“Apa yang kamu lakukan di sini?” Suara dan pertanyaan itu membuat Cahaya terkejut.
“Kevin, Monre datang karena wali kelas kami minta kami semua belajar. Nilai di kelas kami anjlok!” Cahaya mencoba menjelaskan kepada sahabatnya sambil memegang lengan pemuda itu dengan erat.
“Kamu mungkin berpikir sebatas itu, tapi dia belum tentu! Pemuda di hadapan kamu itu b******k, Cahaya”
Monre yang mendengar ocehan Kevin hanya tersenyum kecut sambil membolak-balikkan LKS-nya. Dia tidak berniat untuk ikut campur dalam perdebatan Kevin dan Cahaya. Lagipula apa yang dikatakan kedua manusia itu benar adanya. Dia ke sini mengerjakan LKS, sekalian punya maksud lain, seperti yang di katakan pemuda yang sejak tadi menatapnya dengan kesal.
“Oke, kalau dia benar berniat mau belajar! biar aku yang bantu.”
“Yang benar? Kamu seriusan?” Mata Cahaya membulat dan berbinar bahagia.
Sedangkan Monre memutar bola matanya jengah, karena kesenangannya akan di ganggu oleh pemuda yang mengesalkan dan sok tampan itu.
Kevin pun berjalan dengan sok mengintimidasi ke arah sofa. Dengan santai dia duduk di depan Monre sambil membuka LKS. Monre berusaha untuk cuek padahal dia kesal setengah mati.
“Cahaya, kamu duduk sebelah aku...” Kevin menarik tangan Cahaya dengan kuat hingga gadis itu terduduk tepat di sebelahnya.
“Sial!” umpat Monre yang masih bisa di dengar oleh Monre dan Cahaya. “Ah gila! Bisa pecah otakku ini, sial!” lagi-lagi Monre mengumpat.
Cahaya dan Kevin menatap ke arah Monre yang sejak tadi mulai seperti cacing kepanasan. Jiwa Monre meronta, ini bukan makanannya. “Aku mau pulang!”
“Mau pulang? Ya pulang aja! Enggak usah laporan, siapa situ.”
“Kevin, jangan gitu! Monre tamu Cahaya.”
Monre yang di bela pun tersenyum menang sambil menatap Kevin dengan cemooh. Enggak ada yang lebih membahagiakan saat melihat pemuda yang populer itu lemah di hadapan seorang gadis mungil seperti Cahaya. Hahahaaa, batin Monre tertawa terbahak-bahak.
“Kita jalan dulu, gimana? Terus belajar lagi! Mumpung Kevin mau nih...” ucap Cahaya sambil menatap Monre penuh harap.
Deg
Seolah memiliki penyakit jantung, Monre pun hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Cahaya. Sekarang giliran Kevin yang terbahak dalam hati. Kapan lagi dia bisa melihat preman sekolah tunduk di hadapan seorang gadis.
“Kita mau kemana?” Tanya Kevin yang membalik tubuh Cahaya agar bisa mengikat rambutnya. Dengan cekatan pemuda itu mengikat rambut tersebut, sedangkan Monre yang di anggap udang di balik batu hanya membuang wajahnya kesal.
“Sudah..?” Kevin mengangguk.
“Gimana kalau kita ke ke Permainan saja?”
“Ayo... tunggu Cahaya ganti baju ya, masa iya, Cahaya pakai baju ini. Kevin sama Monre seganteng ini... entar dikira pembantu lagi!” ucap gadis itu dengan suara miris dan wajah yang di imut-imutkan.
Malu, Monre tersipu malu melihat Cahaya yang manja seperti itu. Manis sekali, bisa diabetes ne... Monre berkata-kata dalam hatinya.
Kevin yang melihat sikap Monre pun langsung berdiri dan mendorong tubuh Cahaya untuk masuk ke dalam kamarnya. “Biar aku pilihkan bajunya...” ucap dia sambil mendorong tubuh gadis masuk ke kamar.
Kevin mengedipkan matanya pada Monre! Mengejek pria itu dengan tatapan bahwa gadis yang ada bersamanya ini, sampai kapanpun tetap miliknya. “b******k!” Monre menggerakkan mulutnya sambil menatap Kevin.
Cahaya dan Kevin pun sudah masuk ke dalam kamar. Tangan pemuda itu langsung membuka baju kaos gadis di hadapannya. Bukan karena tidak tahu sopan santun, semua ini karena dia tahu, Cahaya pakai baju dalaman, dan dia sudah terbiasa melakukan ini dengan teman kecilnya itu.
“Aku pakai baju yang mana?”
“Yang sama dengan bajuku warnanya...”
“Okeh!” jawab Cahaya yang langsung menatap ke arah pemuda yang senyum sumringah.
Cahaya dan Kevin pun keluar. Monre menatap ke arah mereka berdua, dan menatap dirinya. Baju dengan campuran hitam dan merah, sangat mirip dengan apa yang dia gunakan.
“Kalian sengaja mau sama’an sam aku?”
“Cih, percaya gila!” Kevin kali ini yang mengumpat.
Cahaya tersenyum dan menepuk tangannya. Dia senang sekali dan tidak menyangka ini terjadi. Baju mereka bertiga sama, dia sangat senang.
“Ayo...”
Dengan mobil yang Monre bawa mereka bertiga pun stop belajar dan pergi menenangkan pikiran. Hampir satu jam lebih, akhirnya mereka bertiga sampai.
Baru saja mau masuk ke area Permainan, tiba-tiba kaki Monre terhenti dan memandang ke arah sepasang suami istri dengan anak perempuan berusia tiga tahun bersama mereka. Tangan pemuda itu mengepal! Kevin melihatnya dan entah perasaan apa yang ada di d**a pria itu. Dengan sigap dia merangkul bahu Monre, lalu berkata “Kamu punya hidupmu sendiri! Jangan peduli apapun yang menyakitimu!”
Jleb. Baru kali ini Monre mendengarkan kalimat dari orang lain seperti itu. Perasaannya kacau! Dia marah, kesal, tapi hatinya sedikit tenang. Monre pun hanya diam di dalam rangkulan Kevin. Pemuda itu berbincang degan Cahaya tanpa melibatkan Monre yang saat ini sedang kacau. tampak!nya Kevin ingin menutupi keadaan Monre saat ini. “Cahaya, sepertinya aku malas deh masuk ke dalam, gimana kalau kita cari makan saja!”
“Duh, ‘kan sudah sama’an gini bajunya.”
“Kita pergi makan, bukan pulang! Oke enggak, bro!”
Monre mengangguk menatap Cahaya.
“Oke! Meluncur...” teriak Cahaya.