Kevin masuk ke kamar Cahaya, di ikuti oleh pemilik kamar. Tanpa malu dan ragu DIA membuka baju, hingga otot perut pemain basket menyembul. Aduh, Cahaya benar-benar malu dan bernafsu padanya. Bohong sekali jika Cahaya tidak menyukai Kevin, kalau di bariskan, dia adalah fans fanatik garda depan.
Tapi dirinya sadar diri, jika bersaing dengan fans Kevin yang lain, maka dia hanyalah sebatas debu yang hinggap. Belum lagi Wulan yang jelas primadona sekolah! Siapa yang bisa melawan kecantikan dirinya.
“Kamu kenapa menung?” Kevin yang selesai mandi kini berdiri di hadapan Cahaya dengan sebuah handuk kecil melilit. Entah Mama macam apa yang tega membiarkan anak gadisnya bersama pria seperti Kevin.
Cahaya berdiri dari duduknya, dia tidak menjawab pertanyaan Kevin. Rasanya malas sekali saat ini.
“Cahaya...” Kevin meraih tangan Cahaya yang hendak pergi dari hadapannya. “Kamu menghindar?”
“Kevin, aku sudah besar! Kita berdua sudah dewasa, masa kita begini terus! Aku bisa hamil sekarang... kita bukan anak-anak lagi. Aku juga heran sama mama, kok bisa-bisanya biarkan kamu mandi di kamar aku...”
Kevin menatap wajah Cahaya, dia melihat gadis di hadapannya ini sudah berubah. Cahaya paham, Kevin selalu tidak suka jika dia membicarakan ini. Tapi mau bagaimana pun, tetap saja semuanya harus saling jaga diri.
Cahaya sudah mendekati pintu kamar mandi, tapi tubuhnya di tarik lagi oleh Kevin hingga terjatuh di kasur. Kevin yang menindih tubuh Cahaya, tidak melepaskan pandangannya. Dia mengurung gadis itu dalam pelukan.
“Jangan cuek sama aku, jangan begini, Cahaya...”
Suara Kevin terdengar lirih, dia tidak bisa melihat Cahayanya berubah, dia ingin gadis yang selalu manja dengannya.
“Kevin, aku enggak mau di bully terus! Aku ingin kehidupan normal, aku enggak mau menderita karena kamu.”
Kevin mengerutkan kening. “Karena aku...? yang benar saja! Aku bukan orang yang menginginkan siapapun melukai kamu...”
Cahaya menggeleng, “pada akhirnya, kamulah orang yang membuat aku di teror habis-habisan. Aku menderita setiap jalan sama kamu.”
Marah, kesal, sakit!
Kevin berdiri melepaskan Cahaya, lalu dia berjalan mengenakan pakaiannya. Cahaya yang ada di sana, langsung menutup mata. Dia tahu, Kevin gila sengaja mempoloskan diri saat berganti pakaian di hadapan dirinya.
Setelah mengenakan celana dan dan baju basketnya, Kevin beranjak dari kamar Cahaya tanpa bicara. Ada rasa menyesal gadis itu di hatinya, Kevin pasti marah sekali saat ini.
Tapi Cahaya ingin Kevin membuka mata lebar-lebar. Dekat dengan dirinya adalah petaka bagi Cahaya.
Kevin menuruni anak tangga, di sana sudah ada Om dan tante, orangtua Cahaya. Kevin menyalami dan duduk di meja makan.
“Tante, Om... kalian enggak akan ingkar janji, kan! Aku benar-benar ingin menikah dengan Cahaya.” Kevin berkata sambil mengoles selai di rotinya.
Papa Cahaya tersenyum sambil menatap Kevin, dia pun berkata dengan lembut. “Kevin, semua tergantung kamu dan Cahaya, Om harap kalian tetap sama, saling membutuhkan. Om dan Tante tahu, kamu sangat sayang Cahaya, tapi hidup perjalanan waktu. Kita tidak tahu kedepannya, bisa saja kamu mendapatkan wanita lain yang kamu cintai.”
Kevin menggeleng, dia mengangkat wajahnya. “Om sudah janji sama aku, jangan pernah ingkar janji. Aku juga sama, selama ini, aku enggak pernah turun dari juara satu.”
Mama Cahaya berjalan mendekati, dia mengusap kepala anak itu sambil tersenyum. Mama Cahaya teringat kejadian sewaktu mereka duduk di kelas empat sekolah dasar. Kevin tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa dia akan menjadi suami Cahaya.
Awalnya wanita itu pikir, ini hanya sebuah pemikiran anak kecil. Tapi Kevin benar-benar melakukan semua syarat yang dia dan suami inginkan. Jadi saat ini mereka mendukung apapun yang Kevin lakukan, toh Cahaya juga menyanyangi Kevin.
Orangtua Kevin pun sangat setuju dengan keinginan anaknya. Semua ini hanyalah persoalan waktu, semoga semua berjalan sesuai dengan keinginan semua orang, mendatangkan kebahagian, tidak ada yang tersakiti.