Rengekan Ana

1398 Words
Ana beringsut dari ranjang dan segera memandikan Dio, wanita ini sangat bersyukur ketika melihat suaminya mulai menunjukkan perubahan dalam sikapnya. Setelah Dio di mandikan, Ana pun memberikan ASI kepada sang anak, lalu kembali menidurkan bayi mungil itu. Ketika sang anak sudah tertidur pulas, Ana bermaksud untuk membersihkan tubuhnya dan melakukan rutinitasnya di kamar mandi. Seketika suara Riko terdengar memekik dari ruang tamu. “Anaa!!” Ana yang baru saja melepaskan baju, dia pun berlari hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya, wanita itu seperti ketakutan, jika Riko akan memukulnya lagi kalau tidak lekas dia menghampiri pria itu. Terlihat, Riko berdiri sambil berkacak pinggang, melihat meja di ruang makan masih kosong. “Kamu, ngapain aja sih dari tadi?! Makanan masih belum ada di atas meja!” hardiknya dengan mata menyalang. “Ya ampun, Mas. Aku ‘kan baru saja mandiin Dio,” jawab Ana. “Lamban!!” hardiknya lagi, Riko menoleh ke arah Ana yang tubuhnya setengah telanjang. Pria itu pun menghampiri Ana, lalu menarik rahang wanita itu, “Ana. Kapan sih kamu bisa lebih disiplin, jadi istri?!” desisnya persis di depan wajah Ana. Jantung wanita itu berdebar kencang, dia siap-siap memasang badan untuk segera menerima pukulan dari Riko. PRAAAKK!! Betul saja, dengan mudah pria itu melayangkan pukulan ke wajah Ana. Isak tangis pun keluar begitu saja dari mulut wanita cantik itu. Namun, apa yang di lakukan Riko kepadanya, setelah puas dia melampiaskan emosi kepada Ana. Pria ini menarik handuk wanita itu, dan melemparnya ke sembarang arah. Riko mendorong tubuh Ana hingga terjatuh di atas sofa, “Kalau tidak becus jadi istri, puaskan aku dengan tubuhmu, hm,” bisik pria itu mengunci tubuh Ana yang polos dengan butiran air yang masih menganak sungai di pipi. Riko, dengan kasar melumat bibir Ana yang basah, dan mengeluarkan sesuatu yang sudah mengeras di bawahnya dan siap menenggelamkan di tubuh wanita itu dengan kasar. Mau tidak mau, Ana pun melayani keinginan sang suami yang baru saja memberikan tamparan di pipinya, hingga meninggalkan bekas memerah. Wanita itu, sama sekali tidak menikmati permainan yang di lakukan Riko. Walau ini bukan yang pertama kalinya, sudah sering kali Riko menikmati tubuh Ana, ketika emosinya meninggi. Ana sendiri tidak mengerti, mengapa perilaku buruk Riko baru tercium ketika semuanya sudah terlambat. Di iring isak tangis dan nafas yang terputus-putus, Ana menerima permainan yang di layangkan Riko. Sehingga pria itu puas menikmatinya. Riko sama sekali tidak peduli dengan perasaan Ana, dia hanya mementingkan diri sendiri. Tanpa melihat kondisi wanita itu, apakah sedang ingin memadu kasih atau sakit hati dengan sikap Riko. Setelah melampiaskan hasratnya kepada Ana, Riko pun segera kembali mengenakan celana yang tergantung setengah di pahanya. Ana hanya meringkuk di atas sofa, dan terisak-isak. Tubuhnya terlihat semakin lama, semakin kurus. Tekanan batin, itu yang dia rasakan saat ini. “Buruan mandi, aku mau makan,” kata Riko, nada suaranya berubah menjadi lembut. Pria itu pun mengecup kening Ana, lalu berlalu dari hadapannya. Wanita itu pun susah payah bangun dari posisinya, dan menyeret kan langkah, meraih handuk yang tadi di hempaskan Riko ke lantai. Sedangkan Riko, duduk di pelataran rumah, sambil menyalakan batang rokok yang terselip di jemari. Sepertinya, rasa lapar itu seketika sirna setelah menikmati tubuh Ana. Wanita itu pun kembali melanjutkan rutinitasnya di kamar mandi. Sambil di guyur air dari shower yang terpaku di atas tembok, Ana meratapi kehidupannya. Sampai kapan dia harus menjalani kehidupan seperti ini. Baru saja, harga dirinya sebagai seorang istri terkoyak melihat perlakuan Riko kepadanya. Ana merasa hina, karena Riko sudah acap kali menyakitinya, namun dengan mudah pria itu pun menikmati tubuhnya, setelah perlakuan kasar dia berikan kepada Ana. Tetesan air mata yang keluar dari pelupuk mata, bergulir bersamaan air yang membasahi kepala dan wajah cantiknya. Hingga tidak terlihat, mana itu tangisannya, mana air yang sebenarnya. Karena seperti itulah Ana, selama ini. Dia tidak mengetahui mana cinta yang sebenarnya yang dia dapatkan dari seorang Riko. Sedangkan Ana tidak bisa lepas dari genggaman Riko, dia sebenarnya sudah muak dengan semua ini. *** “Mas. Aku mau pulang ke rumah Mamah, untuk beberapa hari ini, boleh?” tanya Ana ketika menikmati hidangan makan malam mereka. “Mau ngapain?” tanya Riko datar. “Aku kangen sama Mamah,” jawab Ana singkat. “Boleh, tapi jangan nginap ya,” ujar Riko sambil mengunyah makanannya. Ana pun mengangguk pelan. Terbesit sesuatu dari benaknya, kesempatan besar untuk menjauhi Riko. Sinar mentari pun sudah menampakkan dirinya, Ana sudah siap dengan perlengkapannya untuk segera pulang ke rumah sang Ibu. “Mas. Aku jalan dulu ya,” bisik Ana di kuping Riko, ketika pria itu masih tertidur lelap. Riko pun perlahan membuka netranya, dan mengerjap ke arah Ana, “Kamu, mau jalan sekarang?” tanyanya dengan suara berat. Ana mengangguk kencang, “Iya, takut kesiangan. Nanti malah macet,” ucap wanita itu beralasan. “Tapi, aku nggak bisa nemani, lho. Aku ada meeting pagi,” tutur Riko. “Iya, nggak apa. Aku bisa naik taksi,” kata Ana cepat. “Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan,” ucap Riko. Ana pun meraih tangan Riko dan mengecup pundak tangan pria ini, sebelum meninggalkan Riko. “Ingat ya, jangan nginep!” seru Riko ketika Ana melangkah ke luar kamar. Ana pun mengangguk kencang, “Ok!” sahutnya. Sampai di rumah sang Ibu, Ana dapat bernafas lega. Rasanya dia baru saja keluar dari penjara. “Ana! Tumben main ke sini? Ada apa?” seru sang Ibu, ketika melihat sosok anaknya keluar dari dalam taksi. Ana pun tersenyum lebar, dan mengecup pipi sang Ibu, “Aku kangen, Mamah,” jawabnya singkat. Lalu, wanita paruh baya itu pun mengambil alih gendongan cucunya dari Ana, “Kamu, baik-baik saja ‘kan? Riko mana?” tanya sang Ibu. “Nanti, aku ceritakan ke Mamah. Riko ada meeting, pagi. Jadi, nggak bisa antar kami ke sini,” jelas Ana lalu melangkah ke rumah yang berbentuk klasik, dengan nuansa putih bersih. Ana dan sang Ibu, sebut saja nama Ibunya, adalah Lestari. Mereka berdua duduk di sofa panjang ruang tengah dari rumah tersebut. “Ada apa Ana?” tanya sang Ibu. Seketika, air mata yang terbendung bergulir di pipi Ana dengan deras, “Mah. Aku ingin cerai dari Riko,” pintanya di iring tangisan yang menyesakkan d**a Ana. Lestari mengerutkan dahinya, melihat sang anak tiba-tiba saja mendekap tubuhnya, “Ada apa, nak?” tanya wanita paruh baya itu. “Aku selama ini tersiksa, hidup dengan Riko, Mah. Dia selalu saja memukuliku. Apalagi kalau aku melakukan kesalahan kecil,” tutur Ana menjelaskan persoalan dalam rumah tangganya. “Maksudmu, apa?” Lestari menjauhkan wajah Ana yang bersandar di bahunya. “Aku tidak kuat lagi, Mah. Ternyata Riko sikapnya kasar. Lagi pula, Ana ingin kerja lagi. Aku tidak ingin mengurus rumah tangga lagi. Capek Mah, capek!” keluh Ana dengan nafas terputus-putus. “Ana. Kamu nggak boleh bicara seperti itu. Selama suami masih menafkahimu, lahir dan batin, kamu harus bisa mengikuti ucapan suami.” Lestari mengusap halus wajah sang anak, “tapi, mengenai pemukulan yang sering dilakukan Riko. Nanti, Mamah akan bicarakan baik-baik dengan Riko, hm,” imbuhnya. “Tapi, Mah. Ana sudah tidak sejalan dengan Riko,” rengek Ana lagi. Lestari melirik ke arah Dio yang tertidur pulas di atas box bayi yang disediakan khusus untuk cucunya, jika berkunjung ke rumah wanita paruh baya tersebut. “Lihat. Kasihan Dio, jika kamu ingin pisah dari Riko. Pikirkan anakmu, ok,” tutur Lestari, berharap Ana mengurungkan niatnya. Ana bergerak menjauhi tubuh sang Ibu, dan menghela nafas panjang, “Tapi, Mah. Aku ingin kerja lagi!” dengkusnya kesal. Lestari menggeleng samar, “Sabar nak. Nanti, Mamah bicarakan itu baik-baik juga kepada Riko, hm,” ucap wanita paruh baya itu menatap teduh sang anak. Ana menoleh ke arah sang Ibu,” Benar ya. Aku, bosan di rumah terus, Mah,” rengekannya sembari mengusap sisa butiran air mata yang tadi bergulir di pipi. Lestari mengangguk pelan dan tersenyum samar, “Iya. Nanti, Mamah bantu bicara sama Riko.” Wajah Ana pun berubah cerah, dan tersenyum lebar, kemudian mendekap tubuh sang Ibu, kembali, “Makasih ya, Mah,” ucap Ana lirih. “Kamu, harus belajar dewasa, Ana. Jangan seperti anak kecil lagi. Pernikahan itu, bukan suatu hal yang bisa di buat mainan,” ujar Lestari menasihati sang anak. “Tapi, Mah. Kehidupan rumah tangga itu berat,” sergah Ana dengan manja, bersandar di bahu sang Ibu. “Itu lah kehidupan dalam rumah tangga. Kita sebagai wanita, harus bisa menyesuaikan pasangan kita, dan harus banyak bersabar,” tutur Lestari lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD