Alina tertidur entah dari kapan, ia terbangun saat jam menunjukkan pukul 10 malam, tidak ada suara-suara apapun di ruang tamu, sepertinya tamu yang datang sudah pulang. Alina mencoba kembali memejamkan matanya, namun rasanya begitu sulit, ia melirik ke meja, makanan yang diantar Inah masih ada, Alina tidak bernafsu untuk memakannya, entah mengapa.
Tok....Tok....Tok....
Suara pintu kamarnya di ketruk dari luar, bergegas Alina berjalan menuju pintu kamarnya, kemudian membukanya.
Stefan sudah berdiri di depan pintu sambil menggendong Lovely. Wajahnya nampak kusut.
"Kak Stefan? Ada apa kak?" Tanya Alina.
"Alina...sekali lagi aku minta maaf...tidak seharusnya aku menyinggung perasaanmu..." Jawab Stefan.
"Oh...aku sudah melupakannya Kak...tidak masalah...."
"Alina...Love selalu gelisah...dari tadi aku berusaha menidurkannya, namun tidak berhasil...aku sudah memberinya s**u juga dia masih rewel...bahkan berkali-kali aku menengok popoknya...aku minta tolong...coba lihat Lovely..." Kata Stefan dengan mimik cemas, kemudian dia menyerahkan Lovely kepada Alina, dengan sigap Alina menggendong dan menimang bayi mungil itu.
"Kak Stefan, ini pakaian Love perlu di ganti...dia kurang nyaman dengan pakaian ini, bukankah ini pakaian yang tadi sore di pakai? Dia gerah kakak..." Ujar Alina.
"Oh...baiklah, ayo kita ke atas ke kamar Lovely..." Stefan berjalan mendahului Alina menaiki tangga, Alina mengikutinya dari belakang.
Setelah mereka sampai di kamar Lovey, Alina dengan cekatan membaringkan bayi itu di ranjangnya, kemudian dia membuka pakaian Love dan menyeka sedikit tubuh Love dengan air hangat, kemudian ia membalurkan tubuh Love dengan minyak telon dan bedak tipis, sehingga tubuh Love terlihat lebih segar, lalu mengganti bajunya dengan baju tidur berbahan lembut. Stefan memperhatikannya dengan seksama. Baru Love selesai mengganti bajunya, bayi itu sudah nampak tertidur.
"Nah...sudah selesai kak...Love sudah nyaman sekarang...bahkan dia sudah tertidur..." Gumam Alina.
"Kamu hebat Alina...belajarmu ternyata cepat..."
"Itu karena aku melakukannya dengan hati...."
"Alina...trimakasih ya...entah bagaimana kalau tidak ada dirimu..." Ucap Stefan. Dia duduk di tepi ranjang Lovely, mengecup lembut kening bayi itu.
"Maafin papa ya sayang...kurang bisa merawatmu...untung ada tante Alina..." Bisik Stefan terhadap bayinya. Alina menatapnya dengan mata yang menghangat, seolah lupa akan sakit hatinya tadi saat dia disuruh tinggal di kamar.
"Kak...Love kan sudah tidur...aku kembali ke kamar ya..."
"Tunggu Alina...kau disini saja temani Lovely...aku juga di sini..." Cegah Stefan sambil memegang tangan Alina yang sudah beranjak berdiri.
Deg...
Jantung Alina seolah berhenti, Stefan menyuruhnya untuk tinggal di kamar ini bersama dengannya dan bayinya, ini seperti hal yang mustahil.
'Ah...tangannya begitu hangat memegang tanganku....Tuhan, kuatkan aku....jantungku terasa mau lepas dari tempatnya' Batin Alina.
"Tapi Kak...."
"Alin....temani aku ngobrol...kau bisa kan jadi teman curhatku?" Tanya Stefan sambil menatap sendu wajah Alina, Alina menundukkan wajahnya.
"Bisa kak..." Alina kembali duduk di sisi ranjang Lovely.
"Alina...setiap malam aku selalu teringat Karin...entah bagaimana cara melupakannya...aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa....namun aku tidak mampu...bayangan Karin seolah menguasai semua pikiranku..." Ungkap Stefan, wajahnya nampak frustasi.
"Kak...itu karena...Kak Stefan terlalu dalam mencintai Karin..." Ucap Alina. Hatinya sedih mendengar perkataannya sendiri.
"Aku memang sangat mencintai Karin....tidak ada yang bisa menggantikan posisinya dalam hidupku....Oh Karin...kenapa dia pergi begitu cepat..." Stefan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Alina menggigit bibirnya, menahan setiap gejolak rasa yang menghimpit dadanya.
'Oh Tuhan...masa aku harus cemburu dengan orang yang sudah meninggal...' Bisik Alina dalam hati.
"Kak Stefan...Kakak harus kuat dan sabar demi Lovely..." Kata Alina, Stefan mengangkat wajahnya, raut kesedihan masih terpancar di wajah tampannya itu.
"Alina...beritau aku...bagaimana aku bisa melupakan Karin...?" Tanya Stefan seolah minta jawaban.
"Hmm...Kak Stefan harus mencari pengganti Karin..."
"Pengganti? Apakah aku harus mencari calon istri lagi begitu?"
"I...iya Kak...siapa tau, dengan begitu kak Stefan bisa melupakan Karin yang sudah tiada..." Ucap Alina. Entah dari mana ide gila itu muncul di otak Alina.
"Kalau begitu, tolong carikan aku calon istri..."
"Hah?!" Alina membulatkan matanya.
"Iya Alina...aku percaya padamu...tolong carikan aku calon istri yang cocok untukku...kalau bisa yang agak mirip seperti Karin...kau bisa membantuku kan?" Tanya Stefan.
Alina terdiam, lidahnya terasa kelu, entah mengapa dadanya begitu sesak.
"Bagaimana Alina? Kau bersedia bukan? Di kantor memang banyak yang menyukaiku...tapi mereka semua tidak ada yang mirip Karin, mereka semua tidak masuk kriteriaku....aku hanya mau seseorang yang mirip Karin..." Ujar Stefan. Entah darimana datangnya tiba-tiba butiran hangat mengalir di pipi Alina.
"I..iya kak...aku akan berusaha mencarikannya untukmu..." Ucap Alina lirih.
"Hei...mengapa kau menangis...apa kata-kataku ada yang salah lagi?" Stefan terkesiap melihat air mata Alina, kemudian dia menghapus air mata Alina dengan tangannya.
"Tidak kak....aku hanya teringat Bude ku di semarang, sudah lama aku tidak bertemu dengannya..." Kilah Alina.
'Hatiku sakit Kak....kau memintaku mencarikan calon istri pengganti Karin...tidakkah kau tau saat ini di hadapanmu, aku begitu mencintaimu....aku mencintaimu Kak Stefan....' Batin Alina, Dia menggigit bibirnya berusaha agar air matanya tidak kembali jatuh di pipinya.
"Oh...kalau kau mau, kau boleh pulang ke Semarang...temuilah budemu...aku mengijinkanmu...." Kata Stefan.
"Baik kak..."
"Soal Lovely kau jangan khawatir...kan ada Mbak Inah...."
"Iya Kak..."
"Jadi kapan kau akan ke Semarang?" Tanya Stefan. Alina gugup, karena dia tidak benar-benar mau ke Semarang, itu hanya alasan Alina saja.
"Eh...nanti aku akan meneleponnya dulu..." Jawab Alina.
"Baiklah, apa kau sudah mengantuk? Kau boleh kembali ke kamarmu, kelihatannya Love begitu nyenyak tertidur..."
"Iya Kak...aku turun ya...trimakasih..." Alina berdiri dan segera keluar dari kamar Lovely, dengan gontai melangkah turun dan kembali masuk ke kamarnya.
***********
Kring...kriing...kriing...
Suara jam beker mengagetkan Alina, waktu sudah menunjukkan jam enam pagi. Alina bangun dari tidurnya dan bergegas mambasuh wajahnya, lalu dia menyambar handuknya dan segera masuk ke kamar mandi. Tidak sampai lima belas menit Alina sudah rapi berpakaian, kemudian di keluar kamar, Inah kelihatan masih memasak di dapur, Alina langsung menaiki tangga dan membuka pintu kamar Lovely.
Betapa terkejutnya dia melihat Stefan masih tertidur di samping Lovely, rupanya dari semalam Stefan belum ke kamarnya, Bayi Lovely nampak sudah terbangun, namun dia tidak menangis.
"Love pintar sekali sudah bangun tidak mengganggu papa ya....kasihan papa ya Love, capek, banyak pikiran pula..." Alina mengangkat Love sambil berbicara pada bayi itu, sambil menggendong dan hendak memandikannya, Alina mendekati Stefan, di guncangnya lembut punggung laki-laki itu.
"Kak Stefan...bangun kak, sudah siang...kak...!" Stefan terkejut dan langsung duduk dari bangunnya.
"Alina? Sudah pagi ya? aku ketiduran...maaf..." Stefan mengucek kedua matanya dengan tangannya.
"Kak Stefan bukannya harus berangkat ke kantor ya...cepat masuk ke kamarmu dan mandilah dulu...aku juga akan memandikan Love..." Ujar Alina. Stefan langsung pergi menuju ke kamarnya.
Alina mulai menyiapkan air hangat untuk mandi Lovely, dengan gerakan cepat gadis itu sudah membuat Lovely cantik dan wangi pagi itu, kemudian dia bergegas keluar kamar.
Brakk!
Alina bertabrakan dengan Stefan, mereka sama-sama buru-buru. Lovely yang kaget langsung menangis.
"Maaf kak..." Ucap Alina sambil menenangkan Lovely.
"Tidak apa-apa...aku yang salah...silahkan turun duluan..." Kata Stefan. Alina bergegas menuruni tangga lalu menuju ke dapur untuk mengambil botol s**u milik Lovely.