Bab 19. Nyonya Ella

1044 Words
Kevin masuk ke dalam kamar, menatap sang Mama dengan sendu. “Ma...” ”Ada apa?” Ella yang tengah ingin memejamkan matanya langsung tersenyum melihat Kevin yang baru saja masuk ke dalam kamar. “Mama, Oke?” “Tentu saja, sayang...” “Papa?” Ella tersenyum sambil mengusap wajah Kevin. “Kamu rindu papa? Mama akan pinta papa ke sini!” Kevin menggeleng, “Jangan, Ma... hanya buat masalah baru buat papa.” Ella melihat anaknya dengan pedih. Anaknya kini sudah tumbuh dewasa, dia bisa mengerti bagaimana posisi orangtuanya. “Kamu tahu kenapa papa tetap melakukan ini?” Kevin mengangguk! “Karena kita, Ma...” “Benar, Nak! Mama kamu ini tidak bekerja, papa tidak ingin kita berada dalam kesulitan ekonomi. Selain itu, Papa juga tidak mau kita terkena bahaya. Papa akan selalu memilih kita, Kevin. Walaupun dia harus mati saat ini juga...” Kevin menggigit bibirnya, dia bisa mengerti, tapi tidak ingin mengerti apapun. Kevin tahu dirinya sangat egois. “Apa papa yakin kalau-” “Kevin, anak itu sudah meninggal di dalam perut wanita tersebut. Kita tidak bisa membuktikan kalau itu bukan anak papa kamu, sayang.” Mendengar dengan sangat jelas, Kevin tidak bodoh. Dia tahu persis jika mereka memang berbohong demi mendapatkan papanya. Jika Kevin pikir kembali, apa yang di harapkan seorang wanita dari pria tua seperti papanya. “Aku masuk kamar ya, Ma...” “Jangan lupa berdo’a. tumben banget anak mama datang ke kamar nyusulin begini.” Kevin tersenyum simpul atas godaan mamanya. “Ma, aku ke depan ya...” “Iya, Tante sama Om kamu pergi tuh. Bibik juga enggak ada, temani Cahaya ya...” “Loh, kok Cahaya enggak ngasih tahu? Berani amat dia sekarang!” Mama menggindikkan bahu, yang tandanya dia tidak tahu tentang apapun. Kevin akhirnya berlari masuk ke dalam kamarnya, dan dia melihat ponsel. Yah... tiga puluh panggilan tidak terjawab dan seratus pesan w******p belum terbaca. “Cahaya...” Kevin berteriak sambil berlari ke rumah Cahaya. Yap. Kodenya pemuda itu tahu. Jadi main tekan-tekan saja dia sudah bisa masuk ke dalam rumah keluarga Cahaya. Tap tap... Kevin berlari menuju kamar Cahaya. “Kevin... baru saja mau di susulin...” “Hah...” Kevin menarik napasnya dan menarik tangan Cahaya, hingga mereka berdua terjatuh ke atas tempat tidur. Refleks, Cahaya pun memukul Kevin tepat di lengannya. “Kenapa? Makin lama kok makin kasar sih?” “Jangan lihat aku begitu! Malu tahu, gimana kalau aku suka sama kamu?” “Kamu memang suka sama aku sejak kita kecil ‘kan, Cahaya” Wajah Cahaya langsung memerah. “Tapi sekarang enggak lagi, dekat kamu aku jadi sial!” umpatnya sambil berbalik, dan membelakangi Kevin. “Cahaya... aku sayang kamu...” Kevin mendekat dan memeluk pinggang gadisnya hingga jarak mereka sangat dekat. Napas Kevin terasa sangat kuat menghembus di telinga Cahaya. “Aku heran, kenapa Mama dan Papa percaya banget sama kamu! Bisa-bisanya kamu di bolehin masuk kamar aku begini! Apa mereka enggak takut, anak gadis satu-satunya ini akan di jahatin oleh orang lain.” Kevin berusaha menahan senyuman di bibirnya. Seadainya Cahaya tahu kalau saat ini dia sudah mendapat restu dan tinggal berjuang saja, mungkin gadis ini tidak akan banyak berpikir. Lagipula, Kevin bukanlah laki-laki yang hanya mengurusi hal-hal nakal di pikirannya. Selama ini, dia hanya menggoda Cahaya tanpa maksud apapun. Seperti saat ini, mungkin sebagian orang akan berpikiran dangkal, tapi Kevin benar-benar tidak berpikir kotor dalam hal ini. Mereka masih terlalu muda untuk melakukan kegiatan yang merugikan masa depan. “Mereka tahu kalau aku sayang banget sama kamu, Cahaya Apa lagi kening globe kamu ini luas banget, jadi mana ada laki-laki yang enggak tertarik.” ucapnya sambil menjentik kepala Cahaya. “Heh, bohong banget kamu, Kevin...” “Sudah, jangan banyak bicara lagi! Ayo tidur...” Kevin mengeratkan pelukannya. Jika kalian mau tahu perasaan Kevin dan Cahaya saat ini? Mereka berdua merasa sangat nyaman, aman dan tenang bersama satu sama lain. Jika kalian pikir Kevin akan menegang! Itu salah, pemuda tersebut hanya berpikir ingin memiliki Cahaya, tapi belum berpikir untuk melakukan seks atau apapun. Tantangan dari orangtua Cahaya, membuatnya tidak sempat berpikir ke arah nakal. Yang Kevin harus lakukan hanya belajar, dan menjadi yang terbaik. “Makasih Kevin...” “Makasih juga Cahayaku...” jawab Kevin yang kini meletakkan tangannya di bawah kepala Cahaya. Mereka berdua sangat damai hingga pagi ini mereka sibuk karena sebuah insiden. “Cahaya... bangun! Kamu enggak pasang alarm... astaga aku terlambat, Cahaya...” Kevin berlari ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan cepat. Sesekali Cahaya mendengar Kevin mengumpat. “Kamu kenapa masih tidur?” tanya Kevin yang keluar dari kamar mandi dan melihat Cahaya masih menggulung di selimut. Cahaya tidak menjawab, dia malah berbalik lagi ke arah berbeda. “Kevin, ini hari sabtu. Kita bukan anak SMP, kita FULLDAY!” “ASATAGA....” Kevin berteriak dengan kesal dan melempar handuknya, dengan cepat dia terjun bebas ke atas tempat tidur dan menarik kening Cahaya dengan telapak tangannya. “Ih, dasar dedek emes...” Kevin mengecup kening gadisnya singkat.” “Kevin... Cahaya...” Mendengar nama mereka di panggil, dua manusia itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Viona dan papa Cahaya pun menatap mereka berdua tanpa berkedip. “Ehm...” “Ah, maaf Om.” Kevin melepaskan kening Cahaya yang sejak tadi berada di telapak tangannya. Orangtua Cahaya pergi terlebih dahulu, sedangkan Cahaya dan Kevin jadi saling pandang. “Kenapa muka kamu begitu? Bukannya kita biasa begini?” Duh, Kevin ingin bicara tapi malas sekali. Percuma bicara sama gadis yang ada di hadapannya ini. Enggak bakal nyambung juga otaknya. Kevin juga tahu kalau jenis Cahaya, di kasih pengertian sekali, dia malah enggak ngerti-ngerti. Pertanyaannya bakal berekor dan enggak selesai sampai kiamat. “Cahaya, aku ke bawah dulu...” “Kevin... aku belum selesai bicara ‘kan! Kamu kenapa pucat begitu?” Pemuda itu berusaha menutup telinganya. Dia tidak ingin mendengar ke bawelan Cahaya di saat matahari belum naik seperti saat ini. “Om...” Kevin menyapa Papa Cahaya yang sedang duduk membaca koran. “Sarapan dulu kamu...” “Iya, Om...” jawabnya. Baru saja ingin menyendok nasi goreng yang Tante Viona buatkan, kegiatan Kevin berhenti karena pertanyaan Papa Cahaya. “Pisang kamu aman sedekat itu dengan Cahaya?” Deg, Pertanyaan macam apa ini, pikir Kevin dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD