Kevin melakukan passing dan catching dia pun melakukan dribbling. Kalau sudah masalah basket, Kevin memang luar biasa.
Dia sangat suka melakukan olahraga ini, selain itu dia melakukannya karena Cahaya yang dahulu memaksa. Gadis itu yang awalnya ingin jadi pemain basket, tapi karena dia manusia yang mudah putus asa, Cahaya terus kalah dengan keadaan.
Malas dan mudah bosan! Itulah Cahaya.
“Kevin...” teriak Wulan yang mendekati pria itu dengan riang.
Seperti biasa, dia cuek, tidak ingin memberi harapan palsu pada setiap gadis. Tapi sayangnya itu tidak mumpan di gunakan untuk mengusir gadis SMA. Karena mereka berprinsip, semakin cuek, maka semakin oke dan cool.
“Kevin, aku beli ini khusus untuk kamu...” lagi-lagi Wulan menyodori makanan pada Kevin.
Kevin mengangkat wajahnya, dan para gadis itu langsung berteriak.
“Jangan seperti ini, kalian mengganggu aku...” ucapnya sambil berlalu dari hadapan mereka.
“Ih, Kevin kenapa ganteng banget...” Teriak salah satu dari mereka.
Kevin yang mendengar itu langsung bergegas pergi, dia merapikan tas basketnya dan berjalan cepat menuju motor yang sudah dia parkirkan.
Kevin melirik ke belakang, ternyata Wulan dan geng masih mengikuti. Rasanya risih sekali, tapi Kevin tidak akan memukul anak perempuan.
Baru saja Kevin akan memakai helmnya, tiba-tiba tangan Wulan meraih kunci motor pria itu, mencabutnya dan memasukkan ke dalam saku celana.
Kevin yang melihat itu memasang wajah datar, apa segitunya dia ingin di perhatikan? Apa dia tidak pernah di ajarkan sopan santun? Dasar gadis manja... umpat Kevin dalam hatinya.
“Antar aku pulang, jadi aku bisa kasih kunci motor ke kamu...”
Sial, umpat pria itu dalam hatinya. Kalau Wulan pria, mungkin saat ini mereka sudah berkelahi. Wulan tersenyum manja, dia memancing Kevin, tapi sungguh pria itu hanya memandang jijik.
“Kamu minta perhatian? Makanya kamu bertingkah! Enggak asyik banget, kamu!” Kevin memukul tangki motor miliknya sambil berlalu meninggalkan Wulan dan geng.
Gadis itu ternganga! Dia di permalukan di depan teman-temannya. Ini adalah hal yang pertama kali Wulan rasakan, dia di campakkan. Rasanya sakit sekali!
Wulan kesal, dia menunjuk-nunjuk Kevin sambil mengumpat. Dia marah sekali, tapi masih berusaha tetap normal, gadis itu tidak ingin teman-temannya tahu sikap buruknya.
Napas Wulan terengah, dalam hati dia berjanji akan mendapatkan Kevin bagaimana pun caranya.
“Kenapa, bro?”
Kevin tersenyum saja, dia malas membahas Wulan dan geng.
“Pangggilkan tukang derek motor...” Kevin meminta tolong kepada temannya.
“Oke!”
Setelah mendengar jawaban dari temannya, Kevin pun memesan taksi online. Dia tidak ingin berlama-lama menghadapi tatapan Wulan.
Di dalam perjalanan, Kevin menatap layar ponselnya. Dia mencoba menghubungi Cahaya, entah kenapa perasaannya tidak enak malam ini.
Tidak ada jawaban, padahal ini masih menunjukkan pukul delapan malam. Kevin pun memberi kode kepada sopir taksi untuk melajukan mobilnya lebih cepat. Dia ingin melihat Cahayanya dengan jelas saat ini.
“Terimakasih, Mr!!”
Kevin turun dari taksi. Dia melihat sebuah mobil sport bertengger di depan rumah Cahaya Secara pribadi, seumur hidup pria itu, dia tidak pernah melihat mobil seperti itu datang ke rumah Cahaya.
Kevin penasaran, dia berjalan cepat masuk ke rumah Cahaya Saat dia baru saja sampai di ambang pintu, pria itu terkejut melihat siapa pemilik mobil itu.
Monre!
Pria b******k yang berani membasahi bibir Cahaya seenak jidatnya. Kevin mulai curiga, apa mungkin Monre menyukai Cahayanya.
“Kenapa kamu kemari?” Kevin menegakkan tubuh sambil melipat kedua tangan menatap ke arah Monre dan Cahaya.
Gadis itu langsung berdiri, dia berbisik pada Kevin. Bibirnya sangat dekat dengan pipi pemuda itu. Monre yang melihatnya membuang wajah ke sembarang tempat. Dia tidak ingin melihat hal yang tidak dia suka.
Melihat gelagat tidak suka Monre, sejujurnya Kevin makin curiga. Cahaya berbisik pada Kevin, dia bilang Monre datang karena mereka satu kelompok. Jadi ini bukan hal yang perlu Kevin kesalkan. Semua ini terjadi karena tugas dari guru, bukan karena Cahaya berniat sengaja ingin bertemu Monre.
Cahaya sudah berusaha keras meyakinkan Kevin, tapi pemuda itu tidak ingin menerima dengan mudah. Dia berjalan duduk di depan Monre, sambil menatap semua LKS yang ada di depan matanya.
“Kamu sengaja? Kamu hanya ingin mempersulit Cahaya Atau kamu suka sama dia?”
Cahaya menegang, dia langsung berjalan ke arah Kevin. “Apaan sih? Jangan begitu... dia teman satu bangku aku...”
“Tapi kamu tahu, kan! Seberapa nakal dia?” Tunjuk pemuda itu pada Monre yang tampak! santai.
Monre melipat tangan di d**a, dia menunggu, kapan Kevin dan Cahaya selesai bertengkar. Di depan mata Monre, dia bisa melihat jika Cahaya dan Kevin bukan sekedar teman. Pemuda di hadapannya ini menyukai Cahaya, Monre sangat yakin.
“Cahaya, kamu kemarin menangis karena di bully, kan? Apa karena kamu terlalu dekat dengan Kevin sang jagoaan kampus?”
Monre bertanya dengan suara nyaring, hingga Cahaya dan Kevin yang saat ini sedang saling singkut pun menatap ke arahnya.
“Kenapa kamu enggak bilang sama aku...?” Kevin menatap Cahaya dengan nanar. Rasanya tidak enak sekali, saat semua menjadi serba salah.
“A... aku...” Cahaya belum selesai bicara, tapi tangannya di tarik oleh Kevin, mereka berdua meninggalkan Monre di ruang tamu sendirian. “Mama, papa enggak ada di rumah, aku enggak mau kamu masuk kamar aku, Kevin...”
Pemuda yang sedang kesal itu tidak menerima perkataan apapun dari Cahaya, dia mendorong gadis itu masuk ke kamarnya, lalu mengunci dari luar. Kevin pun kembali pada pemuda sialan yang menjadi tamu hari ini.
Dengan melipat kedua tangan di dadanya, Kevin berkata “Apa yang kamu inginkan sebenarnya...? kamu suka Cahaya...? benar, kan!”
Monre pun berdiri, dia berjalan ke arah Kevin dengan angkuh. “Iya, aku suka dia, setidaknya dia bisa aku manfaatkan untuk mengerjakan semua PR. Lagi pula, aku suka dia atau tidak, itu bukan urusan kamu! Yang harus kamu pahami, kamu adalah orang yang membuat Cahaya dalam kesulitan. Jangan pura-pura mengerti, kamu tidak akan bisa menjaganya berjam-jam di sekolah, kamu siswa favorit, bukan! Mana ada waktu mengurus Cahaya. Jadi gadis itu, biar aku yang jaga.”
Kevin mengepalkan tinju, dengan kesal dia berteriak. “b******k!”
“Ups, kamu tidak cukup kuat untuk melawan aku, kawan...”
Monre menahan tinju Kevin dengan tangannya. Pemuda itu terdiam, ternyata Monre tidak semudah yang dia pikir.