Dia Memang Menyebalkan

1625 Words
Elvano bisa melihat begitu jelas ekspresi Elsa seperti apa sekarang. Lewat pantulan dari rumah kaca, dia melihat Elsa memukul-mukul kepalanya sendiri sambil berjalan pelan mengikuti Elvano. Ingin rasanya dia tertawa tapi dia tahan-tahan. Elsa menggemaskan kalau sedang kesal dan menjengkelkan kalau sudah so jadi pahlawan/pemenang. “Kok jauh. Mau kemana?” tanya Elsa lagi karena perjalanan mereka ternyata panjang, dikira deket, mana rumah ini luas banget, tiga bahkan empat kali lipat dari rumahnya. Kali ini dia bakal dikejutkan dengan apa lagi? Ada peliharaan badak gitu atau dinosaurus sekalian. “Ke lapangan tempat latihan nembak.” Elvan punya lapangan berkuda, lapangan memanah, lapangan berlatih menembak juga ada. Pokoknya rumah ini itu lengkap sekali, semua ada kecuali pusat perbelanjaan. “Ne- nembak?” tanya Elsa, bukan nembak jadi aku cinta kamu ya, melaikan ini lapangan nembak ya berarti mereka mau main pake senjata, jadi antara Elvan main tembak pakai senapan atau melihat orang yang sedang main tembak-tembakan (karyawannya). Elsa tidak percaya bahwa Elvano ini sniper yang jitu jadi mirirnya pasti sekarang nonton karyawan (bodyguardnya). Orang Elvan itu mafia senjata, ya jelas dia punya beragam senjata api yang dijual pada kalangan tertentu. Warga sipil tidak memiliki izin untuk membeli atau menyembunyikan senapan di rumah mereka, karena itu para bos, bodyguard dan mafia lain pasti beli senapan dari perusahaan Elvano. Elsa tidak dapat jawaban dari Elvan, gadis itu tidak pernah menonton orang menembak, nanti bekal seperti apa dan sasarannya apa. Saat sudah sampai di arenanya, ada dua orang pria berpakaian serba hitam yang ada logo macan berwarna kuning, sepertinya ini logo dari perusahaan bodyguard Elvano. “Saya ingin latihan menembak. Mana senjata saya?” Pria ini bertanya sambil mengulurkan tangannya. Sang karyawan pun langsung sigap mengambilkan senapan terbaru yang belum pernah Elvan coba. “Ini, Tuan.” Senapan ini uniknya juga dibuat oleh pabriknya, berwarna hitam pekat dan bisa menghancurkan apa saja yang jadi bidikannya jadi hancur berkeping-keping. Kalau targetnya lengan ya bukan hanya membuat lengan jadi bolong tapi juga mendarat sambil mencabik-cabik isinya layaknya sebuah bom yang dilempar setelah mendarat boommmm, semua arena hancur. Elvan perhatikan sejenak sambil mengusap senapan yang begitu elegan ini, dia punya ide cemerlang yang bakal membuat Elsa pipis di celana. “Kamu!” Pria ini menunjuk Elsa yang sedang berdiri menonton para karyawan mengelap senapan yang ada di sana, ada kurang lebih lima senapan terbaru dan belum Elvano coba. Meski sniper jitu, Elvan dan para karyawan diharuskan tetap terus berlatih agar tidak kaku. “Aku?” tanya Elsa sambil menunjuk dirinya sendiri. Mendadak perasaan Elsa jadi tidak enak, sepertinya malaikat maut sudah dekat dan tinggal menjemput dia saja. “Iya kamu. Sini!” Elvan sepertinya tidak mau jauh-jauh. Elsa mulai nebak nih, sepertinya dia bakal disuruh belajar nembak, berarti mereka mau beradegan romantis dong seperti di film-film, dipeluk dari belakang sambil diajarin nembak. Uuuuu ngarep banget Neng, kaya yang iya mau kek Titanic gitu tapi versi tembak-tembakan. “Iya.” Elsa udah positif thinking aja nih, ngarepnya emang diajarin nembak, kan keren. “Berdiri di sana!” Tangan Elvano menunjuk tempat nan jauh di sana, ada lima puluh meter, di situ ada banyak papan warna kuning yang bermotif bulat-bulat dan bagian tengahnya warna merah. “Hahh …. Di depan papan sasaran itu?” tanya Elsa sambil menganga, bayangan romantis ambyarrrr seketika saat ternyata dia ini bakal dijadikan sasaran bestie, bukan diajarin nembak, apes amat. Kalau jadi sasaran Elsa berarti bakal meninggoy. “Iya, di mana lagi?” Elvan melirik sinis, gila ini cowok emang rada-rada oleng, ganteng-ganteng psikopet. "Untuk apa?" Elsa mau belaga bego. Kali aja kalau dibego-begoin Elvan bakal bersimpati, eh nyatanya enggak, orang masih dendang karena masih pagi udah diguyur air siraman tanaman. "Ya untuk jadi sasaranku lah." Nah kan beneran, buat ditembak cuy, no bodong-bodong klub ini beneran. Lutut Elsa lemes woi, iya lah lemes, orang dia pagi ini mau ditembak mati, oh my god. 'Wah psikopet ini orang. Duh metong dan balik tinggal batu nisan doang ga nih?' Masa nanti Mami Arisa menyambut kedatangan peti mati bukan kedatangan anaknya yang masih hidup. “Sana pergi.” Kedjam sekali dia bestie, anak orang mau dijadikan sasaran, masa enggak kasihan sih. “Duh ada-ada aja.” Apakah ada yang lebih gila lagi dari ini, asli ini Elsa nanti balik-balik tinggal nisan. Elsa melangkahkan kaki lemas, letih dan lesu, iya lah lesu, orang mau dijadikan sasaran tembakan, siapa yang gak bakal lesu. 'Ya Tuhan, apa dosaku di masa lalu sehingga bertemu psikopet.' Kalau di masa lalu berbuat baik pasti sekarang Elsa bahagia, sepertinya di kehidupan dahulu Elsa banyak dosa. Ah ada yang lupa, sebagai pelengkap Elvan melirik keranjang buah yang ada di meja, dia pun mengambil apel dan menggenggamnya. “Heii. Bawa ini dan simpan di kepalamu.” “Baik.” Berarti yang ditembak apel dong, bukan kepala Elsa, eh tapi itu jarak apel dan otak cuma beberapa senti doang, melenceng dikit ya kena tempurung kelepa eh kepala Elsa lah. Nih cowok suka ngadi-ngadi deh, Elsa jadi gadis pemegang sasaran. 'Dasar gile lu. Ganteng-ganteng otak minus.' Ingin rasanya dia memaki-maki Elvan tapi sadar ini di kandang siapa, nanti yang ada dia meninggoy beneran, bukan jadi pemegang sasaran melaikan jadi sasaran, beda tipis. Elsa berjalan pelan kena omel, dikatain model yang sedang berjalan di panggung, alhasil gadis ini mempercepat langkahnya hingga sekarang dia benar-benar berdiri di depan papan sasaran. “Apes nih gue. baru aja balas dendam udah kena lagi. Pria nyebelin!” Ternyata ini toh hukumannya, emang bakal bikin celana Elsa basah, basah sama air kencing bukan a******i wkwkwk. “Heii …. Kamu berdiri yang benar dan jangan bergerak.” Elvan berteriak agar Elsa dapat mendengarnya. “Segera simpan apelnya di atas kepala!” teriaknya lagi. “Iya- iya.” Elsa mengangguk-angguk sambil menyimpan apel benar-benar di atas kepalanya. Apes banget bestie. Habis ini kalau masih hidup mau bales perbuatan Elvan seperti apa ya? Elvan terlihat sedang mengenakan alat penutup telinga, ya mirip-mirip earphone, dia juga mengenakan kacamata pelindung, udah kaya polisi aja. “Ya Tuhan, selamatkan Elsa ya Tuhan. Elsa masih pengen idup. Tolong pelurunya melesat ke lain arah aja jangan ke Elsa.” Kelihatan sekali gadis ini ketakutannya Bestie, tubuhnya bergetar dan wajahnya pucat pasi, ditambah keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh. "Belum kawin sama nikah nih, belum juga ngalamin beranak Pinak, masa udah meninggoy duluan. Panjangin lah umur hamba." Elsa menyatukan tangan kanan dan kirinya, sedikit dia gosok-gosok sambil memohon, mendongak ke arah langit berharap ada keajaiban dari Tuhan. Elvan ingin tertawa terbahak-bahak melihat nyali Elsa yang ciut, dimana cewek sombong dan ngeselin yang dia kenal sangat singkat ini, jadi cewek penakut dan lemas. Pria ini melirik sinis sambil mengangkat senapannya. “Cowok kurang ajar, gila, psikopat, sarap. Ngeselin lu. Awas nanti gue bales lagi. Kurang ajar!” Dia sungguh ingin berkata KASAR! Gak jadi kagum ke kerenan Elvan deh kalau begini. Dorr …. Elsa belum siap dan tidak ada aba-aba, ini orang main tembak-tembak aja, auto jongkok dong sambil menutup telinga, si apel jadi jatuh dari kepala Elsa. “Kurang ngajar si kunyuk ngagetin.” Jantung Elsa au loncat dari tempatnya lho, gadis ini pastikan tubuhnya tidak ada yang bolong. Saat sudah dilihat eh aman, gak ada yang luka, lalu tembakan Elvan kemana? Dia lirik lah papan besar warna latar putih dan motif bundah warna kuning itu. Oh ternyata salah sasaran, melenceng bestie! Elsa usap-usap dadanya dan bersyukur tidak kena tembak. Bukan tidak disengaja, jelas Elvan sengaja melencengkan tembakannya, dia ingin tahu Elsa kaget tuh kaya gimana sih. Bakal pipis di celana atau menangis? Eh ternyata jongkok. Elvan langsung tertawa terbahak-bahak saat Elsa memeriksa lubang di papan. “Gila. Dia malah ketawa, emang apanya yang lucu?” Elsa kebali berdiri, tidak ada benda yang aneh nih, bahkan batu pun tidak ada, kalau ada mau Elsa lempar ke kepala Elvan sekarang juga. “Jangan melamun Elsa, aku akan menembak lagi, yang tadi tidak tepat sasaran.” Kan kalau sengaja tidak tepat dia bisa menembak beberapa kali, melihat Elsa beberapa kali ketakutan pula, seru kan! "Kutu kupret sialan. Kalo mau nembak kasih tanda kek, aba-aba kek, kejang-kejang jantung hamba." Elsa kembali mengusap dadanya agar lebih tenang. Baru saja berdiri dan meletakan apel di tangannya, Elvan kembali menembak tanpa aba-aba. Dooorr …. Elsa jongkok lagi sambil menutup telinganya. “Duh Tuhan, Elsa pengen pipis di celana.” Diliriknya si papan sasaran, oh di sisi kiri, tadi di sisi kanan tubuhnya, ya berarti meleset lagi. “Untung yang ini masih meleset juga.” Elsa jadi meremehkan kemampuan Elvan gara-gara dua kali gagal, tapi ini membahayakan, bagaimana kalau kena ke jantungnya, auto langsung masti di tempat tanpa sempat dibawa ke rumah sakit. “Aku akan menembak lagi.” Kali ini Elvan pakai kode. Elsa buru-buru berdiri dan menyimpan apel di atas kepalanya lagi. “Yang ini jangan kena dong. Please!" gumamnya sambil memejamkan mata. Dooorrr …. “Astaga–” Duh ini sih suaranya deket banget, ada getaran juga di ubun-ubun. Antara kena apel atau kena otaknya nih, kan jaraknya deketan banget. cuma satu mili. “Eh masih idup, tapi kayaknya itu peluru kena ke kepala deh.” Elsa penasaran kok dia tidak ambruk. Elsa usap-usap kepalanya dan tidak merasakan ada yang luka, hanya ada cairan dan potongan apel. “Gak ada darah dan bau anyir, ini apa, ya?” Dia ambil sesuatu yang tertinggal di kepalanya itu lalu dia lihat saking penasarannya. “Ah apelnya yang pecah, syukur deh.” Berarti dia masih hidup karena tembakan tepat terkena apel, bukan otak atau tempurung kepalanya. “Merinding bulu kuduk hamba. Dia mau nembak lagi gak ya?” “Ini simpan lagi!” Elvan menyerahkan senapan pertama ini pada anak buahnya. Elsa jadi mengira permainan ini selesai. “Eh udahan deh kayaknya.” “Eh dia ambil senapan yang baru.” Dia melihat Elvan kok ambil senjata yang baru. “Oh tidaakkk!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD