Bab 22. Pencarian

1005 Words
Menjadi orang paling sial di muka bumi ini adalah tanggapan yang paling mendasar bagi Kevin. Dia merasa tidak ada gunanya jika terus mendesak keadaan untuk menjadi lebih baik pada keluarganya. Kevin sebenarnya tidak pergi ke luar negeri untuk bersekolah, pemuda ini kehilangan sang Mama yang selama ini berada di sisinya. Kevin sengaja tidak memberitahukan siapapun karena tidak ingin merepotkan. Satu hal yang pasti dalam keadaan ini, mamanya tidak akan pernah sengaja untuk meninggalkan sendiri dirinya. Tidak Kenapa bagi Kevin jika tidak bertemu dengan Cahaya saat ini, dia benar-benar harus mencari sang Mama ke lubang semut sekalipun. Kevin pun menyiapkan semua peralatan dan melihat kartu ATM yang selalu di berikan untuknya untuk berjaga-jaga. Dia juga melacak kapan terakhir keberadaan sang Mama bisa di deteksi, karena jika mereka pintar maka tidak mungkin ponsel mamanya akan terus aktif. Setelah beberapa jam perjalanan Kevin sampai di sebuah kota kecil yang berada tak jauh dari lepas pantai, di sini adalah tempat terakhir dia mendeteksi keberadaan sang Mama. "Tempat apa ini? Kenapa terlihat sangat aneh?!" Tanpa sadar drone yang dia gunakan menangkap sebuah pintu yang menghadap pantai dan terlihat sangat asing. "Aku sangat penasaran, apa ini sebenarnya? Mereka membuat pembangunan dengan pintu yang menghadap ke lepas pantai. Ini sangat aneh di saat tidak ada perusahaan di sekitar sini, aku mencari jalan masuknya!" "Ehm, tentu saja dan itu wajib denganku!" Kevin berbalik dan terkejut melihat sahabatnya di sana, "Cahaya, kenapa kamu di sini?!" Dia melihat di belakang gadis itu ada Monre juga. "Kalian kenapa berada di sini?!" Dia penuh tanya dan sangat penasaran. "Kenapa memangnya?! Bukankah kita teman?! Kenapa kamu tidak mengatakan padaku jika terjadi sesuatu pada tante Ella! Aku juga bisa membantumu Kevin, apa selama ini kau hanya menganggapku sebuah beban. Padahal aku punya banyak ide dan rencana di dalam otak kecil ini." Kevin rasanya tidak bisa berkata apapun karena percuma jika melawan pembicaraan ini. Dia menghela berkali-kali, apalagi saat melihat Monre tertawa terbahak-bahak. "Begini saja, sebaiknya kalian pulang bersama! Aku bukan sedang main-main dan tidak ingin diganggu, bukan karena kau merepotkan Cahaya. Tapi aku sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada kalian, ini adalah masalah keluargaku dan aku tidak ingin merepotkan siapapun." Cahaya menggeleng, "Aku tidak yakin tentang ini! Tapi kita teman dan aku tidak mungkin membiarkan mau sendirian, setidaknya kami akan mati bersamamu jika terjadi sesuatu." Monre yang melihat Kevin kini membulatkan matanya langsung tertawa terbahak-bahak. Kevin berusaha untuk tenang karena melihat wajah serius Cahaya. Dengan meremas kedua pundaknya, Kevin berkata dengan jelas. "Hey, Kenapa kau mengatakan sesuatu yang sangat buruk?! Jika kita sedang melakukan hal sulit sebaiknya berdoa, bukan mengatakan hal-hal buruk." Cahaya yang baru saja menyadarinya melipat kembali bibir, dia mengatupkan kedua tangan memohon ampun kepada Kevin. "Karena sudah mengatakan sesuatu yang tidak baik, aku minta maaf padamu Kevin. Aku benar-benar ingin membantumu dan mencari tante Ella, selama ini beliau sangat perhatian kepadaku. Please, jangan sampai meninggalkan aku seperti tadi!" Melihat kebelakang dan ada Monre di sana, Kevin ingin meminta penjelasan tentang ini. "Kenapa ada pemuda itu di sana?! Kamu juga mengajaknya datang kemari?! Dia baru sembuh Dan bagaimana aku bisa bertanggung jawab kepada orang tuanya bila sesuatu yang buruk terjadi?! Ayolah, kalian tidak tahu apa yang sedang aku hadapi. Aku mohon pergi dari sini, aku akan mengatasinya kalian tenang saja." Monre melihat Cahaya murung kini mencoba bicara pada Kevin yang sejak tadi marah-marah. "Aku datang ke sini karena kamu sudah membantuku, apa salahnya jika aku ingin membalas Budi. Kamu bahkan sudah mau menyelamatkan orang yang paling aku cintai di dunia ini. Sekarang aku akan membantumu menyelamatkan orang yang paling kamu cintai di dunia ini. Apa hal ini membuatmu marah ataupun kesal?! Aku juga ingin berguna untuk dirimu." Monre mendekat dan mengepal tinju sebagai simbol petunjuk kepada Kevin jika dirinya ingin berteman. "Apa boleh aku berteman denganmu?! Mungkin kedengaran agak lucu, aku rasa tidak bisa melepaskan kalian sebagai teman yang paling berharga." Kevin terdiam, dia tidak tahu menjawab apa saat ini. Jujur saja dia sedikit terharu, saat beberapa detik kemudian Monre dan Cahaya memeluk dirinya secara bersamaan. "Baiklah, jika kalian tidak berhenti memaksa! Tapi aku harap kalian bisa menjaga diri karena kita tidak tahu kasus ini sampai sebatas apa. Kemungkinan kita akan menyelidiki kasus yang tidak biasa, aku bisa mengatakan ini karena melihat situasi sekarang! Bayangkan saja, bagaimana bisa ada tempat dengan pintu masuk menghadap ke laut. Di sanalah tempat terakhir ponsel Mamaku tidak aktif lagi." Monre mengerti, dia sering bermain game atau yang lainnya. Lokasi saat ini benar-benar terlihat seperti teka-teki. "Bagaimana kalau kita mencoba melihat jalan masuk, aku rasa jika pintunya berada di sana pasti ada cara untuk sampai." Monre mengatakan itu pada Kevin dan menunjuk satu speed boat yang berada di samping tebing yang menjorok ke laut tersebut. "Aku bisa menggunakannya, bagaimana kalau kita coba sekarang?!" Mereka mengendap, dan menggunakan speed boat yang sepertinya tidak digunakan. Karena mereka sudah melihat di sekitar pantai tidak ada orang sama sekali. Dengan sekuat tenaga Kevin pun membuka pintu gerbang yang menjadi jalan masuk satu-satunya, dia rasa di dalam tempat ini sudah tidak ada orang lagi. Namun yang menjadi pertanyaan di dalam hatinya, Kenapa sang Mama berada di lokasi yang sangat misterius. "Cahaya, kamu ikut dengan Monre. Aku harus mengecek kesana, kalian sebaiknya mengawasi di sini." "Bagaimana kalau kita berpencar saja, supaya masalah ini cepat selesai lebih baik kita menyebar! Cahaya bersamaku ke arah sana dan kamu maju lurus sendirian. Aku yakin tentang ini, jadi sebaiknya kamu tidak bekerja sendiri. Kami datang ke sini untuk membantu ini jadi jangan membahayakan dirimu sendiri." Kevin mengerti apa yang dikatakan oleh Monre, tapi saat ini situasinya berbeda. Dia yakin ada yang lebih berbahaya di depan sana, ada sebuah rahasia yang sangat besar yang akan diungkapkan. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa, Kevin hanya yakin tidak bisa melibatkan banyak orang dalam peristiwa ini. "Aku harap kalian baik-baik saja, ayo sekarang kita melihat ponsel masing-masing. Aku ingin kalian mengatur waktu, satu jam lagi kita berkumpul di pintu ini. Apapun yang terjadi kita harus tetap kembali, kalian tidak boleh melewatkan apa yang aku katakan." Kevin tidak ingin Monre dan Cahaya celaka karena dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD