Beberapa menit kemudian dokter yang Elvan panggil datang, untung Elsa masih bisa terlihat natural pingsannya. Jadi detak jantungnya yang cepat disangka jantungan, padahal dia sedang nervous takut ketahuan.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan anamnesis, dokter itu menyebutkan kemungkinan Elsa pingsan karena penyakit asam lambung yang dimiliki sang sadis, syok dan dehidrasi pula.
Ya memang Elsa kurang minum, punya riwayat maag dan syok abis jadi sasaran tembak sih. Ditunjang dengan kenyataan penderitaannya jadi dikira pingsan beneran.
Untuk melancarkan aksi agar terlihat lebih nyata, Elsa pura-pura membuka matanya perlahan. Dia pun melirik pertama kali pada dokter Sony, dilanjutkan melirik Elvan. Gerak tubuh Elsa juga dibuat pelan, dia mengusap kepalanya pura-pura merasakan kepalanya berat.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya dokter Sony pada Elsa. Pria ini ternyata masih muda. Elsa sempat terpana melihat ketampanannya.
"d**a, kepala dan perutku sakit." Nada suaranya juga dibuat lemas, pinter banget ngibulin orang.
"Kami akan siapkan makanan untukmu. Beristirahatlah." Tampaknya orang ini baik, tidak dingin dan menyeramkan seperti Elvan. Si Elvan emang cowok langka dan aneh, heran Elsa dibuatnya.
"Terima kasih!" ucapnya lirih menggunakan nada suara begitu pelan.
Dokter Sony pamit setelah meresepkan obat. Dalam beberapa menit datanglah seorang maid yang membawa semangkuk bubur, buah-buahan yang telah dipotong dan segelas minuman.
Elsa ingin makan, tapi dia canggung karena di situ ada Elvan. Kenapa pria itu tidak keluar-keluar. Mana tatapannya begitu tajam, Elsa jadi merasa terintimidasi.
Elvano memperhatikan Elsa, siapa tahu gadis ini berbohong, jadi dia di situ sengaja ingin memperhatikan, kalau orang sakit beneran tidak akan sanggup makan sendiri.
"Mengapa melihatku seperti itu?" tanya Elsa sambil melirik sinis. Dia mengubah posisinya menjadi duduk dan gerakannya begitu pelan-pelan.
"Tidak apa-apa." Bahkan jawabannya saja sinis sekali, tidak bantu anak orang duduk kek.
"Kenapa tidak keluar?" tanya Elsa lagi sambil menghela napas, pura-pura lega bisa duduk.
"Ini kamarku." Masa yang punya kamar diusir sih, Elsa ini cemaneu, Elvan bebas mau melakukan apapun di rumah ini, dia rajanya.
"Eh iya." Dia sampai lupa. Elsa pun pura-pura lemas ingin meraih mangkuk makanan.
Elvan memperhatikannya kasihan, terlihat seperti orang sakit sekali. "Kamu bisa makan sendiri atau mau saya suapi?" Akhirnya dia berniat membantu juga, berarti masih berhati baik.
Elsa yang tengah meneguk air pun sampai tersedak. "Uhuk-uhuk. Apa kamu bilang? Suapi? Tidak-tidak, tidak usah. Aku bisa makan sendiri, tolong pergi saja, biarkan aku sendiri." Mana mungkin dia disuapi Elvan, yang ada bikin grogi shay, harus lanjut pura-pura pula. Capek akting lama-lama, Elsa kan pecicilan, harus kalem begini bukan stylenya.
Beberapa jam kemudian Elsa ingat dia ada janji. Kerja oi, di Amrik bukan buat liburan. Dia lupa kalau hari ini akan bertemu seseorang.
Ponsel Elsa pun berdering, panggilan masuk bukan dari mitra bisnis, bukan dari Angel juga. Saat Elsa baca nama kontak ini bikin kejut jantung.
Elgio, siapa lagi. Dia kan diutus Mami Arisa untuk menemui Elsa di Amerika, memastikan sang adik baik-baik saja di new York karena hilang kontrak selama lebih dari satu hari. Ibu mana yang tidak khawatir anak gadisnya sendirian di negri orang.
"Elsaaa …." Suara serak nan nyaring membuat gendang telinga Elsa berdengung. Elgio lelah selama perjalanan jauh ke sini tapi dia semangat mencari adiknya, dicari sama sini Elsa tidak ada, ya sudah dia menelpon Elsa saja, untungnya aktif.
"Dimana lu? Ditelponin mami ga diangkat-angkat, di w******p ga dibales-bales, dicariin kemana-mana ga ada. Lo kenapa ga di hotel sekarang hah?" Bawel sekali kakak yang satu ini kenapa memborong pertanyaan begitu banyak, kan bikin Elsa bingung jawab yang mana dulu.
"Duh nanyanya kebanyakan, bisa nggak satu-satu aja?" Protes gadis ini sambil duduk di tepian ranjang Elvano, pria itu tidak pernah membagi kasurnya dengan siapapun, meskipun dengan jalang pemuas ranjang sekalipun, pasti di tempat lain.
"Enggak bisa." Tidak sabaran, habisnya El sedang lelah, dia selonjoran di lobi hotel tempat Elsa tinggal.
"Pokoknya gak bisa, gue sekarang ada di hotel buat nyariin lo, tapi lo nya malah nggak ada." Jelas Elgio kecewa dan berpikiran buruk. Mana si Pink sedang tidak bisa diandalkan. Biasanya Pink cepat kalau disuruh cari orang.
"Hah hotel?" Elsa semakin tercengang, mana dia sedang di mansion Elvan, lumayan agak jauh ke hotel.
"Iya hotel tempat tinggal lo. tau enggak sih, Mami mengutus gue buat datang ke sini jauh-jauh ninggalin istri buat mastion anak gadisnya nggak kenapa-napa sendirian di Amerika." Mami Arisa kan heboh, sedihnya luar biasa Elsa hilang kontak, dikira pesawatnya jatuh, atau Elsa diculik, atau Elsa ditabrak, atau Elsa dibawa Kunti, eh ga ada Kunti di New York deng, hantu sana pokoknya apa, bapak kayaknya.
"Gue enggak kenapa-napa kok, Kak. gue lagi sibuk ini lagi di luar, makanya ga ada di hotel." Kalau sebut ada di mansion cowok bisa Elgio gantung di Elsa, kan katanya jomblo, kok mau juga diajak bobok di mansion cowok asing.
Biar kata kakak-kakak Elsa sibuk dan terlihat cuek, lu-lu gua-gua, tapi mereka aslinya baik dan perhatian, dari jauh memperhatikan Elsa dan melindunginya bagaikan vas bunga antik yang harganya mahal, tidak boleh retak apalagi rusak dipegang sembarang orang.
Kalau tahu diculik Elvano bakal lebih marah lagi, bisa-bisa Elgio mendadak jadi pegulat, menghajar Elvan sampai babak belur.
"Buruan lo balik sekarang juga, bukannya lo ada jadwal kerja sekarang ya dan lokasinya juga di hotel ini?" Mendadak Elgio bagaikan cenayang, tahu segalanya.
"Kok lo bisa tahu?" tanya Elsa bingung.
"Ya kan gue nanya jadwal lo ke Angel. Eh jangan-jangan lo lagi kecentilan godain cowok bule ya? Lo tidur Ama cowok sini?" Ya yang diucapkan Elgio padahal nebak, tapi memang ini benar.
"Ih enggak kok, ngapain godain bule, biasanya gue yang digodain cowok." Elsa jelas menepis tuduhan sang kakak, kalau ketahuan kan berabe.
"Yaudah buruan balik." Jika telatnya lama bakal dia susul sekarang juga.
"Tunggu sebentar gue ke sana sekarang juga." Yang tadinya lemas malah jadi gesit begini. Dia segera menuruni anak tangga dan kembali ke kamarnya, Elsa buru-buru mandi dan mengganti baju, apa saja lah yang penting tertutup.
Gadis ini pun mencari keberadaan Elvan, pria itu entah batang hidungnya ada di mana. Saat ketemu ternyata Elvan sedang minum kopi di taman.
"Antar aku ke hotel, ini gawat." Elvan sedang bersantai, gara-gara Elsa sakit jadwalnya jadi sedang tidak karuan jadi di tata ulang.
"Ada perlu apa? Bukankah kau sedang sakit, harusnya lanjut istirahat." Elvan sampai sengaja mengosongkan jadwal demi menjaga Elsa, eh orangnya malah ingin pergi.
"Aku kan di sini untuk bisnis, bukan untuk liburan atau rebahan, ayo antar aku sekarang juga, please!" Elsa memohon dan raut wajahnya terlihat ngenes.
Karena tampilannya tidak terlihat selemas tadi dan tidak pucat lagi, malah terlihat segar dan sudah ganti baju, akhirnya Elvan mau. "Baiklah."
Pria ini langsung yang mengantarkan Elsa. Mereka hanya berdua di dalam mobil Range Rover keluaran terbaru warna hitam. Elvan disuruh ngebut dan tidak boleh lamban saat berkendara. Saat sampai di hotel Elsa langsung membuka pintu mobil, padahal mobil masih dalam keadaan parkir.
Brukk …. Mana dia nutup pintu mobil kencang sekali.
"Tunggu Kenapa buru-buru sekali. Elsa!" teriak Elvano yang ditinggalkan, katanya mau bareng, jadiin cowok ini tour guide kacung, eh sekarang ditinggalkan. Elvano merdeka dong, tapi dia merasa ada yang aneh, Elsa seperti kesetanan, entah mau bertemu siapa.
Takut Elsa dalam bahaya ya Elvan langsung menyusul saja setelah memarkirkan mobilnya.
"Kakak Elgio hehehe. Lo sampai jam berapa di New York?" tanya gadis ini sambil mengatur napasnya yang memburu.
Elgio sedang duduk sambil mengantuk, dia pun melirik sumber suara yang jelas dia kenali ini. Elgio langsung bangun dan mencangkup wajah Elsa. "Ya Tuhan adik gue. Muah, muah, muah, muah. Lo bikin orang serumah khawatir."
Elsa menghapus jejak ciuman Elgio di pipi kanan, pipi kiri, jidat dan dagunya. "Ihh jijik, jangan cium-cium. Itu bibir bekas cium bini lo. Lo nyampe jam berapa ke sini?"
"Gak usah tanya gue, yang harusnya nanya itu gue. Lo ilang itu habis dari mana, kenapa dateng-dateng pakai baju kayak gitu, kalau mau ketemu klien kan harusnya pakai baju office were." Elsa pakai gaun, harusnya pakai rok dan kemeja.
"Kan udah gue bilang, gue abis dari luar, Kak. Ya udah gue ganti baju dulu, ya!" Gadis ini hendak pergi meninggalkan Elgio.
"Gue ikut sekalian simpan barang." Mana sempat pria ini cek in, orang dia mengkhawatirkan Elsa, kan kalau Elsa tidak ada tadinya mau lanjut cari lagi.
"Lo cek in aja di kamar yang lain lah." Takutnya ada Elvan tiba-tiba masuk ke unit kamarnya kan nanti bakal kepergok.
"Ntar aja deh, sekarang kita buruan ketemu klien." Elgio berjalan merangkul Elsa.
Di belakang mereka, ternyata Elvan menyaksikan adegan uwu adik dan kakak, mana ngerti bahasa Indonesia dia, Elvan ngiranya mereka pasangan kekasih yang memadu cinta, saling melepaskan rasa rindu dan mau ena-ena.
Mana tadi dia lihat Elgio mencium Elsa bertubi-tubi, sekarang malah terlihat merangkul. Seorang kakak sih bebas mau ngapain adiknya, orang mereka muhrim, cium peluk boleh, mau memarahi pun boleh, kalau Elvan tidak boleh. Dia bukan siapa-siapa.
"Pria itu siapa Kenapa main cium-cium pipi Elsa?" Elvan mengepalkan tangannya. Dia memandang kepergian dua orang itu sinis.
"Dasar gadis playgirl, mau saja dicium pria, waktu di kasino juga mau berkenalan dengan pria asing, di sini malah bersama seorang pria, berduaan ke kamarnya lah pula." Yah jadi berpikiran buruk deh.
"Jadi aku ditinggalkan begitu saja? Kurang ajar."