Chapter 7-Don't Give Up On Me

6079 Words
Tirai gorden itu seketika tertutup dengan cepat. Dibaliknya, Rizko berdiri dengan kedua tangan terkepal kuat disisi tubuhnya. Dadanya naik-turun menandakan emosi yang tiba-tiba saja hadir dan memaksa untuk dikeluarkan dalam bentuk makian, cacian, seruan, teriakan, apa saja, asalkan emosi itu bisa keluar. Tidak mengendap didalam dadanya hingga membuatnya kesulitan mengambil oksigen untuk bernapas. Matanya menatap tajam ke arah jendela kamarnya yang sudah tertutup. Sebenarnya, Rizko masih berada didalam kamar dan belum keluar semenjak laki-laki itu telah selesai berpakaian rapih. Dia masih bertahan didalam kamar untuk membereskan beberapa berkas yang akan dibawanya, ketika tiba-tiba, dia mendengar suara ribut-ribut dari halaman rumahnya. Dan begitu dia melihat melalui jendela kamarnya, Rizko tersentak dan membatu.             Di halaman rumahnya, Ayahnya sedang berseteru dengan seorang wanita yang selama ini selalu dirindukannya. Disana berdiri sosok... Karla, ibu kandungnya dan Reynald!             Rizko memaksa tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Pikirannya mulai kacau. Napasnya mulai tidak beraturan. Waktu itu, Rizko baru berusia enam tahun sedangkan Reynald berusia dua tahun. Rizko memang masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi dia dipaksa oleh Ayahnya untuk mengerti! Untuk terus mengerti dan mengerti hingga akhirnya, amarah itu menggelora dalam dirinya.             Waktu itu, di bulan Januari, saat Rizko baru saja pulang dari sekolah dan masih mengenakan seragam putih-merahnya, dia mengerutkan kening saat melihat kedua orangtuanya sedang berteriak satu sama lain di ruang tamu. Dengan rasa penasaran yang mulai terbit, Rizko menghampiri kedua orangtuanya.             “Ayah sama Bunda kenapa teriak-teriakan kayak gitu?” tanya Rizko kala itu dengan suara polosnya, membuat Darian dan Karla seketika menoleh dan menatap anak sulung mereka dengan tatapan serba salah.             “Rizko... kamu sudah pulang, Nak?” tanya Karla seraya mendekatkan dirinya ke arah Rizko. Begitu tangan wanita tersebut sudah akan merengkuh tubuh putra pertamanya, Darian langsung menepis kasar tangan Karla dan menjauhkan tubuh Rizko dari wanita itu.             “Jangan pernah kamu sentuh Rizko dan Reynald lagi!” tegas Darian emosi. “Mulai sekarang, kamu bukanlah anggota keluarga Farhenza lagi. Detik ini juga, aku akan mengurus perceraian kita! Kamu bisa mengemasi barang-barang kamu sekarang dan pergi dari rumah ini!”             Karla tersentak dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Airmatanya mulai meleleh dan tiba-tiba saja, Karla sudah menggenggam kedua tangan Darian, meminta belas kasihan pria itu.             “Mas... aku mohon, dengarkan penjelasan aku dulu. Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Rio, Mas. Aku dan Rio hanya berteman. Sungguh.” Karla memohon dalam tangisnya. Kemudian, tanpa rasa belas kasihan, Darian menyentakkan tangan Karla dari tangannya hingga tubuh wanita itu terdorong beberapa langkah ke belakang.             “Jangan banyak alasan! Kamu sudah berpelukan dengan pria lain disaat suami kamu sedang bekerja mencari uang untuk menghidupi dirimu dan anak-anak!”             “Mas... itu kecelakaan. Aku hanya terpeleset dan Rio membantuku agar tidak terjatuh. Hanya itu, Mas, tidak lebih. Yang aku cintai hanya Mas Darian dan anak-anak. Aku tidak ada niatan untuk berselingkuh atau semacamnya. Tolong percaya padaku, Mas....”             “Diam!” seru Darian geram. Sementara itu, Rizko bersembunyi dibalik punggung Darian. Anak kecil itu mulai terisak dan menangis karena pertengkaran kedua orangtuanya. Sang adik, Reynald, yang masih berusia dua tahun sedang dijaga oleh seorang baby sitter di lantai dua. Sang baby sitter memang sengaja membawa anak kedua majikannya itu ke atas agar tidak perlu mendengar pertengkaran kedua orangtuanya. Dia kasihan apabila Reynald yang masih sangat kecil itu harus mendengar teriakan mereka.             Karla terdiam dan menundukkan kepalanya. Wanita itu masih terisak dan sesekali, matanya menatap Rizko yang bersembunyi dibalik punggung Darian.             “Sekarang juga kamu kemasi barang-barang kamu dan segera pergi dari rumah ini! Dan ingat, kamu tidak akan pernah aku izinkan untuk bertemu dengan Rizko maupun Reynald!” Darian menggendong Rizko dan membawa anak sulungnya itu ke lantai dua. Dalam gendongan Darian, Rizko tak henti-hentinya berteriak memanggil Bundanya dan menatap sang Bunda yang sedang menangis seraya tersenyum ke arahnya.             Begitu berada didalam kamar Rizko, Darian mendudukkan anak laki-laki itu ke atas ranjang dan memegang kedua pundak jagoan kecilnya itu dengan tegas.             “Rizko... dengar Ayah...,” ucap Darian pelan. Diusapnya airmata Rizko dengan ibu jarinya. “Kamu sudah tidak mempunyai Bunda... Bunda kamu sudah meninggal.”             “Meninggal?” tanya Rizko sambil sesegukkan. Dia kini menghapus sendiri airmatanya sambil menatap Darian.             “Ya!” tandas Darian sambil mengangguk mantap. “Bunda sudah meninggal. Yang tadi ada di bawah itu bukanlah Bunda kamu. Dia hanya orang jahat yang berpura-pura menjadi Bunda dan akan menculik kamu!”             “Orang jahat? Mau menculik Rizko?”             Darian kembali mengangguk. “Ayah akan carikan Bunda baru untuk Rizko dan dede Reynald. Selama Ayah mencari Bunda baru, Rizko mau, kan, menjaga dede Reynald?”             Rizko yang sudah berhenti menangis seketika mengangguk polos dan tersenyum lebar. “Ayah tenang aja... Rizko akan jaga dede Reynald.”             Sejak hari itu, Rizko tidak pernah berhenti mendengar ucapan Ayahnya yang mengatakan bahwa Bundanya sudah meninggal, ketika Rizko terus menanyakan perihal keberadaan Bundanya. Kemudian, di suatu siang saat Rizko masih duduk di bangku kelas dua SMP, Rizko baru mengetahui alasan yang sebenarnya dari Darian. Saat itu, Darian sedang sakit keras. Dia menganggap waktunya sudah tidak lama lagi maka dari itu, Darian membeberkan semuanya kepada Rizko. Kecuali pada Reynald. Karena saat itu, Reynald masih duduk di bangku kelas empat SD.             Darian menceritakan semuanya. Bahwa sebenarnya, Karla belum meninggal. Bahwa Karla pernah berselingkuh dengan seorang laki-laki ketika Darian sedang berada di luar rumah. Dan akhirnya, Darian menceraikan Karla dan melarang wanita itu untuk mencari atau menemui Rizko dan Reynald. Hal itulah yang membuat amarah didalam diri Rizko menggelegak hebat. Dia membenci perbuatan Bundanya. Dia benci karena Bundanya tidak pernah sekalipun berusaha untuk menemuinya ataupun  Reynald, meskipun Darian melarang wanita itu untuk menemuinya dan Reynald lagi. Waktu itu, Darian memperlihatkan foto Karla pada Rizko hingga Rizko bisa mengetahui bagaimana wajah Bundanya. Dan hal itulah yang membuat Rizko langsung mengenali bahwa wanita yang baru saja berada di halaman rumahnya adalah Bundanya.             Rizko berteriak keras dan melempar bantal ke arah pintu kamarnya. Laki-laki itu meremas rambutnya dengan kuat. Dia rindu pada Bundanya. Sangat rindu, semenjak Ayahnya menceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepada Rizko saat itu.             Hanya Reynald... hanya laki-laki itulah yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Bahwa sebenarnya, Bunda kandungnya belum meninggal. Bahwa yang meninggal tiga tahun yang lalu itu adalah Bunda tirinya. Bunda tiri yang sangat baik hati dan penyayang. Membuat Rizko dan Reynald sangat menghormati dan mencintai Bunda tiri mereka itu dari dalam hati mereka. Bersama Bunda tirinya, Rizko bisa merasakan bagaimana rasanya disayangi, dicintai, diperhatikan dan sebagainya. Hal yang tidak pernah dia dapatkan dari Karla, Bunda kandungnya.             Dan sebenarnya, Rizko juga sudah tahu dari Darian bahwa sebelum menikah dengan Darian, Bunda tirinya itu sudah mempunyai sebuah keluarga kecil. Seorang suami dan anak perempuan yang berusia tiga tahun lebih muda darinya. Setahun di atas Reynald.             “Apa... apa Rey harus gue kasih tau? Kalau sebenarnya, Bunda masih hidup? Dan yang meninggal waktu itu adalah... Bunda tirinya?” gumam Rizko pada dirinya sendiri. ~~~ Reynald sengaja menggunakan tangga kampus untuk naik ke lantai tiga, tempat dimana kelasnya berada pagi ini. Saat dia sedang fokus membaca SMS dari Kenzo, mendadak, dia merasa menabrak sesuatu, atau lebih tepatnya lagi seseorang karena yang ditabraknya itu sedikit menjerit pelan. Reynald otomatis mendongak dan buru-buru menahan lengan orang yang ditabraknya itu agar tidak berakibat fatal, mengingat saat ini keduanya sedang berada di tangga.             “Lo nggak apa-apa?” tanya Reynald pelan saat orang yang ditabraknya sedang menundukkan kepalanya dan menghela napas lega. Ketika kepala orang itu mendongak dan bertemu mata dengan Reynald, seketika itu juga, Reynald terlonjak.             “Arny?!” Seru Reynald tak percaya. Dia mengerjapkan kedua matanya dan menatap gadis berambut panjang sepunggung itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Lo beneran Arny, kan?”             “Baru nggak ketemu beberapa bulan dan lo langsung melupakan sahabat lo semasa SMA ini?” tanya Arny seraya memukul d**a bidang Reynald dengan punggung tangannya. “Dan lo taruh dimana mata lo itu sampai nggak liat kalau gue lagi turun dari tangga? Kalau tadi gue jatuh, gimana?”             Reynald tertawa renyah dan mengacak rambut Arny dengan gemas. Arny Debora. Sahabatnya selama tiga tahun di SMA. Sahabat yang mengerti sekali bagaimana dirinya, bagaimana sifatnya, bagaimana cara menanganinya, semuanya. Awal pertama bertemu dengan Arny adalah saat pekan MOS dimulai. Dia sekelompok dengan gadis manis itu. Kemudian, Reynald tidak menyangka bahwa dia akan sekelas dengan Arny. Akhirnya, keduanya menjadi dekat dan bersahabat.             “Berhenti ngacak rambut gue atau lo gue lempar ke bawah,” ucap Arny jengkel seraya merapihkan rambutnya. Dari dulu, Arny sangat tidak suka kalau ada orang lain yang mengacak-acak rambutnya. Dan Reynald selalu melakukan hal itu pada Arny, meskipun laki-laki itu sudah tahu dengan jelas bahwa Arny sangat membenci hal itu. Membuat Arny marah adalah sesuatu yang menyenangkan baginya.             “Emang lo bisa lempar gue ke bawah?” tanya Reynald geli. “Nabok gue aja belum tentu lo bisa, Ar....”             “Yeee... nantang?” balas Arny ketus. “Jangan mentang-mentang jago silat, terus elo bisa remehin gue, ya!”             “Karate, Ar... karate... bukan silat,” ralat Reynald seraya terkekeh geli.             “Whatever,” tukas Arny seraya mengibaskan tangannya.             “Oh iya... lo ngapain disini?” tanya Reynald. Sepertinya laki-laki itu sudah lupa bahwa kuliahnya dimulai tepat pukul tujuh. Sekarang bahkan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.             “Gue kuliah disini,” kata Arny santai. “Memang, sih, kuliah udah dimulai secara efektif sebulan yang lalu... tapi, selepas SMA, lo tau sendiri kalau gue sempat ngalamin kecelakaan dan harus dirawat secara intensif. Nah, pas keadaan gue udah membaik, gue daftar kuliah disini. Kira-kira, seminggu yang lalu gue mendaftar dan hari ini gue menyempatkan diri untuk melihat-lihat keadaan kampus ini. Besok, gue baru mulai kuliah.”             Reynald mengangkat satu alisnya dan menyipitkan kedua matanya. “Besok? Bukannya besok ada pelatihan kepemimpinan, ya, buat para mahasiswa semester satu? Berarti besok lo langsung ngikutin acara pelatihan itu?”             “Yup!” tandas Arny seraya menganggukkan kepalanya. “And guess, what?”             “What?”             “Gue sekelompok sama lo! Hahahaha... seenggaknya, gue nggak perlu takut untuk sendirian karena ada lo yang bakal nemanin dan jagain gue.”             Reynald mengerjapkan kedua matanya dan tertawa keras. Dia menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang. Memang hanya Arny yang bisa membuatnya melupakan masalahnya sejenak. Membuatnya tertawa dan tersenyum. Sahabatnya itu memang bisa diandalkan. Reynald bersyukur bahwa Arny juga berkuliah disini. Ini benar-benar kejutan.             “Lo tau darimana kalau lo sekelompok sama gue, besok?”             “Dari papan pengumuman. Tadi gue sempat lihat dan nama gue terdaftar di kelompok elo.”             “Kok lo udah bisa dapat kelompok aja, sih? Bukannya lo baru daftar ke kampus ini seminggu yang lalu?”             Arny mengangkat bahunya tak acuh. “Mungkin karena panitia minta nama-nama mahasiswa semester satu buat dibikin kelompok-kelompok ke pihak akademik dan nama gue udah terdaftar. Udahlah, ngapain, sih, lo mikirin hal nggak penting begitu? Tadi gue juga udah ketemu sama bokap lo. Lupa gue, kalau ini kampus milik bokap lo. Secara lo juga ngasih tau kalau bokap lo mendirikan kampus ini pas kita masih kelas satu dulu.”             Reynald kembali tertawa. Laki-laki itu kemudian menarik tubuh Arny kedalam pelukannya. Reynald menghela napas panjang. Arny membalas pelukan erat Reynald. Gadis itu tertawa kecil di d**a bidang Reynald.             “Gue senang lo kuliah disini, Ar... gue jadi punya teman buat diajak gila bareng lagi.” Reynald berkata dengan nada lelah. Lelah karena semua masalah yang harus dihindarinya. Lelah menghadapi kenyataan yang terjadi di depan matanya.             “Oh, jadi menurut lo, gue ini gila, gitu?” tanya Arny sewot seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Reynald. Reynald kembali tertawa dan tidak membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya.             “Rey....”             Satu suara berat bernada rendah itu membuat Reynald mendongak dan mendapati sosok Kenzo di depannya. Entah sudah sejak kapan, Kenzo berada disana. Sahabatnya itu terlihat shock sekaligus menunjuk ke satu titik. Yang jelas, bukan ke arahnya. Reynald mengerutkan kening dan menolehkan kepalanya ke belakang. Seketika itu juga, pelukan Reynald pada Arny terlepas. Dia menatap sosok yang sekarang sedang menatapnya dengan pandangan terluka.             Grace.             Di depannya terdapat sosok Grace.             Gadis itu terlihat sangat pucat. Tubuhnya sedikit gemetar, Reynald bisa melihat itu. Tatapan mata Grace menyiratkan luka dan kesedihan. Bahkan kedua mata indah gadis itu mulai berkaca. Dan Reynald bersumpah bisa merasakan jantungnya sendiri sempat berhenti berdetak beberapa detik ketika melihat airmata Grace jatuh membasahi pipinya. Grace kemudian menghapus airmata itu dengan cepat dan memutar tubuhnya. Gadis itu pergi menuruni tangga dengan berlari.             “Rey! Lo nggak kejar Kak Grace?” tanya Kenzo setengah berteriak karena tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Bagaimana bisa Reynald berpelukan dengan gadis lain dan tidak mengejar pacarnya yang menangis karena melihat adegan yang menurut Kenzo sangat menjijikkan itu?             Reynald menundukkan kepalanya dan menghembuskan napas berat. Tangannya terkepal kuat. Matanya terpejam untuk beberapa saat lamanya. Kemudian, laki-laki itu melanjutkan lagi langkahnya untuk naik ke lantai tiga yang tadi sempat tertunda karena bertemu dengan Arny.             “Rey?” panggil Kenzo. Masih dengan nada tidak percaya yang sama. Sementara Arny hanya bisa mengerutkan kening dan menatap punggung sahabatnya itu dengan tatapan heran. Arny bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada sahabatnya itu. Dia terlalu mengenal Reynald untuk sekedar tahu bahwa ada yang disembunyikan oleh laki-laki itu.             “Biarin... lagipula, hubungan gue sama Grace udah berakhir kemarin. Jadi, terserah gue mau meluk cewek manapun dan dimanapun. Dia nggak punya hak untuk marah ataupun ngelarang gue!”             Kenzo melongo, begitu juga dengan Arny yang mendengar ucapan sahabatnya itu. Jadi... gadis yang tadi menangis itu, pacar Reynald? Dan sepertinya, tadi Arny sempat mendengar laki-laki yang sedang berbicara dengan Reynald itu menyebut gadis tadi dengan panggilan ‘kak’? Berarti... Reynald pacaran dengan kakak tingkat?             “Lo bercanda, Rey,” kata Kenzo dan tertawa datar. Berusaha memancing Reynald agar segera mengatakan kalau yang diucapkan Reynald tadi memanglah hanya sebuah lelucon. Tapi, ketika melihat wajah kelam Reynald dan tatapan nanar laki-laki itu, Kenzo jadi menelan ludah dengan susah payah.             “Jadi... benar...?” tanya Kenzo memastikan. Reynald hanya menghembuskan napas panjang dan meneruskan langkahnya. Meninggalkan Kenzo dan Arny yang masih sibuk dengan pertanyaan di benak mereka masing-masing.             Sepeninggal Reynald, Kenzo melirik Arny sekilas dan meneliti keseluruhan fisik gadis itu. Rambut panjang sepunggung, hidung mancung, mata bulat, tubuh langsing, secara fisik, gadis di depannya ini terlihat cantik dan manis. Apa... apa karena gadis ini, hubungan Reynald dan Grace berakhir? Bahkan setahu Kenzo, hubungan Reynald dan Grace baru berjalan sekitar dua hari.             “Apa lo liat-liat?!” seru Arny galak. Kenzo langsung terlonjak sedikit ke belakang dan mengelus dadanya. “Dengar ya, gue tau apa yang ada di pikiran lo saat ini! Dan gue tegasin sama lo bahwa pemikiran lo itu SALAH BESAR! Gue bukan orang yang udah hancurin hubungan Reynald sama cewek tadi! Gue bahkan baru menginjakkan kaki gue hari ini di kampus ini. And, for your information aja, gue ini sahabatnya Reynald semasa SMA. So, buang jauh-jauh pikiran buruk lo tentang gue itu kalau lo nggak mau gue santet sampai mati!”             Selesai berkata demikian, Arny mendengus dan menjulurkan lidahnya ke arah Kenzo yang hanya bisa ternganga mendengar seruan Arny barusan. Laki-laki itu mencibir dan kembali naik ke lantai tiga untuk mengejar Reynald.             “Cewek gila,” gerutu Kenzo kesal. ~~~ Sedari pagi, didalam kelasnya, Grace lebih sering melamun dan tidak memperhatikan penjelasan dosen sama sekali. Sesekali, Azizah melirik sahabatnya itu dengan pandangan kasihan. Tadi, Azizah sudah memberitahu Grace bahwa gadis itu menjadi seorang panitia dalam acara pelatihan kepemimpinan mahasiswa semester satu. Gadis itu hanya mendesah panjang dan berusaha untuk menolak. Namun, karena Azizah terus memaksa, Grace menjadi tidak enak. Akhirnya, Grace mengiyakan juga ajakan Azizah dengan pemikiran bahwa nanti, Grace akan kembali mencoba menolak ajakan Azizah itu. Saat ini, Grace tidak mempunyai cukup kekuatan untuk berdebat dengan siapapun, termasuk sahabatnya.             “Grace....”             Grace tidak menyahut. Gadis itu sibuk dengan dunianya sendiri. Pikirannya melayang entah kemana. Mungkin, gadis itu kembali memikirkan kejadian tadi pagi, saat dia tidak sengaja melihat Reynald dan seorang perempuan sedang berpelukan. Apakah... apakah memang benar, selama ini Reynald tidak pernah mencintainya dan hanya memanfaatkan dirinya untuk membalas dendam?             “Grace!”             Grace tersentak dan langsung menoleh ke arah Azizah. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya dan menatap sekelilingnya. Kelas sudah kosong. Dosen juga sudah tidak berada didalam kelas. Kemana semua orang?             “Lo sakit, Grace? Kenapa diam aja dari tadi? Kalau lo sakit, kenapa lo maksain diri buat kuliah? Muka lo pucat banget. Gue panggilin Reynald, ya? Biar nganterin lo pulang.”             Grace menggeleng dan menggigit bibir bawahnya. Ada rasa sesak saat mendengar nama Reynald disebut oleh Azizah. Bayangan Reynald berpelukan di tangga tadi kembali menari didalam benaknya. Melihat mata Grace yang mulai berkaca, Azizah kontan mengerutkan keningnya dan menjadi cemas. Dia menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat.             “Grace? Hei... lo kenapa?” tanya Azizah khawatir. Kemudian, tubuh Azizah sedikit tersentak ke belakang saat mendadak, Grace memeluk tubuhnya dengan erat. Grace menangis hebat di pundak Azizah, membuat Azizah semakin ditekan rasa penasaran. Apa sahabatnya ini bertengkar dengan Reynald? Bahkan, seingatnya, kemarin itu Reynald masih sempat mengajak Grace jalan-jalan.             “Grace... lo kenapa?”             “Reynald... hiks... dia... hiks... jahat sama gue....”             Kening Azizah makin berkerut. Apa benar?             “Jahat kayak gimana, Grace? Gue nggak ngerti maksud lo... tolong jelasin sama gue.”             Dan mengalirlah semua cerita dari bibir Grace. Tentang Reynald yang tiba-tiba memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba. Tentang Reynald yang membuat pernyataan bahwa laki-laki itu sama sekali tidak mencintai dirinya dan hanya mau membalas dendam. Tentang cerita Ayahnya bahwa semalaman suntuk, setelah Reynald memutuskan hubungan mereka, Reynald terus berada didalam kamar Grace dan menjaga gadis itu saat dia diserang demam. Tentang kejadian tadi pagi, saat Grace melihat Reynald memeluk gadis lain di depan matanya. Azizah mendengarkan semua cerita sahabatnya itu tanpa interupsi. Dia ikut merasakan kesedihan Grace. Sungguh. Dan dia sama sekali tidak menyangka kalau Reynald bisa melakukan hal itu.             “Gue... hiks... bingung, Zah... dia... hiks... bilang kalau dia... hiks... cuma mau balas dendam sama gue... tapi, hiks... dia jaga gue... hiks... sepanjang malam... apa maksud dia... Zah?” tanya Grace terbata, disela tangis hebatnya. “Kalau dia bilang... hiks... dia cuma mau balas dendam sama gue... hiks... kenapa dia harus jagain gue sepanjang malam?”             Azizah hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa menemukan suaranya. Ini terlalu mendadak. Dalam hatinya mengatakan, Reynald tidak mungkin memanfaatkan sahabatnya karena ingin membalas dendam. Reynald tidak mungkin melakukan hal itu karena setahu Azizah, Reynald bahkan selalu datang saat Grace diganggu oleh Kian.             Tanpa keduanya sadari, dari balik pintu kelas Grace, Reynald tengah bersandar pada daun pintu yang terbuka sedikit. Dia tidak sengaja melewati kelas Grace dan mendengar semua ucapan gadis itu pada Azizah. Reynald harus bisa menahan diri untuk tidak masuk kedalam kelas dan berlari ke arah Grace untuk memeluk gadis itu. Mengatakan alasan sebenarnya mengapa dia harus memutuskan hubungan mereka ini. Dia masih membutuhkan waktu untuk mengatakan pada Grace bahwa mereka mempunyai Ibu yang sama.             Kedua tangan Reynald terkepal kuat disisi tubuhnya ketika suara isak tangis Grace terdengar jelas olehnya. Menyayat hatinya tanpa ampun. Menorehkan luka yang terasa perih bagaikan diberi perasan jeruk nipis di hatinya. Dia merasa napasnya mulai tidak beraturan. Di sebelahnya, Kenzo hanya menatap Reynald dengan tatapan kasihan. Dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia sangat sedih saat mendengar cerita mengenai fakta hubungan darah yang dimiliki oleh Reynald dan Grace, yang diceritakan oleh Reynald tadi pagi, saat Kenzo memberondongi sahabatnya itu dengan berbagai macam pertanyaan. Dia menyesali semua yang sedang terjadi pada sahabatnya dan kakak tingkatnya itu. Pastilah tidak mudah untuk membunuh sebuah perasaan cinta yang sudah terlanjur tumbuh didalam hati mereka masing-masing. ~~~ Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Clara memasuki kamar Reynald dan melihat laki-laki itu sedang mengemas pakaian-pakaiannya dan memasukkannya kedalam sebuah ransel yang cukup besar. Reynald hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada pekerjaannya.             “Mau kemana, Rey?” tanya Clara seraya mendekati Reynald dan duduk di tepi ranjang laki-laki itu. Clara sudah mengenakan seragam sekolahnya dengan lengkap dan tinggal menunggu supir Darian mengantarkannya ke sekolah. “Ini masih setengah enam kurang sepuluh dan lo udah siap-siap kayak gini. Mau kabur?”             “Berisik,” balas Reynald tanpa menatap Clara. “Bukan urusan lo!”             Clara menghela napas keras dan mencoba menahan emosi yang mulai terbit. Selalu seperti ini. Selalu membutuhkan kekuatan dan kesabaran ekstra kalau berhadapan dengan Reynald dan menarik perhatian laki-laki  itu.             “Rey... gue ini—“             “Calon tunangan gue?” potong Reynald malas. Kini dia menatap Clara tajam tepat di manik mata. “Baru calon, kan? Dan lagi, baru bertunangan. Suami-isteri aja bisa bercerai, apalagi hanya sekedar bertunangan, Ra. Gue bisa dengan mudah membatalkan pertunangan ini kapan saja gue mau!”             Clara mengikuti Reynald yang sedang berjalan menuju lemari pakaiannya dan berdiri tepat di samping laki-laki itu. “Tapi, Rey... gue berhak tau kemana lo akan pergi.”             Tawa Reynald pecah. Laki-laki itu kemudian membalikkan tubuhnya dan mengurung Clara diantara dirinya dan pintu lemari dengan rentangan kedua tangannya. Clara hanya bisa menahan napas dan menelan ludah susah payah ketika aroma maskulin tubuh Reynald bisa dihirupnya.             “Lo nggak ada hak buat ngatur kehidupan gue, Clara... ingat, gue ini bukan suami lo!” desis Reynald. Kemudian, tatapan Reynald beralih ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba saja terbuka lebar. Begitu juga dengan Clara. Reynald tersenyum dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Clara saat dia melihat kedatangan Arny. Reynald memang sengaja menyuruh Arny datang ke rumahnya karena mereka akan berangkat bersama-sama ke kampus.             “Masuk, Ar... ngapain lo berdiri kayak patung gitu di depan pintu?” tanya Reynald setelah mengambil dua helai pakaiannya dari dalam lemari dan memasukkannya kedalam ransel. Arny melirik Clara sekilas yang dibalas dengan tatapan sinis oleh gadis itu. Membuat Arny langsung merasa muak dan tidak suka pada Clara.             “Rey... lama banget, sih? Ayo, gue nggak mau dapat tempat duduk di belakang di bis nanti!” gerutu Arny seraya menyusupkan tangannya ke lengan Reynald. Hal itu membuat Reynald kaget sekaligus bingung. Ketika dia melirik Clara, gadis itu sedang menatap tajam ke arah Arny.             “Rey... dia siapa?” tanya Clara dengan suara dingin. Gadis itu menatap Arny dan dibalas Arny dengan tatapan manis seraya tersenyum kecil.             “Bukan urusan lo dia ini siapa,” balas Reynald. Laki-laki itu mengenakan ranselnya dan mulai berjalan meninggalkan kamarnya. Clara hanya bisa terdiam dan terus memberikan tatapan membunuh bagi Arny. Cemburu mulai menguasai dirinya. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.             “Liat aja Reynald Farhenza,” ucap Clara dengan nada rendah. “Lo belum tau berhadapan dengan siapa. Gue akan bikin lo bertekuk lutut sama gue dan saat itu tiba, lo nggak akan bisa lepas dari gue!” ~~~ Lima buah bis berderet rapih di parkiran kampus. Beberapa mahasiswa semester satu sudah ada yang naik kedalam bis dan mencari tempat duduk yang nyaman disana. Panitia mulai sibuk bekerja. Grace juga demikian. Dia membaca semua nama mahasiswa semester satu yang akan ditanganinya. Ada sekitar dua puluh mahasiswa yang akan menjadi tanggung jawabnya. Kemudian, tubuhnya membeku saat membaca satu nama didalam daftar nama yang dipegangnya.             Reynald Farhenza!             Grace membaca satu nama itu terus-menerus. Membuktikan diri bahwa tulisan itu memang ada disana. Bahwa dia tidak salah membaca. Dan akhirnya, gadis itu hanya bisa menarik napas panjang.             “Grace....”             Gadis itu menoleh saat namanya dipanggil dan berdecak kesal. Kian sudah berada di depannya dan tersenyum.             “Kenapa?” tanya Grace malas.             “Aku mau minta maaf soal kejadian tempo hari itu... soal aku yang mau mencium kamu dengan paksa. Juga soal aku yang mukulin Reynald malam itu. Maaf....”             Grace hanya bergumam tidak jelas dan mengacuhkan ucapan Kian. Kemudian, gadis itu merasa lengannya ditahan oleh Kian saat dia mencoba untuk mundur karena Kian mendekatkan wajahnya ke arah dirinya.             “Aku dengar... kamu udah putus sama Reynald, iya?” bisik Kian dengan nada puas. “Aku udah duga, dia itu cuma anak ingusan yang hanya akan mempermainkan kamu, Grace... bagaimana kalau kamu kembali lagi sama aku?”             Baru saja Grace akan menjawab pertanyaan Kian itu, tiba-tiba melalui ekor matanya, Grace melihat kedatangan Reynald. Laki-laki itu sedang tertawa bersama seorang gadis yang kemarin pagi Grace lihat berpelukan dengan Reynald. Tanpa bisa dicegah, rasa sakit dan cemburu itu hadir dalam hatinya. Membuat Grace rasanya ingin menangis detik itu juga. Kemudian, Grace mendapati Reynald menoleh dan menatap ke arahnya. Laki-laki itu melihat ke arah tangan Grace yang dicekal oleh Kian.             Reynald berusaha meredam emosinya dan menahan diri untuk tidak mendatangi Kian dan menjauhkan Grace dari laki-laki itu. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia sangat marah dan cemburu saat melihat Kian masih saja berusaha untuk memaksa Grace kembali padanya.             “Ya elah, Rey... jadi cowok kok cemen banget, sih?”             Reynald menoleh dengan cepat ke arah Arny dan menyipitkan kedua matanya. “Maksud lo apa ngomong begitu?”             Arny berdecak kesal dan menjitak kepala Reynald dengan senang hati. Reynald hanya bisa mengerutkan keningnya dan mengusap kepalanya yang terkena jitakan Arny itu.             “Lo masih sayang sama dia, kan? Kenapa nggak mempertahankan hubungan kalian?”             Reynald menghembuskan napas keras dan melirik Grace. Gadis itu sudah berhasil melepaskan diri dari cekalan Kian dan berjalan menuju bis, kemudian naik kedalam kendaraan besar itu. “Lo nggak ngerti, Ar... masalahnya nggak segampang yang lo pikirin.”             “Gue memang nggak tau ada masalah apa antara lo sama dia, tapi, menurut gue lo harus bersikap dewasa. Hadapi masalah itu.”             Reynald tertegun mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia menatap Arny yang sedang tersenyum ke arahnya. Gadis itu menepuk pundak Reynald beberapa kali, sebelum akhirnya meninggalkan Reynald dan berjalan menuju pintu bis.             Ketika Reynald sedang memikirkan ucapan Arny, laki-laki itu terkejut saat mendengar suara seruan dan segera menoleh. Reynald hampir saja tertawa keras saat melihat Arny jatuh dengan Kenzo berada di atas tubuh gadis itu.             “COWOK s***p! m***m! GILA! SABLENG! LO BENERAN CARI MASALAH SAMA GUE KAYAKNYA YA! TUNGGU KIRIMAN SANTET DARI GUE!!!” teriak Arny seraya mendorong tubuh Kenzo. Kenzo terjungkal ke belakang dan mengacungkan tinjunya ke arah Arny yang sudah melenggang masuk kedalam bis. ~~~ Dalam perjalanan menuju pantai Anyer, suasana didalam bis yang dinaiki oleh Grace dan Reynald terlihat sangat ramai. Semua mahasiswa bernyanyi sambil bermain gitar. Panitia yang berada didalam bis itu selain Grace adalah Ryu dari semester enam, Sheilla dari semester enam dan Putra, teman sekelas Grace dari semester tiga juga. Grace sengaja mengambil tempat duduk di depan bersama Sheilla sementara Ryu dan Putra mengambil tempat paling belakang.             Sesekali, Grace menoleh ke arah tempat duduk Reynald. Disana, Grace bisa melihat Reynald sedang terlibat obrolan seru dengan gadis itu. Reynald bahkan seolah terlihat santai, tanpa beban pikiran apapun. Hal itu membuat Grace merasa sakit hati. Jadi, disini hanya dirinya yang meratapi hubungan mereka yang sudah berakhir, sementara Reynald sendiri bahkan mungkin sudah melupakan semuanya.             “Rey...,” panggil Arny pelan. Gadis itu menarik lengan baju Reynald.             “Apaan?” tanya Reynald dengan kening berkerut ketika melihat tingkah Arny. Arny menunjuk Grace yang baru saja membuang mukanya, dengan menggunakan dagu.             “Cewek itu... mantan lo itu... dari tadi, dia ngeliatin kita terus. Kasihan gue liatnya. Dia kayaknya masih sayang banget sama lo, Rey....”             Reynald menghembuskan napas keras dan menatap ke arah Grace yang sedang menatap jalanan di depannya. Kemudian, tiba-tiba saja, sebuah gitar muncul tepat di depannya. Reynald menoleh dan melihat Kenzo sedang menyodorkan gitar ke arahnya sambil tersenyum lebar sementara Arny langsung mendengus saat melihat kedatangan Kenzo.             “Apaan nih?”             “Gitar,” jawab Kenzo polos. “Lo nggak mendadak b**o, kan, setelah putus sama Kak Grace?”                     “Ck! Gue juga tau itu gitar... maksud gue, ngapain lo kasih gitar ini ke gue?”             “Nyanyi, gih... anak-anak pada minta lo supaya nyanyi di depan bis.”             “Tapi....”             “Udahlah! Nyanyi sana, buruan!” desak Kenzo seraya menarik lengan Reynald hingga laki-laki itu berdiri. Kenzo nyengir kuda saat melihat tampang jutek milik Reynald dan menyerahkan gitar itu pada sahabatnya. Ketika Reynald berjalan ke depan bis, sorak-sorai tepuk tangan membahana didalam bis. Reynald yang sudah berada di depan bis hanya tersenyum tipis ke arah teman-temannya dan sempat melirik ke arah Grace yang kini tepat berada di depannya. Gadis itu sedang memalingkan wajahnya ke arah lain. Mata gadis itu terlihat berkaca dan itu sangat membunuh Reynald.             Tanpa buang waktu lagi, Reynald mulai memetik senar gitar yang dipegangnya. Dia sempat terkekeh saat melihat Kenzo mendorong tubuh Arny agar gadis itu menggeser duduknya ke samping. Don't try to make me stay Or ask if I'm okay I don't have the answer Don't make me stay the night Or ask if I'm alright I don't have the answer Heartache doesn't last forever I'll say I'm fine Midnight ain't no time for laughing When you say goodbye             Mendengar suara merdu Reynald dan lirik lagu yang dibawakan oleh laki-laki itu, otomatis, Grace menoleh dan bertemu pandang dengan Reynald. Laki-laki itu tengah menatapnya dengan intens. Grace bisa melihat tatapan Reynald begitu rapuh dan terluka, sama seperti dirinya. Di bibirnya, Reynald menyunggingkan seulas senyum tipis untuk Grace. Dan laki-laki itu terus bernyanyi. Nyanyian yang dipersembahkan untuk gadis yang dicintainya... sangat dicintainya, namun dia tahu bahwa hal itu tidak boleh. It makes your lips so kissable And your kiss unmissable Your fingertips so touchable And your eyes irresistible I've tried to ask myself Should I see someone else? I wish I knew the answer But I know, if I go now, if I leave Then I'm on my own tonight I'll never know the answer Midnight doesn't last forever Dark turns to light Heartache flips my world around I'm falling down, down, down, That's why               Reynald mati-matian menahan dirinya untuk tidak berlari dan berlutut di depan Grace, memohon maaf dari gadis itu. Ketika dia melihat Grace perlahan mulai menangis dan berusaha untuk menghapus airmata yang terus mengalir itu, Reynald rasanya ingin menghajar dirinya sendiri karena telah membuat gadis itu menangis seperti ini. Terluka seperti ini.             Suara riuh mahasiswa terdengar membahana didalam bis, terlebih dari para mahasiswi, ketika mereka mendengar alunan lagu romantis yang dinyanyikan oleh Reynald. Sementara itu, dibangku mereka masing-masing, Kenzo dan Arny bisa melihat bahwa Reynald tidak pernah melepaskan tatapannya dari Grace. It's in your lips and in your kiss It's in your touch and your fingertips And it's in all the things and other things That make you who you are and your eyes irresistible (One Direction-Irresistible) ~~~ Suasana pantai Anyer terlihat sepi malam ini. Jelas saja, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Saat ini sedang diadakan pelatihan kepemimpinan bagi para mahasiswa dari semester satu dan akan berlangsung selama tiga hari ke depan. Mereka sampai di pantai Anyer tadi siang dan pelatihan baru akan dimulai besok pagi. Panitia yang terlibat adalah para mahasiswa campuran dari semester tiga dan semester enam. Kian yang mengadakan rencana pelatihan kepemimpinan ini dengan alasan agar para mahasiswa semester satu itu bisa dibentuk kepribadiannya menjadi seorang mahasiswa yang berkualitas dan bermental bagus.             Grace mendesah berat dan berjalan disekitar pantai sambil sesekali menendang-nendang pasir putih yang dia lewati. Pikirannya melayang entah kemana. Bertemu dengan Reynald membawa sakit hati tersendiri baginya. Reynald kembali menjadi sosok dingin seperti dulu. Dan hal itu membuat Grace merasa sedih. Sedih karena sikap Reynald itu. Sebenarnya, kalau dia bisa menolak, dia akan menolak ketika dijadikan panitia oleh Kian. Namun, Azizah memaksanya untuk ikut karena gadis itu tidak ingin menjadi panitia tanpa Grace.             Tiba-tiba, mata Grace tertuju pada sebuah motor boat yang terparkir tak jauh di depannya. Iseng, Grace mendekati benda tersebut dan naik ke atasnya. Sudah lama dia tidak menaiki motor boat. Dulu, dia dan Ayahnya sering sekali bermain motor boat kalau mereka pergi ke pantai. Grace tersenyum senang saat benda itu mulai berjalan membelah lautan.             Grace tidak sadar bahwa dia sudah berada di tengah-tengah laut. Gadis itu mulai menggigil kedinginan karena hembusan angin malam yang begitu menusuk. Saat Grace memutuskan untuk kembali ke pantai dan kembali ke penginapan, gadis itu mengerutkan keningnya.             “Loh? Ini kenapa?” tanya Grace mulai diserang ketakutan saat motor boat itu tidak mau berjalan. “Arrrgh... kenapa malah nggak berfungsi gini, sih?”             Grace mulai gelisah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak berhasil menemukan bantuan. Yang ada disekitarnya hanyalah hamparan laut yang luas. Rasanya, Grace sudah sangat ingin menangis. Kemudian, dia mengambil ponselnya yang berada di saku celana jeans-nya dan berniat menghubungi Azizah.             “Kenapa sih, lo selalu bikin gue khawatir?”             Satu suara bernada berat dan lelah itu membuat Grace menoleh ke belakang dan terkejut. Reynald tepat berada di belakangnya dan duduk di atas motor boat yang lain. Ada sorot kekhawatiran dan kecemasan yang terpancar jelas di kedua matanya yang bewarna cokelat terang itu. Tadi, Reynald memang sempat keluar dari penginapan untuk sedikit mencari udara segar saat tiba-tiba dia melihat Grace sedang berjalan sendirian disekitar pantai. Kemudian, Reynald segera mengikuti gadis itu yang mulai naik ke atas motor boat karena perasaannya mendadak tidak enak. Grace merasa matanya mulai memanas dan mulai berkaca-kaca. Rasa takut itu tiba-tiba saja berubah menjadi rasa aman yang tidak terkendali.             “Rey...,” lirih gadis itu.             “Grace... tolong... jangan sakitin diri lo sendiri kayak begini. Kita itu nggak bisa bareng-bareng. Elo dan gue itu ditakdirin untuk jadi musuh, bukan sahabat apalagi pacar!”             Grace hanya terdiam. Gadis itu menundukkan kepalanya dan menghapus airmata yang mulai jatuh membasahi pipinya.             “Lo bisa berdiri, kan? Berdiri pelan-pelan dan pindah ke motor boat gue.” Reynald mendekatkan motor boatnya ke arah Grace. Setelah menarik napas panjang dan membuangnya, Grace mengangkat kepalanya dan mulai berdiri. Namun, ketika gadis itu akan pindah ke motor boat Reynald, tiba-tiba, gadis itu merasa keseimbangan tubuhnya mulai goyah. Gadis itu mulai was-was dan semua terjadi dalam hitungan detik.             Grace limbung ke samping dan jatuh kedalam laut. Sebenarnya dia bisa saja berenang ke permukaan namun dia merasa kakinya sulit untuk digerakkan. Grace mengalami kram kaki! Gadis itu berusaha naik ke permukaan namun tetap tidak bisa. Kemudian, ketika matanya mulai terpejam, Grace bisa merasakan tubuhnya diraih dan ditarik seseorang untuk naik ke permukaan laut.             “Grace!” seru Reynald saat mereka sudah muncul ke permukaan. Laki-laki itu memeluk tubuh Grace yang terasa dingin dan mulai membawa gadis itu ke arah motor boatnya.             “Grace... Grace!” seru Reynald lagi seraya menepuk pipi gadis itu pelan. Grace masih memejamkan kedua matanya. Gadis itu sudah kesulitan bernapas sekarang. Reynald kalut. Dia belum menaikan tubuh Grace ke atas motor boat. Mereka berdua masih terombang-ambing di atas lautan.             Kemudian, dengan satu gerakan cepat, Reynald membawa wajah Grace ke wajahnya dan mendekatkan mulutnya ke mulut Grace untuk memberikan napas buatan bagi gadis itu. Reynald terus memberikan napas buatan kepada Grace sampai gadis itu kemudian membuka kedua matanya perlahan. Ketika melihat Grace sudah sadar, Reynald menjauhkan wajahnya dari wajah Grace dan mendesah lega.             “Lo nggak apa-apa?” tanya Reynald cemas. “Ada yang sakit?”             Grace hanya menatap Reynald dalam diam. Gadis itu kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak Reynald dan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Reynald hanya bisa membeku di tempatnya dan menahan gemuruh hebat didalam dadanya.             “Gue kangen...,” bisik Grace lirih dan dengan nada suara yang lelah. “Setidaknya, biarin gue berada di pelukan lo saat ini. Setelah itu, kita akan kembali seperti semula. Berpura-pura tidak pernah saling mengenal satu sama lain.”             Reynald memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdebar keras. Kemudian, dia menyerah pada keadaan. Dia ingin bersikap egois sekali saja. Dan akhirnya, Reynald membalas pelukan Grace dan memeluknya dengan sangat erat. ~~~ Keesokan harinya, Grace bangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Gadis itu juga merasa tubuhnya lemas dan suhu tubuhnya meninggi. Sepertinya, dia terserang demam. Ketika Grace bercermin, gadis itu juga bisa melihat wajahnya yang pucat dan menyedihkan. Hari ini... mulai hari ini... Grace akan menepati janjinya pada Reynald semalam bahwa mereka akan kembali bersikap tidak saling mengenal satu sama lain. Semalam pun, Grace memaksakan diri untuk kembali ke penginapan sendirian, meskipun tubuhnya menggigil hebat. Reynald sudah berniat untuk mengantar Grace, namun gadis itu menolaknya dan malah membentak Reynald.             Ketika dia keluar dari penginapan, Grace bisa melihat para mahasiswa semester satu itu sudah berbaris rapih di dekat pantai. Para panitia termasuk Azizah sudah berdiri di depan barisan kelompok mereka masing-masing. Di kelompoknya sendiri pun, Grace mendapati Sheilla, Ryu dan Putra sudah berdiri sambil memberikan beberapa intruksi bagi para mahasiswa.             “Maaf... gue terlambat.”             Sheilla, Ryu dan Putra menoleh dan tertegun ketika melihat Grace. Pasalnya, gadis itu terlihat sangat pucat. Tubuhnya pun seolah tanpa tenaga. Di tempatnya berdiri, Reynald menatap Grace dengan tatapan cemas. Sepertinya, gadis itu sedang sakit karena insiden di laut semalam.             “Grace... lo nggak apa-apa?” tanya Putra khawatir. “Kayaknya lo lagi nggak enak badan, deh... lo istirahat aja di kamar.”             Grace menggeleng dan berusaha untuk tersenyum. “Gue nggak pa-pa, Put... gue cuma....”             Belum selesai Grace berbicara, gadis itu merasa dunia seolah berputar. Matanya benar-benar terasa berat. Tubuhnya seolah meringan. Dan pandangannya mendadak berubah gelap.             Reynald langsung berlari dan menangkap tubuh Grace yang jatuh tidak sadarkan diri itu, ketika hal itu masih berupa gelagat. Tubuh Grace yang kini berada dalam pelukannya terasa sangat panas. Reynald bahkan sampai terperanjat saat mendapati suhu tubuh Grace yang begitu tinggi. Dengan satu gerakan cepat, Reynald mengangkat tubuh Grace kedalam gendongannya dan menatap Putra, Ryu serta Sheilla.             “Kak... boleh gue bawa Kak Grace ke penginapan? Sepertinya Kak Grace demam.”             Putra, Ryu dan Sheilla mengangguk. Sementara itu, dari kejauhan, Kian menatap Reynald dengan tatapan membunuh. Ketika Reynald berjalan menuju penginapan dan sudah berada didalam kamar Grace, laki-laki itu merebahkan tubuh Grace dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Diselimutinya tubuh Grace dengan pelan. Reynald menghela napas panjang dan berniat pergi, ketika tiba-tiba, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Grace.             “Reynald... jangan pergi... jangan... jangan tinggalin gue, Rey... gue sayang sama lo....”             Reynald memutar tubuhnya dan melihat Grace masih belum sadarkan diri. Sepertinya, gadis itu sedang mengigau. Kemudian, ketika melihat airmata Grace yang perlahan turun, Reynald langsung meninju dinding kamar tersebut dan menatap wajah Grace dengan tatapan terluka dan tatapan nanar.             “Please, Grace... jangan siksa diri lo lebih jauh lagi... gue nggak bisa liat lo kayak begini terus-menerus...,” lirih Reynald seraya memejamkan kedua matanya uat-kuat. Just don't give up... I'm workin' it out... Please don't give in... I won't let you down... It messed me up, need a second to breathe... Just keep coming around... Hey, whataya want from me? (Adam Lambert-What Do You Want From Me?) ~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD