Bab 20. Nyonya Viona

1002 Words
Kevin menelan saliva karena papa mertuanya itu bertanya hal yang konyol menurut dirinya. "Kenapa diam? Santai loh, Kevin! Seperti Om enggak pernah muda saja. Lagi pula, Om percaya kamu seratus persen." Godanya pada pemuda yang kini sudah tersipu malu. "Om.. Kevin..." "Kevin, kamu mau saja, di godain Om begitu!" Viona tersenyum melihat pemuda tersebut. "Mama jangan ikut campur, papa 'kan suka lihat wajah Kevin begitu..." Tunjuknya. Mereka bertiga saling bercanda sampai gadis yang sejak tadi berada dalam kamar, keluar dengan wajah yang sudah segar. "Kamu ganggu hariku yang tenang! Seharusnya aku bangun jam dua belas siang." "Kita enggak lihat teman sebangku kamu? Mungkin dia sudah menjadi-" "Stop, Kevin! Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku tidak ingin mendengar sama sekali. Kau gila, mengatakan hal seperti itu." "Memang aku mengatakan apa?" Kevin menatap Cahaya dengan tatap penuh tanya. "Bukannya kamu mau bilang Monre akan mati?" "Heh, dasar pikiran kamu saja yang terlalu singkat." Mereka berdua akhirnya pergi ke rumah sakit, tempat di mana Monre dan Mamanya Marisa di rawat. "Pagi Tante... Pagi Monre..." Cahaya tersenyum menyapa kedua orang manusia yang tidak saling bicara sedari tadi. "Hay..." Sapa Marisa dengan lembut, dan sambil memposisikan duduknya. "Temannya Monre, ya?" "Iya Tante..." Jawab Cahaya sambil mengecup singkat tangan Marisa. "Yang tampan ini juga?" Kevin tersenyum mendengar perkataan Marisa, sedangkan Monre sudah memutar bola matanya jengah. "Monre, teman kamu keren semua deh cantik, tampan." Monre tidak menjawab, dia melipat kedua tangannya, seolah berkata terserah kalian mau bicara apa. Setelah bercakap-cakap dengan Marisa, mereka beralih pada Monre. Pemuda itu masih membuang wajahnya. "Kalian berdua, aku makasih buat kalian! Kalau mau aku traktir, tunggu aku sembuh dulu." Kevin dan Cahaya tersenyum kecut sambil saling tatap dan memainkan mata mereka. "Kamu malu sama kita? Bahkan kamu kemarin sudah-" "Stop! Malas aku dengarnya... Yang jelas aku akan balas perbuatan kalian. Dan aku harap kalian enggak cerita sama siappun kejadian ini." "Tenang saja, aku sama Cahaya ini seiman. Kita enggak akan lebos..." Monre tidak menjawab! Dia masih menghadap ke arah berbeda. Cahaya dan Kevin tahu, jika Monre hanya belum bisa menerima keadaan! Bahwa mereka berdua tahu sesuatu yang tidak boleh di ketahui orang lain. "Mulai Senin, aku akan buatkan catatan untuk kamu. Kalau aku naik kelas, kamu juga harus naik kelas." Lagi-lagi Monre tidak menjawab, entah apa yang di pikirkan pemuda tersebut saat ini. Marisa yang melihat tingkah anaknya pun hanya terdiam saja. Selama ini jangankan teman, kenalan anaknya itu pun tidak pernah mencari Monre. Bahkan Marisa tidak pernah bertemu Zamren dan Lion selama ini. "Monre, kenapa kamu begitu sih sayang? Kasihan dong teman kamu di cuekin gitu..." "Tante, mungkin Monre masih ingin istirahat kembali, lebih baik tidak kita paksakan." Ucap Kevin sambil menatap Cahaya. Marisa tidak bisa berbuat apapun. Dia tahu Monre sedang malu kepada teman-temannya. "Baiklah, lain kali Tante akan Jewer anak itu, nakal sekali Monre sama temannya." Cahaya tersenyum lebar, dia sangat kagum terhadap Mama Monre. Wajahnya begitu cantik dan imut. Masih bisa jadi kakaknya Monre. Kulitnya juga sangat kencang seperti anak muda. "Cahaya..." Kevin menyenggol Cahaya yang senyum terus dari tadi. "Kita pergi ya Monre..." Masih tidak ada jawaban. Pemuda itu membisu tanpa kendali. Kevin dan Cahaya keluar dari ruangan. Pemuda itu langsung menyambar tangan Cahaya dan mengecupnya singkat. "Sepertinya aku harus banyak bersyukur. Sepertinya lawanku sudah KO sebelum perang." Cahaya memicingkan mata, lalu dia bertanya. "Apa maksudnya, Kevin?" "Dah lah..." Jawabnya dengan wajah menggoda. Cahaya berteriak memanggil Kevin, tidak sengaja dia menabrak seorang gadis bertubuh mungil dengan bibir merah tipis. "Maafkan aku..." Ucapnya sambil memunguti buah yang berjatuhan. "Aku yang minta maaf..." Jawab Cahaya sambil membantunya. Setelah selesai Cahaya pun meminta maaf sekali lagi. Kevin yang hanya berdiri bagaikan raja tidak membantu sama sekali. Dia malah berusaha menahan tawanya. "Apa yang kamu lakukan di sana... Kevin..." Pemuda itu langsung berlari ke arah parkiran, Cahaya juga mengikuti karena bersiap ingin memukul pemuda yang terkekeh tidak berhenti. "Upz... Apa?" Tanya Kevin dengan senyum sumringah "Kevin, kamu..." Cahaya yang sebelumnya mengejar Kevin, kini malah berjalan mundur. Dia sangat gugup jika Kevin mulai memandang dengan gaya menggoda. "Tadi kamu ngejar aku, sekarang malah mundur..." "Kamu...." "Kamu apa?" "Kevin..." Cahaya memukul bahunya dengan kuat. Hingga Kevin berteriak kesakitan. "Cahaya... Tunggu..." "Enggak!" "Cahaya..." Kevin berteriak kuat. "Cahaya... Aku akan ikut pertukaran pelajar." Deg, Cahaya yang semula berjalan cepat pun berhenti. Jantungnya terasa ngilu, dia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Kakinya yang semuak berjalan dengan semangat pun, kini terasa kaku. "Cahaya..." Kevin berjalan mendekati Cahaya. "Aku akan pulang dengan cepat, aku juga akan mendapat yang terbaik. Kamu harus baik-baik di sini." Ucap Kevin yang memeluk Cahaya dari belakang. Gadis itu tidak menjawab, karena dia sudah mulai menangis. Air matanya tidak terbendung lagi. Tapi Kevin tidak bisa mundur, dia bukanlah anak orang kaya. Bahkan kasta dan harta telah mempermainkan hidup keluarganya. Sedainya sang Papa adalah seorang CEO atau billioner. Mungkin keluarganya akan sangat untuh sampai saat ini. Kevin tidak ingin dendam dengan apapun. Karena hidup harus maju ke depan. Ada Cahaya yang harus dia bahagiakan. Kevin tidak bisa memandang gadis lain. "Cahaya..." "Jangan mendekat..." Jawab Cahaya dengan parau. Kevin tidak menghiraukan peringatan Cahaya. Dia tetap mendekat dan memeluk gadisnya dari belakang. "Jangan bersedih... Aku akan menitipkan kamu pada seseorang." "Kapan?" "Dua bulan lagi..." "Kevin..." Cahaya membalikkan tubuhnya dan memeluk pria itu erat. "Kevin..." "Iya, Nona Manis..." "Cahaya pasti rindu Kevin..." "Boleh aku minta tolong?" "Apa?" "Jangan buka kacamata kamu kalau pergi kemanapun, dan rambut ini harus terus begini sampai aku pulang." Cahaya mengangguk, dia tidak menolak apapun yang Kevin inginkan dari dirinya. Jika dirinya ingin berontak, mungkin sejak dulu Cahaya merubah dirinya agar tidak tampak! sebodoh ini. "Jadi, apa kita bisa main selama dua bulan ini?" Cahaya menatap Kevin dengan berbinar. "Bukannya mau ujian???" "Ah, ya... Kau benar, Kevin..." "Tapi ujiannya cuma lima hari, sisanya kita bisa main... Aku sayang kamu Cahaya." "Aku juga sayang kamu, Kevin..." Mereka berdua berpelukan erat di parkiran rumah sakit tersebut. Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang manusia yang terus memperhatikan sejak tadi. "Apa kamu kenal mereka berdua...?" "Azura... Aku sepertinya terkena sakit jantung, dadaku berdetak kencang dan aku sangat sakit."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD