Beradu Mulut

1378 Words
“Apa yang kamu lakukan?” Bian sangat terkejut hingga tubuhnya seakan membeku. “Diamlah. Saya hanya menempelkan sedikit bibir saya yang sangat berharga ke pipi Anda. Jangan salah paham. Karena di dekat sana ada Vela dan mantan calon suamiku yang sedang melihat kita. Bukankah Anda setuju dengan syarat saya tadi?” bisik Elsa tepat di dekat telinga Bian setelah melepas kecupannya. “Mbak Elsa! Apa yang kamu lakukan!” pekik Vela sambil berjalan tergesa makin mendekat. “Eh! Kenapa kamu ada di sini, Vel. Em ... tentang ini ....” Elsa berpura-pura mengalihkan fokusnya ke arah Rio. “Oh, kenapa kamu bersama Mas Rio? Akhirnya kamu mau memungutnya ya, Vel? Menurutmu kan, Mas Rio laki-laki yang sangat baik. Pantas sih, kamu mau menerimanya yang mungkin sedang patah hati gara-gara aku.” Justru Elsa sengaja membuat Vela makin meradang. “Mbak! Bukan itu yang harusnya dibahas, tapi harusnya tentang perbuatanmu tadi. Kamu nggak malu, Mbak? Di tempat umum seperti ini? Dengan calon suamiku?” Elsa berhasil mengeluarkan dua tanduk Vela akibat ulahnya tadi. Tentu, hatinya merasa bahagia. “Oh, maaf kalau kamu melihat semuanya. Sebenarnya, pertemuan kami ini memang berkaitan dengan hubungan yang akhir-akhir ini terjadi. Setelah mendiskusikannya dengan serius, hari ini, kami resmi berpacaran. Makanya, tanpa sadar, aku mengecup pipinya. Aku sangat bahagia karena hubungan kami akhirnya sudah diperjelas. Bukan begitu, Sayang?” Elsa tersenyum senatural mungkin. Jemarinya meraih tangan Bian dan menggenggamnya Erat. Sedangkan Bian, hanya tersenyum dengan hati bimbang. Sangat bingung melihat kejadian yang dialaminya. Mulutnya pun seakan terkunci. “Sayang, kok diem? Kamu malu ya? Harus mengakui hubungan kita di depan wanita yang dijodohkan denganmu, tapi kamu kan mencintaiku. Katakan saja, Sayang.” Sedikit meremas tangan yang digenggamnya, Elsa memaksa agar Bian mau ikut dalam sandiwaranya. Pun perkataan itu. Elsa sengaja menyindir sepasang manusia yang baru saja mendatanginya. “I—iya.” Tampak terpaksa, akhirnya Bian mengatakannya. “Mas Bian, bukankah kita ikut dalam perjodohan? Keluarga kita sudah merestui kita. Kenapa kamu melakukannya?” selidik Vela, raut wajahnya pias seakan kehilangan harapan. “Oh, Sayang. Bukankah tadi kamu mengajakku berbicara di tempat ini?” Tanpa peduli, Elsa mengambil kartu akses hotel yang tergeletak di meja. Bibirnya tersenyum seolah sangat bahagia. Situasi macam apa ini? Bian hanya bisa berbicara di dalam hati. Memang tak berminat dengan perjodohan itu, akhirnya, ia diam saja saat Elsa berbicara semaunya. “Mbak! Cukup, Mbak! Nggak pantas kamu melakukan semua ini!” hardik Vela. “Oh ya? Aku tak pantas mencintai dan berpacaran dengan orang yang dijodohkan denganmu? Begitu maksudmu?” tandas Elsa kembali menyindir orang-orang yang mengajaknya ribut. “Harusnya kamu tahu soal itu, Mbak!” Namun, Vela tak tersindir sama sekali. Berbeda dengan Rio, ia diam dan merasa tidak nyaman. Terlihat dari sikapnya yang tak bisa tenang. “Kalau sudah cinta, semua bisa saja terjadi bukan? Seperti kalian yang ternyata sedang makan berdua di tempat ini. Apakah kalau aku masih berhubungan dengan Mas Rio, kamu yakin nggak akan pernah melakukan semua ini? Atau malah ....” Elsa sengaja tak meneruskan perkataannya. “Kami nggak sengaja bertemu, Mbak! Mana mungkin kami berhubungan di belakangmu. Aku tahu diri kok,” bela Vela meski gelagatnya tampak tak setenang tadi. Pun dengan Rio. “Berhubung dia sudah menjadi mantanku, terserah kalian saja.” Elsa beralih melihat Bian. “Ayo, Sayang. Kita harus ke tempat ini untuk membicarakan semua rencana kita.” Elsa sudah muak melihat Vela dan Rio. Jujur saja, hatinya masih rapuh. Bagaimanapun juga, Rio adalah orang yang cukup lama mengisi hatinya. Meski berusaha tegar, sisa-sisa rasa cinta masih berserakan di ruangan dalam hatinya. “Mbak! Hentikan! Dia orang yang akan dijodohkan denganku!” cegah Vela. Seketika Bian menoleh. “Aku belum mengiyakan perjodohan itu. Aku masih berhak memilih calon istriku sendiri.” Mendengarnya, Vela diam seribu bahasa. Tak menyangka, malah Bian berada di pihak Elsa. Meski terkejut, Elsa senang, akhirnya Bian mau mendukung tindakannya. Elsa dan Bian melangkahkan kakinya meninggalkan Restoran Laria dengan dua orang yang salah satunya diliputi amarah yang membara. “Mas Rio, kenapa kamu diam saja sih? Setidaknya, bantu aku dong!” “Aku sudah bukan pacarnya, Sayang.” “Katanya kamu mau membujuknya untuk kembali!” “Iya, tapi bukan sekarang. Lagi pula, sepertinya Elsa mencurigai hubungan kita. Kata-katanya seakan menyindir kita, Sayang.” “Mana mungkin! Jangan ngaco, Mas. Pokoknya, kamu harus mendapatkan Mbak Elsa lagi. Itu agar hubungan kita tetap aman, Mas.” Ada perasaan curiga yang tertanam di hati Rio atas rasa cinta yang mungkin dimiliki Vela untuk Bian. Namun, Rio tak mau menuduhnya sembarangan, karena dia tak mau Vela makin membenci dan marah padanya. *** Elsa menoleh ke sekitar untuk memastikan keberadaan Vela dan Rio. Dirasa aman, Elsa melepas genggamannya pada tangan Bian. “Maaf,” ucap Elsa, tampaknya ia mulai sadar akan tindakannya. Gelagatnya seperti orang yang merasa tidak nyaman. “Loh, kenapa dilepas?” “Ya, karena sudah aman.” “Jadi, kamu mau mempermainkan aku?” “Bukan. Aku sedang menolongmu.” “Menolongku?” “Iya. Untuk menggagalkan perjodohanmu. Oh ya, berhubung aku sudah mengatakan kalau kita akan pergi ke hotel. Ayo, kita ke sana untuk menyempurnakan sandiwara ini. Itu pun, kita hanya akan berbicara. Bukan mau berbuat macam-macam.” Tanpa disadari, perkataan Elsa yang awalnya formal, kini seperti berbicara pada seorang teman. Bahaya kalau begini. Aku hanya ingin menakut-nakutinya saja, bukan malah begini. Kalau sampai ketahuan Mama, aku berani membawa wanita ke hotel. Bisa mati aku. Apalagi dalam situasi perjodohanku. Tapi, aku memang nggak mau dijodohkan. Bodo amat deh, kalau ada yang melihatku bersama wanita nggak waras ini. Bian menimbang segalanya di dalam hati. “Ayo! Kita harus ke hotel itu. Kenapa malah diam? Aku udah menghubungi orang untuk mengambil mobilku di tempat ini. Jadi, ayo, kita pergi menggunakan mobilmu sekarang.” “Apa kamu nggak khawatir dengan kabar yang nantinya akan tersiar?” “Aku nggak peduli. Yang penting, rencanaku berhasil. Kamu mau menerima semua tawaranku tadi kan? Jangan dibahas sekarang. Lebih baik kita pergi ke hotel dulu sebelum ada yang melihat.” *** Kamar hotel sudah di depan mata. Dengan santainya, Elsa memasukinya. Sedangkan Bian, tampak sedikit ragu memasuki kamar itu bersama dengan seorang wanita. Apa ini? Kenapa jantungku malah berdegup nggak jelas begini? Sadar Bian. Apa yang terjadi padamu? Kenapa malah jadi baper sendiri? “Nyaman juga.” Elsa duduk di sofa. “Ngapain kamu anteng begitu? Jangan mikirin yang bukan-bukan! Cepat, duduk di sini. Kita kan harus menyelesaikan kesepakatan tadi.” Bian yang melamun ke negeri entah berantah, kembali sadar dan menurut saja dengan perintah Elsa. “Jadi, kita sepakat dengan penawaran tadi kan? Ayo, kita menikah hanya untuk setahun saja. Kamu dapat warisan, juga pemasaran gratis di hotel-hotelku dan investasi dariku. Kamu terhindar dari wanita nggak jelas tadi seumur hidupmu. Banyak keuntungannya bukan?” “Sebenarnya apa yang mendasarimu untuk melakukan semua ini? Apa karena hubungan mantan calon suamimu tadi yang kepergok pergi berdua dengan adik tirimu? Kamu tahu, kalau mereka selingkuh dan ingin balas dendam? Apakah dugaanku benar?” Elsa tak langsung menjawab. Orang yang ada di hadapannya ini memang punya kecerdasan tinggi. Ia bisa merangkai kesimpulan sendiri dengan jawaban yang hampir seratus persen benar. “Kamu diam, artinya memang benar.” “Iya, awalnya karena sakit hati. Aku jadi bertindak senekat ini. Bahkan menjadikanmu alat karena Vela sepertinya menyukaimu. Aku ingin merebutmu darinya agar dia merasakan rasa sakit yang sama sepertiku. Aku nggak mau hanya diam. Selama ini sudah terlalu sering mendapatkan rasa sakit. Setidaknya, aku mau memperjuangkan sedikit kebahagiaanku dengan caraku.” Mendengar penjelasan itu, bibir Bian tersimpul tipis. Keras kepalanya dan cara memegang prinsipnya sama sepertiku. Wanita aneh, tapi aku suka cara berpikirnya. “Oke. Kalau begitu, aku sepakat dengan penawaranmu ini. Ayo, kita buat perjanjiannya. Kita akan menjadi tim yang hebat.” Bian mengulurkan tangan dan Elsa menyambutnya. *** Tertangkap kamera, seorang direktur muda dan salah satu pewaris perusahaan ternama di negara ini, bernama Bian Abimana dengan seribu rumor yang menyertainya akibat selama hidupnya belum pernah mengumumkan hubungan satu pun dengan seorang wanita. Di balik rumor perjodohannya, dia malah membawa seorang gadis ke sebuah hotel. Inilah video yang menangkap kebersamaan mereka. Bagaimana menurut Anda? Setelah beberapa jam Bian dan Elsa memasuki kamar hotel yang sama, sebagian besar media sosial sudah memuat video tentang kebersamaan mereka. Keterangan yang menyertainya semakin membuat video itu terangkat dan perlahan viral.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD