Bab 8.

790 Words
Setelah selesai, Cahaya langsung melirik Monre yang sejak tadi menatapnya aneh. Tentu Monre merasa aneh dan belum terbiasa melihat setiap detik penampilan Cahaya yang benar-benar cupu dan tak ada bagus-bagusnya. “Anggap aku tuli dan jangan bicara denganku!” jawab Cahaya dengan wajah kesal. “Aku tak ingin bicara denganmu. Aku hanya baru tahu kalau orang cupu sepertimu memiliki nama!” timpal Monre dengan kalimat pedasnya seperti biasa. “Aku juga baru tahu kalau orang kejam sepertimu memiliki nama yang sama sekali tak cocok dengan perilakumu yang kejam!” balas Cahaya tak kalah pedas. “Apa maksudmu kejam?” tanya Monre tak terima dibilang kejam oleh Cahaya. “Kau itu kejam. Kau memukulku hingga taring kebanggannku tanggal. Kau itu jahat dan tak berperasaan!” ketus Cahaya yang masih menyimpan amarah pada Monre karena taringnya. “Aku ‘kan sudah minta maaf untuk masalah taringmu itu. Kamu saja yang berlebihan masih mengingatnya. Atau jangan-jangan, kau sengaja berpura-pura marah padaku agar aku terus merayumu seperti di komik-komik!” tuduh Monre yang semakin melantur. “Kamu itu cewek jelek dan jangan pernah mimpi aku akan suka denganmu!” tegas Monre dan langsung bangun dari duduknya meninggalkan Cahaya yang sudah kesal hingga ubun-ubun. Sambil terkekeh, Monre keluar kelas menyambut kedua temannya yang menunggu dengan setia di ambang pintu dan berlalu. Menahan kesal, Cahaya merobek selembar kertas sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Sial baginya. Sudah pusing karena Kevin yang selalu mengganggunya setiap waktu, dan kini Tuhan mengirimnya lagi sosok setan di kelas yang membuat hidupnya semakin kacau balau. Pertukaran mata pelajaran diselingi istirahat 10 menit. Di saat yang lain menyempatkan diri untuk ke kantin, Cahaya tak ada niat sedikit pun untuk keluar kelas bahkan ke toilet. Hanya ada beberapa siswa yang tampak! berbincang dengan temannya, berbeda dengan Cahaya yang duduk sendiri. Tak ada yang ingin berbincang dengannya. Dengan langkah gontai, akhirnya Cahaya melangkahkan kakinya untuk menuju toilet karena mendadak ingin pipis. Melewati kelas Kevin, tak terlihat ada di dalamnya. Menghela nafas lelah, Cahaya berjalan menuju toilet yang ada di ujung lorong. Setelah selesai dengan urusannya, tangannya baru saja menyentuh gagang pintu, tapi tertahan karena mendengar sekelompok orang yang menyebut nama Kevin. “Lan, kamu yakin ingin dekati si Kevin itu?” ucap suara seseorang begitu jelas terdengar. “Yakinlah! Dia itu ganteng, pintar, dan juga kaya sama sepertiku. Dengan kata lain, kami itu selevel!” sahut suara lain yang merupakan pemilik nama Lan itu. “Tapi dia lebih muda, kamu suka yang mudaan?” timpal suara lainnya. “Beda setahun tak masalah asalkan bukan seumuran papaku!” sahutnya yakin diikuti kekehan. Di dalam bilik toilet paling ujung, Cahaya diam menyimak setiap pembicaraan mereka layaknya sedang menguping, hingga suasana toilet mendadak hening karena mereka telah pergi bersamaan bel masuk yang berdering. Perlahan, Cahaya mendorong pintu dengan kepala masih menelisik untuk memastikan jika hanya dia yang berada di toilet. “Aman!” gumamnya pelan. Perlahan dia melangkahkan kakinya keluar toilet dan menelusuri lorong sekolah untuk menuju kelasnya. Beberapa guru terlihat keluar untuk menuju kelasnya masing-masing, hingga langkah Cahaya terhenti ketika ada suara yang memanggilnya dari belakang. “Kamu dari mana, Cahaya, aku cariin sampai jereng?” Suara yang tentu sangat dikenal Cahaya karena itu suara Kevin. Cahaya menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menatap Kevin yang berjalan menghampirinya. “Kevin!” seru Cahaya melihat Kevin dengan wajah kesalnya. “Kamu dari mana, Cahaya? Sejak tadi aku mencarimu!” tanya Kevin setelah berdiri di hadapan Cahaya yang tak menduga jika Kevin mencarinya. “Aku dari toilet!” jawab Cahaya singkat. “Ada apa denganmu?” tanya Kevin yang melihat raut wajah Cahaya yang tak seperti biasanya. Tentu Kevin merasakan ada hal yang disembunyikan Cahaya kepadanya. Pasalnya, Cahaya terlihat seperti gugup bertemu dengannya seolah ada yang ingin dia katakan, tapi tertahan sesuatu yang tak diketahui Kevin. “Aku tak apa-apa, Kevin! Aku hanya dari toilet. Kamu kenapa belum masuk?” tanya Cahaya mencoba mengalihkan. “Hadeuuu kesayangan Kevin yang mendadak lemot, aku mencarimu sejak tadi. Sekarang malah bertanya balik. Ayo kita masuk!” ajak Kevin langsung menarik tangan Cahaya dan mengantarnya sampai depan kelas, beruntung Mr! guru belum datang. “Sudah sana masuk!” perintah Kevin dan langsung diangguki Cahaya. Kevin tak segera beranjak ketika Cahaya memasuki ruang kelas karena memastikan jika Cahaya benar-benar duduk di kursinya dan tak pergi lagi. Tak dapat Kevin pungkiri, jika dia merasakan sesuatu yang janggal pada tingkah laku Cahaya barusan, dan cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang, tandanya jam sekolah telah usai. Di dalam kelas, Kevin nampak memasukkan semua buku miliknya ke dalam tas ransel berwarna hitam. Setelah selesai, Kevin dengan cepat keluar kelas untuk menemui Cahaya di kelas sebelah, tapi baru saja langkahnya beranjak dari pintu kelas, terdengar suara yang memanggil namanya. “Kevin!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD