“Apaaa?! aku berhenti kerja? kayanya engga bisa deh Mas, aku sangat mencintai pekerjaanku. Lagi pula, saat kamu mau menikah denganku, kita sudah sepakat, kalau kamu jangan memintaku, untuk resign!” sergah Ana. Nafas berat pun di buang ke udara seraya membanting tubuhnya ke atas kasur.
"Eh, Gila kamu Ana, kamu itu lagi hamil, main banting badan aja ke kasur, kalo ada apa-apa sama anak kita, kamu ga akan aku maafkan!!" hardik Riko kepada Ana, dengan mata yang memerah.
"Kalau anak ini menghambat karirku, aku rela nggak hamil Mas!!" pekik Ana, kehilangan akal sehatnya.
Dengan cepat Riko menghampiri wanita itu.
PRAAAK!!
Tamparan pertama, di usia pernikahan yang baru seumur jagung telah mendarat di pipi Ana.
Wanita itu menutupi wajahnya di balik bantal bulat, dan terisak.
"Ingat ya, mulai besok kamu tidak boleh keluar dari rumah!!" ancam Riko, dengan nafas yang memburu.
Kisah pernikahan Ana selalu di sembunyikan dari orang tua mereka, sehingga wanita itu hanya dapat menelan pahitnya kehidupan rumah tangga mereka, jika Riko sudah menyakiti fisik Ana.
Hari yang dilalui Ana kini hanya berkutat di dalam rumah, menjaga cabang bayi yang masih dalam kandungan, mengurus rumah, menyiapkan makanan untuk Riko, dan menyiapkan baju untuk dikenakan saat kerja.
Ana merasakan semua ini bukanlah kehidupan yang dia inginkan, karena sejak lulus kuliah, dia tidak pernah duduk diam di rumah, karena itu bukanlah jiwanya.
Ingin rasanya Ana memberontak, dan lari dari pernikahannya dengan Riko, tapi apalah daya. Kini Ana hanya bisa menerima dan menjalani, karena itu sudah menjadi keputusan yang dipilih untuk menikahi Riko.
Kehamilan Ana, sudah masuk bulan ke 9. Detik-detik untuk melahirkan sudah di depan mata, Riko sangat mencintai anak yang di dalam kandungan wanita itu.
Tiba saatnya, Ana melahirkan anak pertama mereka, suasana tegang menyelimuti kedua belah pihak keluarga. Karena ini cucu pertama bagi keluarga Ana dan Riko.
Ana sebagai anak tunggal dari keluarga Subroto Roeslan, sedangkan Riko anak pertama dari keluarga Bagas Satria.
Ana dibesarkan oleh orang tua tunggal, Ayahnya sudah meninggal saat dia masih duduk di bangku SMP, sedangkan Riko masih memiliki keluarga yang lengkap.
Saat Ana menghadapi sebuah taruhan antara hidup dan mati untuk mengeluarkan cabang bayi mereka, Riko selalu setia menemani.
"Sabar ya sayang, tarik nafas pelan-pelan,” bisik Riko menguatkan sang istri.
Ana merasakan kehangatan yang tulus dari suaminya, saat dia akan meregangkan seluruh urat di tiap sel-sel tubuhnya.
"Tarik nafas Bu, dikit lagi keluar," ujar dokter yang mendampingi, turut serta memberikan arahan kepada Ana.
Dalam hitungan detik, bayi mungil pun keluar dari mulut rahim Ana.
"Oeee...ooeeee....!!" Tangisan pertama bayi mereka, terdengar menentramkan jiwa, suami-istri tersebut.
Riko sangat terharu, dan mengecup kening Ana yang penuh dengan peluh, "Makasih ya sayang, kamu sudah berhasil, memberikan aku malaikat kecil,” bisik Riko merdu di kuping Ana.
Wanita itu sangat terharu mendengar ucapan suaminya, terlihat butiran air mata siap meluncur dari ekor mata Riko, dengan cepat pria itu mengusapnya.
Setelah kelahiran sang cabang bayi yang diberikan nama Dio Satria, mulailah percikan-percikan api yang selama ini menyayat hati Ana, diperhitungkan oleh wanita itu.
Riko memang menyayangi dan mencintai Ana, tetapi rasa yang di sampaikan kepada wanita itu tidak sesuai dengan keinginan Ana.
Ana menginginkan sosok suami yang halus, pengertian, penyayang, tetapi bukan itu yang dia dapatkan dari Riko.
Karakter Riko yang temperamen, perfeksionis, dan disiplin membuat Ana gerah menjalani kehidupan rumah tangga dengan pria ini.
Sifat Ana yang manja, suka mengulur waktu, dan tidak cekatan jika melakukan suatu pekerjaan, membuat Riko selalu memakinya dengan ucapan yang menyakitkan hati Ana.
****
Dio, buah hati mereka kini berumur satu minggu. Kebahagiaan singkat yang dirasakan oleh Ana saat dia melahirkan anak pertamanya, telah sirna. Karena cacian dan makian masih terus dilayangkan oleh Riko.
Entah sampai kapan suaminya mau mengerti keinginan dalam hati wanita itu, tamparan kedua sudah melayang lagi, dan mendarat dengan mulus di pipi putihnya Ana, sehingga meninggalkan bekas merah yang perih.
Ana menatap wajah Dio dalam tidur lelapnya, seolah ingin sekali rasanya lari dari pernikahan ini, dan membawa bayinya keluar dari rumah Riko.
Setelah Ana menyusui Dio, dan memastikan bahwa sang buah hati sudah tertidur pulas, wanita itu pun menghampiri Riko, dan duduk di samping pria yang memiliki tatapan tajam itu.
Teras rumah dengan pemandangan langsung ke arah pekarangan yang dihiasi tanaman hijau, membuat suasana kalut seketika menjadi damai.
Ana menghela nafas panjang, sebelum mengutarakan isi hati, kalau dia menginginkan perceraian dari Riko,
"Mas, aku mau bicara," ujarnya menggantung, sambil mengelus pipi yang memerah.
"Bicara apa?" tanya Riko datar, sambil mengepulkan sebatang rokok yang terselip di jemarinya, ke udara.
"Aku, aku minta cerai," jawab Ana terbata-bata seraya menundukkan kepalanya pelan.
Mata Riko membulat, terlihat manik matanya yang membesar. "Apaa?!" ujar Riko dengan nada tinggi. "Ga salah kamu minta cerai? kamu pikir segampang itu kamu minta cerai dari aku?!" lanjutnya dengan sorot mata menyalang.
"Aku udah cape Mas... Aku udah cape hidup tertekan seperti ini,” isak Ana, sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Kamu itu udah besar An, harusnya kamu bisa belajar lebih dewasa, bukan anak remaja lagi yang gampang minta putus sama pacar,” ujar Riko, alih-alih menghentikan Ana untuk meneruskan pembicaraan ini.
Terlihat Riko mulai mengatur irama nafasnya yang berpacu, karena ucapan wanita itu, "Dengar ya sayang, aku itu sangat mencintaimu, aku sayang sama kamu, apalagi sekarang kamu sudah memberikan aku anak," lanjut Riko seraya berjongkok di hadapan Ana dan menyejajarkan tubuhnya.
Jemari Ana pun di genggam erat, dan mengecup halus pundak tangan wanita itu, "Please Ana, jangan ngomong seperti itu lagi ya. Maaf kan aku, tadi sudah kasar, hm," pinta Riko sambil mengusap pipi Ana yang memerah bekas tamparannya tadi, dengan lembut.
"Sakit yaa? Maafin ya sayang. Tadi di kantor banyak masalah, jadi sampai rumah denger Dio nangis, emosi aku makin memuncak," bisik Riko menangkup wajah Ana, wanita itu pun terisak dan mendekap tubuh kekar itu.
Kali ini Ana luluh, setelah mendengar kata maaf dari Riko, ini adalah pernyataan maaf pertama kalinya yang keluar dari mulut Riko, setelah berkali-kali sifat temperamennya menghujani wanita itu.
"Iya Mas, aku harap kamu bisa mengerti aku," isak Ana, dalam dekapan. Berharap Riko benar-benar berubah dan lebih mengerti perasaannya.
Pagi yang cerah, cahaya mentari mengintip dari balik tirai kamar. Dio buah hati mereka sudah bangun dari tidur lelapnya tepat di samping Ana.
Riko yang merasakan buah hatinya sudah terbangun, dengan mata memicing, pria itu perlahan mengangkat tubuh Dio yang kecil.
Ingin sekali pria itu menghardik Ana kembali, tetapi mengingat ucapan wanita itu tadi malam, Riko pun mengurungkan niatnya.
"Dio sayang, jangan berisik. Mamah lagi tidur. Hayo sama Papah, kita jalan-jalan yuk," bisik Riko, sambil menggendong tubuh mungil sang buah hati, kemudian perlahan keluar dari kamar.
Sudah dua jam lebih Riko mengajak Dio berjalan, mengitari perumahan mereka tinggal. Kebetulan hari ini Riko sedang libur, jadi masih banyak waktu untuknya bermain dengan Dio.
Namun saat tiba di rumah, pria tinggi kekar itu masih mendapati istrinya tertidur pulas di dalam kamar.
Riko mencoba untuk menghela nafas berat dan menghempaskan ke udara, seraya membangunkan Ana, "Ana, bangun dong. Udah siang nih, Dio belum mandi," bisik Riko di kuping wanita yang terlihat raut wajah lelahnya.
"Hah! jam berapa in Mas?" Ana tersontak, kedua bola matanya membulat, melihat cahaya matahari sudah tajam menyorot kamar.
"Jam 9, bangun dong. Dio udah aku ajak keliling komplek, kamu masih tidur," ujar Riko, nada suaranya sudah mulai meninggi.
"Maaf Mas, maaf. Tadi malam, Dio rewel, jadi....”
Riko memotong ucapan Ana,
"Ya udah, jangan banyak alasan. Buruan kasihan itu Dio, udah nggak betah. Bajunya sudah basah,” ujar Riko sambil melangkah keluar dari kamar, mengusir rasa amarah yang membendung.
"Iya, iya Mas," sahut Ana terbata-bata, susah payah menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari ranjang.
"Tumben, Mas Riko ga marah-marah?" gumam Ana dalam hati, kedua bola matanya mengikuti langkah sang suami hingga hilang dari balik pintu.