Jadi Pemberani

1462 Words
Mana bisa tidur kalau begini caranya. Elvano kreatif banget jadi orang deh. Masa lemari bingkai TV dan kepala ranjang tidur itu kandang ular dari kaca tebal semua. Kalo tiba-tiba kebuka auto leher dililit phyton, anak sultan yang cantik Elsa bisa gagal napas lalu metong. Mewah sih mewah rumah dan kamarnya, eh kalau isinya kaya kebun binatang ya gagal mewah cuy. Apa di luar mansion ada hewan lain? Jangan-jangan di kolam ikan ada ikan piranhanya, lalu jangan-jangan di kolam renang ada ikan hiunya. Ada-ada saja itu cowok. Rumah ini selain diamankan oleh CCTV dan bodyguard, diamankan juga oleh hewan yang sudah terlatih, singa di sini sudah tahu tuannya, kolam yang mengelilingi mansion di sini juga bisa jadi jebakan penjahat yang akan kabur keburu dimakan ikan piranha duluan. Elsa awalnya takut sih saat melihat singa dan ular, bukan Elsa kalau pengecut. Gadis ini duduk sambil menyilangkan kaki di tepi ranjang, dia pandang phyton warna kuning yang ada di etalase itu. “Kamu sama serem kaya bos kamu, ya. Indah dan ganteng sih, tapi berbahaya!” Elvano tampan, gagah dan kaya, sayang berbahaya karena dia seorang mafia senjata api, Elvano menjual barang yang tidak semestinya dimiliki oleh penduduk, barang itu dia jual ke orang-orang kaya dan mafia lain sebagai perlindungan diri dan juga untuk menyerang lawan. “Mulai malam ini kita berteman, ya. Jangan nakal oke! Diem di situ yang anteng. Nanti kapan-kapan aku beliin tikus gendut deh buat kamu makan.” Elsa berbicara sendiri dengan hewan, mimpi apa dia semalam, habis ditangkap Mafia sekarang pasti orang sangka gila karena ngobrol bareng ular. “Atau kamu doyan anak ayam? Oke-oke, nanti aku belikan asal jangan keluar dari kandang, ya!” Ularnya sih diajak bicara mana ngerti, malah sedang melilit batang pohon yang ada di dalam sangkarnya saja. Elsa percaya meski dia berbicara menggunakan bahasa manusia, ular ini bisa paham apa yang dia katakan dan akan langsung dilakukan, bukankah hewan buas juga tahu mana orang yang baik dan mana orang yang jahat. Jadi jangan menyerang Elsa karena dia gadis yang baik. Gadis ini memberanikan diri membuka pintu kamar, dia melangkahkan kaki ke lorong masuk tadi. “Sekarang nyapa si singa.” Jika diperhatikan, lorong masuk yang dijaga singa itu sebagai ucapan selamat datang untuk tamu, jika berniat jahat pada pemilik rumah pasti akan kalah karena pemiliknya seperti singa. Lalu kamar tamu ini yang dijaga ular, kalau diartikan itu, tidurlah dan jangan berniat macam-macam pada pemilik rumahnya, kalau jahat bakal dililit dan ketahuan duluan. “Hai Matahari dan Bulan!” sapa Elsa pelan-pelan. Bulu kuduk yang berdiri menandakan bahwa dia sedikit takut tapi harus berani dong demi betah tinggal di sini, dia tidak mau jadi pengecut, takut dan kalah sebelum berperang. Elsa mau tunjukan ke Elvani, ini nih, cewek cantik yang kamu kira penakut dan manja itu beranian lho. Lo macem-macem Elsa bacok duluan. “Hauummm ….” Matahari dan Bulan pun pindah ke depan Elsa. Singa itu seakan tahu gadis ini ingin mediasi bareng mereka. Singa lebih peka daripada hewan lain, mereka lebih waspada, indra penglihatan, penciuman dan pendengaran lebih tajam. “Aduh jangan ke sini, jangan deket-deket.” Elsanya malah takut, nanti tangan salah satu dari singa itu bakal keluar dan mencakarnya. Serem! Mana saat Elsa lihat cakar mereka berdua tajam dan runcing, sekali tebas kulit langsung sobek dan berdarah-darah. “Mulai malam ini kita temenan, ya. Jangan galak-galak.” Mata dua singa itu menatap tajam pada Elsa. Awalnya mata Elsa sering berkedip karena takut, lama-kelamaan fokus dan tajam pula. Dia kan mau mengenalkan pada dua singa ini. ‘Ini saya cewek mandiri dan pejuang tangguh, kalian jangan berani macam-macam.’ “Hauumm ….” Singa itu seolah mengerti apa yang Elsa ucapkan, suara aungannya lumayan kencang juga. Matahari kini duduk menyilangkan tangan dan dia jadikan sandaran kepala, mengedip-ngedipkan mata lalu menjilat tangannya sendiri. Bulan malah mendekat ke pagar pembatas, dia mengulurkan tangannya seolah ingin tos kepada Elsa, sayang Elsanya malah takut. “Eh dibilang jangan galak-galak. Diem lu!” Elsa mundur dua langkah takut terjangkau singa yang bernama Bulan. “Nanti dibawain daging yang gede dan enak khusus buat kalian berdua, oke!” Nanti kalau ada waktu elsa belikan potongan daging sapi yang besar. “Aku mau tinggal di sini, selama aku tinggal kalian jangan nakal, ya!” Bulan mengangguk lalu duduk di dekat Matahari. “Mama mau bobok dulu, kalian jangan berisik!” Elsa kembali ke kamarnya dan membersihkan diri, kebetulan ada pelayan yang mengantarkan beberapa baju tidur dan beberapa gaun untuk dia pakai besok pagi. Gaun tidur warna hitam jadi pilihan Elsa untuk dipakai malam ini. Gadis ini memeluk guling sambil berpikir, apa saja yang harus dia kerjakan besok. Di ponsel Elsa sudah ada list pekerjaan dan siapa saja orang yang harus dia temui. Banyak pesan masuk dan panggilan yang tidak diangkat. Angel orang yang elsa hubungi pertama kali. Elsa meminta Angel menghubungi semua kolega bisnis di sini agar mengatur ulang jadwal pertemuan. Orang kedua yang Elsa hubungi adalah mamanya Arisa. “Mama jangan khawatir, doain Elsa nanti pulang-pulang bawa menantu!” Singkat itu saja, habis pesan dari Arisa panjang sekali, tidak bisa Elsa baca semuanya, keburu ngantuk. * Di kamar utama mansion ini, Elzard Elvano tengah berdiri sambil memegang sebuah remote, dia bisa melihat ada seorang gadis tengah berdiri, lalu dengan gilanya gadis itu bercengkrama dan mengobrol pada dua singa. “Apa yang dia lakukan?” tanya Elvano saat melihat Elsa berinteraksi bersama Bulan dan Matahari, bahkan tangan Elsa menyentuh pagar pembatas. Bulan dan Matahari kan langsung agresif pada orang yang memegang kandang mereka, auto diterkam. “Apa dia gila?” Dia takut Elsa kenapa-napa. Ada simpati juga si mafia satu ini, takut Elsa jadi santapan singa-singanya. Bulan dan Matahari sudah diberi makan sih tadi sore, tapi tetap saja, bisa galak kalau ada orang mendekat. Elsa terlihat mundur saat Bulan mau menyerangnya. “Hahahaha. Dia ketakutan tapi untuk apa mendekat dan ngobrol dengan hewan. Wanita aneh.” Melihat Elsa di layar ini jadi hiburan tersendiri, coba kalau dia pasang CCTV di kamar tamu juga, Elvano bakal tahu Elsa mengajak ularnya mengobrol juga. “Awas digigit, Nona!” Bulan terlihat membuka-buka mulutnya, mengaum saat Elsa ajak bicara. “Lihat saja, apa kau akan betah lama-lama di sini atau tidak.” Nanti Elvano bakal ajak keliling rumah, ada senjata juga kan di sini, siapa tahu Elsa jadi takut dan tidak minat menjadikan Elvan sebagai tour guidenya lagi. “Aku jamin kamu tidak akan betah lama-lama di new york.” Elvano pun membersihkan diri dan tidur dengan nyaman di kasur king sizenya yang kepala ranjangnya bertahtakan emas yang menyilaukan. Paginya Elsa menggeliat lalu membuka matanya, dia pun memastikan kalau si dua ular masih betah di dalam kandang atau tidak. “Pagi ular-ular!” sapa Elsa saat dua ular terlihat betah melingkar di kasur mereka yakni pasir, sepertinya tengah tidur. Elsa pun membuka gorden dan melihat matahari yang mulai menyinari bumi, indah sekali ternyata mansion ini kalau pagi. Bangunan tinggi yang dikelilingi hamparan taman yang luas, bahkan Elvano punya labirin kecil dan bisa elsa lihat dari balkon kamarnya. “Pagi diriku yang cantik!” Elsa memandang pantulan wajahnya yang ada di kaca balkon. “Cantiknya Elsa! On the way cari cowok buat dijadiin mantu mama papa, kuy!” Dari pengalaman disakiti oleh pria-pria indonesia, Elsa bertekad jadi playgirl di New York nih, iya kalau ada yang mau. Masa iya tidak ada bule yang tertarik padanya yang cantik ini. “Sambil berbisnis sambil liburan cari cowok ganteng.” Tidak perlu menor-menor, riasan flawless saja sudah membuat dia cantik maksimal, cowok-cowok di indo saja yang bodoh menyia-nyiakannya yang cantik dan mandiri ini. “Eh tanamannya lucu-lucu.” Di pagar balkon kamarnya ini ada tanaman hias yang merambat ke bawah. Ternyata bagian depan rumah ini itu tinggi, bagian belakang itu rendah, jadi kamar Elsa seperti ada di lantai dua saja, ada satu lantai lagi di bawah kamarnya. Dia seperti tengah berada di lantai dua sehingga semua pemandangan taman dan jalanan bisa dilihat. Tanaman yang merambat ini bunganya tengah bermekaran, warnanya ungu dan menyerupai bunga terompet. Ada alat untuk menyiram bunga juga. “Wah daripada nganggur mending nyiram bunga aja.” Elsa pun menyiramkan air yang ada di wadah menyerupai teko ke bunga-bunga dari ujung kanan sampai ujung kiri. Di bawah ternyata ada Elvano yang sedang berlari. Pria itu merasa tubuhnya terkena siraman air hujan, namum di situ tidak sedang hujan kok. Saat dia melihat ke atas, dia melihat Elsa yang sebagai tersangkanya. “Elsaaaa …. Apa yang tengah kau lakukan?” “Opppsss …. Maaf, aku sedang menyiram bunga.” Melihat Elvano ada di bawah menggunakan setelan olahraga, Elsa sengaja saja siramkan lebih banyak. “Hentikaaannn ….” “Rasain lo!” gumam Elsa pelan, mayan ada kesempatan jangan dilewatkan. Mumpung Elvano kena air siraman dari tanaman, lebih baik diguyur sekalian. “Awas kau, nanti aku berikan pelajaran!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD