter dari tubuhnya.
“b**o!” seru si pengendara mobil tersebut dengan tatapan kesal. “Lo berdua mau mati, hah?!”
Orang itu mengucapkan kata maaf dan menarik tubuh Grace yang gemetar ke tepi jalan. Kemudian, mobil sedan itu kembali melaju dengan kecepatan sedang.
“Jangan begini... kalau lo begini, kalau lo membahayakan diri lo sendiri, gue nggak akan bisa memaafkan diri gue sendiri, Grace....”
Satu suara bernada lelah itu membuat Grace tersentak. Gadis itu membuka kedua matanya perlahan dan mendapati dirinya tengah berada dalam pelukan... Reynald! Reynald yang telah menolongnya dari hantaman mobil sedan itu dan sekarang, laki-laki itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Please... benci gue, Grace... itu akan lebih mudah buat gue...,” kata Reynald dengan wajah kelam dan suara lirih. “Gue bukan laki-laki yang baik. Jangan karena kejadian tempo hari, kejadian saat lo tahu sisi tersembunyi gue, membuat lo jadi baik sama gue, jadi kasihan sama gue. Jangan, Grace... lo nggak tau siapa gue. Gue ini orang yang jahat. Gue... gue bisa menghancurkan lo dalam sekejap mata.” Reynald menghela napas panjang dan menepuk pundak Grace beberapa kali, sebelum akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkan Grace.
Ada satu hal yang tidak diketahui oleh Grace. Reynald mengucapkan kalimat tadi dengan hati yang sesak. Dengan terpaksa. Hatinya hancur saat mengatakan hal tersebut pada Grace karena jauh didalam lubuk hatinya, dia sebenarnya mulai menyukai Grace... tepatnya semenjak insiden di ruang kesehatan tempo hari. Begitu juga dengan Reynald. Satu hal yang tidak diketahui oleh Reynald bahwa kini, Grace tengah menangis di tepi jalan. Menangis karena ucapan Reynald yang begitu menyakitkan. Menangis untuk perasaan baru yang mulai muncul dan tumbuh di hatinya. Bahwa gadis itu memang telah jatuh cinta pada Reynald.
~~~
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana di rumah Reynald begitu tenang. Lebih tepatnya terlihat sepi. Memang di rumah itu hanya Reynald, Rizko dan Ayahnya yang menempati. Reynald sendiri lebih sering tidak berada di rumah karena malas bertemu dengan Ayahnya dan Rizko.
Pintu rumah Reynald terbuka pelan. Seseorang melangkah masuk kedalam rumah dengan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Matanya kemudian hinggap pada sebuah pigura foto yang berada di dinding ruang tamu. Didalam foto itu terdapat empat orang. Dua orang yang sedang duduk di sebuah sofa adalah Ayah dan Bunda Reynald, sedangkan dua orang yang berdiri di samping mereka adalah Reynald dan Rizko. Tanpa sadar, bibir orang tersebut menyunggingkan seulas senyum.
“Clara Mutiara Sanjaya....”
Orang tersebut menoleh dan tersenyum lebar ke arah Darian. Kemudian, Darian memeluk orang yang dipanggil Clara itu sambil tertawa. Clara balas memeluk Darian dan tersenyum senang.
“Apa kabar, Oom?” tanya Clara setelah pelukannya terurai. Darian mengelus rambut Clara lembut.
“Baik,” jawab Darian. “Gimana kabar Papa sama Mama kamu? Baik-baik saja?”
“Mereka baik, Oom...,” balas Clara. Darian menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Clara duduk di sofa.
“Oom senang kamu mau meluangkan waktu untuk datang ke Jakarta dan tinggal disini bersama Oom, Rizko dan Reynald, Ra...,” kata Darian ramah. “Kamu sudah besar, ya, sekarang... udah kelas berapa?”
“Masih kelas tiga SMA, Oom...,” balas Clara seraya tersenyum. Matanya kini mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Seperti mencari sesuatu.
“Reynald belum pulang, Ra...,” ucap Darian seolah tahu jalan pikiran Clara. Mendengar itu, Clara kontan menundukkan kepalanya karena malu. Darian hanya tertawa ketika melihat anak sahabatnya itu wajahnya mulai memerah.
“Nggak usah malu-malu begitu... kamu, kan, calon tunangannya Reynald.” Darian menepuk tangan Clara pelan. “Sudah sepantasnya kalau kamu mencari Reynald.”
“Tapi... apa Oom yakin kalau Reynald mau bertunangan sama Clara, Oom?” tanya Clara pelan. “Kalau Reynald menolak, bagaimana?”
“Tenang saja,” balas Darian. “Reynald tidak akan bisa menolak perintah Oom. Kalian itu sudah kami jodohkan semenjak kalian masih kecil. Kalau dia tidak mau bertunangan sama kamu, kamu harus sekuat tenaga membuat Reynald mau menjadi tunangan kamu, Ra....”
“Oom tenang saja....” Clara menyeringai. Matanya menatap keadaan di depannya dengan tatapan tidak fokus. “Clara akan membuat Reynald jatuh cinta sama Clara bagaimana pun caranya.”
~~~
Hari ini Grace sengaja membawa bekal ke kampus. Dia malas pergi ke kantin dan malas untuk keluar kelas. Dia ingin berdiam diri di kelas sampai jam terakhir selesai. Supaya dia tidak harus bertengkar dengan Kian di depan umum kalau misalkan dia bertemu dengan Kian lagi.
Jam pertama Grace dimulai pukul sepuluh pagi. Grace baru tiba di kampus pukul setengah sepuluh tepat. Dia berjalan disepanjang koridor kampus menuju kelasnya dengan kepala tertunduk. Hari ini Azizah belum bisa masuk kuliah karena masih sakit. Grace menghembuskan napas keras. Ketika dia mengangkat kepalanya, Grace melihat Kian baru saja keluar dari kelasnya. Otomatis, langkah Grace terhenti.
“Grace!” seru Kian keras saat laki-laki itu melihat kehadiran Grace tak jauh dari tempatnya berdiri. Grace mengumpat kesal dalam hati dan memutar tubuhnya.
“Grace, tunggu! Aku mau bicara!” seru Kian lagi.
Grace menoleh ke belakang dan tersentak ketika melihat Kian berlari ke arahnya. Grace tidak punya pilihan lain. Gadis itu akhirnya berlari kencang, menuju parkiran kampus.
~~~
Hari ini Reynald sengaja membawa mobil sedan milik Ayahnya ke kampus. Motornya sedang bermasalah. Bukan hanya itu saja, semalam, ketika dia sampai di rumah, dia melihat seorang gadis berambut panjang sedang duduk di sofa ruang tamunya dan mengobrol bersama ayahnya.
“Clara Mutira Sanjaya... cukup panggil gue Clara,” kata gadis itu semalam, ketika Ayahnya menyuruhnya untuk berkenalan dengan gadis itu. Dengan malas, Reynald menjabat uluran tangan gadis yang bernama Clara itu.
“Reynald...,” balas laki-laki itu cuek.
“Gue tau....”
Reynald mengangkat satu alisnya ketika mendengar ucapan Clara. Darimana gadis itu tahu tentang dirinya?
“Rey...,” panggil Ayahnya dengan senyum lebar. “Clara ini anaknya Oom Andi Sanjaya... sahabat lama Ayah. Dulu kamu sering bertemu dengan Clara. Kamu lupa, ya?”
Reynald hanya diam. Dia menatap Ayahnya dengan mata yang disipitkan, lalu melirik Clara sekilas. Gadis itu tersenyum ke arahnya, namun Reynald tidak berniat untuk membalas senyuman itu.
“Dia calon tunangan kamu.”
Ucapan Ayahnya tadi sanggup membuat Reynald terkejut. Laki-laki itu menatap Ayahnya dengan tatapan tajam dan kening berkerut tidak senang.
“Tunangan?”
“Ya.” Darian mengangguk mantap. “Dan kamu tidak boleh menolak.”
Reynald menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. Semakin runyam saja masalah yang datang menghampirinya. Belum selesai masalah yang satu, sudah datang lagi masalah yang lainnya. Reynald bahkan rasanya malas untuk pulang ke rumah lagi karena kehadiran Clara.
“Pergi!”
Satu teriakan keras itu membuat Reynald mendongak dan menyipitkan matanya. Dia baru saja mengunci mobil sedan Ayahnya dan berniat masuk kedalam kampus. Namun, adegan tak jauh di depannya saat ini justru membuat langkah Reynald terhenti. Reynald melihat Grace sedang berlari kencang sambil sesekali menoleh ke belakang. Menoleh ke arah Kian yang sedang mengejar Grace.
“Grace! Kita harus bicara!” teriak Kian tak kalah keras. Melihat itu semua, Reynald berdecak kesal. Heran dengan sikap Kian yang selalu memaksa Grace.
Grace mengerjapkan kedua matanya ketika dia melihat Reynald berdiri tak jauh di depannya. Gadis itu langsung berlari mendekati Reynald dan mengatur napasnya yang tersengal. Reynald sendiri hanya mengangkat satu alisnya ketika dia melihat Grace membungkukkan tubuhnya dan mengatur napasnya.
“Rey... gue tau lo nggak mau berurusan lagi sama gue. Tapi, please banget... tolong lo bawa gue pergi dari sini sekarang. Gue janji, gue nggak akan minta tolong sama lo lagi setelah ini. Please....”
Reynald menatap Grace tepat di manik mata. Gadis itu benar-benar terlihat ketakutan. Sesekali, Reynald bisa melihat Grace menoleh ke belakang untuk melihat keberadaan Kian. Kemudian, Reynald bisa mendengar sentakan napas Grace saat Kian mulai dekat dengan mereka.
“Naik!”
Grace menoleh dan mengerutkan kening. Naik? Naik kemana?
“Ayo, cepat naik!” perintah Reynald lagi. Laki-laki itu membuka mobil sedan di depannya dan menarik lengan Grace. “Ini mobil gue. Bukan mobil curian!”
Ketika Grace sudah masuk ke kursi penumpang, Reynald segera memutari mobilnya dan masuk ke kursi pengemudi. Laki-laki itu memasukkan anak kunci, lalu segera menjalankan sedannya, tepat saat Kian sudah berhasil mencapai mobil mereka.
“b******k!” umpat Kian saat melihat mobil sedan itu melaju kencang, dengan Reynald dan Grace berada didalamnya.
~~~
Grace dan Reynald duduk berdampingan di atas rumput. Di depan mereka terdapat sebuah danau yang begitu luas. Disekitar mereka, beberapa orang dan anak kecil sedang bermain dan berlarian. Suasana disini benar-benar indah dan damai. Membuat Grace tersenyum tanpa sadar.
“Makasih, ya, Rey... lo udah mau nolongin gue.” Grace memulai percakapan. Tatapannya masih terfokus pada danau di depannya. Sementara itu, Reynald menoleh dan mengamati wajah Grace dengan seksama.
Merasa diperhatikan, Grace menoleh. Keduanya kini saling tatap dalam diam. Ketika sadar bahwa Reynald tengah menatapnya dengan intens, Grace langsung mengalihkan pandangannya. Wajahnya mulai merona merah. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Seandainya lo bisa dengar kata hati gue, Rey... gue suka sama lo....
“Nggak usah berterima kasih.” Reynald menarik napas panjang dan mendesah berat. “Gue nolongin lo bukan karena gue mau nolongin lo, tapi karena gue nggak suka sama cowok yang suka maksa cewek seenaknya,” balas Reynald.
Grace membeku di tempatnya. Hatinya terasa perih mendengar pengakuan Reynald itu.
Maaf, Grace... gue cuma nggak mau menyukai elo terlalu dalam. Gue bukan laki-laki yang pantas buat lo...
Untuk memperbaiki suasana hatinya yang mendadak sedih, Grace membuka tasnya dan mengeluarkan bekal makanan dari sana. Reynald memperhatikan tingkah gadis itu dan detik berikutnya... dia tertawa!
Tawa Reynald itu membuat Grace tertegun. Wajah Reynald yang sedang tertawa benar-benar terlihat manis. Lesung pipit yang muncul di kedua pipinya. Tatapan mata yang melembut. Semua sifat dingin laki-laki itu seolah hilang tak berbekas.
“Lo masih bawa bekal, Grace?” tanya Reynald disela tawanya.
Saking terkejutnya dengan tawa Reynald, Grace hanya bisa mengangguk polos.
“Lucu banget, sih? Kayak anak TK!”
“Biarin aja,” balas Grace sewot. “Gue ini yang bawa bekal, kenapa jadi lo yang repot!”
Reynald masih saja tertawa. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas keras. Grace yang keki karena ditertawakan, akhirnya mulai membuka bekal makanannya. Nasi goreng dengan telur mata sapi buatannya. Grace memang sudah bisa memasak sejak gadis itu duduk di bangku SMP.
Suasana yang tadinya sempat terasa tidak enak karena ucapan Reynald mulai berganti dengan suasana yang sedikit tenang. Burung-burung berterbangan di langit biru. Hembusan angin menerpa wajah keduanya. Suara anak-anak yang sedang berlarian, membuat hati Reynald sedikit menghangat.
