“Kamu bagaimana sih, Mas? Kenapa Mbak Elsa bisa membatalkan pernikahan kalian begitu saja? Apa kalian ada masalah? Kamu bikin dia marah kan, Mas?”
Di Restoran Laria sudah ada Vela dan Rio. Sejak tadi, percakapan mereka dipenuhi emosi. Terlebih Vela yang banyak mencecar tuduhan demi tuduhan pada Rio.
“Kamu ini, kenapa ikut saja menyalahkanku? Sayang, aku nggak tahu alasan Elsa membatalkan pernikahannya. Tiba-tiba saja dia melakukannya. Nggak ada masalah sama sekali sebelumnya. Kamu lihat kemarin kan, setelah mencoba gaun, kami baik-baik saja? Seharinya malah Elsa melakukan tindakan tak terduga sama sekali,” bela Rio.
“Harusnya, kamu bisa mencegahnya, Mas.” Kemarahan tampak jelas di wajah Vela.
“Bagaimana caranya? Elsa sudah lebih dulu bertindak. Dari gaun sampai masalah KUA sudah dibatalkan secara sepihak oleh Elsa, Sayang. Maafkan aku.”
Rio bermaksud meraih tangan Vela yang tergelatak di meja, tetapi detik yang sama ditepis oleh Vela.
“Sayang, apa lebih baik kita berkata jujur di hadapan orang tuamu? Kamu cinta aku kan? Aku rela melakukan apa pun agar bisa hidup bersamamu,” pinta Rio. Suaranya lembut agar Vela mau terbujuk.
“Jangan asal omong, Mas. Bagaimana dengan aku nantinya. Aku nggak mau kalau dianggap sebagai anak durhaka, Mas.”
“Yakin, itu alasanmu? Atau mungkin, kamu suka sama orang yang dijodohkan denganmu. Jangan lakukan itu, Sayang. Aku cinta mati sama kamu.”
“Mas, kamu dengar alasanku tadi kan? Aku hanya nggak mau dianggap sebagai anak durhaka. Tentu saja aku mencintaimu. Jadi, tolong, bujuk kembali Mbak Elsa agar melanjutkan rencana pernikahan kalian ya.”
Jemari yang tadi menepis, kini meraih tangan Rio untuk meyakinkan ucapannya. Vela sudah terbiasa mendapatkan apa pun keinginannya. Sampai dewasa pun, karakter itu sudah melekat pada dirinya. Bahkan, cara licik sengaja digunakan.
Ucapan cinta yang terlontar dari mulut gadis berambut pendek itu, tentu sebuah bualan saja. Rasa tak suka akan kebahagiaan Elsa membuatnya ingin selalu menghancurkannya. Rio hanya sebagai salah satu alat yang digunakan.
Setelah Rio dan Elsa menikah, Vela akan menyuruh Rio untuk meninggalkannya. Dengan begitu, rasa cinta yang terlanjur kuat, membuat kesedihan Elsa tak kunjung usai. Namun, rencana itu kini hanya angan-angan saja. Elsa malah menyudahi hubungan itu sebelum merasakan kehancuran yang sesungguhnya.
Dari relung hati terdalam, Rio sebenarnya enggan melakukan kemauan dari Vela. Namun, ia tak sanggup menolak. Rasa cinta itu telah membutakan segalanya. Yang terbayang di pikirannya, hanya senyum bahagia yang akan dilakukan oleh Vela kalau ia mau menuruti kemauannya.
“Baiklah. Akan aku coba, Sayang. Semua demi kamu.”
Vela tersenyum lebar dan merasa sangat puas.
***
“Oh, jadi kamu yang bernama Elsa Wicaksono, kakak dari Vela Wicaksono? Ya, penampilanmu oke juga. Cantik.”
Bian telah datang terlebih dulu di Restoran Laria dan duduk menunggu kehadiran Elsa. Tanpa sungkan, Bian melontarkan kata-kata yang terlintas dalam kepalanya.
“Ya, salam kenal. Terima kasih untuk perkataanmu yang aku anggap sebagai pujian itu. Aku pikir Anda tidak menyukai lawan jenis.” Tanpa memberikan senyum yang ramah, bicara Elsa cukup menohok hati.
Elsa itu orangnya pemalu kalau mendapat pujian. Namun, dalam kasus ini, rasa itu harus bisa ditekan agar dapat memerankan karakter seseorang yang nantinya akan memuluskan rencananya.
“Termakan rumor juga rupanya. Jadi, apa maumu, Elsa sayang?”
Bian menatap lekat mata Elsa untuk membuat gadis itu merasa risi dan tersipu.
“Ternyata Anda juga pandai membuat lawan jenis merasa gugup dengan tatapan tajam begini? Terus menyakiti hati dan mempermainkannya? Rumor-rumor itu salah satunya pasti kenyataan bukan?”
Elsa berusaha mengatur perasaannya yang pada dasarnya mulai tidak nyaman ditatap sedemikian rupa. Namun, demi rencananya, ia tak boleh terlihat gampang diperdaya.
“Ayo, kita main-main dulu.”
Bian justru makin berani tanpa mengalihkan pandangannya. Ia memegang kartu akses hotel.
Elsa tersenyum sinis melihat apa yang Bian perbuat.
“Ternyata, Anda memang suka mempermainkan seorang wanita. Simpan saja keycard itu. Aku akan menawarkan kerja sama pada Anda.”
“Wah, jawaban yang tak terduga. Aku pikir, kamu akan langsung menampar wajahku gara-gara dianggap w************n. Tapi, kamu malah gigih menawarkan kerja sama itu. Baiklah, aku akan mendengarkannya.”
Kartu akses hotel diletakan di atas meja. Bian kembali menegakkan posisi duduknya setelah tadi menyodorkan ke depan untuk menatap mata Elsa lebih dekat.
Sialan, wanita ini bersikap sangat santai. Padahal beberapa kali melakukan trik itu pada wanita lain selalu berhasil. Mereka menamparku dan memakiku, lalu pergi.
Bian merasa kecewa pada kemampuan berbohongnya untuk saat ini. Ia hanya bisa merutuki kegagalannya di dalam hati.
“Sebelumnya, saya izin bertanya, apakah Anda setuju dengan perjodohan dengan adik saya?”
Elsa sudah merasa tidak nyaman. Dia ingin segera menyelesaikannya dan beristirahat menenangkan hatinya yang harus berpura-pura baik-baik saja atas perlakuan Bian.
“Ada apa ini? Anda tidak suka perjodohan itu?” Bian sengaja memancing amarah.
“Ya, saya tidak suka. Kerja sama yang akan saya tawarkan bukan hanya sebuah investasi biasa, tapi sebuah perjanjian yang lebih menjanjikan. Perjodohan itu terjadi gara-gara hotel kami meminta bantuan modal dari perusahaan kakek Anda bukan? Dalam artian, pihak kami meminjam uang pada Anda. Tapi, kerja sama yang akan saya tawarkan ini justru sebaliknya.”
“Bukankah sudah jelas, hotel yang kalian kelola sedang mengalami masalah besar? Tawaran apa yang membuat Anda menjadi percaya diri seperti itu?” Bian berbicara sekaligus meremehkan kemampuan Elsa.
“Saya akan berinvestasi pada Anda, bukan meminta pinjaman. Dan juga, Anda boleh memasarkan produk Anda di hotel-hotel kami tanpa imbalan apa pun. Tapi, ada syarat lain yang harus dipenuhi. Kalau tentang sikap Vela, dia hanya akan merugikan Anda. Dia itu arogan dan sangat egois.”
“Memangnya aku sudah menyetujui untuk menerima investasi darimu? Kenapa Anda sangat percaya diri mau menawarkan syarat yang lain? Pemasaran produk-produkku sudah cukup luas. Kalau hanya semacam itu, sepertinya bukan apa-apa bagiku. Kecuali tentang sikap adikmu, apakah yang kamu katakan itu benar? Atau hanya sengaja membuat kesan yang buruk?”
“Asal Anda tahu, hotel yang saya kelola lebih baik dari hotel-hotel lain yang keluargaku kelola. Bahkan, Hotel Tulip bisa menyumbang modal cukup besar untuk menutupi hotel lain. Semua itu berkat kerja kerasku. Asalkan keluargaku mau menyerahkan semua hotel yang mereka kelola padaku. Saya sangat yakin, hotel-hotel itu tak menjadi seperti sekarang. Mereka akan sangat sukses dan tidak perlu melakukan pernikahan bisnis, tapi sayangnya, saya tidak diberi kesempatan untuk melakukan semua itu.”
“Wah, wah. Aku tak mengira, Anda punya rasa percaya diri dan optimis yang luar biasa. Tapi, memang wajar kan, yang aku dengar, kamu adalah anak adopsi. Sepertinya sulit untuk merealisasikan keinginanmu.”
Mendengarnya, ada rasa nyeri di hati Elsa. Lagi-lagi orang memandang identitasnya. Namun, pada kenyataannya, anak adopsi itu sudah tak pantas disandang oleh Elsa.
“Oh, jadi Anda menolak tawaran saya? Baiklah, setelah Anda menikah, saya harap, hidup Anda akan bahagia bersama Vela perempuan munafik itu.”
Karena merasa tidak bisa membujuk Bian, Elsa sudah memutuskan untuk menyerah. Kenyataan memang tak seindah angan-angan. Rasa tak nyaman yang sejak tadi dirasakan, membuat Elsa tak mau berlama-lama duduk di hadapan Bian.
“Mau ke mana? Kata siapa kamu sudah boleh pergi? Aku juga belum menjawab kerja sama secara pasti bukan? Duduklah kembali,” cegah Bian.
Ketika Elsa mengatakan kata munafik, membuat Bian teringat akan dirinya. Ia menyematkan kata yang sama untuk Leo. Perasaannya seakan tahu tentang rasa sakit yang Elsa rasakan gara-gara sikap Vela. Padahal hanya sekadar mendengar satu kata yang terucap itu.
Elsa menghela napas. Demi rencananya, ia memaksakan diri meski merasa tak nyaman. Pun saat nanti rencananya berhasil. Mau tak mau, setelah merebut Bian, mereka akan sering bertemu.
“Jadi, syarat lain apa yang harus aku lakukan agar produk-produkku bisa masuk ke hotelmu secara Cuma-Cuma?” tanya Bian setelah Elsa duduk kembali di hadapannya.
“Syarat itu hanya berlaku sampai satu tahun. Produk-produkmu bisa dipasarkan tanpa imbalan apa-apa selama setahun itu juga.”
“Bukankah itu keterlaluan?”
“Sebanding dengan diriku yang harus menjadi istrimu selama satu tahun itu. Bukankah Anda butuh warisan kakek Anda dengan syarat pernikahan dalam waktu dua bulan? Menikah denganku, saya jamin Anda tak mungkin rugi. Dan itu hanya satu tahun. Beda kalau memilih Vela. Anda harus menerima sikap arogan dan egoisnya selama hidup Anda. Belum lagi, harta Anda akan dihabiskan olehnya. Silakan Anda memilihnya. Saya harap, Anda setuju dengan tawaran saya.”
Baru selesai mengatakannya, dari pintu yang tak jauh dari tempat duduk mereka, tampak Vela dan Rio berjalan makin mendekat.
Tiba-tiba, Elsa mencium pipi Bian ketika dua pasang mata menatap ke arahnya. Ya, Vela dan Rio melihat adegan Elsa yang sedang mencium pipi Bian.