Pulau Keramat Dan Seorang Gadis

1100 Words
Ni'mal terus melangkah di atas rerumputan. Pepohonan rindang di sekitarnya cukup besar, berdaun lebat berwarna hijau. Beberapa spesies benalu yang menumbuhkan bunga hijau, sesekali memancing netra hazzelnut-nya memandang lama sembari berjalan. Angin di hutan berdesir lembut, merontokkan daun-daun hijau tua yang tak lagi kuat. Telinga pemuda berjaket hitam merah tersebut, kian lama mendingin. Sebagaimana suhu badannya yang kembali stabil setelah terkena terik mentari kala itu. 'Nuansa alam di pulau ini... Berbeda, ya?' Ni'mal memandangi burung warna-warni yang beterbangan ke sana kemari. Terdapat burung pelatuk yang sibuk mencari mangsa di batang pohon besar. Jangkrik, belalang, kupu-kupu, semuanya tetap diam tak beranjak meski Ni'mal melangkah melewati mereka. Barulah saat pemuda berambut lebat jongkok tuk memegang seekor belalang berkilau bak pelangi, makhluk itu melompat menjauhi Ni'mal. 'Spesies binatang di sini... Berbeda dari Kadipaten Sunyoto...' Ia kembali berdiri tegap. Lanjut melangkah tuk menemui ujung pulau. Kaki yang pegal dan badan yang masih begitu lemas, membuatnya berpikir tuk berjalan sebelum berlari habis-habisan. Lebih lagi, ia tak tahu spesies Makhluk Hitam yang mungkin tengah mengintainya. *** (Tepi jurang, Kadipaten Tarang.) "Assalamualaikum, Mbah..." Raden Armi, menyapa seorang kakek tua berbusana serba hitam. Lelaki yang ia dekati, duduk santai di bawah teduhnya pohon jambu. Ki Ageng Jagat, yang sedari tadi memperhatikan bentang alam di kala mendung, menoleh ke belakang, menjawab salam, "waalaikumsalam." Turut duduk di sebelah, keduanya berdekatan. "Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)" Mendengar tafsir surah Ar-rahman ayat ke tiga puluh tiga, garis bibir Ki Ageng Jagat, naik sebelah. Ia paham dengan apa yang Raden Armi maksud. "Apa kau masih bingung, mengapa hanya beberapa orang tertentu saja yang konon bisa menembus batas itu?" Mata jernihnya kembali mengamati pemandangan alam. Hijau pepohonan di bawah dan biru tua pegunungan di depan. "Jalur laut, dibatasi oleh kabut. Siapapun yang melintas, kalau bukan diganggu oleh para makhluk itu, ya terus berputar-putar bak hilang arah, sampai niat mereka urung tuk menjelajah, barulah mereka kembali ke titik awal sebelum kabut." "Aku dengar dari William, orang-orang itu sedang coba lagi buat mesin untuk menjelajahinya..." "Yahh... Yang meraga sukma saja tak bisa kunjung tembus, apalagi yang pakai mesin alias buatan tangan manusia..." Raden Armi, merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok. "Sedangkan di langit, sekalipun yang mereka pakai adalah meriam dari sumber energi batu keramat, tetap saja tak bisa menembus, ya?" Ki Ageng Jagat mengambil sebatang lisong usai Gus Armi mulai menyalakan rokok. "Alloh..." Ia berbisik lirih sambil mengisap. "Hu..." Sosok bercelak, meniup asap keluar dari mulut. "Para Sura sendiri... Masih enggan memberitahukannya..." Kakek dari Puspa Arumi, menempelkan ujung telunjuk pada rokok. Ia mengisapnya. Api, lirih menjalar. "Ahh... Aku kira kau yang pergi menyusulnya ke Sironggeng, kan?" Gus Armi tersenyum. "Insyaalloh dia nanti balik. Kalau lewat tengah malam masih juga belum kembali, aku jemput dia sendiri nanti." Ki Ageng Jagat, mengernyitkan dahi. "Memangnya, apa yang sedang dia lakukan di sana? Apa tak berbahaya membiarkan bocah itu sendirian?" "Takdir sedang menuntunnya menemui mereka-mereka yang berkaitan dengan nasib Manunggalan. Pertapa itu, sepertinya juga masih mencari cara demi mengetahui keberadaan prasasti leluhur tertua." Raden Armi, menikmati hembus angin kala itu. Ki Ageng Jagat tak bernapas sejenak. "N-Nusantara?" Mengisap rokok, Raden Armi tersenyum tipis. "Saat ini baru satu dari tiga sosok itu yang tengah bergerak mencari keberadaan kita. Semoga tak lama lagi, mereka bisa bersama bergerak." Ki Ageng Jagat yang memperhatikan raut Raden Armi, diam. Mulai terkekeh usai lima detik berpikir. "Hmmm?" Gus Armi menoleh. "Kau ini... Setega itu pada bocah polos itu... Apa dia sudah sekuat itu sampai-sampai kau membiarkannya bertemu dengan pertapa itu?" "Kalau hidupnya tak sengsara, tak penuh perjuangan nanti." Ki Ageng Jagat, menggeleng. Ia mengingat wajah Ni'mal. *** Ni'mal yang sedang berjalan di tengah hutan, berhenti melangkah. Telunjuk dan jempolnya, meraba-menjepit teinga kanan dan kiri bergantian. "Kok... Anget ya? Apa... Agni dan Rahaf sedang ghibah?" Ia, mengangkat kedua bahu, lanjut berjalan. Krusak krusak... Bunyi dari semak-semak yang bergerak, membuat Ni'mal waspada dalam kuda-kuda seraya menatapnya. Netranya menajam, memperhatikan. Hingga... "Chuit..." Seekor kelinci abu-abu, dengan tanduk bak unicorn, melompat keluar dari semaka belukar. Kaki kirinya menggaruk pipi. Tapi matanya, fokus pada wajah Ni'mal. "Chuit..." "T-tanduk Sura?" Ni'mal tersenyum sebab bentuk imut makhluk yang ia jumpa. 'Kalau Puspa lihat begini, apa dia bakal minta bawa pulang, ya?' pikirnya terus melangkah pelan mendekat. Ia bermaksud menyentuh bulu abu-abu si kelinci yang lebat. "Chuit..." Mengangguk tiga kali, sang kelinci abu-abu bertanduk satu, kini berlari agak cepat, menjauhi Ni'mal. Tep... Ni'mal berhenti. Ia menghela napas mana kala makhluk itu menjauh. "Chuit..." Si kelinci bertanduk satu, membalik badan usai berhenti berlari. "Chuit chuit chuit..." "Heee?" Ia menggulirkan mata kanan dan kiri. "Kau ingin aku mengikutimu, kah?" bisiknya pelan. Kedua telinga sang kelinci bertanduk satu, bergerak-gerak. "Chuit..." Ia manggut-manggut, lagi. *** Tap tap tap tap tap... Ni'mal terus mengayuh kedua kaki guna mengejar sosok kelinci abu-abu bertanduk satu di dahi. Lelaki berjaket hitam merah, tak sadar bila pepohonan lebat yang ia lewati, telah berkurang. Hingga... Wusss... Kelinci bertanduk satu yang sedari tadi ia kejar, seketika lenyap bak butiran debu yang tertiup angin padang rumput. Ni'mal yang sempat terkejut karena lenyapnya sang kelinci, kini terpana pada padang rumput luas nan subur di hadapannya. 'I-ini...' Rerumputan itu, cukup rapat dan lebat, sampai-sampai tak terlihat tanah cokelat sebagai alasnya bertumbuh. "Ugh!" Ni'mal menunduk, nyingir memegangi kepala belakang. Ngiiiing... "Ya Alloh Gustiii..." Lagi, nyeri menjalar dari leher merangkak naik ke atas ubun-ubun. 'Hiyaaa!' 'Awass kau!' 'Demi Nusantara! Demi Manusia! Dan demi leluhur kita!' Ni'mal yang merem melek menahan sakit, mendapati gambaran perang. Pertempuran yang dilakukan oleh para Makhluk Hitam dari berbagai spesies predator, melawan orang-orang berwajah suku Jawa dan Sunda. Busana yang orang-orang itu kenakan, mirip seperti busana para prajurit perang yang pernah Ni'mal lihat di museum sejarah Kadipaten Sunyoto. "Ugh!" 'Jangan biarkan mereka memasuki Sendang Dewata!' Ngiiiing! Sebuah gambar samar tentang rimbun pepohonan yang saling menyatu bak dinding, terpintas. Hingga... Tap! Tangan ramping seseorang, menggapai tengkuk belakang Ni'mal. Spontan, Ni'mal tersadar dari kelebatan bayang kejadian masa lalu. Ia menjerit, "Genthooong!" Tlep! Ni'mal meraih, menggapai tangan seseorang yang tak ia kenal, sejurus kemudian membantingnya dengan satu tangan. Ke depan. Wuung! Blaakk! "Aaaah!" Suara seorang perempuan, membuat Ni'mal membuka mata lebar-lebar. "Hee... Kau tidak ap-" Sesosok gadis berambut biru, dengan busana putih lengan panjang dan longdress hijau muda, tergeletak mengaduh kesakitan. Deg! Ni'mal, kembali teringat wajah gadis berbadan bawah ubur-ubur yang mana menunggangi sosok Makhluk Hitam berkepala babi hutan. "Kau!" Lelaki itu balik waspada, dalam kuda-kuda. Wajah itu, membuatnya enggan lengah. "Siapa kau!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD