Ugel Merah Dan Penjaga Laut (Bag. 2)

1230 Words
Graaaark! Raungan para makhluk berleher panjang terus menggema, menciutkan nyali tiga manusia di atas punggung penyu merah raksasa. Ni'mal, dengan napas yang tersengal berdiri setengah bungkuk di dekat Ratih yang cemas. 'Kenapa mereka makin banyak?' Remaja berambut putih dengan pedang di tangan kanan, mencoba mengatur napas. 'Gerakanku terbatas oleh ruang! Bertarung di tengah laut memang merugikan!' "Hey, rambut putih, kenapa kau tak buat penyu ini berenang lagi saja?" Ni'mal waspada, memandang sekitar di mana tujuh sosok Ugel Merah muncul kembali. "Kal-" belum Adnan menyelesaikan kalimat, tiga sosok makhluk bertaring tajam itu menyambar ke arah mereka. Adnan sontak melompat, mengayunkan pedangnya ke arah salah satu monster. Slapp! Pedangnya secara ajaib memanjang, dan menjerat leher salah satu Ugel. "Haaah!" Ia menarikkan badan ke arah lawan seraya memutar badan, lanjut mengibaskannya ke belakang. Sraakkk! Tiga leher Ugel Merah, terpenggal seketika. Tap! Adnan, mendarat di atas bangkai Makhluk Hitam tersebut, lanjut melompat ke cangkang penyu raksasa mana kala Ugel yang lain menyambar ke tempat ia barusan mendarat. Craaauk! Ugel itu, menerjang menggigit dan menyeret bangkai sejenisnya. Tap! "Kalau kita hanya diam di sini saja, mereka akan terus datang!" teriak Ni'mal melompat ke kepala penyu raksasa, sejurus kemudian menepuknya keras. Plak! "Berenanglah!" Whaaaaaaak! Makhluk itu merespon, lanjut mengayuh empat kakinya tuk berenang. Adnan, menepuk jidat. "Hey!" Ia berteriak pada Ni'mal. "Apa yang ka-" Wuuung! Sebuah trisula, melesat cepat dari arah kanan. Jlasss! Trisula perak itu, menembus leher panjang tiga Ugel Merah, lanjut mengarah pada Ratih. Traang! Adnan mengibaskan pedang, membuat trisula itu, terlontar ke lautan. "Ya Alloh Gustiii... Ya Alloh Gustiii!" Ratih memgelus d**a, dalam posisi siaga. Gadis berbusana hijau tersebut, menatap tajam pada lima sosok manusia kadal yang berada lima puluh meter dari mereka. Ni'mal menoleh ke belakang, ke arah cangkang raksasa penyu berkepala burung yang terus berenang. Netranya bergulir pada puluhan sosok manusia kadal yang timbul tenggelam di muka laut. 'Apa lagi itu!' "Celaka!" Adnan berdiri dengan kuda-kuda. Kedua tangannya erat menggenggam tangkai pedang yang kembali pada ukuran awal. satu meter. "Aku tak mau tahu! Pokoknya jika kita kembali ke bibir pantai nanti, aku mau bayaran sepuluh kali lipat!" Pemuda berjaket hitam, melirik ke kanan dan kiri. 'Mungkinkah jika ada pergerakan, makhluk-makhluk ini justru datang? Atau mungkinkah...' Ni'mal terbelalak, menerka-nerka. "Mereka hanya memburu Ugel Merah saja, bukan?" Ni'mal berteriak sedikit keras. Adnan menoleh ke arah kepala penyu. "Mereka memang biasa membasmi Ugel, tapi bukan berarti mereka a-" Braaaaaaarggh! Lagi-lagi, belum Adnan selesai bicara, auman makhluk lain menggelegar, membuat tiga orang manusia, menoleh ke belakang. Byuuur! Sesosok makhluk berukuran dua kali lipat penyu yang mereka naikki, melompat muncul ke permukaan. Makhluk itu berkepala babi hutan, dengan tentakel gurita sebagai rambut di sekitar kepala sampai leher. Tubuh bagian bawahnya bak kadal dengan kedua tangan. Sedangkan ekornya yang menyatu tanpa kaki, berbentuk ikan. "Ya Alloh Gustiii Ya Alloh Gustiii!" Ratih, memejamkan mata seraya menutup wajah dengan kedua tapak tangan. Ni'mal, menajamkan pandang pada kepala makhluk tersebut. Matanya menangkap sesosok wanita dengan tubuh bagian bawah seperti ubur-ubur indah. Belum ia coba memfokuskan energi pada kedua mata, makhluk raksasa tersebut mendarat kembali ke dalam laut seraya mengibaskan ekornya yang besar tak terkira. Lhaaaaab! Ni'mal, Adnan, Ratih, dan binatang yang mereka tumpangi, berteriak mana kala tekanan kuat dari air, membentuk gelombang besar yang mendorong mereka dengan hebat. Sekilas, mirip tsunami. "Huaaaaa!" *** (Ruang rapat Kraton Senlin, siang itu.) Tumenggung Kadipaten Senlin, Richard si pria berwajah bule. Lelaki berwajah garang itu, mengelus jenggot. Matanya lurus memandang wajah Yo, si lelaki tua berkaos abu-abu. Di hadapan mereka, dua cangkir kopi tersaji. Uap yang mengepul, menunjukan bahwa mereka baru saja akan mulai berdiskusi. "Kaliwon Yo... Apa kau tahu mengapa aku memintamu datang kemari?" "Tidak, Tuan..." "Sudah beberapa bulan sejak beberapa tikus uji coba saudara kita, lepas dari kandang. Pagi tadi, aku dengar salah satu tikus itu membuat gara-gara di cabang perusahaan Tekno Jaya." Lelaki berkeriput, mengerutkan dahi. Mata sipitnya, melirik ke kiri. "Siapa... Yang Tuan Tumenggung maksud?" "Tugasmu dan para bawahanmu untuk mencari tahu. Sampaikan pada Sebastian, agar mereka mengumpulkan tikus-tikus itu. Kita akan memakai mereka dalam pesta yang kita nantikan." "Mohon ampun, Tuan... Tapi, bukankah tikus-tikus itu sengaja dilepas karena eksperimen yang gagal?" Brakk! Richard menggebrak meja. "Kendati semua laporan akan masuk pada pihak PM sebelum naik pada para SM, bukan berarti kita bisa diam saja... Kalau kau tak segera bertindak, bisa-bisa kau kecolongan!" ucapnya dengan nada meninggi. "Dan... Cari tahu, Bagaimanapun juga... Lelaki bertopeng Arjuna Merah yang membawa cucu Ki Ageng Jagat, harus kita tangkap! Bayar Cepot sampai dia mau!" "T-Tuan... Mengenai Si Cepot... Dia bilang akan melakukan tugas jika... Kita menyerahkan batu keramat padanya." "Excuse me?" "I-iya, Tuan... Dia bilang demikian..." Richard, menggulirkan matanya ke kanan dan kiri. *** "Manakah yang lebih utama? Akal, atau hati?" Mendengar sebuah pertanyaan terlontar, Ni'mal membalik badan di atas lantai kayu. Ia, berada di sebuah rumah berdinding lempengan reot nan usang. Entah rumah siapa. "K-kau?" Ni'mal terbelalak, menjumpai lelaki berblangkon berbusana serba hitam yang berdiri dengan sebatang rokok di tangan kanan. "Utamakan hati, bagaimanapun situasi. Orang Jawa bilang, sekrenteging ati (seyakin semantapnya hati). Sebab ketika kau terlalu memusingkan segalanya dengan akal, kau hanya akan berputar-putar." Tap tap tap Seorang lelaki tanpa kaos, hanya mengenakan celana biru, berdiri di belakang Ni'mal. "Hoy dukun! Kau kira dia paham dengan maksudmu?" Ni'mal, menolehkan badan pada sosok berambut gondrong di belakang. Ia bingung. Hanya saja, ia yakin bahwa apa yang sedang ia alami, adalah mimpi. Mendengarnya, lelaki berblangkon dengan wajah yang blur itu, terkekeh. "Hai, Nak... Buktikan padanya jika kau paham, ya?" "Jika kau terlalu mencemaskan sesuatu tanpa berpikir jernih..." Lelaki kekar tanpa kaos, mengangkat kakinya tinggi. Siap menginjak lantai kayu. "Maka ini yang akan terjadi!" Braaaal! Lantai kayu yang dihentak oleh lelaki itu, retak. Rambut retakannya, merambat dan melebar, membuat lubang besar yang menjatuhkan Ni'mal. "Huaaaa!" *** "Huaaa!" "Woy woy! Sadar! Isfighfar!" Adnan, menempeleng wajah Ni'mal tiga kali. Kedua lelaki itu, berada di bibir pantai. Sosok penyu merah raksasa berkepala burung, turut diam terbaring lemah di dekat mereka. Mata makhluk itu, sayup setengah tertutup. "Astaghfirulloh hal adzim!" Ni'mal mengelus kepala. Tubuhnya basah kuyup. Melihat Ni'mal yang kembali sadar, Adnan duduk di atas pasir. Rambut putihnya ditiup sepoi angin pantai. Keduanya, mendengar nyanyi burung camar. "Kita sudah sampai. Sekarang, sebaiknya kau selesaikan apa yang ingin kau lakukan." Ni'mal, menyapukan pandangan ke sekitar. Ia balik menoleh pada Adnan yang terduduk memeluk pedang, mana kala tak menemukan Ratih. "Gadis itu, di mana?" Adnan, mengangkat kedua bahu. "Entah... Dia sudah tak ada saat aku terbangun." "Apa jangan-jangan dia terpisah dengan kita karena ombak tadi?" Ni'mal sedikit panik. Remaja berambut putih, menunjuk pada jejak kaki di atas pasir. "Dia sepertinya sudah langsung pergi mencari sesuatu yang ia inginkan." Ni'mal menghela napas lega. "Syukurlah..." Ia lirih bangkit. "Eh, tapi... Di mana aku bisa menemukan batu karang itu?" Adnan, merebahkan badan. Menggunakan dua tapak tangan sebagai bantalan. "Ada di sisi timur. Kau berjalanlah ke sana," ucapnya menunjuk ke sisi kiri. 'Makhluk itu, selain kelelahan... Dia juga sepertinya terluka karena ombak tadi,' pikirnya memandang sejenak kepala burung si penyu. "Baiklah..." Ni'mal membalik badan. "Jangan tunggu aku jika aku belum kembali sampai jelang matahari tenggelam nanti," ucapnya berjalan menjauhi Adnan. 'Jika benar dia peserta Sayembara... Aku yakin dia bisa lolos ke babak akhir.' Adnan, mengingat saat Ni'mal menumbuk kepala Ugel hanya dengan tangan kosong. 'Jarang ada orang yang bisa mengalahkan Ugel tanpa s*****a. Dia... Kemarin datang bersama Raden Armi... Mungkinkah dia murid beliau?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD