Suara siulan penuh makna dari beberapa orang di kejauhan menyadarkan Reynald dan Grace. Reynald langsung menjauhkan bibirnya dari kening Grace dan bangkit dari posisinya. Tak lupa, laki-laki itu mengulurkan sebelah tangannya kepada Grace dan menarik gadis itu. Keduanya kembali pada posisi mereka semula. Duduk berdampingan. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Suara siulan dan sorak sorai dari beberapa orang yang menyaksikan adegan mereka tadi masih terdengar. Reynald melirik Grace yang berada di sampingnya sekilas dan tersenyum kecil saat melihat wajah memerah gadis itu. Grace bahkan terlihat sedikit salah tingkah. Hal itu membuat Reynald rasanya ingin sekali memeluk tubuh gadis itu.
“Lo tau nggak Rey?”
Reynald mengangkat satu alisnya saat mendengar suara Grace yang pelan. Rona merah itu sudah menghilang dari wajah Grace. Reynald bisa melihat Grace menatap danau di depannya dengan tatapan menerawang dan tersenyum sedih.
“Apa?” tanya Reynald ketika dia melihat Grace hanya terdiam dan tetap tersenyum. Seperti ada sesuatu yang berkecamuk dipikiran gadis itu.
“Seenggaknya, dalam hal ini, lo nggak sendirian.”
“Maksud lo?”
Grace menoleh dan bertatapan dengan Reynald. Grace semakin tersenyum meskipun matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian, airmata itu mengalir turun tanpa bisa dicegah. Grace langsung menghapus airmata itu dengan punggung tangannya dan menarik napas panjang. Berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya. Karena kenyataannya, saat ini dia kesulitan untuk bernapas dengan benar.
Melihat Grace menangis, Reynald langsung merasa hatinya seperti teriris. Entah kenapa. Yang jelas, dia tidak ingin melihat atau mendengar Grace menangis. Dia tidak ingin gadis itu bersedih. Dia hanya ingin melihat Grace selalu tersenyum, tertawa dan bahagia. Karena dengan begitu, Reynald seolah bisa merasakan kehadiran Bunda. Wajah Grace benar-benar seperti obat penenang bagi Reynald, seperti kalau dia melihat wajah Bunda.
Grace langsung melihat ke arah tangannya yang tiba-tiba saja digenggam oleh Reynald. Gadis itu seperti mendapatkan kekuatan dan kehangatan yang mengalir dari tangan Reynald. Begitu dia mengangkat kepalanya lagi, dia melihat Reynald tersenyum padanya. Senyum yang hangat. Senyum yang lembut dan tulus. Seolah Reynald berusaha untuk menenangkannya dan mengatakan padanya bahwa dia akan baik-baik saja. Bahwa Grace tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
“Nyokap gue juga udah meninggal. Sekitar empat tahun yang lalu.”
Reynald cukup kaget mendengar berita itu, namun sebisa mungkin dia tidak menunjukkannya di depan Grace. Biasanya, seorang perempuan akan selalu bersedih atau bisa dibilang rapuh ketika mereka harus kehilangan Ibu mereka. Tapi yang dilihat Reynald, Grace sepertinya bisa bersikap tegar dan sabar. Dia selalu ceria apabila di kampus, tertawa, tersenyum, seolah tidak merasakan kehilangan ataupun kerinduan pada Ibunya yang sudah meninggal. Berbeda dengan dirinya yang seorang laki-laki. Dia justru seperti seorang yang sudah tidak mempunyai arti kehidupan lagi. Dia justru terlihat begitu rapuh dan hancur. Mengetahui kenyataan itu membuat Reynald menganggap dirinya begitu pengecut.
“Terus, elo nggak—“
“Sedih?” potong Grace. Gadis itu kemudian tertawa pelan dan menghembuskan napas keras. Rasa sesak itu tiba-tiba saja sudah memenuhi rongga dadanya. “Gue sedih, Rey... sedih banget. Tapi, karena waktu nyokap meninggal gue belum ada di kota ini, masih berada di Semarang, maka gue nggak terlalu larut dalam kesedihan. Sesekali gue mengunjungi makam nyokap kalau liburan sekolah tiba.”
Grace hanya bisa membeku ketika Reynald menghapus airmata yang entah sejak kapan sudah kembali mengalir di wajahnya. Kemudian, laki-laki itu menangkup wajah Grace dengan kedua tangannya. Reynald mendekatkan wajahnya ke wajah Grace dan tersenyum.
“Gue salut sama lo. Lo bisa tegar dan berbesar hati menerima kenyataan bahwa nyokap lo udah meninggal dunia. Sedangkan gue... gue merasa malu sama lo. Gue laki-laki, tapi gue justru nggak lebih kuat dari lo, Grace....”
Grace mengerjapkan mata dan detik berikutnya, dia ikut tersenyum. Gadis itu memegang kedua pergelangan tangan Reynald yang sedang menangkup wajahnya.
“Laki-laki itu juga manusia, Rey... sekuat apapun laki-laki mencoba untuk bersikap baik-baik saja, pasti akan ada saat dimana mereka butuh waktu untuk bersedih dan menangis.”
Reynald tertawa renyah dan mengacak rambut Grace. Laki-laki itu kemudian menghela napas lega. Benar-benar lega. Dan Reynald sendiri tidak tahu apa alasannya. Yang jelas, berada di dekat Grace selalu membuatnya merasa tenang. Tenang dan damai.
“Mau pulang?”
Grace melirik arloji yang berada di pergelangan tangan kirinya. Masih pukul sebelas siang. Sebenarnya, Grace masih ada jam kuliah. Tapi, mungkin sebaiknya hari ini dia tidak masuk kuliah dulu. Dia malas apabila harus bertemu dengan Kian lagi.
“Boleh,” jawab Grace pelan sambil mengangguk. Gadis itu membereskan bekal makanannya dan memasukkan kotak bekalnya kedalam tas. Ketika Grace dan Reynald sudah bangkit berdiri, tiba-tiba saja, Grace merasa tubuhnya ditarik. Gadis itu mengerjapkan matanya ketika mengetahui bahwa kini, dia berada dalam pelukan Reynald.
“Rey...?”
“Ssst....” Reynald memejamkan kedua matanya dan mendesah lega. Rasanya hati Reynald kini begitu plong. Semua beban yang dirasakannya seolah lenyap entah kemana. Grace sendiri hanya bisa menahan napasnya dan tidak berani untuk membalas pelukan Reynald. “Biarin gue meluk elo sebentar aja, Grace.”
Grace tidak menyahut. Gadis itu tersenyum kecil dan memejamkan kedua matanya. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya serta menikmati pelukan nyaman Reynald pada tubuhnya.
And i don’t know... how to be fine when i’m not...
Cause i don’t know... how to make the feeling stop...
Just so you know, this feelings taking control of me...
And i can’t help it...
I won’t sit around... i can’t let him win now!
Thought you should know... i’d tried my best to let go of you...
But i don’t want to... i just gotta say it all before i go...
(Jesse Mccartney-Just So You Know)
~~~
Mobil sedan Reynald berhenti tepat di depan rumah Grace. Rumah itu kelihatan begitu asri dan sejuk. Ada perasaan rindu akan Bundanya ketika Reynald memperhatikan rumah Grace yang sarat akan kekeluargaan. Reynald tersenyum getir tanpa sadar. Rumah Grace sangat berbeda dengan rumahnya.
“Udah sampai, Grace....”
Ketika yang diajak berbicara hanya diam, Reynald refleks menoleh dan mendapati Grace sedang menundukkan kepalanya. Tatapannya terlihat menerawang, seperti ada yang sedang dipikirkannya.
“Grace...?” panggil Reynald seraya menyentuh pelan lengan Grace.
Grace tersentak dan mengangkat kepalanya. Dia menatap Reynald yang sedang mengerutkan kening ke arahnya, lalu memperhatikan keadaan sekitarnya. Astaga, sudah berapa lama dia melamun?
“Eh... oh..., udah nyampe, ya?” tanya Grace sambil tersenyum sekilas. Gadis itu melepaskan sabuk pengamannya dan mengucapkan terima kasih pada Reynald. Saat akan membuka pintu mobil dan berniat untuk turun, Reynald mencekal pergelangan tangan Grace, menghentikan niat gadis itu untuk turun dari mobil.
“Kenapa?” tanya Grace tanpa menatap Reynald. Gadis itu hanya menatap tangannya yang dicekal oleh Reynald.
“Kayaknya kebalik, deh,” balas laki-laki itu pelan. Mendengar itu, Grace kontan mendongak dan bertemu mata dengan Reynald.
“Maksudnya?” tanya Grace tidak mengerti.
Reynald tersenyum kecil. “Lo cemburu?”
“WHAAAT?!” seru Grace melengking. Gadis itu sampai melotot ke arah Reynald yang mulai terkekeh geli.
“Iya... lo cemburu sama Clara?”
“Dih,” cibir Grace sambil menyentakkan tangan Reynald dari pergelangan tangannya. “Ngapain gue harus cemburu sama Clara? Mau lo tunangan sama Clara atau siapapun itu, nggak ada hubungannya sama gue!”
“Oke,” balas Reynald sambil mengangguk. Grace mendesis jengkel lalu turun dari mobil dan menutup pintu dengan bantingan. Dia berdiri di depan pagar rumahnya dan menunggu Reynald pergi dari depan rumahnya.
“Salam buat bokap lo, Grace...,” kata Reynald sebelum akhirnya laki-laki itu menjalankan mobilnya. Grace hanya mengangguk dan bersikap acuh pada laki-laki itu. Bahkan, lambaian tangan Reynald pun diacuhkannya.
Sepeninggal Reynald, Grace menghembuskan napas berat. Baru saja, dalam perjalanan menuju rumahnya, Reynald bercerita mengenai rencana Ayahnya untuk menjodohkan Reynald dengan seorang gadis SMA bernama Clara. Clara adalah anak dari sahabat Ayahnya dan katanya, perjodohan mereka sudah dilakukan saat keduanya masih kecil. Ketika mendengar informasi itu dari bibir Reynald, Grace hanya bisa terdiam dan tidak berkomentar banyak. Dia tersenyum pada Reynald, seolah keadaan dirinya baik-baik saja. Seolah berita itu bukanlah sesuatu yang penting baginya. Padahal, jauh didalam lubuk hatinya, Grace merasa terluka. Dia tidak ingin Reynald menjalani pertunangan itu. Karena dia... jatuh cinta pada Reynald.
Sementara itu, melalu kaca spion mobilnya, Reynald memperhatikan Grace yang masih berdiri di depan rumahnya. Laki-laki itu kemudian menghela napas panjang dan tersenyum tipis. Grace mungkin bisa mengelak darinya, tapi tidak dari perasaannya. Kemudian, Reynald menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah Grace. Laki-laki itu keluar dari dalam mobil dan mengambil ponselnya. Tadi, dia sudah bertukar nomor ponsel dengan Grace.
Grace yang baru akan memasuki pekarangannya terkejut saat mendengar bunyi ponselnya. Gadis itu membatalkan niatnya untuk masuk dan meraih ponselnya yang berada didalam tas. Dan dia terperangah saat membaca isi SMS dari... Reynald!
From: Reynald
Cemburu bilang aja... jangan dipendam...
Mungkin lo bisa bohongin gue, tapi lo nggak bisa bohongin perasaan lo sendiri...
Dari sini, gue bisa melihat wajah lo yang sedih karena merasa kehilangan gue sebentar lagi... Kak Grace!
Grace mendongak dan matanya mencari-cari. Kemudian, tatapannya jatuh pada sebuah rumah bercat merah yang berjarak tujuh rumah dari rumahnya. Disana terparkir mobil sedan Reynald dan laki-laki itu sedang bersandar pada badan mobil sambil melipat kedua tangannya di depan d**a dan melihat ke arahnya! Reynald tersenyum kecil dan terus menatap Grace, mengunci gadis itu dalam tatapan matanya. Grace sendiri mendapati dirinya tidak bisa bergerak dan mengalihkan pandangannya sedikipun. Kemudian, Reynald membuka pintu mobilnya dan berseru kepada Grace, tepat sebelum dia masuk kedalam mobil sedannya.
“SABAR AJA KAK GRACE!”
Grace mengerutkan kening ketika mendengar seruan itu. Gadis itu menatap mobil sedan yang perlahan mulai meninggalkan komplek perumahannya dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
“Sabar aja? Maksudnya apa?” gumam Grace pada dirinya sendiri. “Dan apa dia bilang tadi? ‘Kak Grace’? Tumben banget manggil gue Kakak.”
~~~
Kian melangkah dengan cepat menuju kelas Grace. Sudah dua hari ini, dia tidak berhasil bertemu dengan gadis itu. Ada satu keinginan Kian yang belum pernah tercapai semenjak dia berpacaran dengan Grace. Dan keinginan itu harus dia dapatkan, bagaimanapun caranya. Maka dari itu, kalau Grace tetap berniat tidak mau kembali padanya, maka dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan itu dengan cara paksaan.
Kian membuka pintu kelas Grace dengan keras. Semua mata didalam kelas gadis itu terpusat pada Kian. Kian tidak peduli. Matanya mencari-cari sosok Grace dan menemukan gadis itu sedang mengerutkan keningnya ketika menatap ke arahnya. Tanpa basa-basi, Kian langsung menghampiri Grace dan menarik lengan gadis itu.
“Eh, apa-apaan nih?!” seru Grace berang. Gadis itu berusaha melepaskan diri namun gagal. Dia berusaha melawan Kian yang sedang menyeretnya, namun kekuatannya tidak cukup seimbang dengan kekuatan laki-laki itu.
“Grace!” seru Azizah keras.
Mendengar seruan itu, Kian kontan menghentikan langkahnya namun dia tetap mencekal tangan Grace dengan kuat, sampai gadis itu meringis kesakitan.
“Jangan ada yang berani ngehalangin gue atau ngelapor ke dosen! Sampai ada yang ngelakuin hal itu, lo semua akan tau akibatnya!” ancam Kian. Kemudian, laki-laki itu langsung menyeret Grace keluar kelas. Azizah yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah dan berdo’a dalam hati semoga sahabatnya itu tidak kenapa-napa. Sementara itu, Kenzo yang kebetulan baru saja pulang dari kantin dan hendak kembali ke kelas, langsung membelalakkan matanya ketika melihat Grace diseret paksa oleh Kian di koridor kampus.
~~~
Kenzo berlari sekuat tenaga menuju kelasnya. Dia harus menemui Reynald sekarang juga. Harus! Tapi, ketika dia tidak menemukan keberadaan Reynald didalam kelas, Kenzo semakin gusar dan kalut. Dia bertanya kepada teman-teman sekelasnya dan mereka semua serentak menjawab tidak tahu mengenai keberadaan Reynald saat ini. Kenzo sudah tahu perihal pertunangan Reynald dengan seorang gadis SMA, anak dari sahabat Ayah Reynald, yang bernama Clara Mutiara Sanjaya itu. Reynald menceritakan hal itu semalam, via ponsel.
Tiba-tiba, sebuah tempat terlintas di benak Kenzo. Dia sekarang tidak begitu yakin apakah Reynald ada disana atau tidak, tapi, tidak ada salahnya Kenzo mencoba kesana. Sebuah balkon yang jarang didatangi oleh mahasiswa dan berada di lantai lima. Tempat yang sering didatangi Reynald kalau perasaan laki-laki itu sedang kacau.
Begitu pintu menuju balkon di lantai lima terbuka dengan bunyi berdebum yang keras, Reynald sontak terlonjak dan menoleh. Dia melihat Kenzo sedang berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Tak lama, Kenzo menghampiri Reynald dan menunjuk wajah Reynald lurus-lurus.
“Rey! Lo kemana aja, sih? Gue cariin juga!” seru Kenzo disela napasnya yang terengah.
“Lo kenapa ngos-ngosan gitu? Abis maraton?” tanya Reynald tanpa menjawab pertanyaan Kenzo barusan. Kenzo hanya berdecak kesal dan mengibaskan sebelah tangannya di depan d**a.
“Lo harus tolong si Kak Grace sekarang juga!”
Mendengar nama Grace disebut, tubuh Reynald langsung menegang. Seperti ada alarm di otaknya bahwa gadis itu kini berada dalam bahaya. Kemarin lusa, saat akan mengantar Grace pulang dari danau yang mereka datangi, Reynald bercerita mengenai rencana pertunangan dirinya dan Clara yang dikehendaki oleh Ayahnya. Saat itu, Reynald bisa melihat wajah Grace sedikit memucat dan tubuhnya seperti gelisah. Grace sendiri tidak berkomentar banyak dan hanya mengucapkan selamat. Gadis itu tersenyum tetapi seperti dipaksakan dan hal itu membuat Reynald sedikit berharap bahwa Grace juga mempunyai perasaan suka padanya, sama seperti dia yang menyukai gadis itu. Sejak kejadian itu, Reynald merasa Grace selalu menghindar darinya kalau mereka tidak sengaja berpapasan atau bertemu di kampus. Reynald sendiri tidak berusaha untuk meminta penjelasan mengenai tingkah aneh Grace tersebut karena dia berpikir bahwa itu adalah hak Grace dan dia sama sekali tidak mempunyai hak untuk melarang Grace kalau gadis itu memang ingin menghindarinya.
“Kenapa sama Grace?” tanya Reynald pelan. Laki-laki itu bahkan bisa mendengar suaranya bergetar di telinganya sendiri.
“Tadi gue liat Kak Kian nyeret Kak Grace dan bawa Kak Grace ke gudang belakang, Rey!”
Detik itu juga, darah Reynald seakan membeku. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dan langsung berlari menuju gudang belakang dengan emosi dan amarah yang menggelegak hebat di dadanya, tanpa mempedulikan teriakan Kenzo.
Sementara itu, di gudang belakang, Grace berusaha menekan ketakutannya. Dia sudah berusaha untuk bertahan dan lari dari Kian, namun laki-laki itu mencengkram tangannya dan menyeret tubuhnya dengan kasar. Dia sudah berseru bahkan sedikit mengancam akan melaporkan hal ini kepada dosen, namun Kian malah tertawa dan tidak mengacuhkan.
Grace bisa merasakan sakit dan perih ketika punggungnya membentur dinding kokoh di belakangnya. Baru saja, Kian mendorong tubuhnya dengan kasar ke arah dinding. Grace meringis ketika dagunya dicengkram oleh Kian dengan kuat hingga kepalanya terdongak. Di depannya, Kian tersenyum sinis dan menatapnya dengan tatapan dingin.
“Satu tahun gue pacaran sama lo, tapi gue belum pernah dapat sekalipun ciuman dari lo!” desis Kian dengan nada rendah. “Gue pengin ngerasain bibir tipis lo itu, Grace....”
“Mimpi lo sana!” seru Grace, mengerahkan seluruh keberaniannya yang masih tersisa. Dalam pemikirannya, dia harus melawan Kian, tidak boleh terlihat takut pada laki-laki itu. Kalau dia sampai terlihat takut dan kalah, Kian akan semakin merasa di atas angin.
“Dalam keadaan tersudut pun, lo masih bisa melawan gue, Grace?” tantang Kian. Bahasanya kini tidak lagi menggunakan kata ‘aku-kamu’ dengan Grace. “Lo sadar nggak kalau hidup lo ada di tangan gue sekarang? Masa depan lo bisa gue obrak-abrik detik ini juga!”
Mendengar ancaman Kian, otomatis tubuh Grace membeku di tempat. Dia benar-benar terlihat pucat pasi sekarang. Aliran darahnya seolah berhenti dan dia kesulitan untuk bernapas dengan benar.
Kian menyeringai puas. Kemudian, laki-laki itu langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Grace. Mati-matian Grace berontak dari Kian yang berusaha mencium bibirnya. Gadis itu mulai terisak. Dia berteriak. Airmatanya mulai mengalir. Kian seolah buta dan tuli. Dia mencengkram kedua tangan Grace yang meronta dan semakin berusaha untuk melumat bibir Grace.
Tiba-tiba, Kian mendengar suara bantingan pintu. Yang Kian sadari berikutnya adalah, bahunya ditarik paksa dan sebuah hantaman keras mendarat di wajahnya. Kian jatuh tersungkur dan detik berikutnya, kerah bajunya ditarik paksa hingga laki-laki itu berdiri. Tubuh Kian kini bersatu dengan dinding kokoh di belakangnya, dan lehernya ditekan kuat oleh lengan kokoh milik... Reynald.
“b*****t!” umpat Reynald penuh emosi. Kedua matanya menatap nyalang Kian yang meringis dan berusaha mengambil napas karena akses laki-laki itu untuk bernapas ditahan oleh Reynald. “Gue bakal matiin lo sekarang juga! Gue bikin lo nyesal pernah kenal sama gue!”
Kian sampai terbatuk-batuk karena perbuatan Reynald itu. Sebisa mungkin, Kian menatap Reynald. Bahkan tatapan Kian menyiratkan sebuah tantangan, walaupun posisinya sudah jauh dari kata aman.
“Dia... harus kasih gue... bibirnya!” desis Kian terputus-putus. “Selama... gue pacaran sama dia... dia bahkan nggak... pernah... kasih bibirnya buat gue!”
Reynald tertawa hambar. Laki-laki itu makin memperkuat tekanan lengannya di leher Kian, membuat laki-laki itu semakin terbatuk-batuk.
“Jadi, lo pacarin dia cuma karena mau bibirnya, iya?!” desis Reynald. Sementara itu, ketika dia melirik ke arah Grace, gadis itu sedang berdiri di sudut ruangan dan menangis. “Lo bilang, lo mau bibirnya Grace, kan?”
Tak ada sahutan maupun jawaban dari Kian. Reynald tersenyum sinis dan mengangguk. “Fine! Akan gue kasih buat lo bibir Grace...,” kata Reynald seraya melepaskan lengannya dari leher Kian. Laki-laki itu langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya dan tak henti-hentinya terbatuk-batuk. Dia melihat Reynald berjalan ke arah Grace dan berdiri tepat di depan gadis itu. Grace sendiri hanya menatap Reynald yang kini berdiri di depannya dengan kening berkerut. Sinar ketakutan sudah tidak terlihat lagi di kedua mata Grace ketika dia melihat kedatangan Reynald. Entah mengapa, Grace selalu merasa terlindungi kalau Reynald berada di dekatnya. Kemudian, Grace merasakan kedua tangan Reynald memegang kedua lengannya dan laki-laki itu itu menatap Kian dengan senyuman dinginnya.
“Melalui bibir gue...,” sambung Reynald, menyelesaikan kalimatnya yang tadi terpenggal. Dan Kian hanya bisa terbelalak ketika melihat Reynald mencium bibir Grace tepat di depan matanya!
Reynald menyapu bibir Grace dengan lembut dan penuh perasaan. Bukti dari perasaan cintanya yang dia sembunyikan dari gadis di depannya ini. Lidahnya mencoba menggelitik bibir Grace, hingga akhirnya bibir gadis itu terbuka dan langsung menerima lidah Reynald disana. Grace merasa seperti melayang. Ketakutan yang sempat muncul akibat ulah Kian beberapa saat lalu yang mencoba mencuri ciumannya, hilang tak berbekas. Tergantikan dengan rasa aman yang diberikan Reynald melalui ciumannya.
Reynald sedikit menggeram pelan ketika Grace membalas ciumannya dengan lembut. Laki-laki itu memainkan lidahnya didalam mulut Grace. Kedua tangan Reynald turun dari lengan Grace menuju pinggang gadis itu. sementara Grace mencengkram bahu Reynald. Ketika ciuman itu akhirnya selesai, Grace menundukkan kepalanya. Napas keduanya terengah akibat ciuman mereka beberapa saat yang lalu. Tangan Grace diletakkan di d**a bidang Reynald. Semburat merah mulai muncul di pipi Grace. Melihat itu, Reynald tersenyum hangat dan mengelus pipi Grace lembut.
“I love you...,” bisik Reynald lembut di telinga Grace. “Perasaan ini udah tumbuh sejak lo melihat sisi gue yang lain, tetapi gue mencoba untuk menguburnya. Karena gue ngerasa gue nggak pantas untuk lo....” Reynald bisa melihat keterkejutan di kedua mata cokelat Grace. “Soal pertunangan gue sama Clara, gue nggak akan pernah mau menjalaninya, Grace. Gue nggak cinta sama Clara... cuma lo yang gue lihat, yang gue dengar dan yang ada di hati gue.”
Reynald menggenggam tangan Grace dengan erat dan tersenyum. Gadis itu juga tersenyum manis ke arahnya. Airmata Grace telah berganti dengan senyuman. Ketakutannya telah tergantikan dengan rasa aman yang diberikan oleh Reynald. Kemudian, Reynald menatap Kian yang menatap ke arahnya dan ke arah Grace dengan tatapan penuh amarah dan kedua tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya.
“Udah puas?” tanya Reynald pelan. Dia semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Grace. Seolah memberitahu pada dunia bahwa tidak ada satu orangpun yang boleh menyakiti gadis itu.
“Dengar, Kian Stevano... selama gue, Reynald Farhenza masih bernapas, masih hidup, masih berada di dunia ini, selama itu juga nggak ada yang boleh menyakiti Grace Anindya! Mulai detik ini, Grace adalah pacar gue. Sekali lagi aja gue dapat kabar atau bahkan ngeliat elo nyentuh Grace, bahkan walau hanya sehelai rambut pun....” Reynald sengaja menggantungkan kalimatnya. Dia perlahan mendekati Kian dan berhadapan langsung dengan laki-laki itu. keduanya saling melempar tatapan membunuh. “Gue bikin lo menyesal pernah hidup ke dunia!”
~~~
Grace membiarkan tangannya digenggam oleh Reynald disepanjang koridor kampus. Perasaan gadis itu sangat senang hari ini. Reynald baru saja mengatakan kalau dia mencintai dirinya. Dan hal itu membuat Grace sangat bahagia karena ternyata, perasaannya terbalaskan. Lucu memang, mengingat awal pertemuan mereka, Grace dan Reynald selalu berdebat seperti anjing dan kucing.
Pintu kelas Grace dibuka pelan oleh Reynald. Seorang dosen yang sedang menjelaskan di depan kelas gadis itu langsung menoleh, diikuti tatapan-tatapan penasaran yang dilayangkan oleh teman-teman sekelas Grace, juga oleh Azizah. Azizah bahkan langsung terbelalak saat tidak sengaja melihat tangan Grace yang digenggam oleh Reynald.
Melihat keterkejutan di wajah Azizah, Grace langsung menyadari bahwa tangannya masih berada dalam genggaman tangan Reynald. Otomatis, Grace berniat untuk melepaskan tangannya agar teman-teman sekelasnya yang lain tidak melihat. Namun, kening gadis itu berkerut heran saat Reynald justru malah mempererat genggaman tangannya dan tersenyum ke arah dosen yang sedang menatap mereka dengan kening berkerut heran.
“Rey...,” bisik Grace pelan. “Tangan gue dilepasin dong... malu nih, di depan kelas.”
Reynald tidak menggubris. Laki-laki itu malah mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Grace ke dadanya, sengaja memperlihatkan kepada seluruh penghuni kelas bahwa saat ini, Grace adalah miliknya!
“CIYEEEE!!! SUIT-SUIT!!!”
Gemuruh tepuk tangan dan seruan heboh didalam kelas ketika melihat Reynald mengangkat tangannya ke d**a dengan tangan Grace yang berada dalam genggaman tangan laki-laki itu, membuat Grace menundukkan kepalanya karena malu. Wajahnya mulai merona merah. Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa Grace sangat bahagia akan hal ini.
“Maaf, Pak,” ucap Reynald sopan kepada dosen yang bersangkutan, ketika dia dan Grace sudah berada di dekat sang dosen. Azizah hanya tersenyum lebar dari tempat duduknya ketika melihat sahabatnya bersama Reynald. “Saya mau mengantar Grace.”
“Darimana kalian?” tanya sang dosen tegas. “Mata kuliah sudah berlangsung kurang lebih setengah jam.”
“Maaf,” kata Reynald lagi seraya tersenyum. “Saya yang salah. Saya mengajak Grace pergi makan di kantin karena saya tidak mau makan sendirian, Pak. Selain itu, saya juga kangen sekali sama... pacar saya ini....”
“CIYEEEE!!! ROMANTIS GILA!” seru semua mahasiswa yang berada didalam kelas, termasuk Azizah. Gadis itu begitu bersemangat. Dia tidak tahu bahwa sahabatnya itu sudah berpacaran dengan Reynald.
Sementara itu, Grace hanya bisa mengeluh dalam hati dan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Reynald. Dalam hati, dia berjanji akan memarahi Reynald karena ulah noraknya ini.
“Dasar... anak muda zaman sekarang,” ucap sang dosen dingin, seraya menunjuk tempat duduk yang kosong dengan dagunya. “Sudah, kembali ke tempat sana!”
Reynald menganggukkan kepala. Dia menarik Grace dan mengantarkan gadis itu ke tempat duduknya. Setelah Grace duduk tepat di sebelah Azizah, Reynald mengedarkan pandangan kesekelilingnya dan tersenyum lebar.
“Kakak-Kakak sekalian, saya titip Grace, ya? Tolong pacar saya yang paling cantik dan menggemaskan ini dijaga dan dilindungi dari serangan buas harimau Sumatera yang mungkin masih akan berkeliaran di kampus ini. Pokoknya, jangan sampai si cantik ini diterkam, oke?”
“OKEEEE!!!” teriak semua mahasiswa. Grace hanya mampu menundukkan kepala dan bisa merasakan wajahnya mulai memanas. Melihat itu, Reynald tertawa pelan dan mengacak rambut Grace gemas. Lalu, tanpa peduli bahwa terdapat banyak orang didalam kelas ini, Reynald menangkup wajah Grace dengan kedua tangannya, mengangkat kepala gadis itu dan mengecup kening Grace dengan lembut. Lagi, suara heboh dari teman-teman sekelas Grace membahana. Sementara sang dosen hanya bisa berdecak kesal dan mengelus d**a melihat tingkah Reynald.
“Pulang nanti hati-hati... gue nggak bisa ngantar, masih harus kerjain tugas kuliah,” bisik Reynald di telinga Grace. Gadis itu tidak bisa menemukan suaranya karena insiden yang diciptakan oleh Reynald ini, lantas dia hanya bisa mengangguk.
Kemudian, Reynald tersenyum sopan ke semua teman-teman Grace dan membungkukkan tubuhnya, seolah dia baru saja memerankan tokoh penting dalam sebuah pementasan drama. Ketika dia berjalan melewati sang dosen, Reynald hanya terkekeh geli dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan.
“Hehehe... peace, Pak,” ucap Reynald lalu kabur dari hadapan sang dosen yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
~~~
Pukul tujuh malam. Reynald baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya bersama Kenzo dan dua orang temannya yang lain. Saat ini, Reynald sedang berada di parkiran motor dan memasang helm-nya. Di depannya, Kenzo menatap Reynald yang sudah membuka kaca helm-nya dengan sebuah senyum menggoda.
“Yakin, elo nggak mau bareng sama gue? Gue bisa nganterin lo sampai ke terminal.” Reynald menatap Kenzo yang masih saja tersenyum dengan alis terangkat satu. Kenzo hanya menggeleng dan semakin tersenyum lebar, membuat Reynald kesal.
“Ok... let’s make it clear,” ucap Reynald seraya membuka helm-nya kembali. “Look, Zo... i know you’re a kind man, very kind man. But, i have a girl and i am a normal guy. So, sorry if i dissapointed you, but—“
“Orientasi seks gue masih normal, Rey!” potong Kenzo cepat dengan nada ketus, membuat Reynald terbahak.
“Terus kenapa lo senyam-senyum gitu liat gue? Gue kan jadi mikir kalau bisa aja selama ini lo memendam hasrat cinta yang mendalam buat gue,” balas Reynald yang memasang helm-nya kembali. Kenzo hanya bisa mencibir dan meninju bahu Reynald pelan.
“Gue senang aja, saat tau lo sama Kak Grace udah pacaran. Kalau dilihat-lihat, lo sama dia emang cocok, Rey... sama-sama keras kepala.” Kenzo hanya tersenyum saat melihat Reynald tersenyum lebar. Wajah sahabatnya itu seolah tanpa beban, berbeda dengan wajah Reynald sebelum dia bertemu dan berpacaran dengan Grace. Sepertinya, Grace memang bisa memberikan kedamaian dan ketenangan serta arti kehidupan bagi Reynald. “Traktiran jangan lupa.”
“Beres,” kata Reynald sambil mengacungkan jempolnya ke arah Kenzo. Reynald memang sudah memberitahu Kenzo mengenai hubungannya yang baru terjalin selama beberapa jam dengan Grace. “Gue ke rumah Grace dulu, ya? Lo benar nggak mau nebeng gue?”
Kenzo menggeleng. “Gue bisa pulang sendiri. Udah, sana ke rumah Kak Grace. Salam buat dia.”
Reynald mengangguk dan menyalakan mesin motornya. Setelah itu, Reynald membunyikan klakson motornya yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Kenzo.
Reynald melajukan motor ninjanya dengan perasaan senang dan tidak sabar. Dia ingin segera sampai ke rumah Grace dan bertemu gadis itu kemudian memeluknya. Aneh sekali. Baru beberapa jam mereka tidak bertemu namun Reynald merasa sangan rindu pada Grace.
Di pertengahan jalan di komplek perumahan Grace, Reynald merasa ada yang mengikutinya. Dia melirik kaca spion motornya dan menyadari bahwa ada sekitar enam motor yang mengekor di belakangnya. Reynald mempercepat laju motornya dan sengaja berbelok ke arah kanan, menjauhi rumah Grace.
Tak lama, sebuah motor menyalip di samping kanannya. Reynald melirik sekilas dan terperanjat saat kaki sang pengendara motor menendang tubuhnya dari samping. Otomatis, Reynald kehilangan keseimbangan motornya dan akhirnya jatuh ke samping dengan keras! Motornya terseret beberapa senti dari tubuhnya. Reynald mengerang pelan saat merasa kakinya sedikit sakit dan langsung membuka helm-nya ketika enam orang pengendara motor itu menghentikan motor mereka tepat di depan Reynald. Reynald membeku di tempat ketika mengenali satu sosok yang berada di depannya.
“Kian?”
“Halo, Reynald...,” ucap Kian dingin. Senyumnya begitu licik. Reynald melirik beberapa orang yang berada di samping Kian. Mereka teman-teman Kian dan sedang memegang sebuah tongkat bisbol di masing-masing tangan mereka!
“Gimana kalau malam ini gue kasih lo sedikit pelajaran untuk tidak pernah mencampuri urusan gue lagi?” tanya Kian dengan nada rendah berbahaya.
Reynald menatap tajam satu persatu orang di depannya ini. Ketika Kian memerintahkan teman-temannya untuk maju dan mulai menyerang Reynald, Reynald langsung bangkit berdiri dan bersiap-siap. Bayangan Grace yang sedang tersenyum tiba-tiba hadir di benaknya, sebelum akhirnya semuanya menjadi kacau-balau.
~~~
Pukul delapan malam, bel rumah Grace berbunyi. Grace mengerutkan keningnya dan bergegas menuju pintu rumahnya. Seharusnya, Ayahnya baru pulang sekitar pukul sepuluh malam. Lantas, siapa yang bertamu malam-malam begini?
Begitu pintu rumah Grace terbuka, Grace langsung terperangah. Di depannya, Reynald tengah berdiri dengan susah payah sambil tersenyum ke arahnya dan... berlumuran darah!
“Rey!” seru Grace saat tubuh Reynald limbung ke arahnya. Grace langsung memapah tubuh Reynald dan membawa laki-laki itu ke sofa ruang tamu dengan susah payah karena tubuh Reynald tidak sebanding dengan tubuhnya. Begitu Reynald sudah duduk bersandar di sofa, Grace bergegas bangkit untuk mengambil baskom yang akan diisi air dingin supaya luka dan darah di wajah Reynald bisa segera dibersihkan. Namun, gerakan Grace harus terhenti saat Reynald mencekal lengannya dan memaksa Grace untuk duduk kembali.
“Rey?”
“Disini aja,” ucap Reynald terbata. Laki-laki itu meringis ketika merasakan sakit disekujur tubuhnya. Dia baru saja melawan Kian dan teman-temannya. Berat memang, mengingat mereka semua menghajarnya memakai tongkat bisbol, namun berkat sabuk hitam karate yang dimilikinya, Reynald berhasil mengalahkan mereka, meskipun tubuhnya sendiri babak belur. “Gue butuh elo.”
Tanpa banyak bicara, Grace langsung memeluk tubuh Reynald. Reynald sedikit mengerang ketika Grace memeluk tubuhnya karena rasa sakit langsung menjalar disekitar tubuhnya. Kemudian, laki-laki itu membalas pelukan Grace. Dengan erat. Dengan penuh perasaan. Rasa sakit itu menghilang sedikit demi sedikit. Reynald menumpahkan semua kelelahan dan kesakitannya dalam pelukan Grace. Benar-benar nyaman. Benar-benar damai.
“Lo kenapa bisa sampai kayak gini, sih?” tanya Grace khawatir dengan suara gemetar. Matanya mulai berkaca.
“Gue nggak pa-pa,” sahut Reynald pelan. “Ini cuma luka biasa.”
“Rey... elo....”
“Ssst... berhenti bicara.” Reynald memotong ucapan Grace. “Biarin gue tenang sebentar aja... dipelukan lo.”
Grace tidak lagi berbicara. Dia hanya memeluk tubuh Reynald dengan erat. Memberikan kekuatan bagi laki-laki itu. Reynald mendesah lega dan semakin membenamkan diri dalam pelukan Grace. Dia memejamkan kedua matanya, menikmati moment yang sedang berlangsung ini. Sampai kemudian, ketika Reynald membuka kedua matanya, dia membeku.
“Grace...?”
“Hmm?”
Reynald melepaskan dirinya dari pelukan Grace. Matanya menatap ke satu titik. Sebuah pigura foto yang terdapat di atas meja kecil di samping meja. Foto itu begitu indah. Situasi didalam foto itu menggambarkan sebuah kehangatan. Reynald menunjuk foto itu dengan tangan yang gemetar.
“Itu... siapa...?” tanya Reynald dengan terbata. Grace menoleh dan tersenyum.
“Oh... itu....”
Dan detik itu juga, Reynald merasa dunianya runtuh seketika di depan matanya.
~~~