“Dulu... Bunda sering ngajak gue kesini. Bunda juga selalu bikinin gue bekal makanan... sama kayak lo, Bunda sering buatin gue nasi goreng.”
Grace hanya mengunyah dan memperhatikan danau di depannya sambil mendengarkan Reynald berbicara. Grace tahu bahwa saat ini, Reynald sedang butuh seseorang untuk mendengarkannya bercerita mengenai kenangannya bersama sang Bunda.
“Bunda meninggal waktu gue kelas satu SMA. Waktu itu, Bunda bertengkar hebat dengan Ayah. Gue yang baru pulang sekolah cuma bisa diam dan tidak berani ikut campur karena gue tau watak keras Ayah gue. Kemudian, gue mengejar Bunda yang menangis sambil berlari ke jalan raya. Sampai tiba-tiba... Bunda tertabrak mobil dan akhirnya meninggal....”
“Kenangan itu ada memang untuk diingat, Rey... tapi kalau kenangan itu justru membuat elo terpuruk dan hancur, lebih baik dilepaskan....”
Reynald tersentak dan menoleh ketika mendengar ucapan Grace. Gadis itu juga tengah menatapnya tepat di manik mata. Ada senyuman lembut yang menghiasi bibir Grace dan hal itu membuat hati Reynald seketika meringan dan menghangat.
Cukup lama mereka bertatapan, sampai akhirnya, sebelah tangan Reynald terulur. Reynald membersihkan mulut Grace yang sedikit berminyak karena nasi goreng yang dimakannya. Grace sendiri hanya bisa menahan napas saat Reynald menatapnya lekat-lekat dan tangan laki-laki itu masih berada di sudut bibirnya. Mengusap area itu dengan lembut.
Merasa keadaan mulai canggung, Grace berdeham keras dan seketika itu juga, Reynald menjauhkan tangannya dari bibir Grace.
“Lo ngapain, sih, ngeliatin gue kayak gitu?!” seru Grace salah tingkah. Gadis itu memotong bagian kuning telur mata sapinya beserta nasi goreng. “Ngiler sama nasi goreng gue, ya? Maaf-maaf aja, ya, ini nasi goreng cuma buat gue dan elo nggak boleh—“
Saat Grace masih menggerutu dan berniat memasukkan sendok yang berisi nasi goreng itu kedalam mulutnya, tiba-tiba saja, tangan Reynald menangkap pergelangan tangannya dan mengarahkan tangan gadis itu ke arah mulutnya. Grace hanya bisa terpaku ketika Reynald memakan nasi goreng buatannya dan tangan laki-laki itu masih memegang pergelangan tangannya. Reynald mengunyah dan tersenyum hangat ke arah Grace.
“Enak... nasi goreng lo itu benar-benar enak,” puji Reynald seraya membersihkan sudut bibirnya. “Lain kali, bisa lo bawain buat gue?”
Baru saja Grace akan membuka mulut untuk menjawab, mendadak, beberapa anak kecil yang berlarian tidak sengaja mendorong tubuh Reynald. Laki-laki itu kontan kehilangan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya jatuh terdorong ke samping. Grace yang berada tepat di samping Reynald hanya bisa menjerit pelan ketika tubuh Reynald jatuh menindih tubuhnya. Nasi goreng bawaannya tumpah berceceran. Reynald tidak sepenuhnya jatuh menindih tubuh Grace, karena laki-laki itu menahan beban tubuhnya dengan kedua tangannya. Posisi mereka saat ini, Grace berada didalam kurungan tubuh Reynald.
Keduanya saling tatap dalam diam. Tatapan yang begitu dalam dan intens. Reynald dan Grace sama-sama berusaha menormalkan degupan jantung mereka yang mulai meliar. Kemudian, entah disadari atau tidak, Reynald mulai mengelus sebelah pipi Grace. Membuat Grace menahan napasnya.
“Kalau begini caranya... entah apakah gue sanggup menyuruh lo untuk terus menjauh dan membenci gue, Grace...,” ucap Reynald lembut.
Grace hanya bisa terdiam. Dia membiarkan Reynald terus mengelus pipinya. Tidak peduli bahwa beberapa orang disekitar mereka mulai tersenyum-senyum penuh arti ke arah mereka berdua.
“Kalau gue bilang gue mulai jatuh cinta sama lo... apa yang akan lo lakuin?” tanya Reynald dalam hatinya. “Can you hear my heart, Grace? Can you hear my heart when it say that i love you?”
Dan Grace semakin menahan napasnya ketika bibir Reynald mendarat di puncak kepalanya.
~~~