Bab 7.

641 Words
Bel sudah berhenti, para murid sudah memasuki kelasnya masing-masing. Kevin dan Cahaya ada di kelas yang berbeda, tapi bersebelahan. Tepatnya, Kevin di kelas A, sedangkan Cahaya di kelas B. Sambil menunggu para pengajar masuk, terlihat para siswa asik mengobrol dengan teman sebangku atau sebelahnya. Bahkan, ada siswa yang memukul-mukul meja sambil bernyanyi riang mengumandangkan lagu yang sedang trend di kalangan remaja. Sedangkan Monre, duduk tegap sambil melirik Cahaya yang sedang sibuk membaca buku di sampingnya. Matanya mengintip sedikit apa yang sedang Cahaya baca. Merasa sedang diperhatikan, Cahaya melirik tajam Monre yang langsung berpura-pura tak melihat, dan membuat Cahaya berdecih. “Jangan suka mengintip! Nanti matamu bintitan!” sindir Cahaya ketus tak suka dimata-matai oleh anak yang tempo hari mengatakannya jelek. “Dih, siapa yang mengintip? Kepedean kamu!” jawab Monre lebih ketus membuat Cahaya semakin kesal. Keduanya saling berpaling muka. Bahkan, Cahaya sedikit menggeser kursinya agar lebih jauh dan tak bersenggolan dengan Monre, baik sengaja atau pun tidak. Jujur saja, Cahaya masih sangat kesal dengan Monre. Dialah penyebab taring cantik nan berharga mliknya copot dan jatuh mengenaskan. Cahaya sudah berjanji tak akan pernah melupakan siapa orang yang sudah merenggut taring kebanggaannya itu. Tapi, ada sedikit yang mengganjal di hati Cahaya, tentang apa penyebab Kevin tiba-tiba melayangkan pukulan pada Monre. Apakah mereka musuh? Semenit kemudian, terlihat seorang pria masuk ke ruangan membawa buku di tangannya. Dia adalah Guru Sejarah, namanya Mr Baronais. Usianya masih muda sekitar 30 tahunan dan belum beristri. Beredar kabar, jika Mr Baronais baru saja batal menikah karena sang calon istri kedapatan sedang selingkuh dengan mantan pacarnya dulu. Kasihan. Para siswa mendadak tertib ketika Mr Baronais melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Meletakkan bukunya ke meja, Mr Baronais menatap semua para siswa seolah sedang menghitung jumlahnya, hingga tangannya mengambil sebuah buku yang tak lain adalah daftar nama para siswa di kelasnya sekarang. “Kita absen dulu!” ucap Mr Baronais memulai. Semua hening, satu demi satu, Mr Baronais mengabsen nama siswa dan dijawab suara kencang diikuti gerakan tangan kanan Mr Baronais yang memberi tanda pada buku. “Ziwa?” “Hadir!” “Airin?”” “Absen, Mr!!” seru ketua kelas yang bernama Imam. “Kenapa absen?” tanya Mr Baronais. “Katanya sakit perut, Mr!!” jawab Imam berdasarkan info yang didapatkannya dari lewat pesan elektronik. “Besok serahkan surat dokternya, jika tak ada dianggap Alpa!” sahut Mr Baronais tegas yang memang sangat disiplin jika menyangkut kehadiran anak didiknya. “Baik, Mr!!” jawab Imam lugas. “Lanjut. Melani?” “Hadir!” “Cahaya?” “Hadir!” ‘Deg’ Seketika, d**a Monre berdetak kencang. Tanganya terangkat menyentuh dadanya. Matanya perlahan melirik ke arah Cahaya yang kembali fokus mendengarkan Mr Baronais yang sedang mengabsen. Tanpa diketahuinya, Monre tengah menyunggingkan senyum melihat Cahaya yang tak mempedulikannya. “Cahaya.” Sepanjang jam pelajaran, tampak! Monre sering mencuri pandang ke arah Cahaya yang dengan serius menyimak. Terkadang, Monre menyunggingkan senyum aneh melihat Cahaya yang tak sedikit pun menganggap dia ada di sampingnya. Namun, Monre masa bodo dengan hal itu, dia hanya penasaran saja dengan anak cupu yang duduk di sebelahnya, dan entah mengapa harus dia yang sebangku dengannya. Padahal, masih banyak murid lain yang lebih cocok duduk dan berteman dengan si cupu. Begitulah kira-kira yang Monre pikirkan saat ini. Di sela pikirannya yang sejak tadi tak fokus, tak terasa bel bunyi pertanda kelas Mr Baronais harus berakhir. Bersorak sorai, para siswa kembali gaduh ketika Mr Baronais meninggalkan ruangan kelas. Sedangkan Cahaya, tampak! memberi tanda batasan pada materi yang disampaikan tadi, lalu menutupnya, dan memasukkan ke dalam tas yang dia simpan di laci meja. “Jadi nama kamu Cahaya?” suara Monre tiba-tiba terdengar. Cahaya tetap fokus memasukkan buku ke dalam tas dengan rapi, lalu memasukkannya pelan ke laci meja. Dengan setia Monre menunggu suara Cahaya yang belum menyapa telinganya. “Kamu tuli?” ucap Monre lagi tak sopan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD