Penghuni Rumah

1384 Words
‘Gadis ini sungguh bisa membuatku darah tinggi.’ gumam Elvano dalam hati, eh tapi mereka kan ada kontrak jadi pacar dan tour guide, kenapa Elvano tidak mengatakan bahwa dia pacar saja jangan cuma teman, kasihan Elsa nanti gagal PDKT with cogan. Kalau Elvano menggagalkan rencana Elsa yang ingin menjajal laki-laki, nanti gadis itu bisa kebakaran jenggot. Senang sekali rasanya menjahili anak gadis yang satu ini. Minan baru hasil dari salah tangkap berujung jadi teman. ‘Jika saja anak buahku tidak salah tangkap, aku tidak bersalah membuat dia mengalami trauma dan luka-luka, pasti aku tidak akan berurusan dengannya.’ Elsa berjalan sambil memperhatikan wajah Elvano, dia sedang membandingkan tampanan yang mana, yang baru mirip Simon Susinna yang di sebelahnya mirip Michele Morrone Apa kalian tahu dua cogan yang satu ini? Pemain film phanas-phanas hareudang yang Elsa tonton baru-baru ini, sampai di play berkali-kali saking dia ngilernya jadi pemain wanita di film tersebut. Sungguh nikmat mana yang engkau dustakan, dia enak sekali jadi gadis cantik yang berada di antara dua pria tampan kalau iya beneran bakal PDKT with Elvano dan Arion. Ditatap Elsa, Elvano langsung memalingkan wajahnya dan bergumam, ‘Sungguh wanita yang merepotkan dan menyebalkan, kenapa dia menatapku seperti itu?’ Elsa melirik ke belakang. ‘Sayang banget cowok ganteng tadi, lumayan jadi temen kencan duh. Semoga dia chat aku! Nyobain cek in bareng cowok bule rasanya gimana ya? Ena-enanya yahut enggak ya? Xixixixi.’ “Kenapa tertawa? Kamu gila?” tanya Elvano sambil mengangkat sebelah alisnya, dia rasa Elsa sudah benar-benar gila, harus dibawa ke psikolog. Ya mon maaf pemirsa, Elsa ibaranya cewek cantik anak gadis yang sudah matang, obrolanya ya tentang dewasa-dewasa 21+ tanpa sensor, dia sudah waktunya kawin tapi belum-belum kawin, keasyikan cari duit sampai tidak tahu rasanya enak bercinta. Tidak heran kan pikiran Elsa sekarang malah lari ke hotel bareng Arion! “Enak saja, masih waras! Kamu yang gila. Mengganggu saja aku yang sedang pendekatan dengan pria tampan.” Gadis ini mempercepat langkahnya, sebal sekali ternyata bersama Elvano, coba yang salah tangkap cowok ganteng tadi bukan yang di sebelahnya ini, adek Elsa rela deh lama-lama sama abang. “Masih tampanan wajahku kali.” Sungguh percaya diri tingkat dewa ini anak, memang dia dari sisi manapun tampan sih, kekurangan Elvano cuma sedikit, tidak mau punya pacar, terlalu cuek, terlalu suka mencari uang dan kesibukan. Ambisi Elvano untuk lenih sukse dari ayahnya begitu tinggi. “Idihh … percaya diri sekali Anda.” Ingin Elsa tenggelamkan ini orang ke sungai airee. Tampanan Arion kalau menurut Elsa karena pria itu memperlakukan wanita begitu baik, tidak seperti Elvano. “Kita kemana?” tanya gadis ini bingung saat Elvano mengajaknya masuk ke dalam mobil. “Pulang!” Singkat padat dan jelas, ini irit suara apa irit kata, menyebalkan! Sepanjang jalan mereka sama-sama diam karena sibuk dalam pemikiran masing-masing. Elsa memikirkan bagaimana caranya dapat pacar ganteng, Elvano memikirkan bagaimana caranya agar Elsa tidak betah. Mobil pun kini sudah terparkir di halaman yang luas sebuah mansion yang catnya warna putih tulang. “Ini mansionmu?” tanya Elsa sambil memperhatikan mansion ini dari dalam mobil, benar-benar luas dan terlihat indah sekali, tidak sia-sia dibawa ke sini. Ets tapi dia bakal aman tidak ya, kalau sampai di perkosa Elvano bagaimana? “Aku tidak membawa baju ganti.” Gadis ini tidak membawa bekal apapun, hanya ponsel dan tasnya saja. “Ada pakaian perempuan kok.” Perkataan Elvano membuat Elsa menyilangkan tangan di depan d**a, di pikiran Elsa dia bakal bugil atau dia kira Elvano ini mengoleksi banyak baju wanita untuk setiap p*****r yang melayaninya. “Iiii c***l. Tadi dia menyelipkan uang ke belahan d**a gue, sekarang dia bilang punya baju wanita.” Elsa berkata pelan tanpa bisa Elvano dengar. Mau maju salah, mundur juga sudah terlanjur maju. Elsa sendiri kan yang mau dekat-dekat Elvano, ya resikonya ini. “Selamat datang, Tuan!” Seorang maid menyambut kedatangan yang punya rumah. “Suruh semuanya berjaga dan tidak boleh lengah.” Dia tidak mau ada kejadian kemalingan lagi, nanti kerugian semakin banyak dan dia bisa saja bangkrut. “Baik, Tuan.” Seperti halnya rumah mewah lain, perabotan di rumah Elvano ini mahale semuanya dan menyilaukan mata. Ets sayang sungguh sayang, saat Elsa masuk agak dalam, dia dikagetkan dengan suara yang aneh, suara hewan buas pemakan daging. “Astaga!” Aumannya membuat telinga Elsa berdengung dan netranya pun kaget saat melihat pemilik suara ini siapa, dia sampai terperanjat dan bersembunyi di balik tubuh Elvano, “Kenalkan itu Matahari dan itu bulan.” Elvano mengenalkan binatang peliharaannya yang tidak layak sekali disebut “Peliharaan” Gila saja, masa iya manusia memelihara singa. Adududu, siapa yang tidak takut jika melihat singa dan mengaung di depan matanya. Elsa takut di telan bulat-bulat oleh dua singa di kanan dan di kirinya ini, mending kalau kandangnya cuma di kanan kiri saja, ini sampai ada sambungan di bagian atas, jadi si singa bisa manjat-manjat meski ada di dalam kandang. Dua siga ini punya arena bermain yang luas, kandangnya membentuk huruf U terbalik dan seperti gapura selamat datang menuju ruang tamu. Kalau tahu bakal begini Elsa tidak mau menginap di mansion milik Elvano. Lihat singa yang begitu dekat itu rasanya ngeri-ngeri sedep, selain takut dicakar, digigit dan ditelan bulat-bulat, takut juga tidak bisa menyelamatkan hidup, nanti masa bakal berakhir di lambung singa. “Kamu memelihara singa?” tanya Elsa sambil menggelengkan kepalanya. “Iya. Apa malam ini kau ingin tidur bersama mereka?” Elsa melirik sofa besar di kanan dan kiri yang bentuknya bulat, istimewa sekali singa-singanya Elvan punya kursi singgasana. “Iiii …. Tidak mau.” Lebih baik tidur di jalanan daripada tidur bareng singa. Elsa dan Elvano pun kembali berjalan ke dalam rumah. Elvan membuka kotak besar yang isinya daging dan dia lempar melalui celah, hal ini membuat Elsa jadi semakin kaget dan ketakutan. “Aaaa ….” Mana langsung singanya makan. “Ehmm …. Tolong lepaskan.” Elvan melirik tangannya yang semakin dipeluk erat oleh Elsa. ‘Duh mimpi apa semalam. Habis keluar kasino malah masuk kandang singa.’ Elsa jadi gagal fokus, dia jadi berpikir ini bukan mansion tapi kebun binatang, jangan-jangan dia bakal dijadikan makanan binatang-binatang buas. Oh tidak, jangan-jangan Elvano ini psikopat yang suka memotong tubuh manusia lalu nanti dijadikan stok pakan semua peliharaannya. ‘Elvano sialan.’ Jika saja masih sore, Elsa lebih baik kabur saja, ini kan sudah larut malam, mana ada taxi untuk balik lagi ke hotel. “Kamar tamu di sebelah situ, nanti bajumu akan diantarkan oleh pelayan.” Perkataan Elvano membuyarkan pikiran Elsa, gadis ini pun melirik kamar yang El tunjuk. Dia pergi tanpa permisi, membuka kamar dan sudah ingin merebahkan tubuhnya di kasur, baru saja masuk satu detik, Elsa kembali berteriak. “Aaaa ….” “Kenapa lagi?” tanya Elvano santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam sakunya, dia tahu Elsa kaget kenapa tapi pura-pura tidak tahu, senang sekali melihat gadis itu ketakutan. “A- a- ada ular.” Dia paling benci akan hewan yang bersisik dan tidak memiliki bulu ini, apalagi kalau berbisa, ya takut dipatuk lalu mati. “Ularnya di dalam kaca kok, kamu jangan khawatir.” Elvano memelihara hewan buas, ada singa, ada ular piton, komodo, burung elang, bahkan buaya juga ada. Sungguh aneh, orang normal memelihara kucing dan anjing yang manis, dia memelihara hewan buas semua. “Kalau kamu macam-macam, aku bisa buka kandangnya agar dia bisa melilitmu hingga mati.” Ya meski tahu Elsa turis, takutnya itu hanya kedok lalu sebenarnya si Elsa ini memang beneran maling. “Isshh nyebelin ini orang. Mansionnya sih mewah, tapi isinya mirip kebun binatang.” Elsa bergerutu menggunakan bahasa indonesia, bahasa ini tidak akan dimengerti oleh Elvano. “Speak in english please!” Elvano melirik sinis, apa perlu dia keluarkan ularnya agar Elsa dililit ular lalu mati. Seila mengatur napasnya yang semula memburu akibat kejut jantung dua kali, anggaplah tadi olahraga irama jantung. Ya bagaimana lagi sekarang, harus terima kenyataan tidur yang kamarnya ada kandang ular, mau pindah kamar nanati malah takut lebih dekat dengan kamar Elvano. “Aku akan tidur, kamu silahkan pergi.” “Selamat tidur bersama ular wanita ular, eh salah, Elsa!” Elvano melambaikan tangannya, dia senang sekali melihat Elsa ketakutan seperti tadi. "Kutu kupret!" Elsa mengumpat menggunakan bahasa indonesia lagi agar El tidak mengerti. Kini dia di dalam kamar ditemani ular piton warna kuning mengkilat dan matanya berwarna merah darah. "Bersahabatlah denganku. Kamu jangan macam-macam saat aku tidur, ya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD