Waktunya Membalikkan Posisi

1385 Words
Kucing di rumah ini marah karena tubuhnya basah, bukan oleh keringat melainkan oleh air siraman tanaman. Tikus yang datang bertamu malah cari gara-gara, habisnya dia bertingkah kalau si kucing baik dan menggemaskan, ini kucingnya main gigit-gigitan dan jahil. Wajah Elvano jadi merah karena menahan amarah, dia kepalkan tangannya lalu berlari memasuki rumah. Melihat ekspresi Elvano yang ingin murka, ingin makan orang sekarang juga, Elsa menangkap sinyal bahaya, bisa ditelan bulat-bulat dia. “Wahh …. Gawat, dia marah. Buruan kabur sebelum meninggoy, Sa!” Tanpa pikir panjang dia segera keluar kamar saja. Elsa berhenti sejenak melirik pintu depan dan ke tengah rumah. “Kemana jalan keluar lewat belakang? Lewat depan pasti enggak aman.” Elvano kan tadi lari lewat depan. Jantung Elsa berdegup kencang, dia sudah merasakan bahwa kucing liar sebentar lagi akan menerkamnya. Daripada meninggoy lebih baik cepat-cepat kabur atau cari pertolongan saja. “Ah ini dia pintunya.” Dia temukan jalan ke ruangan TV. “Kemana-kemana, jalan keluarnya, Elsa mau kabur ini jalan kenapa bercabang semua?” Dia lihat kanan kiri ada jalan semuanya, makin bingung nih soalnya luas sekali. Ya sudah dia ikut insting saja, masa cewek cerdas gak bisa nemu jalan keluar sih untuk kabur. “Nah ini dia.” Baru senang nemu jalan, eh si kucing ganas tau-tau ada di belakang saja lalu berteriak, “Elsaaa ….” “Oh my god.” Auto panik dan langsung gaspol, lari ngibrit yang penting jauh dah. Langkah kaki Elsa kebesaran dan lurus terus, netranya baru menangkap ada kolam besar yang airnya berwarna hijau. “Eh ada kolam. Ayok ngerem!” Kalau sedang lari marathon kan mau berhenti agak susah ngeremnya, cemaneu ni? “Aaaaaa …. Telat!” Elsa tidak bisa menghindar, rumah Elvano memang banyak kejutannya. Gadis ini pun terlalu besar melangkah dan terlalu mendadak ngerem hingga tubuhnya terasa miring tiga puluh derajat. “Lho kok gak kecebur?” Dia tidak merasakan tubuhnya masuk ke dalam kolam. “Gak basah?” Tidak merasakan juga sesak napas dan badan yang basah. Nah dia merasakan ada tangan besar yang melingkar di pinggangnya. “Eh tapi berasa ada yang megangin?” Kedua Netra Elsa terpejam saking paniknya, dia bahkan mengeluarkan keringat dingin sampai ada setitik yang jatuh dari pelipisnya. Elsa tak kunjung jatuh juga malah tubuhnya tetap miring dan kaki masih bertumpu ke pinggiran kolam. Netra Elsa pun terbuka lebar, dia bisa melihat kini yang di depannya itu siapa, yang memegang tubuhnya agar tidak jatuh ke kolam. “Mmmm ….” Ada malaikat turun dari langit ke bumi. ‘Gile ganteng banget. Mau dari depan, samping kanan, samping kiri atau dari bawah gini tetep ganteng, gak ada minusnya sama sekali.’ gumam Elsa sambil menelan salivanya susah payah. Tidak ada cowok seganteng ini di indonesia, bahkan mantan pacar yang paling ganteng saja kalah pesonanya oleh pria ini. Netra elsa turun menatap rahang, leher, bahu dan d**a Elvano. ‘Otot tangannya kuat, tubuhnya kokoh dan beuh tubuhnya proporsional, dadanya juga pelukable banget.’ Tidak sengaja mulutnya terbuka sedikit, hampir saja dia ngeces melihat Elvano sudah seperti cake yang enak dan siap makan. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Elvan sambil melihat kedua bola mata Elsa. Ini babang kokoh banget badannya, satu tangan doang megangin tubuh Elsa dan keseimbangannya masih bagus, tidak ikut jatuh atau tidak akan menjatuhkan Elsa. ‘Dia cantik juga, binar matanya indah.’ gumamnya dalam hati sambil melihat wajah Elsa nan ayu khas indonesia. ‘Sadarkan dirimu Elvan, dia wanita menyebalkan dan merepotkan, segera berikan dia pelajaran.’ Elvan mengedipkan matanya cepat, dia tidak mau terpesona oleh kecantikan tikus kecil yang masuk ke rumahnya ini. “Elsa ….” teriak Elvan lagi karena Elsa masih melamun. “Els, kenapa menatapku seperti itu?” tanya Elvan mengulangi pertanyaan yang tadi, ini cewek ditanya tidak menjawab-jawab sedang melamunkan apa. Elsa buru-buru mengedipkan matanya cepat. Dia harus sadar jika pria penyelamat ini menyebalkan. Elsa pun menjawab, Ti- ti- tidak apa-apa.” ‘Ah ganggu, tadi sedang enak-enak menikmati keindahan yang HQQ sampai membayangkan dia jadi pria yang baik dan jadi pasanganku. Ambyarrr!’ Bodohnya Elsa kenapa pikiran kotornya membayangkan pelukan dengan Elvan sambil ciuman, wuah kelamaan gak kawin-kawin jadi pikirannya mudah traveling ke jalan yang kotor. “Asal kamu tahu, di kolam ini isinya ikan piranha dari sss. Kamu tahu ikan piranha makannya apa?” Pernyataan Elvan mengejutkannya, mana dia sedang dalam keadaan kurang baik-baik saja, lepas dikit tangan Elvan bisa jadi langsung kecebur ke kolam. “Da- da- daging.” Elsa telan salivanya susah payah. Kalau makan daging berarti bisa makan daging manusia juga kali ya. Ikannya banyak atau enggak nih, kalau banyak bisa main keroyokan. “Tanganku bisa saja lepas dan tidak lagi melingkar di pinggangmu.” Ancaman Elvan bukan main-main nih. Jadi Elsa harus apa dong demi bisa hidup? “Ja- ja- jangan.” Jelas gadis ini menggeleng, masih ingin hidup kok jahil di tempat orang. Enggak takut sama peliharaan Elvan yang buas-buas kali ya. “Hmmm kalau tidak mau jadi makanan ikan piranha ini, kamu harus minta maaf.” Ikan piranha di dalam kolam didatangkan langsung dari sss, ukurannya gendut-gendut lantaran rajin diberikan makan, mereka semua rakus, kalau ada orang jahat yang kecebur kolam pasti langsung digigit karena ikannya agresif, tau saja kalau yang nakal dan mau kabur harus dihajar.. “Emh.” Mana mau Elsa minta maaf duluan, tengsin. Orang Elvan yang dianggap salah, menakut-nakuti Elsa menggunakan peliharaannya. Elsa tetap pada posisi kemiringan badan ini, untung tangan Elvan masih kuat tidak sampai kesemutan. “Baju dan kepalaku basah Elsa.” Elvan berteriak sambil melirik pakaiannya yang basah oleh gadis ini, ini baju setelan olahraga dari brand ternama dan limited edition lho, sayang banget kena semburan air siraman tanaman, enggak level banget. “Maaf!” Gadis ini mengucapkannya pelan. Dia bisa lihat baju atas Elvan dan rambutnya basah, meski begitu tetap tamvan masksimalee. “Ooo ou, tidak minta maaf semudah itu. Kamu kira aku maafkan hanya dengan berucap seperti itu saja hah.” Kesal pria ini saat mendengar kata maafnya pelan dan tidak sungguh-sungguh, sudah terlanjur murka nih, dia punya hukuman yang pantas untuk Elsa. “Tadi kan disuruh minta maaf, sudah aku lakukan. Mau kamu apa lagi?” Ya bukan Elsa kalau enggak nyolot. Padahal posisinya belum nyaman nih, masih menegangkan, lepas dikit bisa dimakan ikan buas. ‘Rese banget ini cowok, gak tau apa gue takut ini ikan kalo iya bener isinya piranha. Sue.’ Rumah ini seperti kebun binatang buas saja, isinya random dan pemakan daging semua, sebulan abis berapa dollar ya buat pakannya saja, belum biaya perawatan kandang dan tubuh si hewan. Hewan juga butuh meni pedi ala-ala mereka agar bulu dan kulit tetep glowing shay, no rontok-rontok dan ngelupas kering klub. “Eh- eh- jangann ….” Gadis ini menggeleng takut. “Jangan bawel!” Dua kata dengan nada tinggi bikin bulu kuduk Elsa meringdings. “Kalau kamu tidak mau jadi santapan piranha yang sedang lapar pagi ini, kamu harus berjanji ikuti apa saja perintahku.” O iya pagi ini ikannya belum sarapan bro, ya kalau ada yang nyemplung ke dalam air apalagi sampai tenggelam bisa langsung mereka gigit. “Jadi budakmu? Iiii tidak mau.” Kan dia inginnya jadi bos. “Mau jadi makanan ikan piranha atau mau tetap hidup? Hanya sehari saja kok.” Dua pilihan yang sulit bagi Elsa, bagi Elvano akan jadi bahan balas dendam dan mengundang tawa. “Hmmm …. Ikan piranha kecil-kecil bergigi tajam, mereka sadis kalau menggigit, nanti kulitmu dicabik-cabik dan habis tidak tersisa. Jadi tatap minat menjadi makanan piranha?” Bisa sekali dia menakut-nakutinya, kan Elsa auto makin merinding ketakutan. Elvan sungguh-sungguh ingin menertawakan Elsa, habis ekspresi ketakutannya itu lucu sekali, mana wajahnya langsung pucat. “Ti- ti- tidak.” Elsa menggeleng dan menyetujui permintaan Elvan. Siap-siap jadi kacung dan dikerjain nih. “Lakukan semua perintahku.” Enak banget jadi bos. ‘Ah lega akhirnya gak jadi kecebur kolam dan berakhir jadi makanan ikan piranha.’ Kini Elvan menarik tubuh Elsa agar tidak lagi miring, mereka pun melangkah menjauh dari kolam. “Ikut aku!” Elvan berjalan lebih dulu sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “It’s time to pembalasan.” Seringai iblis pun terukir di wajah pria ini, Elsa bakal di apain ya? “Kita mau ke mana?” Kok hawanya makin mencekam, Elsa merasa tubuhnya dingin dan kaku, bulu kuduknya saja sampai berdiri semua. 'Jangan-jangan mau diperkaos? Atau dijual? Duh serem ...'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD