Bab 18.

1001 Words
Pagi ini, menjadi hari yang sial bagi Cahaya. Dia bangun kesiangan dan harus di marahi Kevin sepanjang jalan. “Kamu nonton Anime lagi?” “Hm! Episode barunya keluar.” “Ah, terserah kamu, Cahaya Aku sudah ingatkan kalu mau nonton begitu harus sabtu minggu.” “Iya... maaf.” “Enggak guna maaf kamu, Cahaya” Gadis itu pun hanya diam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sadar sekali dirinya salah dan tidak bisa d toleransi lagi. Karena pintu sudah hampir di kunci, Cahaya dan Kevin pun berlari masuk ke dalam kelas masing-masing. “Terlambat?” Mr Baronais tersenyum ke arah Cahaya. Gadis itu menunduk berulang kali dan berlari kecil ke kursinya. Ada yang kurang, entah apa! Tapi Cahaya rasa ada sesuatu yang aneh. Apa yang kurang? Gadis itu mengeluarkan semua buku dalam tasnya, dia takut ada buku LKS yang tertinggal. “Monre tidak masuk, Mr!!” teriakan Airin menyadarkan Cahaya bahwa Monre yang membuatnya merasa ada yang kurang. “Kemana dia? Apa ada surat izin?” Semua orang terdiam, tidak ada yang menjawab sama sekali. “Mr!! Monre tidak sehat, saya akan ke rumahnya sepulang sekolah.” “Kamu tahu rumah Monre?” “Ta, tahu, Mr!!” Jawab Cahaya tergugup. Dalam hati gadis itu berpikir untuk menemui Zamren dan Lion, sahabat Monre. Mr Baronais mengangguk dan meneruskan pengumuman yang akan dia berikan pada siswa dan siswi. Mr Baronais mengingatkan sekali lagi, nilai-nilai anak di kelasnya. Mr Baronais tidak ingin mereka tetap berada di kelas ini tahu berikutnya. “Kalian semua harus naik kelas! Airin, kamu harus bantu teman-teman kamu, Cahaya kamu juga.” “Baik, Mr!!” jawab kedua siswi ini secara bersamaan. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Cahaya langsung berlari ke kelas Zamren dan Lion. Kevin melihat gadis itu buru-buru, karena tidak ingin Cahaya di ganggu oleh Wulan, pemuda itu pun mengikuti dengan berlari. “Cahaya, kamu mau kemana?” Tanya Kevin yang berlari mengikuti Cahaya. Gadis itu menoleh ke arahnya. “Kevin... kamu mau temani aku?” “Mau!” jawabnya cepat tanpa mendengarkan kemana Cahaya akan membawa dirinya. Gadis itu tersenyum senang dan menarik tangan Kevin. Selama perjalanan tidak ada yang berbicara karena Cahaya ingin pemuda itu lebih cepat. Dalam hati, Cahaya berkata ‘Kita sebentar lagi ujian kenaikan kelas, Monre! Kamu harus pergi bersamaku ke sekolah. Kita taman satu bangku, aku naik kelas! Kamu pun juga.’ Mereka berdua sampai di halaman rumah Monre, Kevin yang masih bingung tidak bertanya apapun. Sampai dia mendengar Cahaya bertanya pada salah satu orang yang lewat. ‘Apa di sini rumah Monre?’ Tanya gadis itu. Wanita paruh baya itu pun menjawab benar. “Kevin, ayo masuk.” dia mengibaskan tangan sambil mengajak pemuda itu masuk bersama. Kevin memicingkan matanya. “Ngapain kita ke sini, Cahaya?” “Monre enggak masuk sedangkan kami harus ujian kenaikan kelas. Sebagai teman sebangku, aku rasa wajar saja jika aku ingin dia tetap ikut ujian.” Kevin memejamkan mata sesaat, dia tahu maksud Gadis ini baik, tapi pemuda yang akan mereka temui ini belum tentu mengerti. Monre bukan anak biasa, setelah kejadian mereka akan pergi bermain ke Permainan, dia situ Kevin tahu, jika Monre dan dirinya berada dalam posisi yang sama walau dalam keadaan yang berbeda. Brak. Suara pintu dengan kuat terbuka, seorang pria besar tinggi keluar dari rumah besar itu dengan luka di bibirnya. Kevin yang semula tidak respect pun langsung berlari masuk ke rumah tersebut. Dengan susah payah, Kevin mendorong pintu kayu jati itu dengan kuat. Cahaya yang melihat usaha Kevin pun bingung dengan apa yang terjadi. Brak. Pintu rumah itu terbuka dan memperlihatkan ruang tamu yang berantakan seperti ada perang. Kevin masuk ke dalam rumah dan berteriak dengan tiba-tiba. “Monre, bangun... Monre...” Kevin menepuk pelan wajah pemuda yang sudah tergeletak di lantai dengan luka tusuk di perut. “Kau?” “Iya... Aku bawa kamu ke dokter sekarang.” “Mama... Mama di kamar, tolong Mama...” suara Monre terbata. “Cahaya, kamu kenapa menung, tekan ini! Aku mau ke lantai atas.” “Tapi, Kevin, a... aku...” “Cahaya” “IYA...” Teriak Cahaya yang sebenarnya paling takut dengan cairan merah tersebut. Berlari, pemuda itu merasa jantungnya berdebar kencang! Entah perasaan apa ini! Dengan berlari dia pun segera sampai ke kamar orangtua Monre. “Tante... Tante...” Kevin mencoba menyadarkan Mama Monre yang mulutnya sudah berbusa. “Akh...” Kevin berteriak dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas kasur dan menghubungi 119. “Monre...” Suara itu terdengar lirih. “Tante...” Kevin berteriak dan meraih tangannya. “Tante, lihat aku! Sebentar lagi bantuan datang. Tunggu sebentar ya Tante...” Ucapnya lembut. Satu jam kemudian... Mata Monre terbuka, dia menatap Kevin dan Cahaya di hadapannya. “Terimakasih...” Kevin mengangguk dan menepuk pundak Monre. “Santai saja...” “Terimakasih...” ucap Monre kembali pada Cahaya. Cahaya juga mengangguk, wajah gadis itu masih pucat. Bisa di bilang untuk saat ini, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. “Mama?” “Tante baik-baik saja! Sekarang berada di ruang perawatan, sedangkan kamu masih Di IGD, luka robeknya lumayan besar.” “Ah... iya...” jawabnya lemah. Setelah pembicaraan singkat itu, tidak ada lagi orang yang berbicara. Monre pun tertidur dan di pindahkan tepat di sebelah tempat tidur sang Mama yang masih dalam satu ruangan. Tidak lama setelah itu keluarga Mama Monre tiba, seorang pria tua tampak! sangat marah. Kevin tidak ingin banyak bermasalah. Setelah dirinya dan Cahaya memberikan keterangan pada polisi. Mereka berdua pun pulang. Sepanjang perjalan Kevin tidak bicara, begitu juga dengan Cahaya yang memilih diam. Ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka berdua. “Aku masuk, ya...” “Jangan lupa mandi dulu...” Cahaya mengiyakan dan masuk ke dalam rumah. Kevin pun sama, dia masuk ke dalam rumah dan langsung membersihkan dirinya. Tapi setelah itu, pemuda tersebut tidak bisa memejamkan matanya, dia terus memikirkan Monre dan Mamanya. “Mbak Erisa, Mama mana?” “Nyonya di kamar Den...” “Makasih Mbak...” jawab Kevin yang langsung berjalan ke kamar orangtuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD