Bagian 24

1026 Words
*** “Mahira?” Setelah pertanyaannya tidak dijawab, Darka kembali buka suara dengan memanggil perempuan itu. Namun, alih-alih merespon, baik dengan gesture atau jawaban, Mahira justru masih membisu dengan raut wajah yang terlihat kaget. Di detik berikutnya—tanpa mengalihkan atensi, kedua kaki Mahira melangkah masuk ke dalam kamar. Dia mengedarkan pandangan, menilik satu persatu kanvas lukisan juga foto yang tertempel di dinding. Entah manis atau justru menyeramkan, Mahira sendiri bingung. Namun, yang jelas dia shock sekaligus tidak menyangka dengan apa yang Darka lakukan. Mengoleksi banyak foto Mahira kemudian dicetak dalam ukuran besar, lalu menduplikatnya ke dalam sebuah lukisan yang dipajang di sebuah kamar. Hal tersebut cukup gila. “Darimana Mas dapatin foto-foto aku?” tanya Mahira, masih sambil mengedarkan pandangannya. “Ada foto waktu kuliah juga, bahkan Mas punya foto pernikahan aku sama Mas Danan.” “Kalau foto kuliah, saya ambil diam-diam,” jawab Darka, sambil mengingat lagi apa yang dia lakukan di masa lalu. “Sementara foto nikahan kamu, saya ambil dari sosial media kamu terus saya crop dan cetak.” “Lukisannya?” tanya Mahira. “Mas bikin sendiri atau gimana?” “Saya bayar orang,” jawab Darka, kali ini berhasil membuat Mahira menoleh bahkan memandangnya. “Saya kasih dia foto-foto kamu, terus saya minta dia buat lukisin. Habis itu saya pajang di sini. Kamu jangan takut, karena saya enggak punya niat macam-macam. Saya cuman bikin galeri kecil aja yang isinya khusus kamu. Lumayan buat ngobatin rindu saya.” “Apa di kehidupan sebelumnya foto dan lukisan ini ada?” tanya Mahira. “Mas kan menikah, apa kabar istri Mas pas tahu semua ini?” Darka tersenyum. “Di kehidupan sebelumnya lukisan ini ada, karena saya mulai mengoleksi setelah tahu kamu pacaran sama Danan,” jawabnya. “Soal Clara, dia enggak tahu, karena setelah menikah, kami tinggal di rumah orang tua saya. Jadi rumah ini kosong.” “Serius?” tanya Mahira. “Pantang untuk saya berdusta, terlebih pada kamu—perempuan yang saya cintai, Mahira,” jawab Darka, sambil mengukir senyum. “Apa yang saya katakan ke kamu, semuanya jujur tanpa kebohongan sedikit pun. Jadi saya harap kamu percaya kalau saya sangat mencintai kamu.” Mahira tidak memberi jawaban, sementara pandangannya kembali tertuju pada deretan lukisan dan foto dirinya. Mengambil langkah lagi secara perlahan, Mahira berjalan menuju salah satu lukisan yang menurutnya paling mencolok dari yang lain. Di sana—di atas kanvas, terpampang gampar dirinya dengan penampilan yang bisa dibilang masih culun. Jika tak salah mengingat, penampilan tersebut adalah penampilan dirinya di semester dua kuliah. “Lucu ya,” puji Darka, ikut mendekat kemudian memandangi lukisan tersebut. “Kamu masih polos-polosnya. Waktu itu saya segan mendekati kamu, karena saya pikir kamu mau fokus kuliah dulu, terus saya pun harus fokus sama nilai saya.” “Culun,” celetuk Mahira. “Penampilannya juga enggak banget.” “Tapi lucu,” ucap Darka. “Kamu kelihatan polos sekali di foto ini.” “Sekarang emang enggak?” tanya Mahira sambil menoleh. “Sekaranh masih lucu, tapi lebih condong dewasa,” jawab Darka. “Untuk kecantikannya, enggak ada yang berubah sama sekali. Kamu masih sama cantiknya.” Mahira tidak menjawab dan hanya tersenyum sebelum kemudian memandangi lukisan lain yang ada di sana. Puas memandangi lukisan, dia teringat sesuatu, sehingga sambil menoleh pada Darka, dia berkata, “Mas punya satu janji yang belum ditepatin.” “Apa?” “Soal Mas Danan dan Luna,” jawab Mahira. “Apa yang mau Mas bicarain ke aku, soal mereka? Mas bilang butuh waktu yang tepat dan tempat yang tenang buat ngobrol.” “Ah itu.” “Bahas di sini aja,” ucap Mahira. “Tempatnya sepi, dan waktunya sudah sangat tepat.” Darka tidak menjawab, dan hanya tersenyum tipis sebagai respon. Alih-alih memulai obrolan, dia justru memandang Mahira dengan perasaan yang mendadak bingung dan serba salah. “Kenapa diam?” tanya Mahira sambil menaikkan sebelah alis. “Ayo mulai obrolannya. Aku penasaran.” Darka menggaruk tengkuknya yang bahkan tak gatal. “Gimana ya?” tanyanya. “Saya bingung sih sebenarnya, karena di satu sisi, saya pengen kamu cari tahu kebenarannya, tapi di sisi lain, saya takut kamu sulit menerima.” “Kenapa kaya gitu?” tanya Mahira. “Serius memang obrolannya?” “Sangat serius,” jawab Darka. “Apa?” tanya Mahira. Darka kembali diam, sementara ingatannya kembali ke momen semalam, saat dirinya pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan salah seorang dokter yang menangani kesehatan sang papa. “Mas?” “Semalam saya lihat Danan dan istri mudanya di rumah sakit,” jawab Darka pada akhirnya—membuat Mahira spontan mengerutkan kening. “Enggak cuman berdua, tapi ada mertua kamu juga. Om Anta dan Tante Jennia.” “Oke, lalu?” “Pas saya lihat mereka, mereka tuh baru keluar dari IGD,” jawab Darka lagi. “Karena penasaran, saya ngikutin, dan ya … Saya dibuat kaget setelah mertua laki-laki kamu bicara.” “Papa Anta bicara apa emangnya?” tanya Mahira penasaran. “Kok Mas Darka sampai kaget?” Darka kembali diam, sementara otaknya sibuk menimbang ucapan apa yang akan dia lontarkan sebelumnya. Belum selesai Darka menimbang-nimbang, Mahira bicara lagi. “Mas Darka?” “Papa mertua kamu minta Luna buat jaga kandungan, Mahira,” jawab Darka pada akhirnya—membuat kedua mata Mahira membulat sempurna. “Enggak cuman itu, Om Anta juga nyuruh Luna buat cari tahu soal kehamilan biar enggak berlebihan dalam bersikap. Saya enggak tahu berlebihan dalam hal apa, tapi yang jelas intinya Luna hamil. Istri muda kamu sudah mengandung. Padahal, pernikahannya dengan Danan belum seminggu. Menurut saya itu enggak masuk akal karena meskipun subur, minimal Luna baru hamil setelah dua minggu menikah. Menurut kamu bagaimana?” Mahira tidak menjawab, sementara raut kaget masih tercetak jelas di wajahnya—membuat Darka dilanda khawatir. Hening selama beberapa detik, Darka buka suara lagi setelah kedua mata Mahira berkaca-kaca. “Mahira, kamu baik-baik aja, kan?” “Kalau Luna sekarang udah hamil, itu berarti dia dan Mas Danan tidur sebelum menikah,” ucap Mahira. Menatap Darka dengan intens, dia buka suara lagi. “Dan kalau benar begitu, itu berarti Mas Danan selingkuhin aku. Gitu, kan, Mas?” “Mahira ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD