Bab 6.

1001 Words
“Kenapa kamu, Cahaya?” cetus Kevin tergesa meletakkan helmetnya melihat Cahaya yang menurutnya ingin muntah. “Hei!” gumam Kevin tak mendapat jawaban. “Kevin rese! Kamu pengin buat kita mati muda bawa motor seperti balapan tadi?” omel Cahaya sambil menatap kesal Kevin yang hanya tersenyum. “Ya ampun Cahayanya Kevin, maaf ya. Kalau tak ngebut kita bisa terlambat sampai di sekolah!” bela Kevin memberikan alasan kenapa ngebut di jalanan. “Kalau kita mati bagaimana? Kalau ditilang bagaimana?” oceh Cahaya kesal melihat wajah Kevin yang malah terkekeh. ‘Cup Cup Cup’ “Maaf ya, besok tak diulangi lagi deh. Ayo kita minum! Kasihan banget kesayangan aku cengap-cengap!” decak Kevin yang menurut Cahaya terkesan sebuah ejekan. “Tak mau!” tolak Cahaya tegas. “Aku yang bayar!” sahut Kevin cepat. “Plus bakso dan es jeruk untuk nanti siang!” tawar Cahaya naik banding. “Gampil, cantik. Ayo!” ajak Kevin kembali menggandeng tangan Cahaya. Berjalan dengan tangan bertautan, banyak pasang mata yang melihat, dan tak jarang yang berbisik layaknya lambe-lambean. Tentu itu hal aneh karena seorang Kevin yang dikenal tampan, pintar, dan kaya raya terlihat menggandeng seorang siswi super cupu. Cahaya yang merasa risih berusaha melepas tautan tangan Kevin, tapi tak bisa, dan justru semakin erat ketika langkah keduanya mendekati area kantin yang terlihat ramai. “Ada Monre tuh! Sengaja ah!” Kevin terus menggandeng tangan Cahaya seolah takut lepas, sedangkan Cahaya tentu sudah berusaha untuk melepaskan tautan tangan Kevin yang nyatanya semakin erat. Kevin yang tak memiliki urat malu berbanding terbalik dengan Cahaya yang sudah sangat malu karena bergandengan tangan di area sekolah. Beberapa murid yang sudah sadar akan kedatangan sang Most Wanted ke kantin, tampak! mulai berkasak-kusuk. Hal tersebut tentu dirasakan oleh Kevin yang tahu jika banyak para siswi yang ngefans dengannya. “Kevin, lepas gak!” geram Cahaya sambil menggerakkan tangannya agar terlepas. “NO!” sahut Kevin tanpa menoleh dan semakin tebar pesona berjalan layaknya playboy cap kodok. Cahaya semakin diseret oleh Kevin yang terlihat percaya diri, hingga keduanya tiba di dalam kantin yang mendadak sepi. Padahal, suasana kantin sangat ramai karena para murid yang sibuk dengan sarapan. Di sudut kantin, terlihat Monre bersama kedua sahabat setongkrongannya menatap tajam ke arah Kevin, di mana matanya menangkap jelas jika Kevin sedang menggengam tangan Cahaya. “Mendadak serangan jantung kalau begini!” gumam Monre cukup kuat. Zamren dan Lion yang mendengar gumaman Monre saling melirik, kemudian beralih menatap Monre yang ternyata tengah memperhatikan Kevin yang sedang duduk bersama sang cewek cupu nomor urut 1 se-SMA Jiwel. “Kamu ada masalah dengan Kevin, Lang?” kata Zamren sesaat melihat apa yang menarik perhatian Monre sejak tadi. “Lo tahu namanya?” sahut Monre cepat. “Siapa sih yang tak tahu dia, seantero jagat sekolah pada gosipin dia yang jadi primadono di sekolah. Gue dengar info, selain ganteng dan pintar, dia juga kaya raya!” beber Zamren menjelaskan fakta yang sudah dia temukan sejak hari pertama Kevin masuk sekolah. Zamren memang paling cepat untuk mengorek informasi layaknya Detektif Conan, terlebih lagi rupanya dia sekelas dengan Kevin. “Sekaya kita gak?” sambung Lion mulai nyinyir. “Besok kutanya Bursa Efek Jakarta dulu, dia punya saham di sana atau tidak!” sahut Zamren dengan wajah jengkelnya dan hanya direspon kekehan oleh Lion. “Kamu ada masalah dengannya, Kevin?” tanya Zamren. “Awalnya tidak, tapi kemarin dia tiba-tiba menyerangku dari belakang hingga terjatuh!” sahut Monre mengingat kembali hari di mana dia tersungkur karena diserang oleh Kevin sang cowok ganteng nan pintar. “O, yang masalah kemarin itu?” timpal Lion cepat. Monre menoleh pada kedua sahabatnya dan mengangguk. Masih Monre ingat dengan jelas kejadian di mana dia tersungkur ketika bersama teman sebangkunya yang super cupu itu. Tak tahu apa sebabnya tiba-tiba dia diserang dan sialnya ketika ingin membalas malah mengenai Cahaya hingga giginya tanggal. Alhasil, hingga saat ini, Cahaya masih marah dengannya. “Iya.” Ketiganya hening sambil mata fokus memperhatikan di mana Kevin dan Cahaya sedang duduk berhadapan. “Terus, si cupu itu namanya siapa?” ucap Zamren setelah meminum s**u coklatnya. Dengan cepat, Monre memutar kedua bola matanya ke arah Zamren, lalu menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. “Gak tahu!” beonya kemudian membuat Zamren dan Lion menghela nafas kesal. “Kemarin kamu bilang dia teman sebangkumu, tapi sekarang bilang tak tahu siapa namanya. Kamu tak geger otak ‘kan, Lang?” cicit Zamren mulai terpancing dengan ulah Monre yang sering kumat otak dengkulnya. “Aku panggil dia Cupu. Tak minat aku kenalan dengannya. Dia jelek!” ungkap Monre penuh hinaan. Zamren dan Lion menganga tak percaya dengan kalimat menyakitkan yang dilayangkan Monre barusan. Selain memang terlihat cupu akut, teman sebangku Monre memang tak ada lebihnya sama sekali. Jauh dari kata modis apalagi sexy seperti geng Wulan. Wulan Puspita Hapsari, dia murid paling cantik di SMA Jiwel. Dia kelas 11 di atas Kevin juga Monre yang seangkatan. Selain cantik, Wulan memang pintar juga anak orang kaya dan termasuk pentolan di sekolah. Banyak kakak dan adik kelas yang berbondong-bondong mengatakan cinta, tapi ditolaknya menatah-mentah. “Hati-hati, Lang. Nanti kelamaan duduk sebelahan, kamu bisa jatuh cinta dengan si cupu itu!” ucap Lion mengingatkan. “Kamu mendoakan atau memberi sumpah, Bum?” sahut Monre kesal. Zamren dan Lion hanya terbahak melihat kekesalan Monre yang dilecehkan. Namun, perlahan pandangan Monre kembali tertuju pada Kevin dan Cahaya yang terlihat beranjak meninggalkan kantin. Tak luput dari pandangan Monre, jika tangan kiri Kevin kembali meraih tangan Cahaya dan melenggang meninggalkan kantin bersamaan siswa lain karena jam masuk akan segera dimulai. “Jantungku kenapa Tuhan?” dumal Monre dalam hati merasakan sesak di d**a melihat Kevin menggandeng tangan si cupu yag tak disukainya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara instrumen musik yang bisa didengar oleh siapa pun yang berada di sekolah tersebut. Itu adalah pertanda jika jam pelajaran sudah dimulai. Sekolah ini tidak menggunakan suara bel pada umumnya yang sering diketahui, akan tetapi menggunakan intrumen musik sebagai pengganti suara bel yang sudah kuno itu, dan diputar selama lebih kurang 1 menit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD