Alina menyetel lagu klasik bayi di TV besar di ruang tengah, Lovely nampak nyaman dengan musik klasik dengan gambar animasi yang Alina nyalakan sore itu.
Stefan terlihat menuruni tangga menuju ke bawah, wajah laki-laki itu sudah tidak terlalu pucat lagi, kemudian Stefan menghampiri bayi Lovely yang ada di dalam box bayi.
"Hai anak Papa yang cantik...lagi denger apa? Senang betul keliatannya..." Ucap Stefan sambil mengelus pipi bayi mungil itu.
"Kak Stefan sudah baikkan?" Tanya Alina yang masih duduk di samping box Lovely.
"Iya...di mana Mbak Inah?" Stefan balik bertanya.
"Mungkin di dapur Kak..."
"Oke..." Sahut Stefan, lalu dia segera berjalan menuju ke dapur.
"Mbak Inah...sore ini kau masak agak banyakan ya...nanti malam aku kedatangan tamu..." Kata Stefan sambil mengambil segelas air putih dari dispenser.
"Baik Pak..." Jawab Inah. Alina mendengar dari ruang tengah yang memang jaraknya dekat dengan dapur.
"Alina, kau bantu Mbak Inah masak...biar Love main bersamaku..." Kata Stefan sambil menatap ke arah Alina.
"Iya Kak..." Alina bangun dari duduknya dan bergegas ke dapur. Sementara Stefan langsung mengambil tempat di samping bayi Lovely.
Di dapur, Inah sudah menyiapkan bahan masakan, menu malam nanti adalah ayam goreng, sayur capcay dan telur balado, semua bahan telah siap, hanya tinggal mengolah dan memasaknya saja.
"Mbak Inah yang masak, aku bantu potong-potong dan siangin sayuran ya Mbak..." Kata Alina.
"Iya Lin...biar lebih cepat juga selesainya...." Sahut Inah.
Alina mulai mengambil sayuran dan membersihkan serta memotongnya, sesekali matanya melirik ke ruang tengah, Stefan nampak sedang mengangkat Love ke gendongannya, dan berbicara pada bayi mungil itu, Alina tersenyum melihat pemandangan itu, ada yang berdesir di dalam sudut hatinya.
'Ah...Papa muda yang tampan...walau hanya memandangnya dari sini, tapi hatiku begitu senang...' Gumam Alina dalam hati.
"Alina...wortelnya sudah di potong belum? Aku mau masukin ke penggorengan nih...!" Tanya Inah.
"Eh...iya Mbak...ini sudah..." Alina menyerahkan potongan wortel ke Inah.
"Kamu ngelamunin apa sih Lin...?" Tanya Inah lagi.
"Tidak kok Mbak..."
Setelah sayuran sudah selesai di siangi, Alina mulai memotong bawang dan aneka bumbu, sementara ayam yang untuk di goreng sedang di ungkep. Mata Alina kembali mengarah kepada Stefan yang kini sedang tiduran di karpet, sementara bayi Lovely ada di atasnya, anak dan Papa itu nampak begitu manis dalam posisi tersebut, ingin sekali Alina mengabadikan momen itu.
"Aaawww!!" Jerit Alina tiba-tiba, jarinya terpotong pisau. Inah dan Stefan terkejut dan spontan mereka mendekati Alina.
"Ada apa Alina?" Tanya inah panik.
"Jariku terpotong Mbak!" Seru alina sambil meringis.
"Aduh itu darahnya lumayan...kamu sih kerja sambil melamun..." Ujar Inah sambil beranjak mengambil kapas di kotak obat. Setelah Inah mengambil kapas dan obat, dia kembali kedapur.
"Mbak Inah, kau lanjutkan pekerjaanmu...biar aku yang mengurus Alina..." Ujar Stefan yang langsung meletakan Bayi Lovely di box bayi kemudian mengambil kapas dan obat dari tangan Inah, Alina mengikutinya dari belakang.
"Duduk..." Kata Stefan, Alina duduk di sofa menuruti Stefan.
"Lain kali jangan ceroboh lagi..." Tambah Stefan. Ia mengobati luka bekas goresan pisau dengan obat, kemudian membalutnya dengan kapas dan perban. Selama Stefan mengobati Alina sambil berjongkok Di depannya, tak henti-hentinya Alina memandangi wajah pria itu, perasaannya mulai tak karuan.
"Kalau jarimu sakit, bagaimana bisa kau menjaga bayiku dengan baik?"
'Huh...ternyata kau hanya mengkhawatirkan bayimu...aku pikir kau mulai memperhatikan aku...sadar Alina...mengapa pikiranmu begitu bodoh?' Alina memukul kepalanya sendiri.
"Kau kenapa?" Tanya Stefan.
"Eh...tidak apa-apa kak..." Sahut Alina salah tingkah.
"Sekarang kau jangan di dapur lagi, jaga Love dengan baik...aku mau ke atas mau mandi..." Stefan berdiri dan meninggalkan Alina yang masih termangu.
************
Waktu sudah menunjukkan jam setengah enam sore, Alina masih berada di kamar Lovely, menggantikan bayi itu popok dan memberinya s**u. Tiba-tiba Stefan masuk ke kamar itu tanpa mengetuk pintu.
"Alina...jam tujuh temanku akan datang, kau buat Lovely secantik mungkin..." Kata Stefan.
"Baik Kak...." Jawab Alina.
"Oya, kau siapkan s**u Lovely...malam ini kau di kamar saja tidak usah mengurus Lovely, aku yang akan mengurusnya...kau juga bawa makananmu di kamar saja, Biar Inah yang menyiapkan buat makan malam nanti...kau paham?" Tanya Stefan lagi. Alina termangu mendengarnya.
"Kenapa kak Stefan menyuruhku di kamar??"
"Aku tak ingin temanku melihatmu...nanti dia akan berpikir yang tidak-tidak..." Jawab Stefan.
"Oh...jadi kakak malu?"
"Bukan begitu...."
"Kak Stefan...tidak apa-apa, aku tau bagianku...baiklah, aku akan membereskan Lovely dan menyiapkan susunya, setelah itu aku akan ke kamar..." Alina langsung dengan sigap mengganti pakaian Lovely kemudian menyiapkan botol susunya dan s**u yang ditaruh di gelas takar.
"Alina...aku mohon kau jangan tersinggung...aku hanya...."
"Sudahlah Kak Stefan...aku tau maksudmu....kau tenanglah, temanmu di jamin tidak akan tau keberadaanku, aku tidak akan keluar kamar sampai besok pagi...nanti aku juga akan bilang sama Mbak Inah...dia tidak akan mencariku..."
"Alina...bukan begitu maksudku....kau tau siapa yang datang nanti? Dia adalah Roni, teman sekelasku dulu...kau pasti juga mengenalnya...aku hanya tidak mau dia berpikir yang aneh-aneh kalau tau kau di sini mengasuh bayiku...aku harap kau paham maksudku..." Jelas Stefan.
"Kak Stefan...Lovely sudah siap, kalau dia menangis bukan berarti dia lapar...kau hanya perlu menggendongnya dan menimangnya maka dia akan tenang...permisi, aku mau turun ke kamar dulu..." Alina langsung membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi.
"Alina...!" Panggil Stefan, namun kali ini Alina tidak menoleh dan tetap meneruskan langkahnya keluar kamar dan menuruni tangga.
Sesampainya di kamarnya, Alina langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, gadis itu langsung menangis setelah dia mampu menahannya tadi, dia menangis menumpahkan seluruh perasaannya, wajahnya dia benamkan di bantalnya, hingga bantal itu basah oleh air mata.
'Kenapa....kenapa aku harus menangis? Menangis untuk apa? untuk kebodohanku yang mulai percaya diri.....bahkan kak Stefan terlalu malu untuk mengakui keberadaanku....sampai kapanpun aku tidak pernah sebanding dengan Karin....walau seujung kukunya aku sungguh tidak ada apa-apanya....yang bisa aku lakukan hanyalah mengasuh dan merawat Lovely...ya...hanya itu bukti aku mencintai kak Stefan...karena aku tidak akan pernah bisa merebut hatinya....' Tangis Alina. Dia menyeka kasar air matanya, kemudian menutup wajahnya dengan bantal dan menarik selimutnya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu mengagetkan Alina, perlahan dia bangkit, mengusap air matanya dan segera membukakan pintu kamarnya.
"Mbak Inah?" Inah sudah berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah nampan besar.
"Kata Pak Stefan, malam ini Alina istirahat di kamar....ini makan malam buat Alina...." Inah menyerahkan nampan itu kepada Alina, Alina segera meraih nampan itu.
"Terimakasih Mbak Inah...." Ucap Alina.
"Iya Alina...sama-sama...kalau ada perlu apa-apa, telepon saja ya...kata bapak, Alina istirahat sampai besok pagi..."
"Iya Mbak...mungkin hari ini aku akan tidur lebih cepat...."
"Lalu Lovely bagaimana?"
"Khusus malam ini Love akan tidur sama Papanya...."
"Oooh...." Inah membulatkan mulutnya, kemudian dia segera beranjak meninggalkan kamar Alina.