Bab 21. Nyonya Marisa

959 Words
Azura baru saja ingin masuk ke ruangan rawat Monre. Tapi nyatanya pria itu sudah berjalan ke arah luar, Azura yang melihatnya pun menyapa Monre. "Hey, bukankah kau tertusuk? Kenapa sudah mengintip seseorang, hah?" Monre sedikit terkejut, tapi dia langsung menyadarkan diri, jika yang ada di dekatnya saat ini adalah Azura. Gadis bawel yang selama lima tahun ini berada di luar negeri. Dan gadis yang selama ini menjadi teman Monre satu-satunya. "Kapan kau kembali?" "Apa hak kau untuk bertanya? Kau yang mengusirku dan meminta untuk tidak datang lagi. Bahkan aku tidak bisa mengatakan selamat tinggal." "Sudahlah Azura! Jangan banyak alasan, aku tidak berniat untuk memaafkan kamu." "Siapa yang mau minta maaf, hah? Aku datang hanya karena peduli. Dan aku tidak suka melihatmu seperti orang t***l karena menyukai seseorang. Apa kau mau aku bantu, Hmm? Azura berkata sambil melipat tangannya di d**a. "Aku rasa sulit, mereka saling suka, bukan? Aku tidak ingin seperti orang bodoh, bak punggung merindukan bulan, kawan." "Kau tampak! lemas, Monre. Aku akan membantu kamu! Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu..." Monre hanya melirik sedikit ke arah Azura yang tampak!nya mulai serius berbicara. Tapi Monre tahu persis, jika anak satu ini hanya semangat di awalnya saja, kebiasaan... Ucap Monre dalam hatinya. Setelah melihat adegan Kevin dan Cahaya. Monre pun pergi menarik tangan Azura. "Ayo kita balik ke kamar..." Azura tersenyum nakal, dia malah berbalik menarik tangan Monre. "Kenapa buru-buru, aku sudah bilang akan bantu kamu, kan!" Plak, "Jangan mendramatisir keadaan Azura! Aku benar-benar membahas perasaanmu saat ini." Gadis itu menghentakkan kakinya kesal. "Kau pasti menyesal! Setelah selesai sekolah aku akan jadi gadis cantik." Monre memutar bola matanya jengah. Dia tidak berminat meladani Azura saat ini. Beberapa bulan kemudian… "Apa kau naik kelas?" Tanya Cahaya pada pemuda yang duduk di sampingnya. Monre mengangguk, "karena kamu... Terimakasih, Cahaya" "Kenapa berterimakasih padaku? Kamu tetap tidak akan bisa melakukannya tanpa dukungan semua teman kita..." Monre tersenyum dan naik ke atas kursinya. "Hoy... Terimakasih banyak yaa..." Teriaknya. Semua yang ada di kelas mengacungkan jempol dan bersorak kembali. Semua teman di kelas Cahaya dan Monre mendapatkan nilai yang baik. Setidaknya, mereka semua naik kelas dengan nilai rata tujuh. "Permisi..." Sapa Kevin. "Kevin..." Cahaya berlari mendekati pemuda itu. Seperti biasa, Monre menatap malas kepada mereka. Padahal satu jam yang lalu, Monre sedikit terharu dengan perkataan Kevin. Pemuda itu menitipkan Cahaya pada Monre. Menurut Kevin, hanya dirinya yang bisa di percaya. Setidaknya, Kevin yakin kalau tidak akan ada orang yang akan mengganggu Cahaya. Rasanya sangat senang! Monre tidak bisa mengungkap dengan kata-kata. Tapi ketika melihat mereka berdua. Rasa kesal dan pesimis Monre muncul lagi. "Teman-teman.. aku duluan ya..." "Oke..." Jawab beberapa dari mereka. Sedang yang lain hanya mengangguk. Kevin dan Cahaya pun berjalan ke arah parkiran mobil. Ya, hari ini pemuda itu membawa kendaraan roda empat. Kevin berjanji akan membawa Cahaya ke pantai hari ini. Tidak cukup waktu dua jam untuk melakukan perjalanan ke sana. "Apa Mama dan Papa tidak masalah? Mereka terlalu percaya padamu, Kevin. Terkadang aku pun tidak habis pikir dengan yang mereka lakukan." "Semua orangtua tahu yang terbaik untuk anaknya. Jangan mereasa ini tidak adil atau tidak masuk dalam pemikiran kamu. Karena orangtua tidak akan menjerumuskan anaknya." "Apa kamu mau mengatakan kalau seorang Kevin lah yang terbaik?" Kevin tersenyum "bisa jadi..." Jawabnya. Cahaya memutar bola matanya jengah. "Cepat jalan, atau kita akan terlambat sampai..." Selama di perjalanan, Kevin dan Cahaya sibuk bercanda. Mereka hanyalah sepasang remaja yang butuh pengakuan, kepercayaan dan semangat. Tidak lama, mereka pun sampai di tempat tujuan. Matahari yang akan terbenam menjadi pemandangan yang luar biasa bagi mereka berdua. "Cahaya, jangan lari." Teriak Kevin. "Ayooo..." Cahaya mengibaskan tangan agar pemuda yang sangat tampan baginya itu berjalan cepat. "Sudah berapa lama kita tidak ke sini?" Kevin menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi aku rasa cukup lama." Jawab Kevin yang mengingat kembali moment saat keluarga Cahaya dan keluarga pergi bersama. Dan itu adalah momen terindah dan terakhir yang Kevin rasakan. Tidak ada hari yang indah setelah hari tersebut. "Aku suka sekali..." Teriak Cahaya. Gadis itu sudah berlari cukup jauh. Lalu Kevin berteriak. "Cahaya... Mau jadi pacarku?" teriaknya yang membuat gadis yang sibuk berlari kala itu terdiam di tempat. Cahaya membalikkan tubuhnya. "Kamu bilang apa?" "Aku akan ke luar negeri. Apa kamu mu jadi pacarku? Aku janji akan pulang lebih cepat." Cahaya mengerutkan keningnya, Kevin menghampiri gadis yang memasang wajah cemberut itu. "Kamu mau jadi pacarku?" "Kita pacaran?" "Kamu mau???" Tanya Kevin balik pada Cahaya. "A, aku mau..." Jawab Cahaya sambil menatap wajah Kevin. Pemuda itu tersenyum lembut. Tangannya merepotkan rambut kecil di wajah Cahaya. "Kamu tidak ingin bertanya?" Cahaya tidak menjawab, dia hanya tersenyum malu. "Aku harap kamu tidak berubah, Cahaya. Tetap jadi Cahayaku, jangan berubah! Jangan sok jaim, jangan sok lembut. Kamu Cahayaku! Aku mencintai kamu apa adanya. Ini sudah lama, Cahaya..." Pipi Cahaya memerah, dia tidak bisa membendung perasaannya. Seperti ke tiban durian runtuh, gadis itu sangat bahagia. "Aku suka kamu..." Ucap Cahaya pelan. "Aku tahu..." Jawab Kevin yang kini mengangkat dagu Cahaya agar mata mereka bisa bertemu. "Ka, kamu maaau..." "Iya, aku mau yang itu... Aku mau yang kamu pikirkan sekarang." Jantung Cahaya serasa terpompa. Dia tidak bisa menahan diri, mungkin lebih baik dia tenggelam sekarang. Bunyi jantung Cahaya sangat kuat, pasti Kevin mendengarnya. Kevin tersenyum melihat tingkah Cahaya, dia tidak ingin menahannya lagi. "Cahaya.." Kevin memanggil Cahaya, dan saat gadis itu menjawab. Cup. Bibir Kevin menyentuh bibir Cahaya lembut. Perlahan bibir Kevin menghisap bibir bawah Cahaya dan melepaskannya pelan. "Kenapa berhenti?" Tanya Cahaya yang masih berdebar tidak karuan. "Aku harus menarik napas Cahaya..." Jawab Kevin yang kemudian dengan cepat meraih rambut Cahaya dan menekan kepalanya agar bibir mereka berdua semakin dalam. Cahaya memejamkan matanya, dia tidak percaya hari ini terjadi dalam hidupnya. Gadis itu sangat bahagia, hingga lupa jika Kevin akan pergi jauh dalam beberapa Minggu ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD