Lemes Bestie!
Ya iya lemes, siapa yang enggak lemes habis dijadikan sandaran sasaran peluru beberapa kali. Si apel sih enak nangkring di atas kepala Elsa sampai dia pecah berpuing-puing, paling kasihannya tidak layak lagi dimakan. La Elsa ga enak berdiri kelamaan kasian banget mana pucat mirip mayat hidup.
Suara tembakan yang menggelegar membuat gendang telinga Elsa beberapa kali berdengung. Mana tangan dan lalu sendinya terasa lemas semua. Total lima kali sudah Elvano menembak dan tidak ada hilal berhenti. Duh si mafia rese ini ngehukum anak gadis orang sampe begininya.
Brukkk ….
Elsa ambruk dan terkapar di rerumputan dan matanya juga terpejam. Elvan sempat berteriak tapi tidak mendapat jawaban. Pria ini pun langsung berlari menghampiri sang gadis.
“Els …. Bangun Els.” Dia tepuk-tepuk pipi Elsa tapi tidak mendapatkan jawaban.
“Elsa bangun!” teriak Elvano lagi tapi tetap tidak ada respon apapun, kalau orang sadar kan pasti kaget, ini tidak ada ekspresi dan gerak tubuh yang menunjukan adanya kehidupan.
Elvan dekatkan telinganya ke lubang hidung Elsa, dia juga menempelkan telunjuknya ke urat nadi leher sang gadis. “Oh tidak.”
Pria ini langsung menggendong Elsa ala bridal style dan membawanya ke dalam rumah. Sepertinya dia terlalu keterlaluan dalam memberikan hukuman, Elsa malah jadi pingsan begini.
Ada rasa bersalah lah, ini pasti! Masa iya numbak nembak gak takut salah sasaran atau anak orang bakal langsung kena serangan jantung dikagetkan suara peluru. Untung Elsa tidak punya riwayat jantung, kalau riwayat disakitin cowok buaya sih iya. Maklum cowok sekarang suka menghosting, di awal kaya yang iya mengejar-ngejar, udah didapat eh diselingkuhi atau hilang ditelan bumi, menyebalkan kan, mirip-mirip Dani atau Deni terserah namanya sapa tuh yang mantan Elsa, wkwkwk.
Jantung Elvan rasanya mau copot karena melihat wajah Elsa yang pucat. Tadi dia raba napas Elsa tidak ada dan nadinya lemah lho, rencananya Elvan mau panggil dokter saja, dia tidak mahir memberikan pertolongan seperti napas buatan dan lain-lain takut salah. Elvan kira Elsa kena serangan jantung atau hal lain yang lebih buruk, dia takut juga Elsa meninggoy. Mana ponsel Elsa pasti bisa dilacak sedang ada di mansionnya, nanti Elvan tertangkap basah oleh polisi dengan kasus pembunuhan orang luar negri.
Elvan menggendong Elsa sampai berlari saking paniknya, dia pun berteriak pada salah satu karyawannya. “Panggil dokter Sony sekarang juga, ini urgent.” Daripada ke UGD dia akan rawat Elsa di rumah saja, dokter pribadi langganannya rumahnya tidak jauh dari mansion ini kok, jadi datangnya tidak akan lama.
“Baik, Tuan.” Pegawai itupun mengangguk.
Gadis yang wajahnya pucat membuka sebelah matanya, siapa lagi kalau bukan Elsa yang berada dalam gendongan Elvano. ‘Dia kuat juga gendong gue!’ gumam Elsa dalam hati. ‘Rasakan pembalasan gue cowok rese!’ Seringai iblis pun terukir di wajah gadis ini. Eh ternyata dia cuma akting saja.
Elsa dapat kemampuan akting dari mana manis? Kayanya ngedadak efek kesel ke Elvan deh. Cara orang membalas dendam kan beda-beda, ya meski membalas itu tidak baik, abisnya kesel juga kan ke makhluk kezam yang satu ini, harus diberikan hukuman, tuman!
‘Pertahankan akting lo Els.’ Sungguh Elsa tadi itu dia lemes beneran sih, tapi enggak sampe pingsan juga, cuma merem boongan, lemes juga karena dia kaget dan belum sarapan.
Hallo, jam berapa ini bestie, dia biasa sarapan pagi disuguhi pelayan lho, jadi ratu di rumah dan serba ada, ini udah siang perutnya belum diisi apa-apa. Jadi kalean sudah tahu kan nona manis ini lemes karena apa, karena kelaparan!
Untuk nadi yang lemas, itu bisa jadi karena shock saja, kaget ada suara tembakan dan takut kena tembak, begitu juga dengan keadaan wajahnya yang pucat. Untuk napas Elsa yang berhenti sejenak ya dia tahan napas bentar doang bro. Lumayan kan aktingnya ini, Elvan saja sampai ngira beneran.
Elvan membaringkan Elsa di kasur kamarnya, Elsa kira bakal di kamar tamu yang ada ularnya, eh kamar Elvan ternyata tidak ada hewan buasnya tapi serba hitam sih, temboknya hitam, spreinya hitam, hordeng warna merah maroon dan ranjangnya berwarna gold, yang bikin serem itu ada borgol yang menggantung di sisi kanan dan kiri ujung ranjang, semacam untuk mengikat sandra saja di tangan kanan dan kirinya.
Elsa bergidik ngeri, di pikirannya Elvan ini cowok hiperseks yang selera seksnya aneh, ingin menyakiti pasangan dulu baru bercinta. Kelainan seks ini biasanya diderita oleh pria yang hidupnya seperti Elvan, penuh misteri, dingin, menyeramkan, tidak punya hati dan seseorang yang memiliki pekerjaan yang berbahaya.
“Aiishh aku kira kamu tidak lemah, begitu saja pingsan!” Pria ini berkacak pinggang sambil melihat Elsa yang memejamkan matanya, setelah mengatai Elsa dia menyangga dagunya, memikirkan bagaimana cara menyelamatkan gadis ini sambil menunggu dokter datang.
‘Eh si koplok, gue pura-pura PA. Siapa yang lemah coba? Salah lu aja yang main tembak-tembakan, nembak jadi pacar sih enak, la ini nembak pake peluru. Gile lu!’ Pikir saja pakai batok kepala, masa Elvan gak punya tempurung serta otak-otaknya, anak orang pasti syok lah jadi sasaran tembak.
“Kalau dia mati bagaimana, ya?” Elvan takut juga Elsa kehilangan nyawa, nanti dia repot mengurus mayatnya, repot menutupi kematiannya dan lain sebagainya.
‘Bego lu, orang gue lemes gara-gara laper. Mana sarapan gue? Ini udah kesiangan kale. Lu takut juga gue mati.’ gumam Elsa menjawab semua pernyataan Elvan dalam hati saja, kalau dengan suara ketahuan bohongnya. Akting pingsan ini bole juga, naturale sekali Els.
“Dokter Sony lama sekali, sih. Aisshh.” Ni cowok udah gelisah sah-sah mondar-mandir kesana kemari.
‘Ya sabar PA, lu kira ke sini gak bakal lama apa, orang siap-siapnya aja berapa menit, ambil obat dan alat terus gaspol. Iya kalo pake motor, cepet nyampenya, kalo pake mobil lama lah, Bro.’ Seru sekali ternyata bergumam dalam hati menjawab semua ucapan Elvan, ingin rasanya dia getok kepala Elvan menggunakan palu.
“Dia sudah napas lagi belum, ya?” tanya Elvan sambil mendekatkan jarinya ke lubang hidung Elsa. Orang mancung lubangnya agak gedean dikit, jadi kalau mengembuskan napas pasti terasa jelas.
‘Pura-pura napasnya cepet aja deh ah kaya orang bengek. Eh semoga gak jadi bengek beneran.’
Elvan pun merasakan adanya embusan napas dari lubang hidung ini, tapi mengapa embusannya terasa banyak dan cepat disertai d**a yang mengembang dan mengempis gerakannya tidak karuan. “Napas juga ternyata, tapi mengapa cepat sekali?” Pria ini mengamati keanehan dan memeriksa nadi Elsa lagi barangkali sudah hilang.
‘Pergi lu sono, ngapain lama di sini sih.’ Elsa gemes, dia sudah ingin rebahan miring kanan dan kiri, guling-guling dan duduk, eh malah Elvannya tidak pergi-pergi.
Selain sakit pinggang kaki, Elsa juga merasakan perutnya perih. ‘Aduuhh laper, takut si cacing di perut malah pada demo.’
Dah lah, ternyata kejadian juga ini cacing pada demo, mereka tidak bisa dikompromi, tidak bisa disuruh diam, tau-tau berbunyi kencang saja, Elvan jadi menoleh sambil melirik sinis.
“Perutnya berbunyi? Dia pingsan kelaparan atau pingsan gara-gara perbuatanku?” tanya Elvan sambil melirik perut Elsa. Beneran lho dia denger suara perut yang kelaparan, suara dari perut siapa lagi kalau bukan perut Elsa.
‘Sialan lu bilang kelaparan, lu yang bikin sarapan gue kesiangan.’ Duh pengen Elsa getok pala pria ini lantaran dari tadi, eh malah awal pertemuan bikin kesel.
“Hahahahaha. Ada ya yang pingsan perutnya malah berdemo.” Parahnya lagi Elvan malah tertawa terbahak-bahak.
‘Sialan lu ngetawain gue.’