Ditinggal Pergi

1433 Words
Dua Mobil Mercedes-Benz G-Class warna hitam dan satu mobil Jeep Wrangler warna abu sedang mengikuti mobil truk fuso box warna abu-abu. Mobil itu semua punya lambang singa warna kuning dengan logo EE. Ban mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan aspal yang sepi menuju suatu daerah yang lumayan jauh, jalanannya sepi dan cuacanya cerah. Ada empat mobil off road warna hitam mengikuti mereka, tampaknya tertarik juga untuk menyalip. “Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita dari belakang. Coba periksa.” Salah satu orang yang ada di mobil paling depan curiga, dia takut misi ini akan gagal jika datang pengganggu. Jendela pun dibuka dan orang ini mengeluarkan kepalanya untuk mengecek sejenak, apakah hanya mobil mereka saja yang melintas atau ada mobil lain juga yang mengikuti atau sekedar ikut melintas jalanan ini juga. “Iya, ada empat mobil. Bagaimana ini?” Dari gelagatnya begitu mencurigakan dan mereka membawa senjata api. Sepenglihatan orang yang mengenakan baju hitam ini, dia melihat ada tiga orang di dalam setiap mobil off road yang mengikuti mereka, berpakaian serba coklat dan mengenakan kacamata warna hitam, salah satu dari mereka ada yang seorang perempuan. “Segera hubungi mobil-mobil yang dibelakang agar melindungi kita. Hubungi bagian pusat juga.” Mana perjalanan mereka masih jauh, bawaan mereka adalah barang pesanan klien istimewa pula, di dalam truk ini adalah senjata keluaran terbaru dari perusahaannya mafia bernama Elvano. “Baik.” Mereka membagi tugas, ada yang mengawasi dan siap menggunakan senjata, ada juga yang menghubungi tim supaya mereka aman terjaga. Dorr …. Dorrr …. Tidak lama suara tembakan pun terdengar, tampaknya musuh sudah mulai ada gencatan senjata. “Sialan, mereka sepertinya komplotan pencuri atau mafia lain.” Ada satu mobil yang berhasil menyalip ke depan bahkan menembak beberapa kali ke badan truk. “Dari mana mereka tahu kita kirim barang sekarang?” Informasi penting seperti ini biasanya tidak bocor, kalau ada yang mengikuti ya berarti informasi keberangkatan mereka terdengar oleh musuh. Banyak musuh yang ingin menggagalkan proses pengiriman barang, salah satu alasannya karena ingin Elvan bangkrut, alasan lainnya karena tidak menyukai bisnis milik Elvan ini. “Entahlah, kita dilacak mungkin.” Sudah semenjak kejadian kemalingan uang dan mas Elvano di kasino, perusahaannya juga diawasi oleh pihak musuh. Hari ini perusahaan Elvano akan menyelundupkan senjata lewat jalan darat dan laut, tidak sengaja sekarang malah dikejar musuh. “Sialan kenapa mereka terus menembak." Kalau begini caranya ban mobil mereka bisa pecah dan terjadi kecelakaan, mana satu mobil sudah rusak dan yang pasti pengendaranya juga sudah mati. Tidak selang beberapa lama, mobil lain juga rusak parah dan berhasil dilumpuhkan. “Dua mobil yang mengawal kita telah hilang." Detak jantung mereka begitu memburu, berarti tinggal mobil truk ini dan satu mobil lagi yang melindungi di belakang. Bagaimana bisa pertahanan mereka begitu cepat dikalahkan, berarti musuh kali ini bukan kaleng-kaleng. "Aiishh …. Kita hadapi saja." Sang supir memutarkan stirnya ke kanan dan ke kiri, berusaha membanting kendaraan yang menyalip lewat kanan dan kiri. Pokoknya mereka harus ditebas habis dan mereka tidak boleh menyerah begitu saja, motto perusahaan mereka adalah tetap bertahan meski dalam keadaan sulit, pantang menyerah sebelum berperang dan banyak berusaha demi sebuah kesuksesan. Dor …. Suara tembakan kembali terdengar lagi. Kini lebih kencang dan berhasil mengenai salah satu ban. PPPssssss …. Ban besar mobil truk ini pun pecah lalu kempes, anginnya jadi keluar semua. Mobil truk ini pun menepi, untung tidak sampai membuat mobil berjungkir balik dan semua muatannya keluar kemana-mana dan rusak. Pada akhirnya mobil yang masih bertahan pun berhasil dikepung. Satu orang gadis keluar dari mobil off road warna hitam, dia mengenakan baju loreng-loreng dan kacamata warna hitam. Gadis ini dengan gagah beraninya membawa senjata api dan mengarahkan pada empat orang pria berseragam yang sama, hitam dan berlogo macan. Senjata apinya pun dia tenteng kembali. Mungkin salah satu anak buah Elvano akan mengenali gadis ini jika ada salah satu yang ikut dalam misi mengejar pencuri di kasino. Kali ini sang gadis akan mencuri semua senjata milik Elvano yang akan dijual. Tampaknya dia tertarik dengan apapun yang Elvano milikki, dia juga maling yang ulung. Anak buah Elvano yang tersisa jelas memberla diri, mereka pun berkelahi, ternyata gadis ini jago juga menggunakan ilmu bela diri, mereka saling memukul, menendang dan menyikut. Darah pun bercucuran di bagian kepala dan bagian ujung bibir. Dipukul menggunakan batu dan alat tembak sakit juga. Anak buah Elvano yang kalah jumlah jadi tumbang. Kini jalanan itu jadi bau darah dan bau kendaraan yang meledak. "Ja- ja- jangan bunuh kami." Ada keluarga mereka yang menanti kepulangan mereka ke rumah. Bayangkan jika semuanya mati nanti tidak ada satupun yang selamat dan melaporkannya pada sang bos. Dengan wajah yang dipenuhi darah dan tubuh yang memiliki lebam serta luka sobekan, mereka memohon, meminta belas kasih. Siapa tahu musuhnya ini masih punya belas kasihan. Jarang sekali ada pencuri yang membiarkan mangsanya masih hidup, tentu semuanya akan dibunuh agar tidak meninggalkan banyak jejak. Jantung mereka seakan mau copot saat semua peluru mereka habis, semua tenaga sudah sirna dan lutut mereka juga lemas, tidak bisa lagi melawan. Pistol pun terarah pada mereka semua dan berhasil membuat semua netra mereka terpejam. "Tidak akan." Tampaknya sang gadis yang merupakan ketua dari sindikat pencuri ini tidak berniat membunuh semua anak buah Elvano, sengaja dia menyisakan yang tersisa agar melapor pada bosnya. Gadis ini penasaran apakah Elvan adalah lawan yang kuat, nyatanya menangkap dia saja gagal, sekarang malah kecurian lagi. t***l! “Laporkan pada bosmu dan bilang padanya jika orang yang cari gara-gara itu aku!” Sungguh arogan dan berani sekali gadis ini. Dia tidak tahu apa kalau sedang membangunkan singa yang sedang tidur. Mobil-mobil komplotan pencuri itu pun pergi setelah mengganti ban mobil box yang berisikan banyak senjata, lumayan kan mereka dapat banyak senjata dan peluru keluaran terbaru yang canggih dan mematikan gratis. "Aish bagaimana ini, semua telah hilang?" ujar salah satu orang frustasi, dia tidak berhasil menjalankan misi, baru pertama kali mereka terkalahkan seperti ini, besok-besok kalau kirim barang ada yang mengikuti di jalur udara juga untuk gencatan senjata. "Ayo kita kembali menghubungi orang pusat." *** Pagi-pagi Elvano sengaja datang ke hotel tempat Elsa tinggal, kenapa rasanya ditinggal Elsa satu malam saja membuat dia gusar. Mereka tidak tidur satu kamar kok, tidak punya hubungan spesial dan tidak pernah melakukan kegiatan apapun selain berdebat bukan? Mengapa rasanya Elvan seperti seseorang yang merindukan kekasihnya saja? Pemandangan Elvan pagi-pagi selain disuguhi pemandangan kota New York yang begitu indah, dia juga disuguhi pemandangan yang menyilaukan mata dan membuat adik kecilnya bangun seketika. Pemandangan apa lagi jika bukan Elsa yang sedang mengenakan handuk, mana handuknya pendek, jauh di atas lutut dan dekat di pangkal paha, lalu tipis dan bagian belahan dadanya juga kelihatan sempurna. Cowok normal mana sih yang tidak akan tergoda melihat kemolekan tubuh Elsa? Elvan termasuk normal juga dong. Dia langsung masuk dan mendekati gadis ini. Otaknya sudah tidak bisa jernih lagi jika melihat hal seperti ini. Elvan sudah lama tidak melakukan penetrasi pula. Akankah Elsa akan jadi mangsanya pagi ini? Respon Elsa sungguh membuat Elvan kesal, apalagi dia langsung diusir oleh gadis ini? Siapa Elsa? Berani sekali mengusir seseorang bernama Elvano. Elsa mau ditembak mati apa? Bukannya dibelai, dimanja dan dikagumi, Elvan malah dapat ucapan ketus dan tatapan tajam. Tatapan dia juga tidak kalah tajam kok, mau adu tajam-tajam? Yang bawah lebih tajam Els! Akankah gadis itu siap menghadapi milik Elvan yang tajam dan menggoda? Ya namanya juga handuk kecil pasti kalau yang pakainya motah melorot sedikit demi sedikit. Elsa makin gelisah sah-sah basah saat merasa handuknya longgar dan melorot. ‘Gawat!’ gumam gadis ini dalam hati. Mana dia lihat tatapan Elvan sekarang mengarah ke belahan dadanya. ‘Tolong selamatkan aku Tuhan!’ gumam Elsa sambil memejamkan matanya. Wajah Elvan semakin dekat bahkan bibir mereka kini saling menempel. Godaan apa-apaan ini pagi-pagi, Elvan tertarik mencium gadis yang masih mengenakan handuk saat membukakan pintu kamarnya. Pluk. Handuk yang Elsa kenakan akhirnya jatuh ke lantai, gadis ini tidak bisa meraihnya lantaran kedua tangannya sedang dipegangi oleh tangan Elvan. Itu handuk biarpun tadi sedikit dihimpit paha Elsa juga percuma, kalau melorot ya melorot saja. Embusan angin dari AC terasa sekali di kulit Elsa, membuat dia sedikit kedinginan. Sungguh gadis ini tidak pernah telanjang bulat di hadapan seorang pria. Sekarang malah kejadian dan tidak sengaja, salah sendiri cuma pakai handuk saat menerima tamu pria. Pemandangan semakin cerah ini Elvan! Baru saja dia mau melirik apa yang jatuh dan mengenai kakinya, ponselnya malah berbunyi. Sialan, mengganggu momen saja. Elsa pun punya kesempatan untuk meraih handuk dan menggunakannya kembali. “Apa kalian bilang? Gagal?” Elvan langsung keluar dari kamar Elsa dan pergi meninggalkan gadis ini sendirian. “Apa dia pergi? Sialan sekali, udah bikin anak orang bugil malah langsung pergi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD