“Grace....”
Gadis berseragam abu-abu yang masih duduk di bangku kelas dua SMA itu menoleh dan tersenyum ketika melihat Ayahnya sudah berada di rumah sore hari seperti ini. Biasanya, Ayahnya selalu pulang di malam hari, saat Grace sudah tertidur pulas. Karena hal ini baru pertama kali terjadi, Grace menjadi sangat senang. Dia berlari menuju Ayahnya dan memeluk pria yang rambutnya sudah mulai memutih itu. Tinggal bertiga dengan Ayahnya dan Neneknya membuat Grace sedikit kesepian di kota Semarang ini, meskipun dia memiliki banyak teman.
“Ayah!” seru gadis itu seraya mendaratkan tubuhnya di pelukan sang Ayah. Pria itu hanya tersenyum tipis dan membalas pelukan anak gadisnya. Dielusnya punggung Grace serta dikecupnya rambut gadis itu.
“Ayah, tumben jam segini Ayah udah di rumah... biasanya, Grace mau tidur pun, Ayah belum ada di rumah,” kata gadis itu seraya melepaskan diri dari pelukan sang Ayah. Pria itu tersenyum kecil dan membelai rambut Grace dengan penuh kasih sayang. Mendapat perlakuan yang tidak biasanya itu membuat Grace mengerutkan keningnya karena bingung. Terlebih ketika dia melihat guratan kesedihan di wajah pria di depannya ini.
“Grace... sayang...,” ucap Ayahnya pelan. Dia mengambil napas panjang dan membuangnya. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. “Barusan Ayah mendapat telpon dari Eyang kamu di Jakarta....”
Grace mengangkat satu alisnya dan melipat keuda tangannya di depan d**a. Eyang yang dimaksud oleh Ayahnya ini adalah Ibu dari Bundanya. Aah... mengingat Bundanya membuat d**a Grace terasa penuh sesak. Sudah lama dia merindukan sang Bunda. Dia menyayangi Bunda. Tapi, perceraian yang terjadi antara Ayah dan Bundanya membuat Grace tidak pernah mau bertemu dengan wanita itu, walaupun dia sangat ingin bertemu. Walaupun dia sangat merindukan kehadiran wanita itu selama empat belas tahun terakhir ini.
Karena perceraian itu terjadi ketika dia berumur tiga tahun, dia masih terlalu kecil untuk mengerti akan hal tersebut. Dalam pikiran anak-anaknya, Grace hanya menganggap bahwa Bunda sedang bekerja ke luar negeri, karena hal itulah yang diberitahukan oleh Ayah serta Oom dan Tantenya. Namun, seiring berjalannya waktu, Grace diberi penjelasan oleh Ayahnya bahwa sebenarnya, beliau dengan sang Bunda sudah bercerai. Alasannya sepele. Karena sang Bunda cemburu pada sekretaris Ayahnya dan beranggapan bahwa Ayahnya memiliki hubungan khusus dengan wanita itu.
Grace marah. Sangat marah. Ketika dia mengetahui alasan dibalik perceraian itu. Dia pernah berpikir, apakah Bundanya tidak bisa mempercayai Ayahnya? Bukankah dalam sebuah hubungan, apalagi sudah berstatus menikah, saling mempercayai pasangan satu sama lain adalah sebuah pondasi? Mengapa Bunda tidak mencari fakta dan buktinya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bercerai? Apalagi ketika Grace tahu bahwa tak lama setelah bercerai, sekitar enam bulan kemudian, sang Bunda menikah lagi dengan laki-laki lain. Membuat Grace yang masih dalam tahap menuju pendewasaan—karena gadis itu diberitahu tentang fakta perceraian kedua orangtuanya saat dia berumur tiga belas tahun dan masih duduk di bangku SMP—mempunyai pemikiran bahwa Bundanya mungkin saja sengaja memperbesar masalah dekatnya hubungan sang Ayah dengan sekretarisnya, tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu, hanya untuk segera menikah dengan laki-laki yang katanya sangat kaya itu.
“Kenapa Eyang menghubungi Ayah?” tanya Grace tanpa minat. Gadis itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ayahnya kembali mengambil napas panjang dan membuangnya dengan berat.
“Bunda kamu meninggal, Grace....”
Seketika itu juga, tubuh Grace membeku di tempatnya. Wajah sang Bunda yang selama ini hanya pernah dia lihat didalam foto, tiba-tiba saja sudah pergi untuk selama-lamanya. Rasa sedih dan kehilangan itu hadir dalam hatinya, namun dia enggan untuk mengakui. Dia enggan untuk memperlihatkan, karena dia masih sakit hati terhadap sang Bunda. Pikiran bahwa Bundanya lebih memilih laki-laki lain dan memutuskan untuk bercerai dengan Ayahnya masih bercokol dalam pikiran gadis itu hingga saat ini.
“Oh....” Hanya itu respon yang diberikan oleh bibir tipis Grace. Gadis itu sekuat tenaga menahan airmata yang sudah ingin mengalir keluar dengan derasnya. Mendengar kata-kata dari anak gadisnya, Kevin, Ayah Grace, hanya bisa menghembuskan napas berat dan mengelus rambut Grace dengan lembut.
“Bunda kecelakaan, Sayang... dia jadi korban tabrak lari. Besok, jasadnya akan dimakamkan. Kamu mau ikut Ayah ke Jakarta, sekarang?”
Grace terdiam. Dia ingin ikut, tapi....
“Nggak, Yah...,” jawab Grace sambil menggelengkan kepalanya pelan. Suaranya mulai terdengar bergetar di telinganya sendiri. “Grace nggak mau ketemu Bunda. Sampaikan saja salam Grace untuk keluarga Bunda.”
“Grace...,” panggil Ayahnya lelah. Dia tidak ingin anaknya itu terus membenci mantan isterinya. Walau bagaimanapun juga, tidak ada yang namanya mantan anak. Wanita yang baru saja meninggal itu tetaplah Ibu kandungnya.
“Grace lelah, Ayah... Grace banyak tugas sekolah dan mau istirahat,” ucap gadis itu pelan sambil menaiki anak tangga satu persatu, menuju kamarnya di lantai dua. “Ayah hati-hati.”
Kevin hanya bisa menatap punggung gadis kecilnya itu dengan tatapan sedih. Dia tidak ingin Grace bersikap seperti ini terus-terusan. Kejadian ketika mantan isterinya itu menuduhnya berselingkuh juga sudah lama sekali terjadi. Perceraian mereka itu juga karena keegoisan mereka masing-masing, sehingga kini, Grace-lah yang menjadi korban keegoisan mereka.
Grace menutup pintu kamarnya pelan. Gadis itu memutar anak kunci dua kali, dan bersandar di daun pintu. Airmata itu kini mengalir turun dengan cepatnya, seiring perasaan sedih, kecewa, hancur dan kehilangan yang menyeruak keluar bersama-sama. Grace membiarkan tubuhnya meluruh disana, kemudian menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.
“Bunda jahat... hiks...,” ujar gadis itu lirih disela isak tangisnya. “Bunda... hiks... tega meninggalkan Ayah sama Grace dulu... hiks... sekarang... tanpa Grace sempat untuk melihat Bunda... hiks... meminta maaf pada Bunda karena sudah membenci Bunda... hiks... tanpa sempat memeluk Bunda... hiks... Bunda udah pergi selamanya buat ninggalin Grace... hiks... Grace benci Bunda... hiks....”
Walaupun begitu, didalam hatinya yang paling dalam, Grace sangat menyayangi Bundanya. Melebihi apapun yang ada di dunia ini. Dan hari itu, Grace benar-benar tidak ikut ke Jakarta bersama Ayahnya, meskipun Nenek dan saudara-saudara Ayahnya sudah datang untuk membujuknya. Yang dilakukan oleh Grace hanyalah mengunci diri di kamar, mendengarkan lagu dari ponselnya sambil menangis. Menangis untuk kepergian Bunda. Dan Grace baru berani datang ke makam Bundanya ketika sudah lewat empat bulan setelah kematian sang Bunda. Dia datang sendiri kesana. Berdo’a, tersenyum tanpa beban dan berkata bahwa dia sudah memaafkan semua kesalahan sang Bunda di masa lalu. Bahwa dia sangat ingin bertemu dengan sang Bunda meskipun hanya sekali saja. Memeluk sang Bunda, bercanda bersama, tertawa, bercerita, semuanya. Sejak saat itu, Grace selalu mengunjungi makam sang Bunda setiap liburan sekolah tiba. Dan Grace tidak pernah ingat bahwa saat itu, di suatu hari yang mendung dan sedikit ditemani oleh rintik hujan, Grace pernah berpapasan dengan... Reynald.
~~~
Reynald terpaku di tempatnya ketika Grace selesai menceritakan seseorang yang berada didalam pigura foto yang baru saja dilihatnya. Dia tidak tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Sedih, marah, emosi, semua bercampur aduk menjadi satu. Terlebih rasa sakit dan hancur. Kedua rasa itu paling mendominasi didalam hatinya.
Bahwa ternyata, Bundanya adalah Ibu kandung dari Grace!
Dari gadis yang sangat dicintainya ini.
Bagaimana... bisa?
“Rey?”
Reynald tersentak saat melihat Grace melambaikan tangannya di depan wajahnya. Laki-laki itu menatap Grace tepat di manik mata dan semakin merasakan nyeri pada hatinya. Hatinya berdenyut tanpa ampun. Kemudian, ketika dia melihat wajah cemas Grace, Reynald sebisa mungkin memaksakan seulas senyum.
“Lo kenapa?” tanya Grace khawatir. Dia memperhatikan keseluruhan fisik Reynald yang terlihat memar. “Ada yang sakit?”
Reynald menggeleng dan buru-buru bangkit berdiri. Dia harus keluar dari tempat ini secepatnya sebelum dirinya benar-benar terlihat hancur di depan Grace. “Mm... gue pulang dulu, Grace....”
Grace ikut bangkit dan memegang tangan Reynald. Laki-laki itu terkejut dan menatap tangannya yang kini dipegang oleh Grace. Kemudian, tatapannya beralih ke kedua mata gadis itu dan bibirnya yang menyunggingkan seulas senyum.
“Mau gue panggilin taksi, Rey?”
Reynald menggeleng. “Nggak usah... motor gue masih berfungsi, kok. Tadi juga masih bisa gue kendarain kesini,” tolak Reynald halus. Grace mengangguk dan mengantar laki-laki itu sampai ke depan pagar.
Ketika Reynald hendak memasang helm ke kepalanya, tubuhnya membeku. Grace mencium pipinya dengan lembut. Kemudian, Reynald bisa melihat wajah merona gadis itu ketika Grace menundukkan kepalanya.
“Hati-hati, Rey....”
Reynald mengangguk kaku. Dadanya bergemuruh hebat. Ada desakan kuat didalam hatinya untuk memeluk Grace. Tapi... dia tidak bisa. Dia harus bertahan. Harus.
Reynald menyalakan mesin motor dan menggasnya beberapa kali sebelum akhirnya dia mulai menjalankan motornya dan pamit pada Grace. Dalam perjalanannya menuju rumah, Reynald memacu laju motornya dengan gila-gilaan. Dia berusaha meredam semua emosinya namun gagal. Akhirnya, pertahanannya runtuh. Dia menangis. Menangis karena kenyataan. Menangis karena sebuah fakta yang terpampang jelas di depannya.
Dia tidak mungkin salah lihat dan Grace juga tidak mungkin berbohong. Wanita didalam pigura foto itu memang benar... Bunda mereka. Ibu kandungnya dan Ibu kandung Grace!
Tuhan... apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia benar-benar mencintai gadis itu... dia mencintai... Kakak kandungnya sendiri!
~~~
“Reynald!”
Reynald berdecak kesal saat Clara berseru menyebut namanya ketika gadis itu membuka pintu rumahnya. Reynald tidak mengacuhkan Clara dan berjalan masuk kedalam rumah dengan langkah cepat, sampai tiba-tiba, Clara memasang tubuh mungilnya tepat di depan Reynald, menghadang langkah laki-laki itu.
“Apaan, sih, lo?!” desis Reynald kesal. “Minggir, nggak? Gue mau lewat!”
Clara menggelengkan kepalanya dan menyentuh sudut bibir Reynald yang sedikit membiru. Laki-laki itu meringis menahan perih dan langsung menepis tangan Clara.
“Rey!” seru Clara sedikit emosi. “Gue cuma khawatir sama lo. Apa salah kalau gue menunjukkan sedikit perhatian dan rasa khawatir untuk calon tunangan gue sendiri?”
Reynald mendengus dan mengalihkan pandangannya. Kemudian, tiba-tiba saja dari sudut matanya, Reynald mendapati Ayahnya sedang menuruni tangga dan menatap ke arahnya dengan kening berkerut.
“Kamu berkelahi?” tanya Darian saat pria itu sudah berada di depan Reynald. Ditatapnya wajah memar Reynald dengan tatapan dingin. “Kamu tidak ada bosan-bosannya berkelahi dan membuat Ayah malu, Rey?”
“Bukan urusan Ayah,” jawab Reynald dingin. Laki-laki itu kemudian mulai menaiki tangga menuju lantai dua. Dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran Rizko yang artinya, laki-laki yang usianya empat tahun lebih tua darinya itu belum pulang ke rumah.
“Reynald!” seru Darian gusar. Pria itu berniat untuk mengejar Reynald, namun Clara menahan langkahnya.
“Biar Clara aja, Oom, yang menyusul Reynald.”
Melihat anggukan kepala Darian, Clara tersenyum ke arah pria itu dan bergegas menghampiri Reynald. Begitu pintu kamar Reynald terbuka, Clara bisa melihat laki-laki itu sedang duduk di balkon kamarnya sambil menatap langit hitam di atas sana. Clara perlahan berjalan menuju Reynald dan duduk di samping laki-laki itu.
“Ngapain lo disini?” tanya Reynald. Laki-laki itu sama sekali tidak menatap ke arah Clara. Clara menoleh dan tersenyum.
“Salah, kalau gue berniat untuk menemani calon tunangan gue?”
Reynald menoleh dan menatap tajam Clara. Gadis itu masih tersenyum ke arah Reynald dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Ada sorot keberanian yang terpancar jelas dari cara Clara menatap Reynald.
“Kenapa lo mau ditunanganin sama gue?” tanya Reynald lagi. Dia ingin tahu, alasan apa yang berada didalam otak gadis di sampingnya ini, sehingga dia menerima semua rencana pertunangan ini. “Gue bahkan nggak ingat pernah mengenal elo sewaktu kita kecil dulu.”
“Alasan sederhana,” jawab Clara sambil terus menatap kedua mata tajam Reynald. “Karena gue tertarik dan suka sama lo.”
“Hanya karena itu?”
Clara mengangguk tegas. Sementara itu, di tempatnya, Reynald tersenyum sinis dan menghela napas panjang.
“Coba kasih tau sama gue, apa yang bikin lo tertarik sama gue? Apa yang bikin lo suka sama gue?” tantang Reynald.
“Apa harus ada alasan?”
“Kalau ternyata... gue ini nggak sebaik yang lo pikirkan... nggak sesempurna yang lo bayangkan... apa lo bahkan masih ingin bertunangan sama gue?” tanya Reynald lagi. Kali ini nada suaranya begitu rendah dan berbahaya.
“Kenapa enggak?” balas Clara. “Kenyataannya, lo memang sebaik dan sesempurna seperti yang gue harapkan. Jadi, kita nggak usah berandai-andai kalau lo itu ternyata tidak sebaik atau sesempurna yang gue inginkan.”
“Gue bertanya sekali lagi sama lo, Clara...,” ucap Reynald dingin. Tidak memperdulikan jawaban Clara beberapa saat yang lalu. “Kalau gue ini ternyata orang yang jahat... apa lo masih mau bertunangan sama gue?”
Clara terdiam. Dia menatap Reynald tepat di manik mata. Untuk beberapa saat lamanya, yang dilakukan keduanya hanyalah saling tatap di manik mata masing-masing. Hembusan angin malam menerpa wajah keduanya. Suasana mendadak menjadi tegang dan mencekam.
“Ya!” tandas Clara akhirnya. “Walaupun lo jahat, gue akan tetap melakukan pertunangan ini. Karena gue cinta sama lo. Dan gue nggak akan pernah biarin lo dekat dengan cewek lain selain gue.”
Reynald mengangguk beberapa kali lalu bangkit berdiri. Dia berdiri tepat di depan Clara yang masih duduk di bangkunya dan mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang diletakan di pegangan kursi. Dikulitinya Clara dengan tatapan tajamnya. Sementara yang ditatap hanya bisa menelan ludah susah payah, menikmati wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti di depannya itu.
“Oke,” kata Reynald dengan suara dingin. Seringai sinis mulai muncul di wajahnya. “Lo yang mengambil keputusan barusan, Clara. Dan gue harap, lo nggak akan menyesalinya nanti.”
Reynald menjauhkan tubuhnya dari Clara dan perlahan mulai meninggalkan balkon kamarnya. Belum lama dia berjalan, Reynald menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Clara yang masih bergeming di tempatnya.
“Gue malas mengurus masalah pertunangan ini. Gue serahin semuanya sama lo aja. Lo atur aja maunya seperti apa. Tapi, ingat! Gue nggak mau pertunangan ini terjadi dalam waktu dekat.”
Selesai berkata demikian, Reynald berjalan keluar dari dalam kamarnya dan menyandarkan punggungnya di daun pintu. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit dan sesak itu kembali mendesaknya. Membuatnya kesulitan bernapas dengan benar.
“Maafin gue, Grace...,” ucap Reynald lirih. Mungkin, hanya pertunangan ini satu-satunya cara agar dia bisa melupakan rasa cintanya untuk gadis itu.
~~~
Pukul dua siang keesokan harinya, Reynald menunggu Grace di depan pintu kelas gadis itu. Begitu pintu di depannya terbuka dan lautan mahasiswa mulai berhamburan keluar, Reynald mulai mencari sosok Grace. Kemudian, sosok yang dicarinya itu muncul dan langsung tersenyum lebar ke arahnya. Membuat Reynald seketika merasakan hatinya terkoyak hebat.
“Hai,” sapa gadis itu seraya mendekati Reynald. Grace menyusupkan lengannya ke lengan Reynald dengan manja. Azizah yang baru saja keluar dari kelas langsung tersenyum penuh makna dan menyoraki keduanya. Hal itu membuat Grace tersipu malu dan menundukkan kepalanya. Sementara Reynald hanya tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
“Ciyee... pasangan baru mau jalan-jalan, ya?” goda Azizah sambil menjawil hidung Grace. Grace memberengut dan memukul lengan sahabatnya itu dengan gemas.
“Apaan, sih, lo?” omel Grace pada Azizah. Yang diomeli hanya terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya.
“Yuk,” ajak Reynald. “Nanti keburu malam.” Reynald menatap Azizah dan tersenyum tipis. “Duluan ya....”
Azizah mengangguk dan melambaikan tangan ketika melihat Reynald dan Grace mulai berjalan menuju parkiran. Dia melihat Reynald membukakan pintu mobilnya untuk Grace dan mempersilahkan gadis itu masuk kedalamnya. Ketika mobil sedan Reynald itu pergi, ada satu hal yang mengganggu pikiran Azizah.
Entah mengapa, Azizah melihat bahwa sepertinya, Reynald sedang memikirkan sesuatu tadi.
~~~
Reynald dan Grace berdiri berdampingan di depan hamparan laut yang luas. Saat ini keduanya sedang berada di pantai setelah seharian penuh mereka bermain dan tertawa bersama di dufan. Mencoba berbagai macam wahana yang ada di dunia fantasi itu. Berteriak, berseru keras, mengeluarkan semua beban yang berada di hati mereka masing-masing, tersenyum lebar, tertawa keras, semuanya. Menghilangkan semua pikiran mereka akan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi.
Setelah menaiki wahana terakhir, yaitu bianglala, Reynald sengaja mengajak Grace menikmati hembusan angin malam di pantai. Reynald melirik Grace yang berada di sampingnya sekilas. Tatapan gadis itu begitu berbinar-binar. Senyumannya masih mengembang dan membuat wajah Grace terlihat sangat cantik. Cantik dan manis. Dan Reynald sendiri tidak tahu apakah dia sanggup menghancurkan wajah yang sedang tersenyum itu.
“Grace...,” panggil Reynald lirih.
“Hmm?” gumam Grace pelan dan menoleh. Senyuman yang ditunjukkan Grace pada Reynald saat ini sanggup membuat hati Reynald terkoyak. Dia mencoba mengabaikan rasa perih dan sesak yang sudah mulai memenuhi rongga dadanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang, Tuhan?
“Hei....” Grace langsung menangkup wajah Reynald yang terlihat muram dengan kedua tangannya yang terasa kecil bagi laki-laki itu. “Are you okay?”
Reynald memejamkan kedua matanya kuat-kuat ketika dengan sangat terpaksa, dia melepaskan kedua tangan Grace dari wajahnya. Grace yang bingung dengan sikap Reynald saat ini hanya bisa menyipitkan matanya dan mengerutkan kening.
“Something’s wrong?” tanya Grace ragu. Entah mengapa saat ini hatinya berdebar begitu keras. Menghentak dadanya. Rasa sesak yang sekarang mulai timbul di dadanya bukanlah jenis sesak yang membuatnya bahagia.
“Gue mau... kita akhirin hubungan ini sekarang juga.”
Apa? Reynald bilang apa tadi?
“Rey?”
“Gue mau kita putus sekarang juga!” tegas Reynald dengan suara yang sedikit serak. Dia mengalihkan pandangannya ketika melihat wajah pucat Grace.
Grace yang bingung dan tidak tahu apa yang sedang terjadi, hanya bisa tertawa datar dan menggenggam tangan Reynald yang terasa dingin di tangannya. Entahlah, Grace sendiri sebenarnya tidak yakin tangan Reynald yang terasa dingin atau justru tangannya sendiri.
“Lo bercanda, Rey...,” kata Grace dengan suara bergetar.
Reynald mendesis dan menatap tajam Grace. Disentaknya tangan Grace dari tangannya, membuat gadis itu terperangah dan menatap Reynald dengan tatapan tidak percaya. Kedua matanya bahkan kini mulai berkaca-kaca.
“Apa gue kelihatan lagi bercanda, Grace?” tanya Reynald dingin. Grace menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir. Dia membiarkan airmatanya mengalir membasahi pipinya.
“Kenapa?” tanya Grace parau. “Apa salah gue? Kita bahkan baru resmi berpacaran kemarin, Rey....”
Reynald tertawa keras. Dia berusaha terlihat biasa saja padahal jauh didalam lubuk hatinya, dia sangat hancur dan terluka. Tapi, dia harus melakukan hal ini. Harus! Dia tidak boleh jatuh terlalu dalam lagi.
“Lo liat ini?” tanya Reynald seraya menunjuk wajahnya yang masih terlihat memar akibat ulah Kian dan gerombolannya semalam. “Ini karena Kian! Dan asalan dia ngelakuin hal ini karena elo! Dan elo dengan santainya masih bisa nanya ke gue, salah lo dimana?”
Grace terdiam. Dia tidak percaya hanya karena hal ini, Reynald tega memutuskan hubungan mereka. Disaat Grace sudah benar-benar mencintai Reynald dengan segenap hatinya.
“Kalau alasannya... alasannya hanya karena itu... kenapa lo mesti bilang ke gue kalau lo cinta sama gue, Rey? KENAPA?!” seru Grace sambil menangis. Saat ini keadaan pantai sudah mulai sepi, jadi, gadis itu tidak peduli kalau dia ingin menangis dan berteriak sepuas hatinya. “Kenapa lo harus selalu nolongin gue dari Kian kemarin-kemarin itu? Kenapa... kenapa lo... cium gue? Kenapa lo bikin gue jatuh cinta sama lo? Kenapa?” tanya Grace bertubi-tubi. Tangannya yang gemetar meremas kerah baju Reynald. Hatinya benar-benar sakit. Sakit sekali.
“b**o!” desis Reynald. “Dengar, Grace... gue sama sekali nggak mencintai elo. Gue cuma mau balas dendam ke elo atas sikap lo yang menyebalkan dari awal kita ketemu. Lo itu cewek yang sok! Memanfaatkan status lo sebagai senior untuk menindas junior seperti gue! Gue benci, Grace! Benci dengan sikap seperti itu. Maka dari itu, gue selalu menolong lo dari Kian supaya gue bisa ngambil simpati lo. Dan ternyata... lo jatuh cinta beneran sama gue. Soal ciuman itu... gue juga cuma akting. Nggak gue sangka, ternyata lo gampang banget nerima ciuman dari cowok. Balas dendam yang manis, bukan?”
PLAK!
Satu tamparan keras itu mendarat di pipi Reynald. Laki-laki itu meringis dan memegang pipinya yang terkena tamparan dari Grace. Gadis itu semakin menangis dan menatap Reynald dengan tatapan tidak percaya. Benarkah Reynald melakukan semua itu hanya untuk balas dendam padanya?
“Lo jahat... Rey... hiks... lo benar-benar jahat....”
Reynald tersenyum miring dan mengangguk. “Dan gue yakin gue pernah bilang sama lo sebelum ini kalau gue bisa menghancurkan elo dalam sekejap mata, Grace Anindya....”
Selesai berkata demikian, Reynald membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Grace yang masih menangis. Gadis itu menatap punggung Reynald yang mulai menjauh dengan tatapan yang hancur dan terluka.
“Rey...,” panggil Grace lirih.
Reynald masih terus berjalan. Kedua tangannya terkepal kuat disisi tubuhnya. Matanya mulai terasa buram. Hatinya sakit. Hancur. Berantakan. Itu yang tidak diketahui oleh Grace saat ini.
“REYNALD FARHENZA!” teriak Grace lagi. Gadis itu membiarkan tubuhnya jatuh terduduk di atas pasir. Dia menundukkan kepalanya. Menangis tersedu-sedan. Isak tangisnya benar-benar menyayat hati. Dia merasa hancur. Dia merasa hilang arah. Tersesat. Dan... terpuruk.
Reynald membanting pintu mobilnya dengan keras. Dia memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan memukul kemudi mobilnya berulang-ulang sampai buku-buku tangannya memerah.
“Sial!” umpat Reynald keras. Dadanya naik-turun, menandakan emosi yang sudah mencapai puncaknya. “b******k! b******k! b******k!!!”
Ketika kedua matanya kembali terbuka, Reynald mengerutkan keningnya saat melihat orang-orang berlarian ke arah pantai. Dengan perasaan yang tiba-tiba saja menjadi tidak enak, Reynald membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana. Dia menahan seorang laki-laki yang kebetulan berlari di depannya.
“Mmm... permisi Mas...,” panggil Reynald pelan. Laki-laki yang ditahan langkahnya oleh Reynald itu menatap Reynald dengan kening berkerut. “Ada apa, ya? Kenapa orang-orang berlarian ke pantai?”
“Oh... itu, katanya ada cewek pingsan di pinggir pantai.” Laki-laki itu menjelaskan dengan nada santai namun sanggup membuat aliran darah Reynald membeku.
Langsung saja, tanpa membuang waktunya lebih lama lagi, Reynald berlari ke arah pantai tanpa mengucapkan kata terima kasih terlebih dahulu kepada laki-laki yang sudah memberikan informasi kepadanya itu. Dan Reynald benar-benar terkejut saat mendapati tubuh Grace yang tidak sadarkan diri berada di atas pasir putih serta dikelilingi oleh banyak orang.
“GRACE!”
Reynald langsung mendekati tubuh Grace dan mengusir kerumunan orang yang mengelilingi tubuh gadis itu. Dengan satu gerakan cepat, Reynald mengangkat tubuh Grace dan membawa gadis itu kedalam mobilnya. Reynald bahkan masih bisa melihat wajah Grace yang terlihat kacau karena habis menangis.
Reynald membuka pintu penumpang dengan susah payah, lalu mendudukkan tubuh Grace ke jok mobil dengan hati-hati. Kemudian, Reynald mengitari mobilnya dan langsung masuk ke pintu pengemudi. Dia menatap Grace dengan tatapan terluka. Hatinya tersayat. Dan akhirnya, laki-laki itu menangis. Menangisi takdir. Menangisi keadaan. Dia menggenggam tangan Grace dengan erat. Tangan gadis itu terasa dingin didalam genggamannya. Sebelah tangannya yang bebas digunakan Reynald untuk mengelus pipi Grace yang juga terasa dingin.
“Jangan begini, Grace...,” lirih Reynald. “Please... jangan sakitin diri lo sendiri... gue nggak akan pernah bisa ngeliat lo nangis dan sedih karena manusia b******k seperti gue....”
Grace masih belum sadarkan diri. Napasnya terlihat sangat lemah. Kemudian, dengan mengerahkan semua tenaganya yang masih tersisa, dengan semua kelelahan yang dia rasakan, dengan seluruh jiwa raganya, rasa cintanya, Reynald memeluk tubuh Grace dengan erat dan mencium kening gadis itu dengan lembut dan penuh perasaan.
“Maafin gue, Grace... gue harus berbohong seperti tadi... tapi, itu harus gue lakukan. Demi kebaikan kita... kita nggak mungkin saling mencintai, meskipun gue nggak bisa membohongi diri gue sendiri kalau gue cinta sama lo...,” lirih Reynald lagi. “Tapi... gue nggak bisa... karena lo... Kakak gue....”
~~~
Yang pertama dilihatnya saat membuka mata adalah langit-langit kamarnya. Grace mengerang pelan dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia menatap keadaan sekitarnya dengan kening berkerut dan menyadari bahwa saat ini, dia sedang berada didalam kamarnya.
Pintu kamarnya terbuka dan Grace melihat Ayahnya masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah nampan berisi segelas s**u cokelat dan sepiring nasi dengan lauk yang lengkap. Ayahnya tersenyum lembut ke arahnya dan meletakan nampan itu di atas meja kecil disamping ranjangnya. Kemudian, pria itu duduk di samping Grace dan mengelus rambut anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
“Sudah sadar, Nak?” tanya Ayahnya lembut. Grace memiringkan kepalanya dan mengangguk.
“Kenapa Grace bisa ada didalam kamar, Yah? Seingat Grace, Grace lagi di pantai....”
Ayahnya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Dia mencium kening Grace dan tersenyum tipis. “Temanmu yang mengantarkanmu pulang semalam, Grace. Kamu pingsan di pantai. Mungkin karena kelelahan setelah seharian bermain.”
Semalam? Grace buru-buru melirik jam beker yang berada di atas meja. Sudah pukul enam pagi. Jadi... dia pingsan semalaman?
“Teman kamu juga sepertinya sedang banyak pikiran. Dia menggendong kamu sampai kesini dan tidak beranjak pergi sama sekali, Grace. Sama sekali. Semalam, kamu sepertinya sedikit demam. Kamu mengigau. Temanmu itu yang menjaga kamu. Dia tidak pernah pergi dari sisi kamu. Dia mengompres kening kamu, menggenggam tangan kamu dan menenangkan kamu setiap kali kamu mengigau. Ayah melihat semua itu dari luar kamar kamu.”
Grace menelan ludah susah payah. Mungkinkah....
“Ayah... Ayah tau siapa nama teman Grace itu?” tanya gadis itu dengan suara terbata. Napasnya mulai tercekat di tenggorokan. Hatinya berdenyut menahan sesak. Matanya mulai memanas.
“Reynald...,” jawab Ayahnya pelan. “Dia memperkenalkan dirinya sebagai Reynald, Grace. Ayah bisa lihat kalau dia anak yang baik. Sebenarnya, dia melarang Ayah untuk memberitahu kamu kalau dia lah yang telah mengantar kamu dalam keadaan pingsan dan menjagamu sepanjang malam. Tapi, Ayah rasa kamu berhak tau siapa orang yang sudah menolong kamu supaya kamu bisa berterima kasih padanya.” Pria paruh baya itu mengambil piring yang berada di atas nampan dan mulai menyatukan nasi beserta lauknya untuk kemudian disuapi kepada Grace. “Dia baru pulang sekitar jam lima shubuh tadi. Nah, sekarang—“
Ucapan Ayah Grace terhenti saat tiba-tiba saja, Grace langsung memeluk tubuhnya dan menangis hebat disana. Grace menangis dalam pelukan Ayahnya. Menangis yang benar-benar menangis. Isakannya membuat siapa saja yang mendengar akan ikut merasakan kesedihan dan kehancuran yang sedang dirasakan oleh gadis itu.
“Loh? Grace... Sayang... kamu kenapa, Nak?” tanya Ayahnya seraya meletakkan kembali piring yang sudah dipegangnya ke tempat semula. Dia mengelus punggung anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
“Grace... hiks... sayang... hiks... sama dia... Ayah...,” ucap Grace disela tangisannya. “Grace... hiks... sayang... banget... hiks... sama dia....”
Ayah Grace hanya bisa menghembuskan napas berat. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluk tubuh puterinya dengan erat. Memberikan kehangatan dan kekuatan bagi anak gadisnya itu. Dia memang tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Grace dan laki-laki yang bernama Reynald itu. Tapi, yang Ayah Grace lihat, laki-laki bernama Reynald itu juga sepertinya menyayangi puterinya. Hal itu terlihat jelas dari cara Reynald menatap puterinya ketika Grace sedang tidak sadarkan diri semalam.
~~~
Reynald memakai jaketnya dan menuruni tangga rumahnya dengan setengah berlari. Hari ini dia kuliah pagi, sekitar pukul tujuh tepat dan dia baru pulang sekitar jam lima pagi setelah semalaman menunggui Grace di rumah gadis itu. Reynald mendapati ruang makan sudah kosong. Laki-laki itu mencibir keras. Pasti, Ayahnya, Abangnya juga Clara sudah berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Reynald mengumpat pelan saat melihat jam dinding menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Langsung saja, laki-laki itu menyambar kunci motor yang berada di atas meja dan bergegas menuju halaman rumahnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Ayahnya sedang berseteru dengan seorang wanita berambut pendek sebahu. Wanita itu memakai pakaian rapih, seperti pakaian kantor. Perlahan, Reynald mendekati keduanya dan bisa mencuri dengar perdebatan diantara Ayahnya dan wanita itu.
“Sudah kubilang, mereka tidak mau melihatmu lagi! Mereka bahkan tidak menganggap dirimu ada di dunia ini!” seru Darian. Wanita itu menatap Darian dengan pandangan memohon.
“Mas... setidaknya, biarkan aku melihat mereka. Aku ingin bertemu mereka, aku mohon!” pinta wanita itu pada Darian di depan pagar rumahnya.
Baru saja Darian akan kembali menyerukan kata-katanya pada wanita itu, mendadak, suara Reynald terdengar di belakangnya. Darian tersentak dan otomatis, dia memutar tubuhnya. Reynald tengah menatapnya dan wanita itu bergantian.
“Ayah... siapa dia?” tanya Reynald seraya menatap wanita yang sedang tersenyum ke arahnya itu. Reynald bisa melihat kedua mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
“Dia bukan siapa-siapa, Rey,” balas Ayahnya tegas. “Hanya seseorang yang ingin meminta sumbangan kepada Ayah!”
Reynald jelas tidak mempercayai ucapan Ayahnya itu. Bagaimana mungkin seorang wanita dengan penampilan ala kantoran seperti itu ingin meminta sumbangan? Kalau dilihat dari penampilannya, Reynald bisa menduga bahwa wanita di depannya ini mempunyai penghasilan yang lumayan.
“Rey... kenapa kamu hanya diam disini? Bukankah kamu harus kuliah?” tanya Ayahnya dengan nada tegas. “Cepat berangkat ke kampus! Tenang saja, biar wanita ini Ayah yang tangani.”
Reynald hanya mengedikkan bahu dan mengangguk. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju motor ninjanya yang sudah diperbaiki kerusakannya akibat insiden perkelahiannya dengan Kian tempo hari. Setelah memasang helm dan menyalakan mesin motornya, Reynald melajukan motornya ke arah pagar rumahnya. Satpam rumahnya langsung membuka pintu pagar dan mempersilahkan Reynald untuk keluar.
Baru beberapa meter dia menjalankan motornya, Reynald menghentikan laju motornya dan menoleh. Di belakangnya, dia bisa melihat Ayahnya tengah mengusir wanita tadi dengan seruan keras. Wanita tadi hanya bisa mengkeret ketakutan dan berjalan ke arah sebuah mobil Jazz yang terparkir tidak jauh dari rumahnya. Ketika wanita itu membuka pintu mobilnya, Reynald bisa melihat wanita tersebut sedang menatap ke arahnya. Tatapan keduanya bertemu. Dari jarak yang lumayan jauh ini, Reynald bisa melihat wanita itu tersenyum ke arahnya. Senyum yang entah mengapa membuat jantung Reynald berdegup kencang. Dan Reynald sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
Beberapa detik berselang, Reynald tersadar. Laki-laki itu kembali menyalakan mesin motornya. Namun, pikirannya masih terus melayang kepada wanita tadi. Wajah wanita tadi... senyumannya yang terasa hangat, membuat Reynald entah mengapa merasa sangat nyaman.
~~~