Kevin menatap Monre yang pergi begitu saja meninggalkan rumah Cahaya, pemuda itu menentang! Kevin tidak suka sama sekali. Siapapun orang yang mendekati Cahaya! Terutama laki-laki, dia benci.
‘Kreyt’
Pemuda yang sedang dalam emosi yang tidak terbendung pun membuka pintu kamar Cahaya. Dia ingin marah, tapi ketika dirinya melihat wajah gadis yang tertidur dalam damai, entah kenapa kemarahan Kevin menghilang begitu saja.
Kevin melangkah mendekati Cahaya, dia mengusap rambut gadis itu dan mengecupnya singkat, lalu berbisik “Jangan membuat aku merasa terabaikan, Cahaya...”
Cahaya yang sebenarnya hanya pura-pura tidur pun mengerjapkan mata sesaat, dia merasa tidak enak hati pada Kevin. Tapi dirinya berada dalam ketakutan, dia tidak ingin masa mudanya hancur karena salah paham. Kevin tidak mungkin berpacaran dengan itik buruk rupa seperti dirinya.
Kevin menutup pintu kamar Cahaya, gadis itu pun langsung terduduk di tempat tidurnya. Dia mengusap wajah dengan kasar sambil menghela napas berat.
“Maafkan aku, Kevin...” lirih suara itu keluar dari bibir Cahaya.
Marah, kesal... Kevin kembali ke rumahnya sambil menatap Monre yang kini sudah mendung. Hari ini benar-benar menyebalkan.
“Den...” Mbak Erisa menyapa pria yang masih menekuk wajahnya.
Dia tersenyum. “Mbak, pergilah istirahat...”
“Iya, Den! Saya pasti istirahat setelah Aden makan...”
Kevin duduk di sofa keluarga, “setidaknya aku masih punya Mbak, iya ‘kan?”
“Den, orangtua mana yang ingin anaknya tidak bahagia. Jangan berkata seperti itu, saya sedih sekali mendengarnya.”
“Mbak, saya harus bicara sama siapa kalau bukan, mbak...?”
Mbak Erisa menatap anak Tuannya dengan lembut. Dirinya masih ingat dengan jelas kebahagian keluarga ini. Semua hancur dalam sekejap mata karena nafsu setan seorang wanita yang saat ini menjadi istri Tuan Alex. Nama wanita itu, Sisilia! Dia anak bos Tuan Alex, dia juga teman semasa kuliah Nyonya Ella, Mama Tuan Kevin. Dan Nyonya Viona, ibunya Nona Cahaya.
Siapa yang menyangka semua ini terjadi, pengkhianatan yang di lakukan sahabat sendiri. Untunglah Nyonya Ella sangat baik hati dan berpikir jernih. Dia tidak meninggalkan Tuan Alex sendirian menghadapi semua ini. Karena dia tahu, jika ini adalah jebakan. Bahkan sampai saat ini, hanya keluarga ini yang mengetahui apa yang terjadi di dalamnya. Tidak satu pun oran lain yang tahu.
“Den, apapun masalahnya, Aden bisa mengatakan pada saya...” Bik Erisa berkata sambil meneruskan kegiatan mengepelnya.
Senang sekali mendengar hal seperti ini, apalagi Kevin merasa sangat tidak baik hari ini. “Aku masuk kamar, mbak!”
“Silahakn, Den!” Mbak Erisa mempersilakan Kevin.
Dari jauh, dia menatap punggung sang anak majikan. Mungkin hari ini tidak begitu bagus, bahu Kevin tampak! turun, tidak tersenyum ramah seperti biasanya.
‘Kreyt’
Dia membuka pintu kamar dengan langkah gontai. Dengan sembarangan, pria itu membuang tas basket. Dia melepaskan baju, dan celana hingga polos, berjalan santai menuju pintu kamar mandi.
‘Sraz’
Kevin membasahi tubuh dengan air hangat yang turun dari shower, tubuh Kevin yang ‘Waw’ sangat mantap. Ah, Cahaya... gumamnya sambil memejamkan mata.
Dia tidak bisa melupakan wajah Monre yang menantang dirinya. Pria itu berani sekali berkata seperti itu! Hah, dia menyukai Cahaya, bisa-bisanya! Anak nakal itu.... Kevin mengumpat lagi.
Cahaya... Kenapa? Aku harus bagaimana? Kamu Cahayaku, Cahaya Please... jangan buat aku sendirian, Kevin meremat rambutnya dengan kuat diantara jemari.
Harus berapa kali dirinya menekankan pada Cahaya, dia tidak ingin gadis itu pergi darinya, harus tetap selalu berada di sisinya. Aku tidak ingin yang lain, Cahaya... Kevin menyandarakan tubuh di dinding! Dia prustasi, haruskan semua ini berantakan karena seorang anak seperti Monre? Pecundang itu... bisa-bisanya!
Puas membasahi tubuhnya, pemuda tersebut keluar dari kamar mandi. Ala pria, dia menggunakan baju, lalu dia turun ke lantai bawah.
“Kevin...” sapa Nyonya Ella sambil mengecup Mamanya.
Tuan Alex yang ada di sana pun juga langsung mengecup kening Kevin. “Habis latihan?”
Pertanyaan Alex hanya di jawab anggukan oleh anaknya.
“Kenapa kamu cemberut saja, Kevin? Ada apa?” Ella berdiri dan duduk di samping anak tunggalnya.
Kevin menarik napas, dia malas untuk bercerita masalah pribadinya.
“Karena Cahaya?”
Ella yang mendengar pertanyaan lurus suaminya langsung menatap Kevin.
“Kalian putus...?”
“Pacaran saja enggak! Gimana mau putus, Ma... Pa...” Jawab Kevin sambil melipat tangan di d**a. “Cahaya, dia mulai punya daya tarik, ada anak nakal yang tinggal kelas, suka sama Cahaya.”
Ella dan Alex saling pandang, Mbak Erisa yang lewat pun tersenyum sambil menatap Tuan dan Nyonya. Mungkin setelah Kevin masuk kamar, dirinya akan di introgasi.
“Tenang saja, kalau kamu tulus! Cahaya enggak akan lari kemana-mana...”
“Kevin, Papa akan bicara sama Om Toro, kamu bisa bertunangan dengan Cahaya.”
Kevin mengibaskan tangan, “Jangan Pa, aku bisa sendiri! Jangan meremehkan aku...”
Ella tersenyum, “Mama senang sekali lihat kamu mulai dewasa, Kevin...”
Mereka bertiga berakhir dengan acara ngobrol santai, rasanya hal ini sangat menyenangkan. Kevin suka keadaan ini, walau sudah berpisah. Orangtuanya berkomitmen untuk tetap bersahabat, hebat sekali. Hal ini jugalah yang membuat Kevin yakin kepada Cahaya. Menikah dengan orang yang kita kenal atau sahabat sendiri, akan membuat pernikahan tidak melulu soal hati dan cinta.
‘Drdrt’
Ponsel Alex bergetar, Kevin memandang ke arah Ella, Mamanya. Mereka berdua sudah tahu siapa wanita yang menelepon itu, pasti dia Sisilia!
Alex hanya memandang ponselnya, dia tidak berniat untuk mengangkat panggilan itu.
“Angkat saja, kamu tahu Sisilia orang seperti apa! Aku tidak ingin dia menelepon ponselku, Alex!”
“Aku masuk, Ma... Pa...”
Kevin berjalan meninggalkan orangtuanya menuju kamar. Dia tidak ingin Mama bertambah sakit karena memikirkan perasaan dirinya.
Semua yang terjadi di dalam keluarganya bagaikan mimpi, Kevin tidak bisa berpikir jernih jika Sisilia merusak setiap momen manis seperti ini. Wanita gila itu sakit jiwa!
Dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua, Kevin melihat mobil papa pergi. Bahunya turun, dia kesal dengan keadaan ini. Tapi ini adalah pilihan orangtuanya. Setidaknya Dia masih merasakan keluarga yang utuh, walaupun itu palsu.
Kevin tahu, papanya sangat mencintai keluarga ini. Tapi kesalahan yang dia lakukan tidak bisa di hindari. Dirinya hanya berharap, sang papa tidak meninggalkan sang Mama.