Gadis berambut biru dan Ras Gogor Tutul

1572 Words
Adnan yang tengah menikmati sejuk angin dan debur ombak di pantai, terbangun oleh derap langkah seseorang. "Hai Adnan! Sudah!" Suara nyaring Ratih, membuatnya menoleh. Didapatinya gadis berbusana hijau membawa tanaman bak kantung semar besar. Di dalam tanaman tersebut, ada beberapa tonjolan. "Sudah kau dapat buahnya?" Ratih mengangguk, menyapukan mata ke sekitar. Ia hanya melihat Adnan dan penyu merah raksasa."Si Akang ganteng di mana?" "Dia sudah siuman tadi, dan pergi ke arah timur pulau menuju batu karang keramat." Ratih, duduk di sebelah Adnan. "Arah timur? Bukankah kalau dari sini, itu area setelah padang rumput di mana ada sendang keramat dekat perkampungan Gogor Tutul, ya?" wajahnya polos. "Ho'oh. Ni'mal ke sana tadi." Adnan kembali memejamkan mata. "Oooohhh..." Ratih menaruh barang bawaan, turut menatap pantai. Keduanya hening. Merasa ganjil dengan sesuatu. Hingga... "Heeeeeeee?" keduanya saling memandang. Terkejut. Mereka terlambat menyadari sesuatu. *** Dlap! Lelaki berjaket hitam merah melompat mengatur jarak. "Kau! Siapa kau! Kau... Perempuan jadi-jadian yang menunggangi binatang berkepala babi hutan itu, kan!" Ni'mal, bersiaga dalam kuda-kuda. 'Dia bisa melihat wajahku jelas dari jarak jauh?' Melihat sorot mata tajam nan yakin milik Ni'mal, gadis berambut biru itu berpikir. "Ta-tapi dari mana kau tahu? A-apa kau tak salah lihat?" "Hmmm..." Ni'mal menurunkan tangan yang sempat siaga. 'Iya juga ya? Tekanan energinya juga... Berbeda...' Ia menoleh, menggaruk kepala belakang. "Eh... Anu... Maaf... Mungkin aku salah orang..." "Fyuh..." Gadis itu lega. Menaikkan alis kanan, Ni'mal bertanya, "kenapa kau seperti lega begitu?" "E-eh..."Tidak... Aku lega karena... Aku tak mau kau menyerangku... (Henteu... Ni'mal, mengamati wajah gadis berambut biru. "Kau dari Cidewa Hideung, ya?" Gadis itu mengangguk. "Muhun... (Iya.)" "Lantas kenapa kau di sini?" Ni'mal menatap penuh curiga. "Anu ... abdi ... nyasar sareng kapisah ti rombongan.(Itu... Aku... Terdampar dan terpisah dari rombongan.)" Ni'mal menghela napas. "Bisa tolong pakai bahasa Manunggal saja? Aku tak mengerti bahasa suku Sunda." "Ehh, maaf..." Gadis itu membalas dengan senyum. 'Jalmi ieu bodo, nya? Leres saur Nyai Ratu. Bodo sareng polos teh benten saipis (Orang ini bodoh, ya? Benar kata Ratu... Bodoh dan Polos itu beda tipis).' "Lalu... Di mana rombonganmu?" Ni'mal memandang kaki gadis berambut panjang biru. Gadis itu, tak mengenakan alas kaki. "Anu... Mereka... Entahlah... Kapal kami tadi terdampar di bibir pantai," ucapnya berbohong. "Apakah karena ombak besar yang mendadak menerpa kalian?" Ia ragu manggut. "I-iya." 'Ya kalau begitu... Mustahil juga, kan? Kalau dia... Makhluk itu.' Ni'mal mengangkat kedua bahu cepat. "Maaf telah menuduhmu." "Hehe..." Gadis itu tersenyum, menampakan deret gigi. "Siapa namamu? Apakah... Kau tahu pulau ini?" "A-aku..." Ia agak ragu. 'Naha teu sawios abdi masihan terang anjeuna? Masing anjeuna rada bololo ... tapi bakal hariwang lamun anjeuna jalmi anu aya hubunganna sareng maranehna, nya?' (Apa tidak apa-apa aku memberitahunya? Meski dia agak bodoh... Tapi akan berbahaya kalau dia orang yang berkaitan dengan mereka, kan?)." "Aku Ni'mal..." Ia membalik badan, membelakangi si gadis berambut biru panjang. "Jika kau tahu tentang pulau ini..." Ni'mal, memandang hamparan luas padang rumput. "Bisa kau tunjukan padaku di mana letak batu karang yang biasa digunakan oleh Sura dari Selatan, berada?" tanyanya menoleh kecil ke kanan. Mata gadis itu terbelalak. "Ma-mau apa kau ke Karang Dewa?" Dahi Ni'mal mengkerut. "Karang Dewa?" Netranya melirik ke kanan. 'Itukah sebutan batu karang yang aku cari?' Ia menoleh memandang gadis itu, lagi. "Kau tahu? Bisa tolong antarkan aku sebentar? Setelahnya... Aku akan membantumu mencari rombongan." Angin padang rumput, menggerakkan rambut biru gadis di hadapan Ni'mal. Mata gadis itu tertutup. "Apa kau tahu bila menjelang Purnama Merah, seorang pertapa selalu duduk di sana?" "Ya..." Ni'mal membalik badan. Menghadap penuh pada gadis itu. "Aku ingin menem-" "Apa hubunganmu dengannya?" potong si gadis cepat. "Anu... Itu... Aku ingin coba menanyakan di mana keberadaan seseorang... Karena menurut rumor, dia bisa tahu hampir segala hal, bukan?" Menyingkap rambut yang menutup mata, gadis itu memandang baik-baik wajah Ni'mal. "K-kau... Tak tahu kalau dia itu... Berbahaya, ya?" "Dia, kan seorang pertapa? Berbahaya bagaimana maksudmu?" 'Dasar bodoh...' Gadis itu, buang napas. "Kau mau bunuh diri? Apa kau tak tahu kalau pertapa itu bukan manusia?" "Hee?" Ni'mal mlongo. "B-bukan manusia? Maksudmu dia sejenis dedemit?" Gadis itu lagi-lagi menghela napas. "Sudahlah... Aku tak tahu apa tujuan pastimu. Tetapi aku tak mau bunuh diri. Jadi carilah sendiri." Si gadis berambut panjang, balik kanan. "Tunggu..." Ni'mal memandang punggung lawan bicara. Melihat si gadis berhenti melangkah, Ni'mal melanjutkan, "kenapa kau tadi menghampiriku?" Ia menjawab tanpa menatap, "kelinci nirwana menampakan diri padamu. Artinya, bagi alam kau bukan ancaman. sayangnya kau terlalu bodoh untuk diikuti." 'Maksudnya kelinci bertanduk tadi, kah?' Ni'mal melangkah lirih, berkata, "hey, Neng... Tolong jelaskan ten-" Wuss! Dlap! Ni'mal memijak keras tanah, menyambar menerjang si gadis berambut biru. Ia, mendekap punggung belakang si gadis, menghindarkannya dari laju kencang panah dari rimbun pohon perbatasan padang rumput dan hutan. Netra hazzelnut-nya fokus pada anak panah yang menancap di tanah. 'Anak panah? Mungkinkah suku penghuni tempat ini?' Grrrrrr Geraman nyaring suara harimau dari arah pepohonan, membuat Ni'mal mengalihkan pandangan. Ni'mal melambaikan tangan kanan ke atas. "Hoooy! Kam-" Dlap! "Awas!" Gadis itu melompat, menarik tangan Ni'mal tuk menyingkir dari tanah. Jlapp! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Lima anak panah menancap di tempat barusan Ni'mal berada. Matanya terbelalak memandang belasan manusia cheetah. Sosok makhluk berbadan ramping dengan pakaian bak suku dayak. Mereka semua, menggendong busur dan anak panah. "Makhluk Hitam?" Ni'mal bersiaga. "Aku tak tahu sekuat apa dirimu, tapi sebaiknya kita lari dari sini!" Gadis berbibir s*****l, menarik tangan Ni'mal. "Larilah..." Ni'mal melepas genggaman si gadis. Badannya tegap menghadap para Makhluk Hitam. "Kau yang bilang tadi kalau aku terlalu bodoh untuk diikuti, kan?" "Ck! Kau gila ya? Kau mau melawan mereka?" Ia menyapukan pandangan pada delapan belas manusia setengah cheetah. "Aku punya dendam pribadi dengan makhluk-makhluk ini..." Ni'mal, menyambut para makhluk liar yang mana melangkah pelan menghampiri. Ia menepuk jidat. "Duh Gusti nu Aguung... Meni bodo pisan ie jelma!" Tep! Menggenggam erat tangan Ni'mal, gadis itu berkata, "jika kau mau aku antar menuju Karang Dewa, akan aku antar! Tapi jangan buat aku mati konyol di sini!" "Sungguh?" Ni'mal menoleh. "Kau mau mengantarku?" "Sekarang, lari!" Melihat sasaran yang melarikan diri, sosok manusia cheetah dengan codet di mata sebelah kanan, menggeram. Ia jongkok, lanjut mengayuh kedua kaki tuk menyusul Ni'mal. Kawanannya pun, melakukan hal serupa. *** Ni'mal, usai berlari ratusan meter di dalam rimbun hutan, ia dan gadis berambut biru tengah duduk bersembunyi dari para manusia setengah cheetah. Napas mereka, agaknya tersengal-sengal. Gadis berambut biru, menoleh pada Ni'mal. "Apa... Kau... Tahu... Bila... Mereka itu... Berbahaya?" "Aku tak peduli... Selama aku bisa bergerak, akan aku hancurkan tengkorak mereka!" "Kau ini... Bodoh... Ya? Kau tahu kalau mereka... Makhluk Hitam jenis predator, kan?" "Aku tak tahu... Kalau ternyata Ras Gogor Tutul ada di pulau ini..." Ia mengerutkan dahi. "Jadi, kau... Tahu mereka itu... Apa?" Saat coba mengingat suatu peristiwa, telinga Ni'mal berdengung hebat. *** (Belasan tahun silam, di pulau yang sama.) Beberapa nelayan berbaring santai di perahu kecil yang terikat pada batang pohon kelapa. Ada beberapa anak kecil yang asyik menghabiskan waktu di sana. Ni'mal kecil, tersenyum memegang pancingan. Netra bocah berusia tujuh tahun itu, cokelat temaram, memandang luas lautan. Ia duduk di atas sebuah batu karang. "Wahhh... Kakek! Pancing Ni'mal gerak-gerak, Kek! Dapet! Ni'mal dapet!" ujarnya girang. Kawan sejawatnya yang juga menemani sejak awal memancing tadi, ikut senang bukan kepalang. "Horee! Ni'mal dapet!" Menoleh cepat ke arah cucu, Mbah Pur tersenyum. "Tarik, Thole!" "Huugh!" Ni'mal, mencoba menarik si umpan, ia yang semula duduk santai, kini berdiri di atas kedua kaki mungil. "Ayook Ni'mal, kamu bisa!" "Huugh!" Ni'mal, menarik kuat-kuat sesuatu yang menggigit umpan pancingan. Wuung! Seekor ikan badut bermotif pelangi, terlempar. Terlampau jauh hingga melesat ke arah pepohonan yang berjarak sepuluh meter dari mereka. "Waah! Mujaer pelangi!" Ni'mal melepas pancingan di tangan. Matanya mengikuti arah ikan besar yang terlontar. "Ayok, kita ambil!" ajaknya girang. Ia, mulai berlari mengayuh kedua kaki ke arah ikan tadi. Bocah di dekat Ni'mal, manggut-manggut. "Hayok!" Mbah Pur, geleng-geleng kepala. "Dasar bocah..." Ia menghela napas, kembali fokus pada pancingannya. "Lihatlah, Ko... Putramu sudah tumbuh jadi anak kuat," bisiknya. "Apa... Kau tak merindukannya?" Huaaaaa! Teriakan Ni'mal, membuat Mbah Pur menoleh ke belakang. Ke arah Ni'mal tadi berlari. "Thole!" Menjatuhkan pancing, lelaki tua berblangkon hitam itu melesat cepat menyusul. Daaapp! Pijakan kakinya yang kuat membuat bunyi keras, menjadi sebab para nelayan terbangun. Tlap tlap tlap tlap tlap! Di perbatasan antara pasir dan rumput hutan nan lebat, Mbah Pur membeku kaget. Matanya, tertuju pada sosok manusia cheetah yang menggigit leher kawan kecil Ni'mal. Sedangkan Ni'mal sendiri, terduduk histeris menatap kawannya yang tak lagi bernyawa. "Makhluk kurang ajar!" Mbah Pur, tangan kanannya menirukan cakar harimau, lanjut melesat menyambar Gogor Tutul pada wajah. Srraak! "Ggrrrraaakh!" Makhluk itu tak cukup cepat mengelak serangan Mbah Pur. Ia menjatuhkan mayat bocah itu ke tanah, lanjut berlari dan melompat ke pohon satu ke pohon yang lainnya. Wung wung wung wung wung! Baru Mbah Pur hendak mengejar, ia spontan melompat menarik Ni'mal dan jasad bocah cilik itu keluar hutan, saat puluhan anak panah dari gelap bayangan, melesat meluncur menyergapnya. *** "Sejak itu... Aku sudah makin jarang memiliki teman... Karena, aku dianggap oleh sebagian orang tua sebagai anak pembawa sial." Napas lelaki berjaket hitam merah, telah stabil. Mendengar kisah Ni'mal, gadis berambut biru itu, memandang iba. "A-anu.. Namaku, Srikandi. Kau boleh me-" Clep! Sebuah jarum kecil, menusuk leher belakang gadis berambut biru. Ia, ambruk ke pelukan Ni'mal. "H-hey!" Baru matanya berkeliling mencari sosok yang menyerang, Ni'mal merasakan sesuatu yang tajam nan panas, menusuk menembus kulit leher. Pandangan matanya, kabur. Ia terpejam, ambruk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD